Transmigrasi ke dalam Komik

Transmigrasi ke dalam Komik
Kaki Palsu


__ADS_3

Aruna adalah gadis pendiam yang tidak suka bertemu orang yang tak di kenalnya, bahkan Aruna hanya memiliki satu orang teman, yaitu Belinda. Sangat berbanding terbalik dengan Nazalea yang senang bersosialisasi dan mudah bergaul dengan siapapun.


Jika Aruna adalah pemeran figuran, lain halnya dengan Belinda yang merupakan karakter utama.


Karena memang penyakit yang di deritanya, hari-hari Aruna dihabiskan untuk berobat, check up rutin dan kemoterapi seperti biasa.


Jika tidak ada kegiatan lain, Aruna lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, Aruna juga sangat menyukai melukis.


Nazalea yang memasuki tubuh Aruna, saat ini tengah menatap beberapa lukisan Aruna yang berjejer rapi di kamarnya.


"Hobi kita beda banget ya, apa gue bisa menjalani hidup lo Aruna" hembusan napas terdengar dari gadis itu. "Gue kangen Wikta"


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu mengalihkan fokus Aruna, gadis itu menoleh, suami istri yang meninggalkannya beberapa jam lalu, kini kembali. Yang menjadi perhatian Aruna adalah benda yang di bawa Yunita, ibu Aruna.


"Itu–"


"Iya sayang, ini kaki palsu buat Aruna" Yunita dan Farhat menghampiri putri mereka.


"Karena sudah 6 bulan pasca kaki kamu di amputasi, dokter mengizinkan kamu memakai kaki palsu" Farhat menjelaskan dengan lembut.


Aruna menatap lekat benda berbentuk kaki besi atau yang bernama kaki prostetik tersebut.


"Aruna kenapa sayang, kamu gak suka?" tanya Yunita melihat sebuah kesedihan di mata Aruna.


Aruna menggeleng, "saya, emm–maksudnya Aruna suka banget bu"


"Kemarin ayah udah diajarin dokter, sekarang ayah pasang ya"


Aruna mengangguk cepat, Farhat mulai menunduk dan memasang kaus kaki tunggul dari tulang kering sampai ke lutut Aruna. Farhat mulai memasukkan kaki palsu tersebut dan menekannya pada kaki Aruna.


"Shh"


"Kenapa? ayah masangnya terlalu kasar ya?" ringisan Aruna membuat Farhat menghentikan aktifitasnya.


"Sedikit"


"Maaf ya sayang, ayah pelankan, oke!" Farhat melanjutkan sampai kaki palsu tersebut benar-benar terpasang sempurna di kaki Aruna.

__ADS_1


Aruna mencoba berdiri dengan bantuan Yunita dan Farhat, ia pun melangkahkan kakinya perlahan.


"Waahhh aku bisa jalan" Aruna berteriak senang bukan main sambil bertepuk tangan membuat kedua orang tuanya juga ikut senang.


Keluarga kecil itu saling berpelukan membagi kebahagiaan mereka satu sama lain.


Aruna tertegun, jantungnya berpacu dengan cepat, tanpa terasa air matanya tumpah. Bahagia dan haru Aruna rasakan bersama, bagaimana tidak, saat menjadi Nazalea, ia tak pernah mendapatkan perhatian apalagi pelukan dari orang tua.


Untuk pertama kalinya Nazalea merasakan kasih sayang orang tua yang tak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun.


Nazalea bahagia, bahkan sangat, kebahagiaannya tak dapat ia utarakan dengan kata-kata.


Kalau dengan menjadi Aruna gue bisa merasakan kasih sayang orang tua, gue bersedia selamanya hidup sebagai Aruna, Tuhan.


...***...


Sore ini, Yunita dan Farhat membawa Aruna ke taman, dengan senyum lebarnya, Aruna berjalan menggunakan kaki barunya.


Nazalea yang belum terbiasa dengan tubuh dan kehidupan Aruna, terkadang salah menyebut namanya.


Sikap dan perilaku Nazalea yang sangat berbeda dengan Aruna, membuat Yunita dan Farhat heran. Putri mereka yang pendiam dan tidak banyak berbicara, dalam sekejap berubah menjadi gadis ceria yang aktif dan suka berceloteh.


Tatapan Yunita dan Farhat tak lepas dari Aruna yang terlihat sangat menikmati makanannya saat ini, yaitu es krim. Biasanya Aruna tak menyukai makanan manis, namun sekali lagi Nazalea merubahnya.


"Sayang kamu udah habis tiga es krim loh, inget kata dokter kamu gak boleh terlalu banyak makan makanan manis" tegur Farhat sambil mengusap sudut bibir Aruna.


"Oh iya aku lupa, maaf yah sekali ini aja" saking menikmati perhatian kedua orang tua Aruna, Nazalea bahkan sampai melupakan penyakit yang Aruna derita.


Melihat beberapa anak kecil bermain layang-layang, Aruna dengan cepat menghampiri kumpulan anak kecil tersebut.


"ARUNA JANGAN LARI, INGAT KAKI KAMU!" teriak Yunita memperingati.


"Hai, aku boleh ikut main gak?" ucap Aruna membungkukkan tubuhnya sedikit.


Ketiga anak kecil itu menoleh dan seketika senyum mereka hilang terganti dengan wajah heran.


"Kamu siapa?" tanya salah seorang anak kecil.


"Aku Naz– Aruna, nama Aruna Salvina, aku boleh ikut main sama kalian gak?"

__ADS_1


"Kenapa muka kamu begitu?" tanya anak kecil lain.


"Gitu gimana?" tanya Aruna heran.


"Mirip Chucky" Anak kecil lain menimpali.


"HEH!, LO PIKIR GUE BONEKA PEMBUNUH, DASAR BOCIL KEMATIAN!"


Bukannya takut mendengar kemarahan Aruna, para anak kecil tersebut malah tertawa.


Aruna terdiam, sepertinya ucapan anak kecil tersebut memang benar adanya, karakter Aruna mirip dengan chucky yang memiliki rambut pendek yang mengembang acak-acakan.


"Jahat kalian, aku kan cuma mau ikutan main, malah di katain jelek, hiks hiks" Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berpura-pura menangis.


Melihat Aruna menangis, ketiga anak laki-laki tersebut seketika panik dan saling pandang satu sama lain. Salah seorang berinisiatif mendekati Aruna dan memberikan benang layang-layangnya pada Aruna.


"Maaf, tadi kakak mau ikut kita main kan? ini pake layangan aku aja!"


Aruna menurunkan tangan dan melihat anak kecil tersebut tersenyum padanya, mulailah Aruna memainkan layang-layang tersebut.


Ketiga anak kecil tersebut sampai melongo melihat kemampuan Aruna, mereka bersorak kegirangan ketika Aruna berhasil memutuskan salah satu layang-layang musuh mereka.


Mereka tidak tahu saja yang ada di dalam tubuh Aruna saat ini adalah Nazalea, seorang gadis yang terkenal dengan kehebatannya dalam segala hal.


"Kak, besok-besok main sama kita lagi ya!, kakak hebat banget"


"Halah tadi kalian nolak bahkan ngatain kakak jelek" kata Aruna merajuk.


"Itu bercanda kak"


Puas bermain, Aruna mengajak ketiga anak tersebut untuk duduk, sambil mengobrol mereka terus memuji Aruna membuat gadis itu semakin menyombongkan diri.


"Aruna, kita pulang yuk sayang, udah jam segini" ujar Yunita menghampiri sang putri.


Mendengar Aruna akan pulang, anak-anak tersebut malah merengek untuk Aruna tetap di sana dan bermain bersama mereka.


"Ini udah hampir malam, kalian juga pulang ya, besok kita main lagi" Aruna berbicara dengan lembut agar anak-anak itu mengerti


"Janji ya kak, besok main sama kita lagi"

__ADS_1


"Janji" Aruna mengangguk yakin.


__ADS_2