
"Emang aku sudah mengizinkanmu pulang?" tanya Reno sambil bersandar di Dinding.
"Apa lagi yang kau inginkan, ha?!" tanya Nayya terkejut.
'Aku kira anak ini sudah pulang lebih awal, ternyata belum pulang. Apa lagi yang dia mau?' batin Nayya.
"Beginikah sikap seorang sekretaris pada atasannya? Apakah itu pantas?" tanya Reno sedang mengerjai Nayya.
"Disini tidak ada siapa-siapa, untuk apa aku menghomatimu segala?" tanya Nayya marah.
"Baiklah aku akan memecatmu." jawab Reno santuy.
"Jangan.. jangan.. baiklah aku akan bersikap baik." balas Nayya pura-pura baik.
"Anak pintar. Ayo pulang bersamaku." ajak Reno.
"Gak mau! Aku gak sudi pulang denganmu." jawab Nayya.
"Baiklah aku akan mengurangi gajimu." ancam Reno.
"Argh! Baiklah aku pulang denganmu." jawab Nayya terpaksa.
"Anak pintar. Ayo naik, janga lupa pakai sabuk pengaman." seru Reno dengan wajah penuh ancaman.
"Baik baik.." jawab Nayya.
Mereka pulang menuju rumah Nayya. Tanpa sadar Nayya tertidur. Reno enggan membanguninya, jadi ia membawa Nayya kerumahnya.
Sesampainya dirumah Reno..
"Bibi! Mandikan dia dan ganti pakaiannya! Jangan sampai ia terbangun." perintah Reno.
"Baik, Tuan Muda." jawab Bibi
"Nona ini sudah dimandikan tuan." seru Bibi.
"Baik, sini serahkan padaku."
"Nayya, jangan salahkan aku bila terjadi sesuatu padamu. Hehehe." bisik Reno.
"Hmm.." jawab Nayya dalam keadaan tertidur.
"Dasar! Perempuan tidur seperti **** saja." seru Reno merasa gemas dengan Nayya.
Keesokan harinya..
"Aaaaaaaaaaaaakhh!" teriak Nayya.
"Ada apa?!" tanya Reno terkejut.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa disini, hah?! tanya Nayya marah.
"Semalam kau tertidur di mobil dan tidak memberi tauku dimana rumahmu, jadi aku membawamu ke sini." jawab Reno.
"Trus kenapa kau kau tidak pakai baju? Dan aku? Kenapa aku juga tidak pakai bajuuuuuuu?! Renoooooooo!" teriak Nayya.
"Hey! Sudah sudah. Nanti semua pelayan disini mendengarnya." jawab Reno menenangkan Nayya.
"Biarin! Biar semua pelayanmu tau kajahatan apa yang Tuan Mudanya lakukan!" balas Nayya semakin marah.
"Sudah kau diam saja." jawab Reno kemudian menyenggah Nayya di bawah tubuhnya.
"Kau pasti tau apa yang mau aku lakukan, bukan begitu Nayya Grainne?" tanya Reno.
"Apa?!" teriak Nayya.
"Uhm.." Reno mencium bibir Nayya. Menahan tubuh Nayya.
'Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengelak. Dia menahanku dengan sangat kuat. Aku tidak bisa bernapas' batin Nayya.
"Hah.. hah.. sudhah! Janghahn laghih! Akhuh tidhak kuaht! (Sudah! Jangan lagi! Aku tidak kuat!)" seru Nayya mendorong tubuh Reno.
"Kau tau? Hanya kepadamu aku seperti ini. Tidak ada wanita yang begitu memikat hatiku selama ini. Hanya kau lah yang membuatku seperti ini." seru Reno.
"Maksudmu? Sebelumnya kau tidak pernah melakukannya pada wanita lain? Trus kenapa harus aku?" tanya Nayya heran.
'Wanita ini bodoh atau cemana sih? Aku sedang mengakui perasaanku padanya, tapi kenapa responnya seperti tidak tau apa-apa?' batin Reno.
"Hah? Hei! jawab dulu pertanyaanku." tegas Nayya.
'Oh iya, hari ini cuti kerja. Sebaiknya aku mengajak Dina untuk makan.' batin Nayya.
"Hallo(?). Ini Dina kan?" tanya Nayya di telepon.
"Iya, kanapa Nay?" tanya Dina balik.
"Makan di cafe kuy!" ajak Nayya.
"Emm, boleh! Dimana?" tanya Dina.
"Di cafe yang baru bukak itu aja, yang disebelash kampus kita dulu." saran Nayya.
"Okey, aku siap-siap sekarang ya." jawab Dina.
"Okey, gue otw jemput lo nih." balas Nayya kemudian menutup telepon.
Nayya siap-siap kemudian pulang kerumah meletakkan barang-barangnya kemudian menjemput Dina.
"Din, gue udah sampek ni!" seru Nayya di telepon.
__ADS_1
"Okey, aku turun sekarang." jawab Dina menutup telepon.
"Oke, cepetan naik! Pegangan yang erat ya, kalau gak bisa peluk gue yang erat." seru Nayya.
"Okey." jawab Dina.
Mereka menuju cafe yang mereka bilang dengan menggunakan motor Nayya.
"Lo pesen apa, Din? Gue yang bandar." tanya Nayya.
"Eh? Serius Nay?" tanya Dina balik.
"Gue nanyak lo mau makan apa malah nanyak balik. Ya iyalah gue serius. Cepetan lo mau makan apa?" jawab Nayya.
"Kalau gitu aku mau Italian Steak sama minumnya Cappuccino Americano." jawab Dina.
"Bang! Italian Steak nya satu, Cappuccino Americano nya satu, Beef Spaghetti nya satu, sama Hot Green Tea nya satu." pesan Nayya.
"Oke mbak." jawab pelayannya.
"GPL ya bang." seru Nayya.
"Sip!"
"Kamu mau cerita apa, Nay?" tanya Dina.
"Ternyata lo emang paling ngerti gue ya, Din."
"Iyalah, kita ni udah kayak pohon sama tanah. Lengket trus." jawab Dina.
"Jadi, kan ada cowok. Dia tuh sering banget gangguin gue. Trus semalem pas gue pulang kerja, dia ngotot banget mau nganterin gue. Ya gue nurut ajalah. Trus dia malah bawa gue kerumahnya. Gue tidur satu ranjang sama dia, kan gila banget! Trus pas paginya dia bilang kalo dia tuh cuman jahil sama aku doang, gak pernah sama cewek lain. Itu tuh artinya apa?" jelas Nayya.
"Hah? Serius kamu tidur satu ranjang sama dia?" tanya Dina kejut.
"Iya, Din. Udah jangan bahas itu dulu, jawab dulu pertanyaan gue tadi." jawab Nayya.
"Hmm.. kalau menurut aku, kayaknya dia sedang menyatakan perasaannya ke kamu. Tapi secara gak langsung gitu." jelas Dina.
"Gak mungkin lah! Kalau dia suka sama gue, dia bakal ngasi perhatian ke gue. Bukannya ngerjain gue gitu." jawab Nayya tak senang.
"Beda orang beda caranya, Nay. Mungkin dia ngerjain kamu itu dengan maksud memberi perhatian ke kamu. Emang dia ada kayak gitu sama cewek lain?" tanya Dina.
"Ya, nggak pernah sih. Dia cuman kayak gitu ke gue doang." jawab Nayya.
"Tuh kan! Coba kamu tanya aja lagi deh." sambung Dina.
"Yaudah deh, nanti gue coba minta penjelasan dia." jawab Nayya.
"Gitu dong, baru Nayya yang aku kenal." balas Dina.
__ADS_1
Akhirnya mereka berpisah dan Nayya pun mencari Reno.
"Reno!" panggil Nayya.