
Nazalea yang pada dasarnya orang yang aktif dan senang beraktivitas, kini hanya bisa terbaring di brankar rumah sakit. Tubuh Aruna begitu lemah hingga membuatnya tak bisa banyak bergerak.
Terdengar helaan napas berat dari gadis bermata sayu itu.
"Aruna kenapa? ada yang sakit?"
"Bosen bu" jawab Aruna jujur. "kapan Aruna bisa pulang?"
Yunita mengusap kepala putrinya itu, "sabar ya! nanti kalau kondisi Aruna udah membaik, kita bisa pulang."
"Tapi Aruna bosen banget bu, seharian gak ngapa-ngapain."
Yunita pun jadi pusing sendiri, berkali-kali menawarkan makanan namun Aruna tetap menolak.
"Aruna boleh minta tolong?"
"Boleh, sayangnya ibu mau apa?" tanya Yunita lembut seperti biasa.
"Emm minta tolong ambilin komik sama novel yang waktu itu Aruna beli bareng Belinda."
"Buku-buku kamu semuanya ada di kamar kamu ya?"
Aruna mengangguk seraya memberikan senyum tipisnya. Yunita melihat sekeliling sambil memikirkan sesuatu.
Farhat sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali, sebenarnya bisa saja Yunita pulang dan mengambil semua buku Aruna, namun jika ia pergi tak ada siapapun yang menemani.
"Sayang, ambil bukunya nanti aja ya! tunggu ayah kesini!"
Aruna mendesah lesu, "yaaahhh ibu, ayah kan pulang kerjanya sore, sedangkan ini masih siang bu."
"Ibu ngerti, tapi kan kam–"
Ucapan Yunita terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu, beberapa detik kemudian muncul kepala seorang laki-laki dengan senyuman manis seperti biasa.
"Saya boleh masuk gak tante?"
"Boleh, silakan"
Bumantara berjalan masuk dengan membawa boneka dan buah di kedua tangannya.
__ADS_1
"Ini buat teman tidur lo" Bumantara meletakkan boneka kecil berbentuk beruang bawaannya di samping Aruna. "Dan ini buat pengisi perut lo" Bumantara kembali meletakkan bingkisan berupa buah.
"Walaupun gue gak suka boneka, tapi makasih ya Bum." Ucap dengan senyum tipisnya.
"Lho bukannya lo suka banget ya sama boneka? sampe kamar lo di penuhi sama boneka."
"Eh, emm. Tadinya gue emang suka banget, tapi lama-kelamaan jadi biasa aja."
"Emm Bumantara, tante minta tolong jaga Aruna sebentar ya, tante mau pulang ambil buku-bukunya Aruna." ucap Yunita meminta dengan sangat.
"Oh ya udah tante silakan, biar Bumantara yang jaga Aruna"
"Makasi ya, tante permisi" Yunita menyempatkan mencium kening Aruna sebelum keluar dari kamar rawat putrinya itu.
"Hati-hati bu"
Setelah kepergian Yunita, kini Bumantara beralih duduk di kursi yang berada di dekat brankar Aruna.
Melihat Aruna kembali sakit membuat laki-laki itu ikut sakit, Bumantara yang sibuk dengan pikirannya menjadi diam menundukkan kepalanya.
Aruna yang melihat Bumantara tentu saja merasa heran, laki-laki yang biasanya banyak bicara, humoris dan senang bercanda tiba-tiba menjadi lesu tak bersemangat.
"Jangan bilang lo sakit juga Bum!" ucap Aruna membuat Bumantara seketika mengangkat kepalanya.
Aruna terkekeh pelan dengan tingkah laki-laki yang memiliki senyuman indah itu. "Lo kenapa Bum? dari tadi diem aja? sakit juga kah?"
"Gue gak apa-apa, cuma pusing masalah tugas aja. Eh bentar, barusan lo manggil gue apa? Bum?"
"Iya, kan nama lo Bumantara, jadi gue ambil depannya aja. Bum!"
Bumantara seketika mengerutkan keningnya, sebelumnya Aruna memanggilnya 'Tara' dan sekarang panggilannya berubah menjadi 'Bum'. Apa kanker merusak otak juga, pikir Bumantara.
"Tuh kan diem lagi" tegur Aruna.
"Hehehe, gimana keadaan lo?"
"Yaa gitu deh"
"Jangan buat gue takut Run" Bumantara meletakkan tangannya di kepala Aruna, kemudian menusapnya pelan.
__ADS_1
Kali ini Aruna yang dibuat bingung dengan perkataan Bumantara, laki-laki selalu saja berteka-teki.
"Lo takut kenapa?" Aruna menggapai tangan Bumantara yang berada di kepalanya kemudian menggenggamnya.
"Gue–gue takut kehilangan lo!"
Aruna tersentak, sebenarnya apa maksud dari Bumantara, ia pernah mendengar kata-kata semacam itu dari Wikta, dan ia mengerti itu semacam ungkapan cinta.
Tidak mungkin Bumantara menyukai Aruna, sedangkan Aruna hanya sebatas figuran, lagipula kisah cinta Bumantara dan Belinda sudah tertata rapi di komik ini.
"Semua orang pasti akan mati Bum, apalagi dengan keadaan gue yang begini."
Bumantara lagi-lagi terdiam, mau dijelaskan bagaimanapun Aruna tetap tak akan mengerti ketakutan yang dirasakannya.
"Bum"
"Ya, kenapa Run?"
"Boleh minta sesuatu gak?"
"Apa tuh?"
"Gak tau kenapa gue lagi pengen banget dengar kisah cinta romantis. Ceritain Bum!" Aruna menjawab dengan suara lemah.
"Lo nyuruh gue ngedongeng?"
"Yaa bisa di bilang gitu."
Mulailah Bumantara bercerita sebuah dongeng tentang laki-laki dan wanita yang dipisahkan karena alam mereka yang berbeda. Awalnya memang terdengar begitu menyakitkan, namun seiring berjalannya waktu, cerita Bumantara membuat Aruna tersenyum.
Dipisahkan oleh takdir, lalu kembali di pertemukan karena takdir.
"Uhuk uhuk uhuk" beberapa kali Aruna terbatuk dan kembali mengeluarkan darah dari sudut bibirnya, namun Aruna sama sekali tak menyadarinya.
Bumantara ingin sekali mengusap sudut bibir Aruna dan memanggil dokter, namun urung ia lakukan ketika melihat wajah Aruna yang begitu tenang.
Mata sayu Aruna tak hentinya menatap wajah laki-laki di depannya saat ini, entah mengapa ada rasa nyaman saat memandang Bumantara.
Rasa sakit di dada Aruna seolah terobati dengan usapan lembut di kepala yang diberikan Bumantara. Perlahan mata Aruna terpejam, saat itulah Bumantara berlari keluar memanggil dokter.
__ADS_1
Air mata Bumantara tak henti terjatuh melihat Aruna yang saat ini tengah di periksa.
Lo pasti bisa sembuh Run, gue mohon jangan tinggalin gue.