
Malam tiba aku sudah bersiap siap tinggal kupakai high heels ku yang tersimpan rapi di ruang wardrobe, ruang khusus untukku menyimpan koleksi barang mahal mulai dari tas, sepatu, heels, jaket, gaun dan parfum walaupun gak banyak sih tapi aku menyediakan tempat khusus.
Aku sudah selesai dan langsung turun kebawah tidak lupa membawa hadiah jam tangan yang kubeli kemarin, mama tersenyum melihatku.
"Sini mama benerin sanggulnya hampir lepas mungkin kamu buru-buru yang gak sabar mau ketemu Reno" Ucap mama. Aku mendekati Mama.
"Udah selesai, cantik banget anak mama apalagi saat jadi pengantin nanti" Puji mama padaku.
"Mana papa dan Daniah ma ?" Tanyaku pada Mama.
"Mereka sudah di mobil, ayo kita berangkat gak enak kalo mereka nungguin kita lama-lama" Ajak mama padaku.
Aku dan mama masuk kedalam mobil mama di depan menemani papa mengemudi. Sedangkan aku di belakang bersama Daniah terus bercanda.
Tak terasa sudah setengah dari perjalanan sebentar lagi sampai.
"Mama sudah mengundang keluarga Pak Haji Imam dan Bu Hajah maimunah ke acara pernikahan anak kita ma ?" Tanya papa pada mama.
"Sudah pa.. Alhamdulillah mereka bisa datang Ustadz Alvin pun juga turut datang" Jawab mama tersenyum bahagia.
"Yesss..." sahut Daniah girang.
Apa apaan mereka ini, Ada apa dengan mereka bahagia sekali mereka kenal dengan keluarga itu, padahal gak ada yang spesial sama sekali.
Aku tidak menyahut apapun hanya asyik bermain dengan ponselku, melihat foto fotoku dan Reno saat pertunangan.
Akhirnya sampai sudah di rumah Reno, terlihat keluarga Reno menyambut kami dengan hangat.
Kedua calon mertuaku menyalami papa dan mama, aku dan Daniah sungkem dengan kedua calon mertuaku, di lanjut dengan Reno yang turut sungkem dengan papa dan mama.
Reno menyambutku dengan romantis.
"Selamat datang tuan putri..." Sambutnya sambil membungkukan badan lalu tegak kembali, Reno meraih tanganku dan menciumnya, sungguh momen yang sangat romantis.
Aku tersenyum bahagia. Semua orang ikut bahagia.
"Mari.. mari masuk Pak wijaya dan Bu widya.." Ajak calon mertuaku.
Aku papa mama dan Daniah pun masuk ke dalam.
Kami langsung menuju meja makan, banyak menu makanan yang di siapkan untuk kami.
Setelah dinner bersama kami pindah ke ruang keluarga.
__ADS_1
Aku dan Reno duduk di shofa yang sama.
"Sayang happy birthday..." Ucapku pada Reno.
"Selamat ulang tahun Reno," Mama dan papa turut mengucapkan selamat pada Reno.
"Barakallah fii umrikum mas Reno" Sahut Daniah.
"Makasih honey, Tante Om dan Daniah" Balas Reno.
Kemudian aku menyerahkan kotak bingkisan kepada Reno, dia terkejut.
"Apa ini honey ?" Tanya reno.
"Buka aja.." Perintahku.
Kemudian Reno membuka bingkisan itu.
Speechless, Reno hanya memandangku sambil tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Semua heran melihat reno mereka pun penasaran apa yang sudah aku berikan pada reno, Reno memperlihatkan jam tangan itu pada semua orang.
Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum dan ada yang bertepuk tangan.
"Gak papa sayang, jam tangan ini kan yang sebenarnya kamu pengen ?" Tanyaku pada Reno.
"Iya tapi kan... " Reno membalas pertanyaanku.
"Sudah gak apa apa nak Reno, Sarah ingin memberikan itu karena mungkin dia ingin mengapresiasi kamu yang lima tahun sudah setia bersamanya " Jelas Papaku.
"Sekali lagi makasih honey.. " Ucap Reno.
Kemudian memelukku dan mencium keningku, Adik reno pun bersiul semua orang tertawa bahagia.
Kehangatan seperti inilah yang tergambar dalam benakku, ketika nanti aku sudah sah menjadi istri Reno.
"Bagaimana kabar bisnis Pak Wijaya ?" Tanya calon ayah mertuaku membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah semua lancar dan baik baik saja" jawab Papaku.
"Malah sering saya yang menjalankanya pak " sahut mama tertawa "Papa Sarah lebih sering keluar kota" Tambah mama.
"Di kirim kemana saja bu widya karpet dan sajadahnya ?" Tanya calon ibu mertuaku.
__ADS_1
"Kami kirim ke distributor yang ada di kota-kota besar di Indonesia" Jawab Mamaku.
"Lalu bagaimana dengan persiapan pernikahan di kediaman bapak dan ibu ?" Tanya calon mertuaku pada mama papa.
"Alhamdulillah sudah hampir selesai semua persiapanya besok sudah mulai memasang dekorasi dan tenda di taman depan rumah lusa prosesi sudah dimulai" Jelas Papa.
"Tempat resepsinya juga sudah siap kami menyewa ballroom VIP mengingat banyaknya undangan dari kedua belah pihak pengantin apalagi Pak Wijaya yang seorang pengusaha " Terang calon papa mertuaku.
Pandangan mataku tertuju pada perempuan yang sedang menuruni anak tangga dari atas.
Reno tersenyum padanya, aku tidak pernah melihat perempuan ini selama aku mengenal keluarga Reno, siapakah dia ?
Sebentar, aku mengingat kembali, oh ya dia perempuan yang pernah aku lihat bersama Reno di pusat perbelanjaan.
Perempuan itu berjalan menuju kami yang sedang duduk berbincang.
"Perkenalkan ini keponakan kami dari Medan namanya Riska" Ucap Ibu Reno pada kami memperkenalkan perempuan itu "Saudara kami yang ada di Medan tidak mempunyai anak ketika Riska berumur lima tahun mereka mengadopsinya" jelasnya.
Perempuan itu menyalami mama papa dan Daniah kemudian berjalan ke arahku dan Reno dengan senyuman yang ramah aku berdiri menyambutnya, dia menjabat tanganku kemudian memelukku dan mengucapkan selamat.
"Selamat mbak Sarah sebentar lagi jadi pengantinya mas Reno" Ucapnya padaku memberikan selamat.
"Makasih Riska" Balasku.
"Kita baru pertama kali bertemu tapi rasanya sudah akrab " Sanjung riska.
"Iyaaa, aku lima tahun kenal Reno tapi kok gak pernah di kenalin sama kamu gak pernah ketemu sama kamu, jarang ya terbang ke Bandung ?" Tanyaku heran.
Riska tersenyum kemudian menjawab.
"Kata siapa jarang, sering loh setiap aku libur kuliah aku selalu sempetin main kesini disana sepi mama papa sudah gak ada " Terangnya.
"Oh maaf... " Sahutku merasa tidak enak.
"Gak papa mbak Sarah " balas riska.
" Iyaaa, saudara kami meninggal dalam kecelakaan tunggal jadi Riska di Medan tinggal sendiri " Sahut calon mertuaku.
"Mas Reno dan mbak Sarah pasangan yang sangat serasi " Sanjung riska pada kami, sambil tersenyum bahagia" semoga bahagia selalu dan langgeng sampai kakek nenek " Tambahnya mendoakan kami.
"Makasih yaa ris .." Balasku.
Riska mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Tidak terasa waktu menunjukkan jam sepuluh malam kami sekeluarga berpamitan pulang, keluarga Reno mengantarkan kami sampai di halaman kami semua saling berpelukan dan kemudian masuk ke dalam mobil papa menyalakan mobilnya kami meninggalkan kediaman Reno.