Ustadzku Jodohku

Ustadzku Jodohku
Episode 10


__ADS_3

Satu minggu berlalu, tapi tetap saja luka di hati ini masih belum hilang. Malam-malamku hanya berteman dengan rokok, vodka, dan musik R&B.


Kulihat jam di ponsel, sudah jam tujuh pagi tapi aku malas beranjak dari tempat tidur.


Tok tok tok


"Non Sarah...." Suara bik inah.


"Masuk bik gak di kunci" Perintahku "Apa itu ?" Tanyaku pada bik inah terlihat dia menaruh barang di atas tempat tidur.


"Mukenah dan sajadah non dari nyonya.. Non Sarah juga di suruh turun ke bawah untuk sarapan dengan nyonya tuan dan non daniah" Ucap bik inah


"Ya ya ya... " Jawabku. Bik inah pergi meninggalkan kamarku, aku melihat mukenah dan sajadah itu, kubiarkan saja kemudian turun ke bawah.


"Pagi pa.. Ma.." Sapaku.


Aku duduk di sebelah Daniah, aku mengambil segelas susu dan roti.


"Papa mau bicara sama kamu Sarah" Ucap papa membuka pembicaraan.


Aku menoleh ke arah papa tanpa bersuara.


"Papa tau setiap malam kamu pergi ke club, Papa harap kamu bisa menjauhi tempat itu, Tempat itu tidak baik untukmu Sarah.. Kamu bisa mulai bekerja lagi seperti dulu, jangan merusak hidupmu dengan melakukan hal tidak berguna seperti itu !!" Papa menegurku.


Aku terus mengunyah rotiku, tidak perlu mendebat papa karena tidak akan merubah apapun. Semua sudah terlanjur rusak, entah kapan lukaku sembuh dan kebahagiaan berpihak padaku.


"Iya sarah.. Papa kamu benar nak !! Sekarang mulailah membuka lembaran baru, mungkin dengan itu kamu bisa melupakan semua, Dekatkan dirimu dengan tuhan berdoa pada-Nya mintalah kekuatan, keikhlasan, dan kebahagiaan dalam hidupmu" Mama menasihatiku.


Aku menghabiskan rotiku dan meminum susu, tanpa berkata apapun aku berdiri dan pergi meninggalkan mereka di meja makan.


"Sarah.... " Papa memanggilku dengan lantang.


Aku menoleh.


"Ketika orang tua bicara dengarkan, jangan seenaknya pergi" Papa memarahiku.


"Sarah udah denger, Sarah mau ke kamar"


********


Ponselku berbunyi, aku membuka pesan dari Evelyn.


Sarah gimana kabar lu sekarang ? Sejak saat itu gue khawatir tentang elu ? Maaf bukanya gue gak ada buat lu selama beberapa hari ini gue juga lagi ada masalah, bokap gue sakit parah


Pesan dari Evelyn.


Biasa aja kali, gue baik-baik aja kok. Oh ya semoga bokap lu cepet sembuh yaa !!


Balasku.


Pukul 22:30, aku ke kamar mandi untuk mencuci muka, kemudian memakai make-up tipis-tipis, aku menyemprotkan parfum kemudian melepaskan ikatan rambutku, kubuat sedikit curly di bagian bawah. Aku siap pergi ke club.


Aku sampai di club, aku masuk ke dalam dan langsung menuju bartender, aku meminta satu botol vodka, kutuangkan ke dalam sloki dan ku teguk sedikit demi sedikit.


Sebentar, setelah satu minggu aku tidak melihat batang hidungnya, kenapa sekarang aku bertemu dia di tempat ini, dia berjalan mendekatiku.


"Sarah.." Sapanya.

__ADS_1


Aku masih diam pura-pura tidak mendengarnya.


Dia semakin dekat denganku, dia memegang lenganku.


"Sarah, kamu disini ? Kebetulan aku ingin minta maaf padamu" Ucap Reno.


Aku masih cuek.


"Sarah tolong dengarkan Aku.." Ucapnya lagi dengan keras.


Aku menoleh padanya.


"Tidak ada yang perlu didengarkan lagi" Bantah ku.


Reno meremas dan menarik lenganku dengan keras. Aku merasa kesakitan.


"Lepaskan Reno...." Teriakku, semua mata tertuju pada kami.


Dua pria datang pada kami.


"Hei bung.. Lepaskan gadis itu" Ucap pria itu.


"Kalian jangan ikut campur ini urusanku denganya" Bantah Reno


"Gue gak punya urusan sama lu" Potongku,


"Tolong jauhkan dia dariku, aku tidak mengenalnya" Ucapku pada pria itu.


Kedua pria itu menyeret Reno menjauh dariku, salah satu dari mereka memukuli Reno.


"Ada apa nona ? Apa dia tadi mengganggumu ?" Tanya pria itu.


"Dia calon suamiku tapi dia selingkuh menjelang malam pernikahan" Jawabku.


"Jadi kamu di sini menghibur dirimu yang patah hati ?" Tanya pria itu lagi


Aku mengangguk sambil tersenyum kecut.


Aku memanggil bartender meminta satu botol vodka lagi, tapi pria itu mencegah dia membawakan satu gelas minuman dia menawariku, tanpa berpikir aku langsung meminumnya.


Tapi tidak lama kemudian kepalaku pusing rasanya aku mengantuk sekali, mataku sulit untuk kubuka. Aku berdiri, berjalan keluar tapi badanku sempoyongan.


Kedua pria tadi datang menolongku yang hampir jatuh.


"Pelan-pelan nona, mana mobilmu ?" Tanya pria itu.


Aku menunjuk range roverku yang berwarna hitam.


Mereka berdua menuntunku menuju mobil, aku ada di belakang kedua pria itu di depan.


Tiba-tiba mobil berhenti, aku masih setengah sadar.


"Kenapa berhenti ? Kita belum sampai rumahku.. " Ucapku pada kedua pria itu.


"Mobilnya mogok ada sedikit masalah" Jawab salah satu pria di depan.


"Ah tidak mungkin" Potongku.

__ADS_1


Mereka berdua turun, tapi malah membuka pintu dan masuk di belakang. Aku terkejut tapi aku lemas mata ini seperti ngantuk berat tidak bisa di buka aku tetap mencoba membuka mataku.


"Kenapa kalian masuk kesini ?" Tanyaku.


"Tenanglah cantik kita akan bersenang-senang disini malam ini" Jawab pria itu.


Mereka mencoba menyakitiku, salah satu pria itu memegangiku, dan satu lagi membuka paksa hot pantsku, aku mencoba melawan sekuat tenagaku tapi tubuhku lemas. Mereka menurunkan bandeuku.


"Woi berhenti"


Terdengar suara dari luar mobil, kedua pria itu berhenti melakukan aksinya dan keluar, aku tidak bisa melihat siapa karena mataku terpejam. Tapi sedikit aku masih bisa mendengar suara orang saling pukul memukul.


"Pergi kalian atau aku panggilkan polisi" Ancam seorang pria.


"Sarah... Kamu tidak apa-apa, syukurlah aku tidak terlambat" Ucap pria itu padaku, mataku benar terpejam tapi aku seperti mengenali suaranya.


"Mas Farhan tolong bawa mobilnya dan ajak teman saya pulang, saya akan mengantarkan Sarah kerumahnya dulu" Ucap pria itu pada seseorang.


**********


Pria itu membantuku turun dari mobil, kakiku lemas kemudian pria itu memapahku sampai depan pintu rumah.


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


Terdengar pintu di buka.


"Sarah...." Suara mama terdengar khawatir.


"Ustadz Alvin ?? kenapa Sarah bisa bersama Ustadz ? Lalu kenapa bibir Ustadz berdarah ??" Tanya mama semakin khawatir.


Apa ? Ustadz ?


"Kamarnya di mana bu, biar saya bawa ke kamar dulu ?" Tanya pria itu.


"Di atas Ustadz, marii saya antarkan"


Pria itu menggendongku yang sudah tidak bisa lagi berdiri.


"Paaaaa.. Sarah pulang"


Pria itu membaringkanku di ranjang, mama menyelimutiku sambil mengusap kepalaku.


"Bagaimana ceritanya Ustadz ? Kenapa sarah dan apa yang terjadi ?" Suara papa.


"Begini pak bu, saya pulang dari bandara untuk menjemput teman saya dari kairo, sampai di jalan yang sepi ada mobil berhenti saya lihat ada dua pria ingin menyakiti seseorang, setelah saya turun lalu menghampiri dan menghajar kedua pria itu, dan ternyata wanita itu Sarah, mungkin mereka sudah memberikan sejenis obat untuk menghilangkan kesadaran" Jelas Ustadz itu.


"Ya Tuhan... Sarah... Untunglah ada Ustadz kalau tidak, saya tidak tau lagi apa yang sudah terjadi pada anak saya Sarah" Ucap mama menangis


"Kami berhutang pada anda" Ucap Papa pada pria itu.


"Tidak pak, tidak ada istilah hutang, saya menolong Sarah karena kemanusiaan karena nurani, yang terpenting Sarah selamat dari mereka" Jawab pria itu merendah.


"Iya nak Ustadz, terimakasih banyak sekali lagi terimakasih" Ucap mama.


"Baik bu, sama-sama.. Saya pamit pulang dulu"

__ADS_1


__ADS_2