wanita mainan

wanita mainan
Bab 9. telepon


__ADS_3

Bruukk....


Agatha menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Hmm, akhirnya..... bisa membaringkan tulang tulang belakangku yang rasanya sudah ingin patah ini!" ucapnya sendiri. Lalu meraih tas ransel yang ada di sampingnya dan mengambil Handphone yang ada di dalamnya.


Jam menunjukkan pukul 21.00 di layar datar Hpnya. dan ada beberapa pesan juga telvon masuk di notifikasinya.


Ia pun mengernyitkan dahi, pada nomor telepon yang ia ingat sama seperti nomor milik orang yang mengirimkan pesan tempo hari. Dilihat banyak telvon masuk darinya.


"Ada perlu apa ya orang ini? aneh." gumam Agatha sendiri sembari meletakkan HP nya di atas nakas samping tempat tidurnya dan ia beranjak membuka lemari di samping kamar mandi untuk mengambil pajamas lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


15 menit kemudian,


Setelah Agatha usai membersihkan dirinya ia pun menuju tempat tidur dan membaringkan dirinya disana.


tiba-tiba HP Agatha berbunyi lagi, menandakan ada panggilan masuk. Dan ternyata panggilan masuk itu dari orang yang sama. Orang yang mengiriminya puluhan pesan masuk dan puluhan panggilan.


Dengan sedikit malas Agatha mencoba meraih hp di atas nakas yang sedikit tidak jauh dari tempatnya berbaring dengan berguling guling seperti anak kecil di atas tempat tidur.


ia lihat layar hp dan menghembuskan nafas kasar ke sembarang arah, " Dia lagi, dia lagi!" Agatha mendengus kesal karena yang menghubunginya saat ini adalah orang yang tidak ia kenal itu.


Agatha pun mengusap layar datar yang ia pegang itu, " Halo, dengan tatha. Ada yang bisa saya bantu?


"Hmm, hy tha? ini aku Firza." suara seorang pria yang ada di sambungan telepon tersebut.


"Iya, ada apa ya?"


"Lagi apa nih? udah pulang kerja atau lagi di mana nih?" tanya pria itu.


"Udah pulang sih. Tapi maaf ya mas Firza. Ini udah malam. Aku ngantuk banget nih. Huamm." Agatha pun menguap dengan mulut yang cukup lebar karena merasa sudah lelah, letih, dan sangat mengantuk.


"Tapi, besok pagi bisakan kita ketemu?" tanya pria itu lagi.


"Kita lihat besok ya mas. Soalnya besok aku juga masih kerja mas."


"Kamu kerja di mana sih?" tanya pria itu penasaran.


"Buat apa nanya ya?" ucap Agatha dengan wajah yang curiga.


"Ya kalau aku tahukan aku bisa jemput kamu!"


"Ah, enggak usah repot-repot mas, aku bisa pulang sendiri."


"Lho, kok malah gak mau?" tanya pria itu lagi.


"Udah malam nih mas! Aku mau tidur dulu. Selamat malam." Ucap Agatha sembari mematikan telepon.


"Ta-----" Belum sempat pria itu berbicara,


tiba tiba,


Tut....tuttttt


bunyi telepon yang sudah dimatikan Agatha dari seberang sana. Membuat pria ini kesal yang diikuti ia mengajak rambutnya sendiri.


"Sial, ngapain dimati'in segala sih sama tuh anak? cuek amat!" seru lelaki di seberang telepon itu. Lalu mencoba menelpon ke kontak yang bertuliskan nama Agatha itu.


.


.

__ADS_1


.


.


******


jam menunjukkan pukul 22.00 Agatha yang ketiduran pun terbangun dengan menyipitkan ke dua matanya melihat layar hp yang sedari tadi menyala dan berdering karena ada panggilan masuk. Lalu ia pun meraih HPnya dan mulai mengangkatnya lagi.


"*Halo? ada apa lagi mas?" suara serak Agatha terdengar berat.


"Eh.. udah tidur beneran?" dengan polos lelaki di seberang telepon sana bertanya.


"Hmmm,."


"Yaudah tidur aja gih kalau ngantuk." ucap lelaki itu


"Udah gak jadi ngantuk!" seru Agatha.


"Kalau gak ngantuk bisa ketemu nih." ucap sang lelaki.


"Maaf gak bisa! ini udah malam mas!"


"Kan cuma malam doang. masak gak bisa?" tanya lelaki itu lagi.


"Di atas jam 9 malam dikostan dilarang ada tamu pria berkunjung mas!" seru Agatha.


"Gimana kalau ketemuan di luar aja?" ucap Firza.


"Gak bisa!"


"Terus gak bisa ketemu dong?" tanya Firza sedikit kesal.


"Kamu takut dimarahin cowokmu ya?" tanya Firza penasaran.


"Iya! cowok aku gampang marah!" jawab Agatha asal.


"Mulai kapan kamu punya cowok?" heran Firza.


"Mulai tadi!" ketus Agatha.


"Kok bisa? bohong ya kamu?" pungkas Firza semakin kesal.


"Enggaklah! Ngapain bohong? Mau aku kasih nomernya?"


"Buat apa?" tanya Firza.


"Ya biar kamu percayalah kalau aku punya cowok." ucap Agatha.


"Bisa aja itu cowok pura-pura kamukan?" serang Firza.


"Kok gitu? kayak kurang kerjaan aja!" ucap Agatha.


"Aku gak percaya kalau kamu udah punya cowok. Lagian buat apa sih bohong ke aku?" ucap firza


"Terserah kamu lah!" ucap Agatha.


"Aku ke sana ya?" Tanya Firza lagi.


"Buat apa? Lagian kamu kan gak pernah lihat aku. Gaya gaya an mau ke sini! kayak lihat kostan aku aja." cibir Agatha.


"Jangan remehin aku ya. Aku bisa lacak kamu sekarang juga kalau aku mau." ucap Firza dengan nada penuh kesombongan.

__ADS_1


"Lacak aja! aku kasih waktu 30 menit. Kalau kamu bisa nemuin aku di mana dan bisa sampai ke sini! Aku mau ketemu sama kamu." tantang Agatha.


"Fine! Jangan matikan teleponnya." pungkas Firza yang beranjak dari duduknya dan menyambar kunci mobil yang ada di atas meja yang ada di depannya lalu bergegas menuju bagasi di samping rumahnya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah besar berlantai 3 tersebut dan masuk ke dalam bagasi untuk mengemudi mobil ranger Rover warna hitam yang ada di bagasi sana.


bruumm....bruuumm


Agatha masih mendengarkan suara knalpot mobil di seberang telepon sana.


Dan Firza mulai mengemudikan mobilnya keluar dari kawasan rumah elitenya itu menuju posisi Agatha yang sudah dia lacak.


Sembari mengenakan headset bluetooth yang ada di telinganya ia masih berbicara dengan Agatha.


"Tunggu aku di depan kostmu!" serunya tetapi masih fokus mengemudikan mobilnya tersebut.


"Be--beneran mau ke sini?" kaget Agatha yang tak percaya.


"Beneranlah. buat apa aku bohong." ucap firza lagi.


"Emang beneran bisa tahu ya? kok bisa?" ucap Agatha yang semakin penasaran.


"Bisalah! Apa sih yang gak aku bisa?" goda Firza.


" Inikan udah malam. Balik aja sana gih!" ketus Agatha.


"Gak bisa! siapa suruh tadi kamu nantangin aku?" hardik Firza.


"Akukan bercanda!"


"Tapi aku gak suka bercanda. aku itu lebih suka serius! terus gimana dong?" pungkas Firza


Agatha mulai bingung, ia harus bagaimana saat ini. Karena ia juga belum pernah bertemu dengan lelaki yang menelponnya saat ini. Dan ia juga masih malu untuk menemuinya.


Sedangkan di sisi lain, lelaki itu sudah semakin dekat menuju kostan Agatha yang dekat dengan hotel milih ayahnya Firza.


Dengan tatapan fokus ke depan mengemudi mobilnya. Setelah 20 menit melewati keramaian jalanan ibukota yang di hiasi taburan bintang bintang di atas langit malam, akhirnya Firza sampai di depan sebuah kostan yang memiliki plang bertuliskan* "kost khusus wanita"


"**Halo tha? aku udah sampai di depan kostmu." ucapnya yang masih berada di dalam mobil melalui panggilan telepon.


"E--eh? Ngapain?" tanyanya.


"Cepat keluar! tadikan udah janji kalau aku bisa nemuin kostmu dalam waktu 30 menit mau aku ajak ketemuan." ucap Firza.


"Enggak ah!" ucap Agatha malas.


"Apa aku aja yang keluar dari mobil, terus jemput kamu di dalam kamar sana?" seringai Firza.


"Ja-jangan ngancam dong! gak bisa gitu kali!" Agatha mendengus kesal.


"Salah siapa? gak nepatin janji?" ucap Firza lewat sambungan telepon yang masih terhubung itu.


"I-iya iya aku keluar." ucap Agatha malas.


"Mobil aku warna hitam. Ada di seberang jalan di depan kost an mu!" pungkasnya.


"Oiya, maaf kaca mobilnya aku tutup dulu. Takutnya kamu malu. Nanti kamu ketuk aja kacanya. Ya udah kamu tutup teleponnya" sambung Firza.


"Hmmm." ucap Agatha, lalu mematikan telepon dan bergegas melangkahkan kakinya menuju mobil ranger Rover hitam yang ada di seberang jalan.


"Masak, mobil ranger Rover yang ada di depan sana itu sih? apa aku salah ya? tapi mobil hitamkan cuma itu doang? aku hampiri enggak ya?" ucap Agatha sendiri di dalam batin.


Saat sudah mendekati, mobil tersebut Agatha masih berdiri di samping mobil tersebut dengan masih mengenakan pajamasnya dengan rambut yang tergerai**.

__ADS_1


__ADS_2