
Sinar matahari sudah mulai menyelinap dari selah selah jendela kamar Thata, yang menunjukkan bahwa pagi sudah menanti bersama pekerjaan yang akan ia jalani. Kokok an ayam jago tak kalah bising membangunka tidurnya yang nyenyak dari atas tempat tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Thata pun mulai bergegas menata tempat tidur. Setelah merapikan tempat tidur, ia pun bergegas untuk cuci muka lalu menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri dan dilanjutkan sarapan pagi, dan bersih bersih kosannya.
Beberapa saat kemudian.....
Jam sudah menunjukkan pukul 7 dan Thata pun sudah siap berangkat dengan setelan kemeja putih pres body dan celana kulot hitam dengan potongan standart menggunakan sepatu hitam standart waitress.
Tak lupa dengan tampilan rambut panjang yang ia sanggul dan juga make up minimalis natural yang menambah aura kecantikannya semakin bersinar. Ia pun mulai berangkat kesebuah caffe yang berada di sebuah Hotel ternama di kota B dengan jalan kaki yang tak jauh dengan kosannya.
setelah beberapa menit kemudian....
Akhirnya Thata pun sampai di caffe tersebut, tak lupa ia untuk finger print dan juga ia pun bergegas menuju loker pegawai untuk menaruh tas di sana.
Setelah itu ia pun mulai berkumpul untuk melakukan briefing bersama beberapa rekannya yang meliputi: order taker, barista, bartender, admin F&b service, cashier, leader, supervisor restaurant beserta para koki lainnya.
Selesai briefing, mereka pun mulai memegang kendali tugasnya masing masing sesuai opsi. Tak terkecuali Thata yang telah memulai table setting bersama rekannya yang sesama seorang waitress dan dua orang waiters yang bernama GINA, Rendi, dan Sky.
Setelah melakukan table setting, Caffe pun mulai di buka karena biasanya setiap jam 8 banyak tamu hotel maupun karyawan kantor datang untuk sekedar breakfast sebelum bekerja atau meeting bersama klien.
customer berdatangan silih berganti, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas, yang artinya waktu istirahat telah tiba. Thata pun beristirahat bersama ke-tiga rekannya yang bernama GINA Rendi dan Sky di taman belakang caffe.
"Tha, tadi berangkat naik apa?" tanya Rendi yang sebenarnya pasti sudah tahu jawabannya kalau selama ini Thata selalu jalan kaki.
"Naik buskil Ren." pungkas Agatha
"Apaan tuh tha?" tanya mereka bersamaan yang tidak tahu arti kata yang baru diucapkan oleh Thata.
"Itu biasa, BUs SiKIL alias jalan kaki, hhhhhh...."jawab Agatha sembari tertawa yang di iringi tawa ke 3 temannya.
"Njir.... kirain apa Lo, hhhhhh." timpal GINA di susul Rendi yang tersenyum melihat Agatha tertawa lepas.
"Ngomong ngomong, entar bareng aku aja gimana?" tanya Sky.
__ADS_1
"Ayok." jawab GINA merasa senang.
"Lho, kok elo sih gin?" heran Sky.
"Lha terus Lo ngajak siapa njir?" timpal GINA
"e em ngajak Thata hehe." sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Lah, dasar Lo ya. sampai kepedean gua hehe..." sambung GINA
"Dih siapa suruh Lo GR gin haha.." timpal Rendi.
"ih, dasar ya kalian berdua!" pungkas Gina sembari memukul lengan Sky dan Rendi
"Lihat kalian bertiga lucu deh, kayak tom and Jerry hehe. Awas Lo entar kalian bisa jadi cinta segi tiga hehe." pungkas Agatha sambil tersenyum lebar melihat tingkah laku ketiga teman temannya tersebut.
"Idih, ogah ah tha amit amit dah, kamu gak tahu apa kalau gua tuh udah punya cowok keles." seru Gina sambil cemberut kearah Rendi dan Sky.
"ayo Pepet terus sana Ren, Sky si Ginanya hehe." sahut Agatha sembari tersenyum tanpa disadari telah diperhatikan teman temannya.
"Dasar ya kamu tha, malah kompor hehe." tungkas GINA
"Kamu sendiri gak punya cowokkah tha?" tanya Sky yang penasaran. Karena selama 2 tahun bekerja bersama Agatha, Sky tak sekalipun melihat Agatha dijemput atau diajak jalan dengan seorang laki-laki. Kalau pun ada senior yang mengajaknya jalan atau sekedar nongki. Agatha selalu menolak dengan Alasan ingin segera pulang untuk beristirahat atau dengan alasan tertentu.
Pernah sesekali Sky melihat si Rendi yang diam diam mengikuti Agatha pulang, namun begitu menyadari bahwa diikuti Rendi, Agatha lebih memilih menghampirinya dan menanyakan kenapa mengikutinya. Sejak saat itu Sky merasa penasaran dengan Agatha.
"Enggak ky. Kenapa?" jawab agatha
"Just question hehehe." sembari mengerlingkan mata kepada Agatha.
"Ish, mulai genit ya kau!" seru Gina sembari menabok lengan Sky lagi.
__ADS_1
"Aduh, mulai nih penyakit nabok." erang sky
dibalas tatapan dingin Rendi kepada sky tapi tidak disadari olehnya.
" Gais, udah jam setengah satu nih. Masuk yuk."ucap Agatha sembari menunjukkan jam tangan ke teman temannya.
"Kok cepet ya? perasaan baru istirahat dah." ucap Rendi.
"Makanya jangan pakai perasaan. Kan Baper kan? hahaha." celetuk Gina tak hentinya menertawai Rendi yang memasang wajah yang datar.
"Dah lah, gua masuk dulu ya." ucap sky sembari berlalu dan Gina pun mengekor di belakangnya. Di ikuti Agatha yang hendak melangkah namun di cegah oleh Rendi.
"Tha? boleh ngomong gak?" tanya Rendi sedikit kikuk.
"Apasih Ren? mau omong apa?" pungkas Agatha.
"e e em, a apa kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi ya tha?" ucap Rendi dengan nada yang memelas.
"Maksud kamu? gimana? balik kayak dulu gimana ini?" tanya Agatha dengan tatapan mata menyelidik.
"Ya, kamu sama aku saling mengisi meski kini sempat acuh tak acuh. Dan bukankah lebih baik kita kembali seperti dulu untuk saling butuh?" pungkas Rendi yang mulai menatap dalam mata Agatha
"Ayolah Ren, aku udah bilang sama kamu berapa kali sih? itu dulu! Sekarang gak bisa! itu udah 3 tahun yang lalu! hanya cinta monyet. enggak lebih!" seru Agatha sembari memegang pundak kanan Rendi.
"Apa cintaku tak terlalu berkesan untukmu?" cecar Rendi.
" Entahlah Ren, aku tak berpikir sejauh itu." pungkas Agatha setelah itu berlalu meninggalkan Rendi sendiri. tanpa agatha tahu buliran air putih bening menetes di pipi Rendi saat ia pergi meninggalkannya.
Di sudut toilet taman tak jauh dari Rendi dan Agatha berdiri, seseorang sendirian menatap Agatha dan Rendi yang sedang berbincang dengan serius. Ia pun juga kaget ketika melihat sosok Rendi meneteskan air mata setelah ditinggal sesosok perempuan di depannya.
Setelah kepergian Agatha, Rendi pun mengusap air matanya lalu kembali ke caffe.
__ADS_1
Dan bersikap seolah tak terjadi apa apa bersama Agatha tadi. Dan seperti biasa ia pun masih tetap bercanda dan juga tertawa bersama Agatha. sesekali merangkul dan mengusap puncak kepala Agatha di saat caffe sepi pengunjung.