Ustadzku Jodohku

Ustadzku Jodohku
Episode 15


__ADS_3

Aku turun kebawah dengan memakai pakaian yang belum sepenuhnya tertutup hanya saja lumayan di bandingkan dengan kemarin.


Alvin melihatku sambil tersenyum.


Aku duduk bersebrangan dengan Alvin.


Alvin tertawa kecil sambil menutup bibirnya, apa maksudnya coba ?


"Jangan terlalu formal-lah, kita bukan sedang di kampus atau di bangku sekolah" Ucapnya sambil tertawa kecil.


"Maksudnya ?" Tanyaku tidak mengerti.


"Kamu bisa duduk di sampingku sebelah sini" Ucap Alvin.


Aku jadi sedikit canggung melihat Alvin bersikap seperti ini. Aku pindah duduk di samping Alvin dengan jarak kurang lebih tujuh puluh senti.


Alvin memintaku untuk melafalkan bacaan-bacaan sholat, aku mulai melafalkan sedikit demi sedikit, ada beberapa yang salah Alvin membetulkan bacaanku yang salah.


Selesai dengan materi belajar hari ini, Alvin mengangkat satu jempolnya kepadaku sambil tersenyum.


"Sudah bagus tinggal melancarkan sedikit" Puji Alvin kepadaku.


Aku semakin merasa malu. Mulutku tidak bisa bersuara hanya tersenyum mendengar pujian yang di berikan Alvin, tapi lain dengan hatiku yang berkecamuk.


Aku yakin akan terjadi sesuatu dengan hati ini.


Aku mempersilahkan Alvin untuk meminum air yang sudah di bawakan bik inah tadi.


"Silahkan di minum dulu airnya" aku mempersilahkan Alvin, aku juga ikut meminum air itu.


Alvin mengangguk.


"Kapan bu Widya check up ? Jika pak Wijaya sedang ada urusan aku bisa mengantarmu membantu bu Widya ketika di rumah sakit"


'Ughhuuuk'


Aku tersedak.


"Sarah pelan-pelan minumnya" Ucap Alvin padaku.


Hatiku semakin kacau kenapa ada perasaan aneh yang berkecamuk seperti ini.


"Gak kok, malah ngrepotin kamu, aku bisa minta antar mang Saleh sama suster, makasih" Balasku


"Yaudah kalo gitu, kalau kamu butuh bantuanku jangan sungkan-sungkan kamu hubungin aku aja" Alvin berpesan padaku.

__ADS_1


Alvin berpamitan untuk pulang, aku mengantarkanya sampai teras rumah. Aku merasa aku dan Alvin semakin dekat.


*******


Malam tiba, aku tidak tau apa yang telah terjadi dengan hatiku sekarang, apa aku jatuh cinta dengan Alvin ?


Apa aku benar-benar move on dari Reno dan dari masalah itu ?


Ah entahlah jika memang aku jatuh cinta dengan Alvin aku takut jika perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan.


Alvin sosok pria yang baik, rendah hati, bertanggung jawab, perhatian.


Mungkin perhatian dan kebaikanya selama inilah yang membuatku jatuh hati.


Tapi sebentar, aku tidak sanggup jika harus terluka lagi kalau aku mengetahui bahwa Alvin tidak mempunyai perasaan yang sama sepertiku.


Sudah jam sebelas malam, semua orang sudah tidur hanya aku saja yang masih membuka mata, aku mengambil sapu tangan Alvin yang berikan padaku.


"Semua ini gara-gara pemilikmu sampai aku tidak bisa tidur" Ucapku kesal pada sapu tangan itu.


******


Dua minggu berlalu, aku hanya bertemu Alvin lima kali karena kesibukan Alvin sebagai dosen di salah satu kampus di kota kembang ini dan harus mengajar mengaji.


Kemarin orang tua Alvin datang untuk mengunjungi mama sayangnya Alvin tidak bisa ikut dan itu membuatku rindu.


Lucunya, kenapa dulu orang yang sangat aku benci sekarang dia menjadi Ustadzku ?


Dan sekarang gak bertemu denganya tiga hari saja aku sudah rindu.


Aku tertarik dengan segala sesuatu mengenainya, bahkan aku bertanya pada Daniah semua nama media sosialnya dan untung kulihat di semua sosial medianya Alvin tidak terlihat mempunyai pacar.


Tapi itu tidak bisa jadi patokan, bisa saja Alvin sudah di jodohkan oleh orang tuanya ? Atau bisa saja dia punya pacar tapi tidak suka mengpublishkan hubunganya di dunia maya.


Aahhh aku semakin penasaran saja, sepertinya aku harus mencari tau sebelum rasa di hati ini terlanjur dalam tapi ujung-ujungnya akan membuatku jatuh lagi.


Setelah dua kali check up sekarang waktunya mama check up lagi.


Dan aku bersyukur sekali perkembangan mama sangat pesat, mama sudah bisa berbicara walau belum sepenuhnya jelas, tangan mama pun sudah bisa di gerakkan. Dari perkiraan dokter mungkin masih beberapa bulan tapi dalam dua minggu mama sudah menunjukkan perkembangan yang pesat. Kata Alvin benar, tidak ada yang tidak mungkin semua atas kehendakNya jika kita mau berdoa dan berusaha.


Dan aku melihat mama sangat bersemangat untuk bisa sembuh, mulai dari rutin minum obat dan rutin untuk latihan menggerakkan tanganya atau kakinya yang di bantu suster.


Tok tok tok


"Sarah sudah bangun kah kamu ?" Suara papa dari luar kamar.

__ADS_1


Aku bergegas membuka pintu.


"Ada apa pa ?" Tanyaku


"Tadi malam mang Saleh harus pulang karena anaknya sakit, sedangkan sekarang waktunya mama check up kamu nanti siap-siap nganter mama ke rumah sakit sama papa tapi sebelumnya kita nganterin Daniah ke sekolah dulu" Jelas papa.


Aku berfikir sejenak, mungkin inilah kesempatan aku bisa bertemu dengan Alvin.


"Papa pasti sibuk, biar nanti mama pergi sama Sarah dan suster aja paa.. Papa kalo mau ke gudang atau mau meeting papa pergi aja, nanti Daniah juga Sarah yang antarin ke sekolah" Bujukku.


"Gak sarah, papa temenin kamu sama mama aja sekarang kamu siap-siap" Ucap papa.


Rencana agar bisa bertemu dengan Alvin gagal lagi.


Ku buka handphone melihat nomernya, aku gengsi kalo harus duluan hubungin dia, tapi dia juga dari beberapa hari terakhir tidak pernah menghubungiku. Sesibuk apakah ??


Papa mama suster dan Daniah sudah ada di mobil tinggal menungguku yang masih sibuk memakai hijab di depan rumah dengan bercermin kaca jendela.


"Kakak... Ayo naik cepet Daniah terlambat niihh" Tetiak Dania dari mobil.


"Iya bawel bentarrr" Jawabku cuek


Papa membunyikan klakson.


"Sarah kasihan adik kamu bisa terlambat" Ucap papa membela Daniah


"Iya iya.."


Aku langsung masuk ke dalam mobil di depan dengan papa.


Papa melajukan mobil.


"Baru kali ini papa lihat kamu pakai baju kaya gini plus pakai hijab kaya gini juga, gak ada angin gak ada hujan tumben ! Ada apa ??" Tanya papa


"Duhh kenapa papa jadi kepo gini sih ? Seharusnya papa dukung Sarah dong, liat anaknya merubah prilakunya merubah penampilanya " Balasku sewot.


"Kakak berubah karena ada maunya paa.. " Potong Daniah


"Apa maunya dek ?" Tanya papa pada Daniah


"Kakak cuma mau di perhatiin sama Ustadz Alvin" Jawab Daniah seraya tertawa


Aku melemparkan tissue yang ku remas ke arah Daniah, mama terlihat senyum. Aku bahagia lihat mama seperti ini.


Aku ada ide, setelah pulang dari rumah sakit aku akan ke rumah Alvin dengan alasan silaturrahim dengan orang tua Alvin karena sebelumnya sikapku sangat buruk pada mereka, Dan yaaa itu tepat sekali menurutku.

__ADS_1


Aku senyum-senyum sendiri di dalam mobil.


__ADS_2