Ustadzku Jodohku

Ustadzku Jodohku
Episode 13


__ADS_3

Semalam sudah aku menghabiskan waktu dengan nyamuk dalam sel tahanan.


Siapa lagi yang bisa membantuku, Evelyn nomernya tidak aktif, sedangkan mama aku tidak tau apa yang terjadi terakhir mama sudah tidak menjawab, ada apakah ?


Semalam aku sudah di introgasi oleh penyidik, tapi aku kembali dimasukkan ke dalam sel.


Aku akan meminjam ponsel sekali lagi dan menghubungi mama.


Benar apa kata Evelyn seharusnya aku mendengarkan mama dan papa. Seharusnya


aku merubah hidupku menjadi baik bukan seperti ini.


Aku hanya bisa menangis dan menyesal.


"Saudari Sarah Silvia Wijaya" Panggil seorang anggota polisi.


"Iya pak.. Saya" Jawabku.


"Ada yang ingin menemui anda, silahkan ke ruang kunjung" Ucap pak polisi sambil membuka kunci sel.


Aku penasaran siapakah yang ingin menemuiku ? Mama ? Atau papa ? aku menebak nebak sambil menuju ruang kunjung.


Degg..


Serasa jantungku mau copot, bukan mama bukan juga papa. Mataku terbelalak aku sangat terkejut.


Ada seorang pria dengan tubuh tinggi memakai sneakers putih, celana jeans warna biru muda dan memakai blazer warna navy dengan kaos putih dalamnya. Rambutnya bergaya buzz cut seperti anggota militer, Usatadz Alvin.


Kenapa jantungku bergemuruh seperti ini ?


Ya ampun, sebelumnya aku tidak pernah melihat dia seperti ini. Sering ku temui dia dengan pakaian celana chino dan mamakai atasan koko saat aku datang ke rumahnya mengantarkan Daniah les mengaji. Alvin memeberi isyarat mengajak duduk.


"Kamu kenapa ada di sini ?" Tanyaku gugup.


"Aku akan membantumu keluar dari sini aku membawa seorang pengacara, lagian kamu kan cuma tahanan belum terbukti menjadi tersangka, jadi akan mudah sekali untuk membawa kamu keluar" Terang Alvin.


"Darimana kamu tau aku berada di sini ?" Tanyaku lagi.


"Daniah menelfonku, dia meminta tolong padaku agar aku dapat membawamu keluar dari sini" Jelas Alvin.


Daniah menelfon Alvin ? Kenapa bukan mama atau papa ?


Alvin menyuruhku menceritakan semuanya dari awal kejadian sampai kenapa aku di bawa kesini.


Aku menceritakan pada pengacara yang di bawa Alvin, dengan seksama kedua orang itu mendengarkanku.


"Bagaimana pak ?" Tanya Alvin pada pengacara itu.


"Ini tidak terlalu sulit, semoga saja yang bersangkutan bisa bebas secepatnya, saya akan berbicara dengan polisi" Kata pengacara itu lalu pergi menemui seorang anggota polisi.

__ADS_1


Ternyata Alvin bisa juga bergaya dengan pakaian seperti ini, dia tidak kelihatan seperti seorang ustadz.Selama menunggu pengacara, kami berdua hanya saling diam, tampak Alvin sekali membuka ponsel dan asik dengan ponselnya. Kenapa dia tidak mengajakku berbicara ? Kenapa aku di acuhkan ?


Jam kunjung selesai, aku di masukkan lagi ke dalam sel. Alvin mengikutiku.


"Kamu sabar yaa.. Besok kamu pasti sudah bebas, aku dan pengacara akan berusaha" Ucap Alvin penuh keyakinan.


Aku hanya mengangguk bibir ini sulit kubuka seperti terkunci rapat tapi jantung ini semakin cepat berdetak.


Alvin berpamitan kepadaku, dia berkata besok akan datang lagi ke sini, tapi kemana mama papa kenapa Daniah meminta tolong kepada Alvin ?


Kenapa saat kami menunggu pengacara aku hanya diam, seharusnya aku bertanya mengenai itu.


**********


Semalaman aku tidak bisa tidur menanti datangnya pagi, dan sekarang sudah pagi masih saja tidak mengerti apa yang sedang aku nantikan.


Aku berdiri duduk dan berdiri lagi, mengapa Alvin belum juga datanng ? Sebentar...


Alvin ? Kenapa aku tidak sabar menanti kedatangan Alvin. Polisi datang ke selku dan membuka kunci pintu.


"Saudari Sarah Silvia Wijaya silahkan keluar anda bebas" Ucap polisi itu padaku.


"Ini beneran pak ? Gak bohong kan ?" Tanyaku pada pak polisi hampir tidak percaya.


Polisi itu tersenyum dan berbicara.


"Anda terbukti tidak bersalah, melihat bukti CCTV ada yang memasukkan barang itu ke saku anda" Terang polisi.


"Pak william pengacara dan teman anda" Ucap polisi itu sambil menunjuk Alvin dan pengacara yang di bawa Alvin kemarin.


Aku hampir tidak percaya sekali lagi Alvin datang menyelamatkanku keluar dari sini setelah menyelamatkanku dari kejadian malam itu. Kali ini gaya berpakaian Alvin berubah lagi, cukup santai dengan jogger hitam dengan hoodie warna grey dan casual shoes warna hitam.


Aku berjalan menemui Alvin dan pengacara itu, aku berjabat tangan dengan pengacara dan mengucapkan banyak terimakasih sudah membantuku bebas . Pengacara itu berkata bahwa dia senang bisa melihatku bebas.


Pengacara itu berpamitan padaku dan pada Alvin. Kenapa Alvin yang membebaskanku dan yang menjemputku ? Kenapa tidak keluargaku kemana mereka ?


"Kenapa ?" Tanya Alvin padaku mungkin dia melihat aku bengong tadi.


"Kamu gak mau pulang sama aku ? Aku bisa panggilin taxi buat kamu" Ucap Alvin padaku.


"Aku panggilin taxi yaaa !!" Seru Alvin.


"Gak perlu, kalo boleh aku pulang sama kamu aja" Jawabku


"Yaudah ayo kita pulang" Ajak Alvin.


Aku dan Alvin berjalan menuju tempat parkir. Aku akan satu mobil denganya ? Ya ampun.


Alvin membukakan pintu mobil untukku, what ? Aku duduk di depan denganya. Ya tuhan aku gugup sekali. Aku meremas jari-jariku ku mungkin bisa mengurangi rasa gugupku.

__ADS_1


"Sekarang kita akan menuju ke rumah sakit" Ucap Alvin.


Aku memandang Alvin tidak mengerti apa maksud perkataanya.


"Nah waktu itu Daniah menelfonku tidak bisa masuk karena bu Widya sakit dan di bawa ke rumah sakit, Daniah kemudian menceritakan kronologi bu Widya jatuh sakit setelah mendengar kabar kamu masuk ke dalam sel tahanan untuk itu Daniah memintaku membantu membebaskanmu" Cerita Alvin.


Aku tidak bisa menahan air mataku jatuh.


Tuhan.. Semua ini salahku seandainya dari awal aku mendengarkan dan menuruti perkataan papa dan mama semua ini tidak akan terjadi.


Alvin memberikan sapu tangan padaku, aku menoleh padanya, dia memberi isyarat agar aku mengambilnya.


"Terimakasih" Ucapku dengan sesenggukan


Aku menyeka air mataku.


"Kamu yang sabar yaa, semua pasti baik-baik saja, bu Widya pasti sembuh" Ucap Alvin sambil satu tanganya memegang pundaku.


Aku mengangguk.


Tidak lama kemudian aku sampai di rumah sakit dengan Alvin.


Aku dan Alvin menuju ruang mama di rawat. Alvin menunjukkan ruangan itu aku masuk dengan Alvin, papa ada di samping mama yang sedang tertidur, aku lari menuju papa dan meminta maaf atas semua sikap dan perilaku burukku yang menyebabkan mama sampai seperti ini. Papa mengangguk lalu mengelus kepalaku.


"Syukurlah Sarah, berkat bantuan Ustadz Alvin kamu bisa bebas dari sana" Ucap papa.


"Terimakasih nak ustadz" Ucap papa pada Alvin.


Alvin mendekati papa.


"Jangan berterimakasih kepada saya pak, semua ini atas izin Allah" Ucap Alvin kepada papa.


Kulihat mama membuka mata, aku mendekati mama dan mencium keningnya kemudian mencium tangan dan kakinya, sungguh memang benar surgaku berada di telapak kakinya.


Aku menangis menggenggam tangan mama dan meminta maaf.


Mama tidak bisa berbicara dia hanya mengedipkan matanya, tangan dan tubuhnya pun tidak bisa bergerak. Mama meneteskan air mata aku mengusapnya perlahan dengan lembut. Kini tinggalah penyesalan yang tersisa.


"Maaf pak, saya harus pergi ada jam mengajar di kampus" Ucap Alvin berpamitan pada papa.


"Iya nak, kamu hati-hati ya.. Terimakasih yang banyak atas bantuannya sekali lagi saya berhutang budi padamu" Ucap papa merendah


Alvin memegangi kedua pundak papa.


"Bapak jangan bicara seperti itu, dalam kamus saya tidak ada kata berhutang, saya ikhlas dan tulus membantu" Ucap Alvin pada papa.


Aku baru menyadari, ternyata Alvin tidak seperti apa yang kufikir selama ini. Aku fikir Alvin orang yang aneh, membosankan dan masih banyak lagi tapi ternyata salah, dia sangat baik kepada siapapun walaupun dulu sikapku padanya sangat buruk nyatanya dia mau menolongku tanpa pamrih.


"Sarah.. Aku balik dulu ya.. Bu saya balik dulu semoga bu Widya lekas sembuh semoga dengan segera Allah mengangkat sakit ibu" Alvin berpamitan padaku dan pada ibu. Ibu mngedipkan matanya.

__ADS_1


Aku mengantarkan Alvin sampai di pintu.


__ADS_2