Try To Love

Try To Love
makan siang


__ADS_3

Adrian mengemudikan mobilnya menuju restoran setelah tak lama Rihana masuk ke dalam mobil.


mereka menuju gedung Pesona, tempat meeting bersama Tuan David. di lantai bawah gedung itu, terdapat restoran.


Adrian sengaja memilih tempat itu agar menghemat waktu untuk bertemu klien-nya.


mereka memesan tempat serta makanan dari buku menu yang di tawarkan pelayan


setelah menu tersaji di meja, mereka menyantap makanannya.


Elia terlihat gembira. ia sedari tadi mengoceh karena bahagianya bisa makan siang bersama ayahnya.


biasanya saat jam makan siang Elia berada di sekolah bersama teman-temannya. atau jika hari libur terkadang ia makan di rumah di temani Bu Asih karena Ayahnya jarang dirumah, sibuk dengan pekerjaannya


disela makan, Adrian mendapat telepon. Adrian segera menerima panggilan itu setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Papa, kita sedang makan !" tegur Elia dengan wajah cemberutnya melihat Adrian menerima telepon di saat makan.


"Sebentar, sayang" ucap Adrian meminta pengertian Elia


namun Elia masih memandang ayahnya dengan tatapan dan raut wajah kesal ala Elia. mata yang menyipit dengan bibir mungilnya yang dimajukan dan kedua lengannya dilipat didepan dada.


Rihana memperhatikan Adrian dan Elia bergantian, berusaha mengerti situasi ini.

__ADS_1


ia bingung sendiri, haruskah ia membantu menenangkan Elia ?


Rihana tahu, Adrian pasti menerima telepon penting. dan Rihana juga tahu, Elia tidak suka waktu makan siang bersama ayahnya terganggu. apalagi ayahnya belum menyelesaikan makannya.


"Elia, ayo di habiskan makanannya" tegur Rihana melihat Elia yang berhenti menyuap makanan dan hanya mengaduk-aduk makanan


"Aku sudah kenyang !" ucapnya sambil melepaskan sendok dan garpu di tangannya dengan kasar sehingga menimbulkan suara denting


Rihana melihat piring makan Elia yang masih tersisa banyak makanan. dan Elia duduk menyandarkan tubuhnya masih dengan raut wajah kesalnya.


"Tante Hana suapi, ya ? kalau tidak habis nanti makanannya nangis, lho" ujar Hana merayu sambil menyendok makanan dari piring Elia


"makanan itu bukan manusia, mana bisa menangis ?" tanya Elia masih kesal


namun saat Rihana menyuapi makanan, Elia mau membuka mulutnya dan menyantap makanan


Adrian selesai dengan teleponnya dan kembali ke meja, tapi ia tidak melanjutkan makannya.


Adrian sibuk membujuk Elia dengan lontaran kata maaf berulang kali serta mengutarakan janji-janji kemudian setelah menemukan sepakat antara keduanya, Adrian menatap Rihana.


"Hana, tuan David sudah datang. kamu tidak perlu ikut meeting. aku perlu kamu menjaga Elia"


"Baik, pak"

__ADS_1


Adrian bergegas meninggalkan Elia dan Rihana dengan membawa dokumen yang di siapkan Rihana sebelumnya.


Rihana menatap Elia yang sedang memainkan ponselnya.


jadi baby sitter lagi. tapi, itu lebih baik daripada meeting. batin Rihana kemudian tersenyum


Rihana sempat bingung apa yang akan dia lakukan selama Adrian meninggalkannya bersama Elia.


mood Elia sedang tidak baik. salah-salah Elia bisa mengamuk atau kabur darinya.


"Apa kita akan seperti ini terus ? bermain ponsel sangat membosankan" gerutu Rihana


Elia melirik Rihana yang sedang menopang dagu dengan tangannya


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ? di samping gedung ini ada taman, ada kolam ikan juga"


Elia diam tampak berpikir, kemudian mengiyakan permintaan Rihana


"Baiklah, ayo.." ucap Elia sambil memasukan ponselnya ke dalam tas ransel miliknya


Rihana menuntun Elia menuju samping gedung. seperti yang dikatakan Rihana, ada taman serta kolam ikan.


Rihana hafal gedung ini, karena sebelumnya ia pernah datang kesini untuk meeting.

__ADS_1


Rihana dan Elia berjalan di atas bebatuan kecil yang mengitari taman yang di atur khusus untuk pejalan kaki.


kemudian berjalan sampai akhirnya mereka tiba di kolam ikan yang didesain sangat menarik


__ADS_2