
Aku memarkirkan mobilku, kemudian langsung menemui Evelyn di lobi hotel.
"Eh lu ngapain sih malam-malam kayak gini di sini ??" Tanyaku pada Evelyn.
"Udah.. Itu nggak penting ngapain gue di sini sekarang gue tanya sama elu, lu tahu nggak dimana keberadaan Reno ??" Evelyn bertanya balik kepadaku.
"Ya jelas tau lah, dia pasti dirumah" jawabku yakin.
"Lu yakin Reno di rumah ??" Tanya Evelyn lagi "Sekarang lo telfon Reno biar lu tahu jelas dimana keberadaan calon suami lo itu" Ujar Evelyn memastikan.
Aku pun mengeluarkan ponselku kemudian mendial nomor Reno tidak lama kemudian Reno menjawab panggilanku.
"Hai sayang..." Sapaku pada Reno.
"Ya Honey Ada apa ??" Tanya Reno padaku
"Sayang kamu sekarang di mana ? Aku gak bisa tidur nih bisa gak ketemu sebentar ?" Tanyaku pada Reno berpura-pura dan memastikan.
"Ya jelas di rumah lah.. kamu Kok aneh gitu tanya-nya sayang, kan kita besok udah ketemu masa kamu ga sabar sih tinggal nunggu beberapa jam aja," Jawab Reno menolak.
"Ya udah Sayang maaf ya ganggu kamu tidur aja dulu biar besok Kamu nggak ngantuk besok kan hari bersejarah untuk kita, nanti kamu baca ijab qobulnya salah" Gurauku pada Reno.
"Hahahaha... Iya honey Sampai jumpa besok mmuuacchh" Ucap Reno lalu menutup panggilanku.
Evelyn yang dari tadi mendengarkan tampak bingung.
"Heeyy.. Ada apa Emang kenapa lu jadi bingung gini ??" Tanyaku pada Evelyn.
"Enggak.. Gini.. Soalnya gue tadi tuh lihat Reno di sini sama cewek yang dulu pernah jalan bareng sama Reno di mall !!" Jelas Evelyn padaku.
"Eh lu jangan ngarang dong gue barusan telefon Reno dan ternyata Reno ada di rumah" Bantahku pada Evelyn.
"Sumpah Sarah.. gue tadi lihat Reno di sini sama itu cewek, kalau lu enggak percaya lihat deh gue punya bukti foto" Evelyn pun mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri foto.
Evelyn menunjukkan padaku sebuah foto dan ternyata benar foto Reno bersama Riska cewek yang katanya sepupu Reno, aku pun terkejut melihat foto itu.
Kemudian aku bertanya pada Evelyn kemana Reno dan Riska pergi.
"Tapi lu tahu nggak ke mana mereka pergi ??" Tanyaku pada Evelyn.
"Gue tahu dan ini mengenai masa depan elu, lu tenang dulu jangan gegabah kita cari bukti bareng-bareng" Ucap Evelyn padaku menenangkan.
"Cepetan.. lu tahu nggak ke mana mereka pergi ??" Tanyaku tidak sabar pada Evelyn.
"Tapi janji ya.. Elu tetap tenang soalnya gue tahu kalau lu marah semua barang disini bisa hancur" Ucap Evelyn padaku memperingatkan.
"Mereka berdua masuk ke kamar Anggrek Nomor empat belas" Terang Evelyn padaku.
"Eh lu jangan ngaco ngapain mereka masuk ke kamar berdua ??" Tanyaku pada Evelyn.
Aku masih tidak percaya pada Evelyn yang mengatakan bahwa Rino dan Riska masuk ke dalam kamar yang sama.
"Gue yakin si Reno calon suami lu dia lagi selingkuh sama itu cewek" Ucap Evelyn yakin.
__ADS_1
"Please deh lu Jangan nuduh Reno macam-macam Reno nggak bakalan kayak gitu 5 tahun sama gue nggak pernah dia main di belakang gue gue percaya Reno sepenuhnya" Ucapku pada Evelyn menegaskan.
"Ya udah kalau lu nggak percaya sekarang kita temui petugas dan kita lihat rekaman CCTV nya" Evelyn memaksaku untuk menemui petugas hotel tapi petugas itu menolak.
"Maaf Mbak saya tidak bisa ini menyalahi aturan hotel !!" Ucap petugas itu.
"Pak ini mengenai kehidupan teman saya, Calon suaminya sedang bersama wanita lain di dalam kamar hotel sedangkan besok adalah acara pernikahanya" Jelas Evelyn pada petugas.
Petugas tampak berfikir.
"Pak gini aja, ini masa depan saya yang di pertaruhkan, tolong telfon manager hotel ini atau asisten manager" Pintaku pada petugas.
Aku mulai bersuara, aku ingin mengetahui kebenaranya walau sebenarnya hatiku tidak siap.
Aku melihat petugas sedang berbicara dengan seseorang lewat telefon. Petugas menutup telefon dan berjalan ke arahku dan Evelyn.
"Mari mbak ikut dengan saya" Ajak petugas padaku dan Evelyn.
Kami bertiga menuju ruang pengecekan rekaman CCTV, Evelyn berbicara pada petugas tentang waktu dimana saat dia melihat Reno dan Riska masuk ke hotel dan kemudian masuk ke dalam kamar.
Petugaspun memutar ulang rekaman CCTV. Aku serius memperhatikan rekaman itu.
Deg.
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Reno dan Riska memang benar masuk ke dalam kamar berdua. Kulihat dalam rekaman mereka saling berpelukan di depan pintu kamar begitu mesra dan intim.
Evelyn memegang tanganku yang mengepal. Dia mengedipkan mata padaku memberikan isyarat agar aku tenang.
Aku Evelyn dan petugas menuju kamar anggrek nomer empat belas.
Petugas berhasil membuka pintu, aku langsung masuk ke dalam, rasanya kakiku tidak dapat berdiri lagi.
"Reenoo..." Teriakku.
Reno terkejut melihat keberadaanku.
Aku hancur, melihat calon suamiku yang entah tinggal beberapa jam lagi melangsungkan akad tapi sekarang di atas ranjang bersama wanita lain, bergelung di bawah selimut tanpa sehelai pakaian.
"Brengsek kamu" Ucapku dengan nada tinggi air mataku mengalir tak terbendung. Aku tidak bisa menahan amarahku. Aku melemparkan semua barang yang ada di dekatku vas bunga, remote AC dan tv, aku melemparkan bantal shofa. Masih belum puas aku ingin mencekiknya sampai mati.
Evelyn masuk dan menahanku, Evelyn menggelengkan kepala padaku kemudian memelukku. Reno secepatnya bangun dan memakai celana pendeknya kulihat Riska menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tubuhku tidak dapat lagi berdiri, kakiku terasa lemas, aku terduduk di lantai.
Reno mendekatiku, Evelyn menahanya.
"Stop !! Lu di situ aja" Evelyn memperingatkan Reno.
"Gue mau jelasin sama Sarah apa yang sebenernya terjadi tidak seperti apa yang dia lihat" Ucap Reno pada Evelyn.
Aku memegangi bahu Evelyn, Evelyn membantuku untuk berdiri. Aku tersenyum kecut pada Reno.
__ADS_1
"Kamu mau jelasin apa ? Kamu mau jelasin bagaimana rasanya bercinta dengan gadis ****** ini ??" Ucapku emosional sambil menunjuk Riska yang masih di tempat tidur
"Kamu gak perlu jelasin apa-apa Reno, karena semua udah jelas kebenaranya, bahwa kamu bukan pria baik kamu ********" Umpatku pada Reno.
Tanganku melayang menampar Reno tapi Evelyn lagi-lagi menahanku. Evelyn memegangi tanganku dan menurunkanya ke bawah.
"Gak perlu Sar, Karma akan bermain dengan sendirinya, terlalu sayang tanganmu cukup suci untuk menampar pria kotor seperti dia" Evelyn merendahkan Reno
"Ingat Reno, tidak ada pernikahan besok dan sampai kapanpun kita tidak akan menikah !!" Aku memperingatkan Reno.
"Tapi Sar....." Ucap Reno terpotong melihat aku memperlihatkan rekaman video di ponsel Evelyn.
"Ini.. Ini sudah cukup sebagai bukti batalnya pernikahan kita, aku akan kirim video ini kepada semua anggota keluargamu" Ancamku pada Reno.
Aku bergegas pergi meninggalkan kamar ini, Evelyn mengikutiku.
"Sarah...." Kudengar Reno memanggil namaku.
******
Aku berada di parkiran bersama Evelyn.
Evelyn menenangkanku dia menghapus dengan tissue air mataku yang mengalir di pipi.
"Lu harusnya bersyukur Sar kalo lu tau semua ini setelah menikah lu pasti lebih hancur lagi" Ucap evelyn padaku mengingatkan.
"Lu harus kuat, lu cantik, kaya, pasti masih banyak yang mau sama lu, apalagi lu smart tapi sayang gampang di begoin laki" Gurau Evelyn berusaha membuatku tertawa.
Akupun terkekeh mendengar gurauan Evelyn.
"Gimana lu ngomong sama nyokap bokap lu tentang masalah ini mereka pasti shock" Ucap Evelyn khawatir.
"Gue akan ngomong ke mereka pelan-pelan besok pagi sebelum acara dimulai, semoga semua baik-baik aja" Jawabku mantap.
"Gue anterin pulang ya.." Tawar Evelyn padaku.
"Gak usa, gue bisa pulang sendiri" Aku menolak.
"Yakin ??" Evelyn menegaskan.
Aku mengangguk kemudian tersenyum.
Aku masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan Evelyn.
Aku melihat jam di mobil pukul 03:00 pagi Aku tidak ingin pulang, aku memutar balik mobilku menutu southbank club. Mungkin sedikit bisa menghiburku untuk mengalihkan rasa sakit ini.
Ponselku berdering berkali-kali kulihat notifikasi ternyata ada 8 panggilan tak terjawab, dari Reno. Kubiarkan saja sudah tidak ada yang perlu di jelaskan dan di bicarakan.
Aku sampai di club, aku memarkirkan mobil kemudian masuk, lumayan sepi.
Aku menuju bartender dan meminta satu gelas vodka, aku menuangkan ke dalam sloki dan meneguknya perlahan, lumayan rasanya tidak begitu aneh di lidahku.
Aku menulis pesan pada Evelyn agar segera mengirimkan rekaman video di hotel tadi ketika aku menggrebek Reno dan Riska. Tidak lama kemudian rekaman video itu masuk.
__ADS_1
Ku teruskan mengirim video itu ke semua anggota keluarga Reno termasuk Ayah dan Ibunya. Biarlah mereka tahu sebrengsek itu putranya.
Aku merasa seperti sedang melayang layang, aku juga seperti terbebas dari jeratan. Aku harus pulang dan tidur, Aku bangun berdiri dari tempat dudukku lalj berjalan menuju mobil badanku terasa enteng, seperti ingin jatuh. Ada seseorang yang memeganiku, aku memberikan isyarat padanya bahwa aku baik-baik saja. Ponselku berdering lagi, kakak tertua Reno menelfonku. Kubiarkan saja sampai berkali kali.