
Hari pernikahan Adelia.
Rihana mematut dirinya di cermin, tersenyum. seorang perias baru saja merias wajahnya, menyulap wajah Rihana menjadi sangat cantik
Rihana biasanya hanya memakai makeup tipis sehingga tampak natural. bahkan pergi ke pesta pun tidak pernah berdandan seperti saat ini
"Kakak cantik sekali !" Namira takjub, ia memegang bahu Rihana mengagetkannya
"Kamu ini bikin kakak kaget saja! kamu juga cantik sekali.oh, ya.. Kakak mau ke kamar Ibu, mau ikut tidak ?"
"Aku ikut, Kak"
mereka sedang berada di hotel tempat resepsi pernikahan Adelia. fasilitas dari wedding organizer , 3 kamar Hotel. satu kamar pengantin dan dua kamar untuk keluarga.
Rihana satu kamar dengan Adiknya, Namira. sedangkan ibunya sendiri.
mereka berjalan ke kamar yang ditempati ibunya, kamarnya bersebelahan dengan kamar mereka.
ketika mereka masuk, ibunya baru saja selesai di rias. mereka berdua tersenyum, sebab ibunya terlihat sangat cantik dengan riasan dan balutan baju brokat warna rosegold, senada dengan yang di pakai Namira dan Rihana .
Rihana memuji kecantikan ibunya diikuti anggukan oleh Namira. mendapat pujian, ibu mereka malah tersenyum dan tersipu.
mereka bersiap menuju kamar pengantin, kemudian membawa Adelia menuju ballroom.
adelia begitu cantik dengan riasan glossy, ia berjalan perlahan, gaun pengantin berwarna putih bertaburan Mutiara membuat Adelia bak seorang putri raja. ekor gaun yang panjang menjuntai menyapu langkah Adelia
di pintu Ballroom Haris sudah menunggu Adelia, menatapnya dengan penuh takjub kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju panggung pelaminan
para tamu telah hadir, setelah mengucap janji pernikahan mereka berdua saling bertukar cincin dan ritual pernikahan lainnya.
Rihana membantu Adelia duduk di kursi pelaminan, kemudian turun untuk berbaur dengan Namira dan lainnya menikmati hidangan
"Hana" seseorang menyapanya
Rihana melirik arah suara, ia mendapati Adrian, Bosnya berdiri di sampingnya
"Pak Adrian ? hai .. Elia" ucap Hana kini ia sedikit membungkuk menyapa Elia
"Halo .. Tante Hana"
"Saya tidak menyangka pak Adrian akan datang ke acara ini. Terima kasih"
Rihana tersenyum, ia begitu tersanjung dengan kehadiran Bosnya. ini pesta kelas bawah, sungguh tidak sebanding dengan gaya Bosnya
"Memangnya kenapa ?"
__ADS_1
"Hmm..Tidak apa-apa. mari silahkan nikmati hidangannya" ucap Hana kemudian ia membungkuk dan berkata pada Elia
"Nona kecil, kamu cantik sekali malam ini"
Rihana mencubit gemas pipi Elia, keduanya saling melempar senyum. kemudian Rihana pamit pergi menemui Namira
Rihana menikmati hidangannya di meja bundar sudut ruangan tiba-tiba seseorang menarik kursi dan duduk di sampingnya
"Tante ..." ucap Elia diikuti Adrian dibelakangnya
Rihana tersenyum membalas Elia. Elia meletakan piringnya yang berisi mini canapes dan mulai menyantapnya perlahan hingga tandas
"Kakak, aku mau ke kamar hotel sebentar, mengambil PowerBank" ucap Namira pada Rihana kemudian ia melihat seseorang yang duduk di samping kakaknya.
"Elia ?" ucap Namira terkejut
"Halo.. Miss Mira" sapa Elia
Elia adalah murid di tempat Namira mengajar, di sekolah Dasar Internasional. Dan kebetulan Namira menjadi wali kelas, di kelas Elia
"Halo .. Tuan Adrian". sapa Namira menjabat tangan Adrian
"Kakak kenal dengan Elia dan Tuan Adrian ?" tanya Namira bingung
"Pa Adrian adalah Bos kakak di kantor" jelas Rihana diberi anggukan oleh Namira sebagai jawaban
"Miss, aku boleh ikut ?"
Namira sejenak ragu, Elia menatap Adrian dan Namira. seolah meminta izin.
"please ..." Elia membuyarkan lamunan Namira
"tentu, ayo... "
Namira menuntun Elia keluar dari kerumuan menuju salah satu pintu yang tidak di lewati untuk umum.
sementara itu Rihana dan Adrian tampak asyik menikmati hidangan mereka.
"Miss Mira, adikmu ?"
"Ya, dia adikku yang pertama, dan yang kedua yang sedang menikah itu, Adelia"
"kalian hanya tiga bersaudara ?" tanya Adrian lagi sambil menyantap makanannya
"Ya"
__ADS_1
"Ibu dan ayahmu ?"
"Ibuku yang di sebelah sana, memakai gaun Rosegold" ucap Rihana
ia menunjuk ibunya yang berada cukup jauh dari meja mereka dan Adrian mengikuti arah pandangan Rihana
"Ayahku sudah meninggal" lanjut Rihana
"Maaf, aku tidak tahu" Adrian tidak enak hati, ia takut melukai perasaan Rihana
"Tidak apa-apa, sudah lama berlalu"
mereka melanjutkan makannya, Rihana ingin sekali bertanya, karena sedari tadi selalu Adrian yang memulai bicara
"Pak Adrian, anda datang bersama Elia. istri anda tidak ikut ?" tanya Rihana, akhirnya ia memberanikan diri.
Rihana penasaran. saat ia menjemput Elia, dua kali, ia tidak pernah bertemu dengan istri Adrian, begitu juga hari ini. ia hanya datang berdua dengan Elia.
Rihana ingin sekali bertanya, namun keraguan selalu muncul. dan akhirnya pertanyaan itu berhasil ia lontarkan saat ini.
"istriku, Elsa sudah meninggal"
"Maaf, saya benar-benar tidak tahu"
Rihana menyesal karena sudah bertanya. ia mengutuki dirinya di dalam hati.
seharusnya aku tidak perlu tanya, sudah tahu tadi ragu-ragu. pasti ujungnya tidak baik. batin Rihana menyesal
"Tidak apa-apa. istriku meninggal beberapa menit setelah melahirkan Elia"
Rihana diam. sungguh perjuangan seorang ibu sangat mulia. bertaruh nyawa demi anaknya.
"Anda tidak menikah lagi ?"
"Tidak. aku masih mencintai istriku"
Rihana mengangguk dan tersenyum. ia begitu kagum, masih ada pria yang mempertahankan cinta padahal pasangannya sudah tiada. berarti cinta itu benar-benar tulus.
Dalam hati, Rihana juga ingin jika ia menemukan jodohnya, akan tulus mencintainya. seperti cinta Adrian pada Elsa.
_____
hai readers...
berikan like atau kritik dan saran di kolom komentar supaya menambah semangat author dlm proses penulisan.
__ADS_1
terima kasih