Ustadzku Jodohku

Ustadzku Jodohku
Episode 11


__ADS_3

Aku membuka mata, kepalaku masih sedikit pusing aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.


"Sarah...." Suara mama.


Aku menoleh mama di sampingku duduk dekat tempat tidur, mama membantuku untuk duduk.


"Apa yang terjadi semalam ma ?" Tanyaku pada mama.


"Nak semalam kamu...." Belum selesai mama bicara papa datang ke kamarku.


"Mulai hari ini kamu tidak boleh keluar dari rumah, kamu tau apa yang terjadi semalam ? Kamu hampir saja di lecehkan oleh dua orang pria tak di kenal, dan kamu tau siapa yang menolongmu ? Untung saja ada ustadz Alvin dia menolongmu dari pria pria itu sampai dia terluka" Papa menceritakan kejadian semalam.


Aku sedikit mengingatnya aku keluar dengan badan sempoyongan dan ada dua orang pria mereka bilang mau mengantarkanku pulang tapi mereka mencoba melakukan hal menjijikkan itu dan aku mengingat ada seseorang yang datang menolongku dan ternyata kata papa Ustadz itu.


"Sarah,, kamu dengarkan mama dan papa yaa nak, jangan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat itu" Ucap mama melarangku, aku hanya diam.


"Dan sekarang kamu bisa menelfon Ustadz Alvin lewat handphone adik kamu, ucapkan terimakasih padanya" Perintah papa.


Papa memanggil Daniah yang hendak pergi ke sekolah, Daniah datang kekamarku dan memberikan ponselnya. Papa pergi mengantarkan Daniah.


"Sekarang kamu mandi, lalu turun untuk sarapan yaa.." Ucap mama padaku "Jangan lupa telfon Ustadz Alvin berterimakasihlah padanya" Ucap mama lagi mengingatkan.


Mama sudah turun dan aku selesai mandi ku buka handphone Daniah kulihat kontak Ustadz itu.


Aku ingat perkataan papa bahwa si Alvin itu sudah menolongku sampai terluka, inginku menghubunginya tapi aku merasa enggan mengingat beberapa hari yang lalu sikapku buruk padanya, memang benar harusnya aku meminta maaf tapi hatiku berat melakukanya, apa ini gengsi ?


Aku turun ke bawah untuk sarapan, ku bawa handphone Daniah kukembalikan pada mama.


"Sudah telfon ?" Tanya mama


Aku menggelengkan kepala. Mama menghela nafas kemudian duduk di dekatku.


"Jangan meninggikan ego nak, mama yakin kamu punya hati yang baik sebenarnya, memang ini masa-masa yang sulit bagimu tapi tolong mulailah membuka lembaran baru, setidaknya kamu bisa memulai pertemanan dengan Ustadz Alvin" Ucap mama lembut padaku.


"Mama ini apaan sih ? Sarah gak suka yaa ma kalo mama nyuruh-nyuruh Sarah supaya berteman dengan Ustadz itu dari dulu Sarah itu gak suka sama dia, kenal aja gak mau apalagi jadi temanya, orangnya sepertinya membosankan" Balasku kesal.


Aku pergi meninggalkan mama sendiri di meja makan, moodku sarapan hilang seketika.


Kenapa lagi dan lagi harus membahas si Alvin itu


Aku naik ke atas berganti pakaian, aku ingin keluar mencari udara segar ngemall atau ngafe bisa juga ke rumah Evelyn.


Aku sudah selesai bersiap aku turun ke bawah dan langsung menuju garasi mobil aku membuka pintu mobil terlihat Mang Saleh lari menghampiriku.


"Maaf non Sarah.. Ini amanah dari tuan, saya disuruh jaga, Non Sarah tidak boleh keluar" Ucap mang Saleh.


"Apaan sih Mang aku bukan tahanan di rumah ini aku bebas pergi ke mana saja" Omelku

__ADS_1


"Non Sarah memang bukan tahanan tapi kalau saya biarkan non Sarah keluar bisa-bisa nanti saya di pecat tuan, lalu bagaimana dengan anak istri saya" Ucap mang Saleh memelas.


Baiklah, kasihan juga mang Saleh. Aku kembali masuk ke dalam rumah.


Aku mengirimi pesan pada bartender kenalanku di club untuk mengirimkan beberapa botol vodka, bartender itu membalas barang akan sampai dalam waktu kurang lebih lima jam.


Sudah hampir sore, seharusnya barang itu sudah sampai. Aku turun kebawah menuju pos kecil dekat pagar rumah, kulihat ada seorang kurir berhenti dan berbicara dengan mang Saleh, secepatnya aku lari, jangan sampai mang saleh mengetahui isinya, bisa gawat.


"Tumben non dapat paket" Ucap mang Saleh.


"Iya mang" Jawabku langsung masuk sambil membawa kardus berat berisi 6 botol vodka.


Menyebalkan sekali menjadi tahanan di rumah sendiri, aku hanya menghabiskan waktuku seharian di dalam kamar dan itu membosankan.


Kulihat dari jendela kamar Daniah baru pulang les mengaji di jemput papa.


Jam terus berputar, aku benar-benar bosan terkurung di kamar.


"Sarah.... Ayo kita makan malam nak di bawah" Ajak mama terdengar dari luar kamar.


"Aku gak laper maa.. Makan aja sama papa dan Daniah" Jawabku


"Kalo kamu gak mau turun biar bik inah yang nganterin makanan ke atas" Balas mama.


"Udaah maa gak usa Sarah gak laper" Aku menolak.


Aku memutar musik dengan keras di dalam kamar siapa tau bisa sedikit menghilangkan kejenuhanku. Sejak hubunganku dan Reno kandas hidupku jadi berantakan, yang tadinya aku lebih suka berkumpul menghabiskan waktu dengan keluarga di luar rumah seperti ngemall bareng mama dan Daniah jalan-jalan dengan mereka atau cuma di rumah menghabiskan waktu di depan televisi dengan mama dan Daniah. Tapi sekarang semua terasa membosankan, aku lebih menyukai dunia gemerlap di luar sana.


Aku mencoba memejamkan mataku untuk tidur tapi tidak bisa, kulihat jam di kamar menunjukkan pukul 23:30, aku bosan berada di kamar sehari semalam, aku ingin keluar tapi papa menyiruh mang Saleh mengawasiku, jika aku berani keluar tanpa menghiraukan mang Saleh nanti kasihan juga anak istrinya kalo mang Saleh di pecat papa.


Aku keluar dari kamar, melihat keadaan sekitar lampu sudah dimatikan itu tandanya penghuni rumah ini sudah tidur, aku akan keluar dari kamar untuk menghirup udara segar.


Aku menuju kolam renang samping rumah dekat dengan taman mini tempat mama mengoleksi tanaman bunga favoritnya.


Aku membawa vodka ke bawah, lumayan aku bisa menghirup udara segar malam hari walau tanpa Dj dan musik R&B.


Aku menuangkan ke gelas sedikit demi sedikit lalu ku minum sambil memutar musik di handphoneku.


********


Byyuuurrrrr


Aku tersentak bangun dari tidurku, aku melihat sinar matahari yang terang, sekujur badanku basah oleh air, rupanya aku tertidur di samping kolam renang.


Kulihat papa masih memegang ember. Segera aku berdiri.


"Apa-apaan sih paa ?" Tanyaku emosi

__ADS_1


"Kamu yang apa-apaan.. Minum beginian di rumah ini ? Siapa yang suruh kamu bawa minuman seperti ini ke rumah ? Haah jawab ?" Tanya papa dengan nada tinggi.


Mama keluar mendengar suara ribut.


"Ada apa papa ?" Tanya mama.


"Lihat maa lihat kelakuan anak ini, semakin menjadi jadi saja" Ucap papa lantang sambil menunjuk jari padaku.


Mama melihatku basah kuyub dan melihat beberapa puntungan rokok dan botol vodka di pinggir kolam. Papa masuk kedalam.


"Sarah... Nak... Apalagi ini ? Ya tuhan..." mama menangis


"Gak ada apa-apa maa" Jawabku berusaha sesantai mungkin, aku tidak ingin mama menjadi-jadi ketika menangis air matanya terlalu berharga bagi papa.


Papa keluar lagi dengan membawa kardus yang berisi beberapa vodka yang kupesan kemarin. Papa membanting botol satu persatu dan pecah.


"Papa....." Teriakku emosional


Aku menahan tangan papa yang hendak membanting vodkaku.


Plaakkk.


Papa menampar pipiku.


"Berani yaa kamu melawan papa sekarang, jadi anak kurang ajar kamu" Ucap papa marah.


Mama semakin menjadi-jadi, Daniah yang hendak berangkat sekolahpun datang menenangkan mama.


"Papa sudah berani menamparku" Ucapku menahan tangis


"Bahkan papa bisa menamparmu seribu kali lagi untuk menyadarkanmu" Ancam papa


"Oke !! Kalo gitu ayoo tampar Sarah lagi ayoo tampar lagi" Aku mendekatkan pipi di depan papa.


Mama sambil menangis memgangi tangan papa yang sudah mengepal.


"Kalo kamu masih menyentuh minuman dan rokok ini apalagi sampai membawa ke dalam rumah ini, silahkan pergi !!" Hardik papa mengusirku.


"Baik, kalo itu yang papa inginkan aku akan pergii" Balasku.


"Jangan Sarah jangan pergi nak" Teriak mama.


"Kakak... Jangan pergi" Teriak Daniah.


Dengan berat hati aku meninggalkan mama, papa memberiku pilihan yang sulit, papa menyuruhku memilih salah satu, sedangkan selama aku dalam keterpurukan yang menemaniku hanyalah minuman dan rokok.


"Maaf maa Sarah harus pergi"

__ADS_1


__ADS_2