
"Shh"
Ringisan kecil terdengar dari seorang gadis dengan selimut menutup tubuh bagian bawahnya.
Mencoba membuka matanya namun entah mengapa sangatlah sulit, Gadis itu meraba sekitar dengan tangan kirinya. Sebuah benda besar dengan kain bertekstur lembut di pegangnya, di remas-remas benda tersebut kemudian ia menghela napas.
"Ini mah boneka"
Gadis itu terdiam beberapa saat hingga dengan paksa membuka matanya, "gue kan gak punya boneka"
Gadis itu terkejut melihat sebuah boneka panda yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya.
"Kapan gue beli nih boneka"
Gadis itu kembali dibuat bingung ketika melihat pemandangan kamar yang di tempatinya saat ini.
Kamar berukuran sedang itu terlihat begitu rapi dan bersih, warna violet mendominasi kamar tersebut, bahkan selimut hingga seprei berwarna senada. Dengan boneka yang memenuhi setengah tempat tidur, membuat gadis itu semakin bingung.
"Sejak kapan kamar gue berubah gini"
Gadis itu hendak bangun namun tubuhnya terasa sangat lemah, "kenapa badan gue rasanya sakit semua, lemas banget kayak habis maraton anjir"
Gadis itu kembali meraba sekitar bermaksud mencari ponselnya, "astaga sebenarnya gue di mana sih, ya tuhan HP gue mana lagi"
Tak bisa bergerak banyak, gadis itu memilih tetap diam menutup matanya sambil menepuk dahinya pelan.
Gadis itu kembali membuka mata ketika mengingat kegiatan yang sebelumnya ia alami.
Ya, Nazalea mulai ingat, semalam ia tengah balap motor seperti biasa hingga tiba-tiba matanya seperti tertiup angin yang membuatnya oleng, setelah itu Nazalea tak mengingat apapun.
Tak peduli tubuhnya yang sakit, dengan susah payah Nazalea duduk kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
Nazalea menatap sekitar kamar, meja belajar yang berada di sudut kamar, juga peralatan melukis yang berjejer rapi di rak yang berada di sebelahnya, sangat berbeda dengan kamarnya yang seperti perpustakaan dengan banyak buku, pikir Nazalea.
"Kalau semalam gue kecelakaan, kenapa gue tiba-tiba ada disini?, gak mungkin kan kalau gue di culik!"
Hahahahahah
"Mana ada yang berani nyulik gue" Nazalea menyombongkan dirinya, namun kesombongannya itu tak berlangsung lama ketika ia membuka selimut dan mendapati kaki kirinya yang sebawah lutut hilang entah kemana.
"Hah, hah, WIKTAAAAAA"
__ADS_1
Saat Nazalea masih menikmati rasa terkejutnya, tiba-tiba datang seorang pria dan wanita dewasa dengan wajah khawatirnya.
"Ya ampun sayang kamu kenapa?" tanya wanita dewasa itu.
"Anak ayah kenapa? ada yang sakit?" kali ini pria dewasa itu yang bertanya.
"Hah! kalian berdua siapa? ini kaki saya kenapa? saya di mana? Wikta tolong hiks hiks" Nazalea menangis dan meracau tidak jelas membuat wanita dan pria dewasa di depannya saling tatap dengan wajah heran.
"Aruna, ini ayah sama ibu sayang, ini pasti efek kemoterapi tadi siang makanya kamu jadi linglung begini" sebuah usapan lembut mendarat di kepala Nazalea.
"Ayah? ibu? kemoterapi? maksud kalian apa? Aruna siapa? nama saya Nazalea" gadis itu memundurkan tubuhnya menjauh.
"Kok gini sih yah, biasanya kalau habis kemo Aruna cuma kelelahan aja, ini kenapa ngomongnya malah ngelantur"
Dengan bersusah payah, Nazalea memaksa turun dari tempat tidur, ia dibuat semakin terkejut kala melihat bayangan dirinya di cermin.
"Gila, ini siapa jelek banget"
Bintik kemerahan di kedua pipinya, rambut keriting mengembang di atas bahu, juga bibir yang pucat. Nazalea meraba wajahnya yang makin membuatnya histeris.
"Muka cantik gue mana, kenapa gue berubah jadi jelek gini, huwaaaaaa"
Nazalea menangis tak karuan membuat kedua orang yang sejak tadi hanya diam, akhirnya memberanikan diri mendekat dan menenangkannya.
"Nama saya Nazalea bukan Aruna" ralat Nazalea tak ingin namanya diubah.
"Kamu itu Aruna, putri ibu dan ayah, wajah dan rambut kamu memang seperti itu sejak kecil, dan untuk kaki kamu, beberapa bulan lalu di amputasi karena kamu mengidap Osteosarkoma"
Deg
Nazalea menghentikan tangisnya, ia mencoba mencerna ucapan wanita dewasa yang tengah mengusap kepalanya itu.
Sebagai mahasiswa kedokteran, Nazalea tentu tahu apa itu Osteosarkoma.
Osteosarkoma sendiri adalah kanker pada tulang yang dapat merusak jaringan sehingga menyebabkan tulang menjadi rapuh. Meski dapat terjadi pada tulang manapun, Osteosarkoma paling sering terjadi pada tulang panjang seperti lengan dan kaki. Kondisi ini cenderung terjadi pada anak-anak dan orang dewasa muda.
"Sejak kapan? sejak kapan saya mengidap ini?" tanya Nazalea datar.
"Sejak dua tahun lalu, maaf kita tidak bisa menjaga kamu dengan baik hingga membuat kamu seperti ini sayang" pria dewasa yang menyebut dirinya 'ayah' menunduk dengan rasa bersalahnya.
"Umur saya berapa?" Nazalea kembali bertanya.
__ADS_1
"Umur kamu 19 tahun Aruna"
"Maaf sebelumnya, tapi nama kalian siapa?" Nazalea mulai melunak dan tatapan matanya mulai berubah.
"Nama ibu Yunita dan ayah Farhat"
"Apa kota ini namanya Wianta?" terka Nazalea yang mendapat anggukan kepala sebagai jawaban.
"Nama lengkap saya Aruna Salvina?"
"Benar sayang, ayah sendiri yang memberikan nama itu untuk putri tercinta ayah" jawab pria dewasa bernama Farhat itu.
Nazalea menunduk, matanya mulai berkaca-kaca, "bisa tinggalkan saya sendiri? saya mohon!"
Yunita dan Farhat saling pandang, mereka menganggukkan kepala kemudian beranjak keluar dari kamar putrinya itu.
Masih di bawah lantai, Nazalea terduduk mencerna semua yang terjadi, pikirannya benar-benar kacau saat ini.
"Aruna Salvina, Oseteosarkoma, kaki di amputasi, 19 tahun. itu semua berhubungan sama komik yang di kasih Wikta dulu" gumam Nazalea.
Nazalea ingin menganggap semuanya mimpi, namun terelakkan karena ia merasa sakit saat beberapa kali ia menepuk wajahnya.
Alasan mengapa Nazalea bisa menebak kota dan nama lengkapnya dengan benar adalah karena saat kecil dulu, Wikta pernah memberikan Nazalea sebuah komik berjudul 'Dunia kita berbeda'.
Dengan semua fakta, Nazalea sadar ia telah masuk ke dalam komik pemberian Wikta tersebut. Sebuah komik yang menjadi awal mula Nazalea suka membaca hingga mengkoleksi banyak buku.
"Jadi, transmigrasi itu beneran ada? ya tuhan kenapa gue berperan sebagai Aruna yang cuma figuran yang jelek dengan segala kekurangannya? Kenapa gak jadi Belinda yang karakter utama sih!"
Nazalea mengacak rambutnya kasar, sadar dengan rambutnya barunya, Nazalea kembali merengek.
"Rambut gue yang berharga kenapa malah jadi gini ahhhhh, huwaaaa Wikta tolong lea"
Lagi-lagi Nazalea di buat kesal ketika melihat tubuh Aruna yang begitu kurus, "ya tuhan, ini badan apa kerangka laboratorium, kurus amat dah!, lo gak makan berapa bulan sih Aruna?"
Dengan bersusah payah, Nazalea kembali ke tempat tidur, "oh iya, ini halaman ke berapa ya? gimana caranya gue balik ke dunia nyata? ahh sial, lama-lama bisa gila gue"
Nazalea membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamar Aruna.
Mama papa nangis gak ya ketika tahu gue koma di rumah sakit?, kalau Wikta mah udah pasti. Umur Aruna kan tinggal beberapa bulan lagi, apa kalau Aruna mati gue bisa kembali ke dunia nyata?
Hening tercipta karena Nazalea sibuk dengan batinnya sendiri.
__ADS_1
"Mungkin satu-satunya cara adalah menunggu Aruna mati, huh, tenang Nazalea, umur Aruna kan tinggal beberapa bulan lagi. Gue akan buat sisa hidup lo menjadi berwarna Aruna Salvina. Itu adalah janji gue, Nazalea Deanda."