Ustadzku Jodohku

Ustadzku Jodohku
Episode 16


__ADS_3

Kuberanikan kakiku melangkah menuju rumah Alvin.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


"Maaf siapa yaa... " Tanya seorang ibu keluar dari dalam rumah mencoba mengenaliku mungkin karena cara berpakaianku yang berbeda


"Saya bu, Sarah" Jawabku.


"Nak Sarah" Ucap ibu Alvin sumringah "Ayo nak masuk" Tambahnya mempersilahkan aku masuk, akupun masuk sambil memberikan parsel berisi buah pada ibu Alvin


"Loh ! Nak Sarah kalau mau datang kesini, main saja tidak perlu repot-repot seperti ini" Ucap ibu Alvin padaku.


"Tidak repot kok bu hanya buah saja" Balasku.


"Silahkan duduk nak" Ibu Alvin memintaku untuk duduk.


"Bapak kemana bu ?" Tanyaku.


"Ada nak di dalam, sebentar nak Sarah ibu panggilkan dulu" Ucap ibu Alvin.


Kemudian keluarlah Ayah dan Ibu Alvin, akupun langsung sungkem dengan mereka.


"Pak bu maafkan sikap buruk saya yang kemarin-kemarin" Ucapku sambil sungkem


"Tidak apa-apa nak Sarah" Balas ayah Alvin sambil memegang pundakku.


Kami bertigapun duduk.


"Bagaimana keadaan mama nak ?" Tanya ibu Alvin


"Syukur bu, mama sudah lebih baik lagi, perkembanganya begitu cepat mama sudah mulai bisa berbicara dan menggerakkan kakinya" Jawabku.


Aku sedikit ragu bagaimana caraku memulai pertanyaan tentang Alvin punya kekasih atau sudah di jodohkan.


"Kemana Alvin bu ? Dari tadi kok tidak kelihatan" Tanyaku.


"Loh memangnya nak Sarah belum bertemu dengan Alvin ? Dia tadi berpamitan mau ke rumah nak Sarah" Jawab ibu Alvin.


Akupun terkejut, Alvin ke rumahku ?


"Pak Bu.. Saya pamit pulang dulu yaa" Pamitku pada mereke yang tampak heran.


"Iya nak Sarah hati-hati yaa" Pesan ayah Alvin.


"Iya pak bu permisi, assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Akupun mencoba menghubungi Alvin terlebih dahulu jika memang dia sudah sampai di rumah ku suruh dia menungguku sebentar karena aku dalam perjalanan pulang, aku membuka ponsel dan mendial nomer Alvin, Dan terhubung.


"Halo Alvin" Sapaku


"Iya Sarah ada apa ?"


"Kamu sekarang di rumahku kan ?"


"Iya..." Jawab Alvin singkat, sebenrnya menyebalkan karena dia pelit bicara tapi yaudalah.


"Aku dalam perjalanan pulang, tolong tunggu aku di rumah sebentar" Pintaku pada Alvin.

__ADS_1


"Iya aku masih di sini kok" Jawab Alvin.


Aku menutup panggilan, ku injak gas lebih dalam aku harus sampai dirumah secepatnya.


Krriiiiiiittt...


Bbbrrrruuaaaakk.


Ya Tuhan, aku hampir saja menabrak seorang ibu paruh baya yang sedang menyabrang jalan, untung saja dengan sigap ku belokkan mobilku ke samping kanan, ku rem sampai mobilku naik ke trotoar dan menabrak tiang listrik, orang berkerumunan datang menghampiriku yang masih di dalam mobil.


Ada yang mengetuk kaca jendela mobil.


Aku membuka dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja.


"Hati-hati neng lain kali" Ucap seorang pria seumuran papaku.


"Iya mang maaf" Jawabku.


Aku melihat kaca, keningku sedikit berdarah karena terbentur setir.


Aku memundurkan mobil kemudian kembali melaju.


Lima belas menit kemudian aku hampir sampai di rumah terlihat mobil Alvin masih di depan rumahku.


Aku memasukkan mobil ke dalam garasi.


Aku turun dari mobil dan buru-buru masuk ke dalam rumah untuk menemui Alvin.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Alvin di ruang tamu menoleh padaku dan melihatku dengan heran, Alvin langsung berdiri.


Aku menaruh tasku di shofa, dan hendak duduk.


Aku melihat jari Alvin yang menyentuh keningku, ada darah.


"Gak papa kog" Ucapku mengalihkan.


"Gak... Gak... Sebentar aku carikan kotak P3K dulu" Ucap Alvin terlihat sedikit khawatir.


Alvin menuju ke belakang menemui bik inah, dan kembali membawa kotak P3K.


"Sini biar aku bersihin darahnya lalu di obati lukanya biar kering" Ucap Alvin.


Aku duduk sedikit mendekat ke Alvin.


Alvin mengambil sedikit kapas lalu di beri alkohol untuk membersihkan sedikit darah yang ada di keningku, aku mengerutkan kening meringis sedikit merasa perih.


Alvin berhenti dan perlahan meniup lukaku.


Ada perasaan aneh yang muncul di dalam dada. Aku hanya bisa merapatkan mataku karena aku tidak sanggup menahan gejolak yang ada di hatiku.


Alvin memberikan obat kemudian menempelkan plaster di keningku.


"Sudah" Ucap Alvin singkat.


Aku masih menutup mata.


"Sarah.... Sudah, buka matanya" Ucap Alvin lagi sambil tertawa kecil.


Duh sikap Alvin jadi buat aku salah tingkah.

__ADS_1


"Makasih..." Ucapku berterimaksih pada Alvin.


"Kenapa bisa kaya gini ?" Tanya Alvin serius.


"Aku tadi hampir nabrak orang jalan lalu mobilku kubalihkan ke trotoar malah nabrak tiang listrik, aku kan tadi di rumah kamu setelah aku tau dari ayah ibu kamu kalu kamu di sini ya aku buru-buru pulang" Ceritaku pada Alvin.


Alvin malah tertawa, apa coba maksudnya ?


"Lain kali hati-hati gak usah buru-buru, kan sayang mobil mahal di tabrakin" Canda Alvin.


Ku manyunkan bibirku.


"Jadi kamu lebih sayang mobilnya dari pada orangnya ?" Tanyaku pada Alvin merasa kesal.


Alvin menatap mataku, kenapa ada getaran yang aneh di hatiku, tuhan kendalikan aku jangan sampai aku merasa sakit lagi karena mencintai.


"Kenapa kamu hanya diam dan menatapku ? Jawab.. Kamu lebih sayang mobilnya dari pada orangnya ??" Tanyaku makin berani.


"Aku lebih sayang orangnya" Jawab Alvin.


Ya tuhan, apa ini benar ?


Aku dan Alvin saling berpandangan sejenak lalu aku tertawa, terlihat Alvin tidak mengerti dengan sikapku.


"Dasar kamu Ustadz playboy, sekarang baperin aku, nanti pacar kamu marah sama aku" Gurauku dengan sedikit menyelidiki.


"Aku gak punya pacar" Jawab Alvin singkat.


Aku melotot pada Alvin tidak percaya, Alvin tertawa kecil.


"Artinya ???" Tanyaku pada Alvin.


"Ya artinya aku gak punya pacar, aku memang gak suka pacaran" Jawab Alvin sambil tertawa lagi.


Aku manggut-manggut dalam hatiku teramat bahagia.


"Tapi kamu pernah suka gak sama orang ?" Tanyaku menyelidik pada Alvin.


"Pernah.." Jawab Alvin singkat.


"Siapa..??" Tanyaku penasaran, dalam hati berharap namaku yang di sebut.


"Ada.." Jawab Alvin singkat padat.


Ya ampun ini orang bener-bener pelit suara.


"Siapa ?" Tanyaku semakin penasaran.


"Ya pokoknya ada" Jawaban Alvin semakin membuatku penasaran.


"Gak asyik deh kamu" Ucapku dengan kecewa.


Alvin tertawa melihatku.


"Udah bercandanya Sarah, sekarang waktunya belajar lagi ngajinya" Alvin mengingatkanku.


"Oke, aku ambil wudhu dan ambil qur'anya dulu" .


Aku turun dari atas sambil membawa qur'an kulihat papa sudah pulang dan sedang berbincang dengan Alvin. Akupun ikut duduk di ruang tamu.


"Nak Alvin terimakasih banyak sudah mau mengajari Sarah membimbing Sarah" Ucap papa pada Alvin.

__ADS_1


"Pak Wijaya jangan berbicara seperti itu, saya belum bisa membimbing Sarah, ilmu saya belum tinggi saya akan mengajari Sarah semampu saya" Ucap Alvin pada papa.


"Ya sudah nak Alvin silahkan lanjutkan dengan Sarah" Ucap papa lalu pergi meninggalkan aku dan Alvin di ruang tamu.


__ADS_2