
"Kalian, awasi profesor itu!" perintah Adel dan Dina kepada pengawal khusus. "Baik, nona." jawab pengawal.
'Heh, aku akan buatkan alat yang saaangat bagus. Saking bagusnya, alat ini bisa membuatku menjatuhkan keluarga besar Grainne dan keluarga Shahraen.' batin Prof. Handers.
Seminggu kemudian...
"Prof, bagaimana dengan alatnya? Apakah alatnya sudah selesai?" tanya Dina dari telepon. "Ya sudah, kalian sudah bisa mengambilnya." jawab Prof. Handers lalu memutus panggilan.
"Hohoho, rencana ku pasti berjalan lancar. Mulai dari menghancurkan keluarga Grainne lalu keluarga Shahraen." guman Prof. Handers. "Bersiaplah." lanjutnya.
Kemudian alat itu diambil oleh Dina dan Adel. Seperti dugaan, alat tersebut sangatlah cantik dan mewah. Adel langsung melakukan transaksi pembayaran dengan Prof. Handers. "Berapa harganya, Prof?" tanya Adel.
"Rp.100.000.000,- case." kata Prof. Handers. "Mau transfer atau bayar sekarang, Prof?" tanya Adel. "Transfer aja ke nomor rekening ini." lanjut Prof. Handers sembari memberikan secarik kertas berisikan nomor rekening.
"Oke kalau gitu, nanti saya transfer ke rekening Professor." jawab Adel. "Baik, saya tunggu. Paling lama minggu depan saya tunggu." kata Prof. Handers sembari melihat-lihat kalender. "Oke, Prof. Besok saya transfer ke Professor." ujar Adel.
__ADS_1
"Baik saya tunggu." jawab Prof. Handers. Kemudian Adel dan Dina pulang ke kediaman Shahraen.
————
Ayah Nayya sedang membaca koran di ruang baca di kediaman Shahraen. Biasa sebelum pulang ke kediaman Grainne, ayah Nayya membaca koran atau buku-buku sejarah pahlawan di ruang baca keluarga Shahraen. Sembari menunggu kepulangan Dina dan Adel.
"Sebentar lagi musim panas, apa yang akan ku lakukan dengan putri kesayanganku?" guman Royyan. Ia sibuk memikirkan kemana ia akan pergi bersama putri kesayangannya saat libur musim panas. Karna saat libur musim pana, ia tidak perlu mengurus perusahaan Grainfloth.
"Om Royyan." sapa seseorang dari pintu ruang baca. Royyan menoleh mencari sumber suara yang menyebut namanya itu. "Eh, kalian. Sudah dapat barangnya?" tanya Royyan.
"Oh, oke. Uang yang Om kasih kemarin udah cukup kan? Atau kurang?" tanya Royyan. "Udah cukup kok, Om. Berlebih bahkan." jawab Adel sembari memberikan uang yang berlebih.
"Oh, oke." Royyan mengambil uang yang diberikan Adel. "Oke langsung pasang saja alat pelacaknya di badan Nayya dan sambungkan ke komputer di ruang kerja kalian." perintah Royyan.
"Oke, Om." jawab Adel dan Dina sembari keluar dari ruang baca menuju ke ruang kerja mereka.
__ADS_1
————
"Ssstt! Pelan-pelan." bisik Dina kepada Adel. "Iya, pelan-pelan masang alatnya. Biar aku yang sambungkan ke komputer. Cepetan." jawab Adel dengan suara yang sangat pelan.
Dina memasang alatnya di leher Nayya dan Adel menyambungkan ke komputer. Mereka melakukan misi yang diberikan Royyan untuk melacak kemanapun Nayya pergi.
Adel juga menyambungkan alat tersebut ke tablet nya agar saat tidak di ruang kerja dapat memantau keberadaan Nayya.
Sementara itu...
"Hoho, alatnya sudah hidup. Aku bisa mengetahui rasa dan lika-liku keluarga Grainne dan Shahraen. Aku bisa dengan mudah menjatuhkan mereka." guman Prof. Handers.
————
Adel dan Dina selalu memantau keberadaan Nayya. Untuk beberapa hari, Nayya tidak mengalami bahaya sama sekali. Sehingga Adel dan Dina tidak terlalu banyak bekerja.
__ADS_1