Wanita Sempurna

Wanita Sempurna
episode 6


__ADS_3

tiinnnnn


suara telakson yang begitu nyaring membuat aurel kaget dan langsung menoleh ke sumber suara


"lo bisa bawa motor gak sih?!" ucap aurel dengan nada meninggi dan menatap sosok yang masih mengenakan helm itu


"kalo ditanya tuh jawab!" lanjutnya dengan wajah marah, yang ditatap akhirnya membuka helm


"lo... lo klo bawa motor tuh santai jangan seenaknya aja galiat ada orang?!" ucap aurel dengan nada sedikit ketus


"ngapain lo malam malam keluyuran mana masih pakai baju seragam" tanya seseorang yang masih enggan untuk turun dari atas motornya


"gue mau balik tadi taksi yang gue tumpangin mogok jadi gue jalan berniat untuk cari taksi lagi" jawab aurel dengan wajah datarnya


"buruan naik" titah laki laki tersebut


"ogah, tampang lo kayak tukang culik" jawab aurel yang mengalihkan pandangannya


"ck. buruan naik atau bener bener gue tinggal lo disini" laki laki dengan wajah sedikit kesal

__ADS_1


"ydh ayo buruan " jawab aurel yang langsung menaiki motor laki laki tadi


"pegangn nanti lo jatuh gue gak tanggung jawab"


"ck. bawel lo udah buruan" aurel yang memegang baju si laki laki, tanpa ba bi bu motor itu melaju sangat kencang yang membuat aurel sontak memeluk tubuh sang laki laki


"RAKA PELAN!" teriak aurel namun tidak di hiraukan dengan raka


tak butuh waktu lama untuk raka mengantarkan aurel sampai kedepan rumahnya


"lo masih mau peluk gua, gak mau turun gitu?" ucap raka dengan nada menggoda namun sukses membuat aurel tersipu malu


"apaansih, eh eh kok lo tau rumah gue?" aurel yang menyerngitkan dahinya seolah tanda tanya untuk raka


" iyaa, thanks ya" ucap aurel dan langsung memasuki rumahnya


"Assalamualaikum abangg adikmu telah pulang" ucap aurel yang agak teriak


"waalaikumsalam non, itu sudah ditunggu den arnold di meja makan" jawab bi susi

__ADS_1


"ah baiklah" aurel yang langsung berjalan menuju meja makan


"abang maaf aku pulang telat soalnya tadi taksi yang aku tumpangin tiba tiba mogok dan aku harus berjalan mencari taksi lain" ujar aurel dengan menatap sang abang yang berada di depannya


"kenapa gak telfon abang?" jawab arnold dengan nada datar


"tadinya berniat mau menelfon abang tapi saat aku ngambil ponsel disaku aku bertemu raka dan akhirnya aku diantar dia sampai rumah" aurel yang langsung di tatap oleh sang abang


"raka itu orangnya baik, abang yakin dia bisa jagain kamu" arnold yang masih menatap sang adik, yang ditatap hanya menyerngitkan dahinya


"kan sudah ada abang yang jagain aurel" ucap aurel dengan mata yang sudah berkaca kaca


"hey sini lihat abang, abang gak mungkin jaga kamu terus menerus ada saatnya abang lepas tanggung jawab itu dan di gantikan oleh orang lain" ucap arnold yang sukses membuat air mata aurel turun


"abang gak sayang aurel lagi? apa abang mau pergi juga sama seperti mereka, tidak memperdulikan aurel lagi" tanya aurel di sela sela isakannya


"tidak begitu, abang selalu sayang sama aurel bahkan abang rela memberi nyawa abang untuk aurel" ucap arnold yang mengelus kepala aurel


"hiks..hiks... abang jahat sama aurel abang udah gak sayang sama aurel abang mau pergi juga dari aurel" tangis aurel semakin pecah dan dia berlari ke kamarnya dengan menutup pintu kamar sangat keras dan mengunci pintu kamarnya

__ADS_1


"maafin abang udah bikin kamu nangis" ucap arnold yang dengan setia berdiri didepan pintu kamar sang adik


aurel yang masih dapat mendengar ucapan sang abang malah makin menjadi tangisnya


__ADS_2