
Sudah lima hari, mama di perbolehkan dokter untuk pulang, Aku bahagia akhirnya aku bisa berkumpul bersama mama di rumah walaupun dengan kondisi seperti ini, namun inilah saatnya aku melaksanakan baktiku pada mama dan membuktikan pada mama dan papa aku akan berubah menjadi lebih baik lagi.
Aku membantu perawat memindahkan mama dari bed ke kursi roda, selama tiga hari belakangan mama lumayan menunjukkan peningkatan mama sudah bisa mengangkat tanganya walau sedikit. Sedikit demi sedikit mama pasti bisa pulih seperti dulu.
Daniah menjemputku, tapi aku tidak melihat papa. Siapa yang mengemudi ? Mang saleh ?
"Dek kamu kesini sama papa apa mang Saleh ?" Tanyaku pada Daniah.
"Tuh.. Sama Ustadz" Daniah menunjuk ke belakang, Alvin baru masuk ke dalam menyusul Daniah.
"Sudah selesai semua ?" Tanya Alvin padaku.
"Tinggal obat mama, tunggu sebentar aku bawa resep ini mau menebus obat mama dulu" Jawabku.
"Mana resepnya biar aku yang nebus obatnya kamu tunggu di sini atau langsung ke mobil sama Daniah" Ucap Alvin
Aku memberikan kertas resep pada Alvin, tanganku gemetar, aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya.
Aku dan Daniah langsung menuju mobil Alvin.
Tapi aku masih menunggu Alvin, aku tidak bisa memindahkan mama ke kursi mobil dari kursi roda. Terlihat Alvin datang dengan membawa obat mama.
"Kenapa ?" Tanya Alvin padaku.
"Aku gak bisa naikin mama ke mobil" Jawabku, Alvin tersenyum lalu memberikan obatnya padaku, lalu Alvin memindahkan mama dari kursi roda ke dalam mobil, Alvin melipat kursi roda dan menaruhnya di bagasi belakang.
"Ayo" Ajak Alvin.
Aku dan Daniah masuk ke dalam mobil, Daniah dan mama di belakang, sedangkan aku duduk di depan lagi dengan Alvin.
Sampailah kami di rumah, kembali Alvin yang menurunkan mama dari mobil dan mendorong mama di kursi roda masuk ke dalam rumah.
Alvin bertanya padaku dimana kamar mama, aku menunjakkan padanya.
"Mari..." Ucapku
Alvin mengikutiku di belakang. Kami masuk ke dalam kamar mama, Alvin memindahkan mama ke tempat tidur.
Alvin berpamitan pada mama untuk pulang, mama mengedipkan matanya pada Alvin.
Aku mengantar Alvin keluar.
"Alvin" Panggilku, Alvin menoleh sambil mengangkat kedua alisnya tanpa berkata apapun. Ekspresi macam apa ini kemana suaramu yang seksi itu, suara yang bisa membuat jantungku berdetak kencang.
"Makasih sudah menolongku berkali-kali, makasih juga sapu tanganya" Ucapku pada Alvin sambil mengembalikan sapu tangan yang kemarin Alvin berikan di mobil untukku saat aku menangis.
Alvin tersenyum, tapi kenapa senyumanya malah membuat hatiku tidak karuan, aku mencoba untuk tidak bersikap konyol, tenanglah hatii tenaaang....
"Iya... Simpan saja" Ucap Alvin padaku kemudian masuk ke dalam mobil.
Apa-apaan ini, pelit banget ngomongnya, cuma gitu aja. Alvin meninggalkan rumah.
Mobil papa datang, tapi papa tidak datang sendiri dia bersama seorang wanita berseragam seperti perawat.
"Siapa pa ?" Tanyaku.
"Ini suster Susi dia yang akan membantu kamu merawat mama dan melatih mama" Jawab papa.
__ADS_1
Suster susi berjabat tangan denganku dan memperkenalkan namaku kemudian aku menunjukkan kamarnya yang bersebelahan dengan bik inah. Aku kembali ke kamar mama Daniah ada di sana di samping mama sambil membuka laptop, mungkin ada tugas dari guru hari minggu Daniah libur sekolah, mama tidur jadi aku akan naik ke atas ke kamarku.
Aku masuk ke dalam kamarku, satu minggu lebih aku meninggalkan kamar ini, aku melihat ke setiap sudut kamar, rapi. Pasti mama yang merapikanya. Aku menuju lemariku dan menyimpan sapu tangan Alvin. Aku tersenyum sendiri merasa tidak mengerti karena ada yang aneh dengan hatiku, entah apa itu.
Aku mengambil mukenah dan sajadah yang di berikan mama padaku saat aku frustasi setelah pernikahanku dengan Reno batal. Ku taruh mulena itu di tempat tidur.
Aku turun ke bawah ke kamar mama untuk menemui Daniah, terlihat suster ada di dalam kamar mama sedang duduk di kursi dan membaca novel Daniah.
"Permisi sus" Ucapku
"Iya mbak Sarah silahkan masuk, bu Widya sedang tidur jadi sambil menunggu saya baca novel adik mbak Sarah"
"Iya gak papa kok sus"
Daniah mungkin sudah selesai mengerjakan tugas, dia tidur di samping mama.
Aku mengambil ponselnya untuk mengirimkan nomer Alvin ke ponselku.
"Aku tinggal dulu yaa sus, kalo suster butuh apa-apa jangan sungkan tanya aku atau bik inah" Pesanku pada suster Susi.
"Iya mbak.." Jawab suster singkat.
Aku kembali ke kamarku, ku simpan nomer Alvin.
Aku fikir, aku harus menghubunginya lewat pesan.
Aku menulis pesan
Hay, ini aku Sarah.
Ya Sarah ada apa ?
Aku membalas lagi
Aku mau belajar sholat dan ngaji sama kamu, Bisa nggak ? Ada waktu ?
Terkirim.
Handphoneku berdering lagi.
Ada kok, oke
What ? Balasan macam apa itu, benar-benar pelit ngomong langsung jawabnya dikit, lewat pesan juga balesanya dikit.
Sabar, sabar, sabar.....
Kamu bisa kan ke sini ? soalnya kalo aku yang keluar gak bisa, aku sambil jagain mama.
Handphoneku bergetar, Alvin membalas.
Oke aku yang kesana.
"Ya ampun, dasar pelit. Bener-bener yaa ini orang bikin kesel balesnya cuma dikit" Ucapku kesal
********
Kali ini aku bangin lebih pagi, aku juga gak ngerti kenapa aku se-semangat ini. Aku mandi kemudian turun ke bawah, melihat mama apakah sudah di mandikan suster.
__ADS_1
"Sudah mandi sus ?" Tanyaku pada suster
"Sudah mbak, ini mau nyuapin bu Widya" Jawab suster
"Biar aku saja sus, anterin makanan mama keluar ya.. Aku mau ajak mama keluar samping rumah di taman dekat kolam renang" Pesanku pada suster.
"Baik mbak" Jawab suster lalu pergi mengambilkan baki berisi sarapan mama.
Suster datang mengantarkan sarapan mama.
"Sus Daniah tadi uda berangkat sekolah blom ?" Tanyaku.
"Sudah mbak, tadi di anterin sama pak sopir" Jawab suster.
Aku menyuapi mama pelan, tiba-tiba tangan mama memegang pergelangan tanganku, aku terkejut juga bersyukur mama setiap harinya sudah menunjukan perkembangan.
Aku melihat mata mama, mama seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak mengerti mama meneteskan air mata, aku mengusapnya pelan.
"Maa.. Mama pasti sembuh lagi seperti kemarin-kemarin, Sarah yakin itu, maafin Sarah juga yaa maa sudah buat mama begini" Ucapku sedih lalu ku peluk mama.
"Non Sarah ada Ustadz" Suara bik inah, aku menoleh arah bik inah.
"Suruh masuk saja bik"
Alvin sudah berada di belakang bik inah. Dia tersenyum melihat mama lalu mendekati mama, lalu duduk berlutut di depan mama.
"Apa kabar bu Widya ? Semoga ibu cepat sembuh, Bapak dan ibu nitip salam buat bu Widya mereka juga mendoakan bu Widya agar cepat sembuh" Ucap Alvin lembut penuh keteduhan.
Mamaku tersenyum lalu memegang pundak Alvin.
Aku menjelaskan pada mama kalau aku ingin belajar agama pada Alvin, dan mama tersenyum menandakan persetujuanya.
"Sus...." Panggilku
"Iya mbak Sarah" Jawab suster datang
"Mama sudah selesai makan tolong bawa mama ke kamar dan latih yaa sus, aku ada urusan" Ucapku pada suster
"Iya mbak" Jawab suster.
Suster membawa mama ke kamar, aku mengajak Alvin ke ruang tengah.
"Bik tolong buatkan minuman" Teriakku pada bik inah yang berada di dapur.
"Kamu minumnya apa teh, kopi atau jus ?" Tanyaku pada Alvin.
"Air putih saja" Jawab Alvin singkat.
Sebentar, air putih ? hanya air putih padahal aku menawarkan padanya kopi jus dan teh tapi dia hanya memilih air putih, Aneh.
"Gak jadi bik, tamunya cuma mau aer putih doang" Teriakku lagi pada bik inah.
Bik inah datang dengan membawa dua gelasbair putih.
"Aku mau ganti baju dulu, silahkan di minum" Ucapku pada Alvin.
Tanpa berkata apapun, Alvin hanya mengangguk dan mengedipkan matanya.
__ADS_1