Transmigrasi ke dalam Komik

Transmigrasi ke dalam Komik
Pameran lukisan


__ADS_3

Setelah membantu Aruna memasang kaki palsunya, Bumantara kembali membantu Aruna membereskan lukisan yang akan dibawa.


Bumantara menangkap sebuah keanehan dari jejeran lukisan Aruna. Terdapat dua gambar wajah yang Bumantara sendiri tak tahu siapa.


Sebenarnya Bumantara ingin bertanya, namun urung ia lakukan karena Aruna mengajaknya segera pergi, takut telat katanya.


Setelah pamit dengan Yunita, kedua sahabat itu melakukan perjalanan menuju tempat dilaksanakannya pameran seni berlangsung.


Di dalam mobil, Aruna terlihat begitu gugup, bahkan tangan dan kakinya tak bisa diam. Perlilaku Aruna itu tak lepas dari pandangan Bumantara yang saat ini tengah menyetir.


"Lukisan lo semuanya bagus Run, gue yakin semua orang suka." Bumantara menyemangati.


"Ya semoga aja"


Aruna membuka tas kecilnya dan mengambil sebuah ikat rambut. Gadis itu mengumpulkan rambutnya ke belakangan dan mengikatnya.


Tak ada percakapan berlebih antara kedua insan itu, Bumantara yang fokus menyetir, sedangkan Aruna terus memperhatikan lukisannya.


Sekitar setengah jam perjalanan, mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan. Aruna dan Bumantara kompak turun dari mobil dan berjalan menemui panitia pameran.


Tak banyak yang Aruna bawa hari ini, ia hanya membawa 3 lukisan yang berbeda tema.


Selesai berbincang dan memberikan lukisannya, Bumantara mengajak Aruna berkeliling sembari menunggu acaranya berlangsung.


Bumantara mengecek jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Takut akan kesehatan Aruna yang kembali terganggu akibat kelelahan, Bumantara mengajak Aruna untuk duduk saja.


Tanpa berkata apapun, laki-laki berlesung pipi itu berlari entah kemana. Setelah beberapa saat Bumantara kembali dengan membawa makanan.


Aruna melirik tangan Bumantara, dilihatnya laki-laki itu memegang Toast dengan saus dan mayones yang penuh. Aruna sampai menelan ludahnya sendiri.

__ADS_1


"Udah jam segini, makan dulu!" Bumantara memberikan salah satunya pada Aruna.


Tanpa banyak bicara, Aruna langsung melahap makanan itu, gadis itu membuka mulutnya lebar-lebar tak peduli ada laki-laki tampan di depannya.


Bumantara menggeleng sambil tersenyum kecil melihat tingkah laku gadis di sampingnya. Tangannya terulur menghapus sisa saus di sudut bibir Aruna.


Hanya dengan beberapa suapan Aruna berhasil menghabiskan sebuah Toast berisi daging tersebut.


Aruna tersenyum lebar kala Bumantara menyodorkan Toast miliknya yang belum ia makan sedikitpun. Awalnya Aruna menolak karena tak enak hati, namun Bumantara mengatakan ia belum lapar, jadilah Aruna yang menghabiskannya.


"Bagaimana tuan putri?"


"Wah kenyang banget, perut gue sampe mau meledak rasanya!" Jawab Aruna sambil mengusap perutnya.


...***...


Aruna kira para seniman yang ikut pameran akan meninggalkan lukisan mereka begitu saja, ternyata salah. Para seniman akan menjelaskan tema dan arti lukisan mereka.


Sejak tadi gadis itu sibuk melihat penampilannya dengan cermin kecil yang dibawanya. Berkali-kali gadis itu mendesah kesal ketika melihat wajahnya yang tak mendukung untuk ditunjukkan ke publik.


"Pengen ganti muka deh!" keluh Aruna yang dapat di dengar Bumantara yang duduk di sampingnya.


"Apa lo bilang? Ganti muka? Emang muka lo kenapa?"


"Huh! Lo gak liat muka gue jelek gini" Aruna menunjuk wajahnya yang seketika membuat Bumantara mengerutkan keningnya.


"Kata siapa lo jelek? Gak ada manusia yang terlahir jelek Run."


"Lo bilang gitu karena lo ganteng Bum!" balas Aruna memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Kita cuma di lahir di tempat yang salah aja Run, mungkin di sini gue dianggap ganteng, tapi di belahan dunia lain pasti ada yang bilang gue jelek"


"Mungkin lo pernah dengar kata-kata gini 'Lo cantik di mata orang yang tepat'. Kata-kata itu benar banget Run, dan gue adalah orang yang tepat buat lo, karena di mata gue lo itu cantik." Lanjut Bumantara membuat Aruna seketika terpaku.


Deg Deg Deg


Apa ini? kenapa jantung gue berdebar? ya tuhan, lagian apa-apaan sih Bumantara ngomong gitu.


Sementara Bumantara sibuk menatap Aruna, gadis itu malah sibuk dengan batinnya. Entah Bumantara serius atau tidak dalam mengatakannya, yang pasti kata-kata itu membuat Aruna gugup.


Aruna kembali di kejutkan dengan sebuah tangan yang tiba-tiba mengenggam tangan kirinya. Dilihatnya Bumantara menatapnya sambil menunjukkan senyuman manisnya.


"Lo jelek kalo senyum gitu!"


"Ck, Arunaaa! Ngerusak suasana aja sih lo!" kesal Bumantara yang langsung mengalihkan pandangannya.


Melihat wajah kesal Bumantara, Aruna langsung meledakkan ketawanya. Saat tengah asik meledek Bumantara, ia dikejutkan dengan namanya yang tiba-tiba saja di panggil. Sontak Aruna menghentikan tertawanya dan berjalan untuk mengenalkan karyanya.


Lukisan pertama Aruna bertema Feminisme. Kain kanvas putih polos itu Aruna isi dengan lukisan dua wanita yang sedang mengangkat tinggi-tinggi sebuah simbol wanita.


Dalam hal ini, ia ingin memperjuangkan hak-hak perempuan, menurut Nazalea sendiri, bukan hanya laki-laki namun juga para perempuan memiliki hak yang sama untuk menentukan jalan hidup mereka. Nazalea juga ingin menunjukkan pada dunia bahwa para perempuan mampu menjadi apapun yang mereka inginkan.


Di barisan penonton, Bumantara menatap gadis itu dengan penuh kagum. Bumantara tak bisa melewatkan momen ini, ia langsung mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar serta video Aruna.


Suara tepuk tangan terdengar begitu riuh ketika Aruna berbicara terimakasih sebagai penutup. Lukisan yang indah serta penjelasan yang bagus membuat orang yang berada di sana dibuat kagum dengan Aruna.


Gadis itu berjalan ke arah Bumantara dengan senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya. Tepat saat berdiri di depan Bumantara, laki-laki itu menarik Aruna ke dalam pelukannya, lagi dan lagi Auna dibuat terkejut.


"Gue bangga banget sama lo Run"

__ADS_1


__ADS_2