
Aruna kembali tertidur setelah meracau tidak jelas beberapa waktu lalu, Yunita dan Farhat tentu merasa ada kejanggalan dengan sikap Aruna.
Setelah memastikan Aruna benar-benar tertidur, Farhat dan Yunita beranjak dari duduk mereka dan berjalan menemui dokter pribadi Aruna.
Di dalam ruangan itu, sambil menahan tangisnya, Yunita menceritakan tentang keanehan tentang Aruna sejak beberapa minggu lalu.
Mulai dari Aruna yang tiba-tiba bangun tidur dan tidak mengenali mereka bahkan dirinya sendiri, berlanjut dengan sikap dan kebiasaan Aruna yang berubah drastis. Bahkan kejadian kemarin dan beberapa jam lalu tak luput dari cerita Yunita, ia menceritakannya secara detail.
Dokter pria yang sudah menemani Aruna sejak 2 tahun lalu, kini mulai berbicara dan menjelaskan kondisi yang terjadi pada Aruna. Dokter itu mengatakan mungkin saja Aruna mengalami depresi.
Dokter tersebut juga menjelaskan beberapa pasien kanker memang mengalami depresi yang membuat keadaan fisik mereka semakin parah.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan dokter?" tanya Yunita yang sudah siap menumpahkan tangisnya kapan saja.
"Untuk saat ini kita tidak bisa berbuat lebih, jika Aruna menginginkan sesuatu, kalau bisa kalian turuti saja! kalian juga bisa membawa Aruna ke sebuah komunitas kanker"
"Komunitas kanker? apa itu dok?" tanya Farhat yang tak mengerti perkataan dokter tersebut.
"Semacam oraganisasi penderita kanker, mungkin kita bisa menyebutnya kelas motivasi. Seperti yang kalian katakan sebelumnya, Aruna sekarang lebih senang bersosialisasi, mungkin di sana Aruna akan dapat teman baru"
Farhat dan Yunita saling tatap, tak bisa dikatakan bagaimana perasaan mereka sekarang.
...***...
Sementara itu, di dalam kamar rawat, Aruna sebenarnya tak tidur sama sekali. Ia mendengar semua percakapan Yunita dan Farhat yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Lagi dan lagi ia dibuat merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia.
Nazalea sadar bahwa ia hanya masuk ke dalam tubuh Aruna, dan orang tua Aruna tak tahu akan hal itu. Yang Nazalea sayangkan adalah, sikap orang tuanya sangat berbeda dengan orang tua Aruna.
Nazalea dan Aruna sama-sama anak tunggal, tidak memiliki kakak maupun adik. Yang membedakan adalah kondisi kesehatan dan juga keluarga mereka.
Jika Aruna dibesarkan dengan penuh kasih sayang, lain halnya dengan Nazalea yang penuh trauma dan rasa sakit.
Air mata yang ia tahan sejak tadi, akhirnya terjatuh juga.
"Lea gak sekuat itu tuhan, Lea cuma manusia biasa yang juga bisa merasakan sakit. Kepala Lea terlalu berisik dengan semua kata-kata menyakitkan papa dan mama."
Menangis dalam keheningan, tidak ada yang mendengar selain dirinya sendiri.
__ADS_1
"Gak, cukup sampai disini lo nangis, air mata lo terlalu berharga untuk menangisi kedua orang tua yang bahkan gak pernah menyayangi lo. Yang harus lo lakuin sekarang adalah menikmati hidup, lo gak boleh menyia-nyiakan kasih sayang orang tua baru lo."
Aruna mengusap kasar wajahnya, gadis itu kembali menunjukkan tatapan tajamnya persis seperti saat menjadi Nazalea.
"Mari mulai hidup baru sebagai Aruna Salvina."
Farhat dan Yunita yang baru saja selesai berbincang dengan dokter, kini kembali menyusuri lorong rumah sakit tersebut. Tak disangka mereka malah bertemu dengan Bumantara dan Belinda.
Kedua sahabat Aruna itu mengatakan mereka sempat datang ke rumah untuk menemui Aruna, tapi tetangga mereka bilang Aruna kembali dilarikan ke rumah sakit. Jadilah Bumantara dan Belinda bergegas ke sini.
"Sebenarnya Aruna kenapa tante?" tanya Bumantara. Terlihat jelas laki-laki itu begitu khawatir.
Yunita menoleh ke Farhat seolah meminta jawaban, melihat suaminya mengangguk kecil, Yunita menghela napasnya, sebelum berbicara, ia mengajak Bumantara dan Belinda duduk.
"Kanker yang menyerang kaki Aruna, kini menyebar ke paru-parunya. Dokter bilang umur Aruna tinggal beberapa bulan saja"
"Hah!" Belinda menutup mulut menggunakan kedua tangannya, air matanya terjatuh saat itu juga.
Sedangkan Bumantara, laki-laki itu hanya menunduk sambil meremas kasar tangannya. Bumantara sungguh tak siap untuk semuanya.
"Sekarang hapus air mata kalian!, Aruna gak boleh melihat kita sedih, mari kita temui Aruna!"
Saling menguatkan satu sama lain, kini mereka berempat berjalan bersama menuju ruang rawat Aruna berada.
Begitu membuka pintu, Farhat dan Yunita dikejutkan dengan Aruna yang tengah duduk sambil memakan buah yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.
"Astaga, Aruna. Kamu sudah bangun? ibu kira kamu masih tidur. Oh iya, siapa yang bantu kamu duduk?"
Aruna menggeleng sebagai tanda jawaban pertanyaan Yunita. "Aruna bangun sendiri."
"Ih nakal ya anak ibu ini, kalau butuh sesuatu, kamu pencet itu!" Yunita menunjuk tombol medah yang berada di atas brankar. "nanti dokter atau suster datang dan bantu kamu!"
Aruna hanya cengengesan mendengar omelan Yunita, mulutnya yang penuh dengan anggur, membuat bicaranya tak jelas.
"Oh iya sayang, ada yang mau bertemu kamu lho" ucap Farhat dengan senyum lebarnya.
"Siapa yah?"
__ADS_1
Aruna, Farhat dan Yunita kompak menoleh ke arah pintu, munculah Bumantara dan Belinda yang sejak tadi sengaja menunggu di depan pintu.
"Kalian" pekik Aruna. Matanya berbinar senang melihat kedua sahabatnya.
"Hai Run" sapa Bumantara dan Belinda kompak.
Yunita bangkit dari duduk dan membiarkan kedua sahabat putrinya itu duduk di samping kanan dan kiri Aruna.
Melihat kedekatan ketiga sahabat itu, membuat Yunita dan Farhat bahagia, setidaknya selain mereka masih ada yang menyayangi Aruna dengan tulus.
"Lo harus cepat sembuh, kan mau war novel keluaran terbaru!" ujar Belinda menyemangati.
"Iya nih, padahal gue sama Belinda mau ajak lo mendaki gunung" timpal Bumantara.
"Boro-boro mau daki gunung, jalan aja susah, kalian lupa ya kaki gue gimana!" jawab Aruna kemudian menepuk lutut kirinya
"Itu mah gampang Run, kan ada Bumantara, dia yang bakal gendong lo full 24 jam." Sahut Belinda sambil menatap Bumantara dengan alis naik turun.
"Huh! jadi korban lagi gue, tapi gak apa-apa, gue mau kok gendong lo 24 jam. Yaa palingan pinggang gue encok dikit" ucap Bumantara membuat semua yang ada di ruangan itu seketika tertawa.
Melihat Bumantara, Aruna tiba-tiba teringat akan pameran yang akan ia ikuti beberapa hari lagi, sebenarnya Aruna belum membicarakan ini dengan kedua orang tuanya.
"Ayah, ibu."
"Iya sayang" Jawab Farhat dan Yunita bersama.
"Emm sebenarnya minggu depan Aruna mau ikut pameran, Aruna mau promosikan lukisan Aruna. Boleh gak yah, bu?" tanya Aruna dengan hati-hati.
"Maaf om, tante. Sebenarnya ini ajakan saya. saya yang sudah meminta Aruna mengikuti pameran tersebut, saya lihat lukisan Aruna bagus. Saya yang salah, om tante." Bumantara menundukkan kepalanya takut Aruna akan dimarahi, mengingat kondisi Aruna yang tidak baik-baik saja.
"Eh Eh, kenapa kalian berdua merasa bersalah gitu? ayah tahu ini adalah mimpi kamu, jadi ayah gak bakal larang kok. Tapi ingat satu hal, tetap jaga kesehatan, kalau lelah istirahat, jangan dipaksakan!"
Farhat Beralih menatap Bumantara, "dan kamu Bumantara, tolong aja anak om ya!"
Mendengar perkataan Farhat membuat Aruna dan Bumantara tersenyum senang.
"Makasih ayah, Aruna sayang banget sama ayah dan ibu."
__ADS_1