
Prolog..
Perang sengit terjadi diantara keduanya, perang antara kebajikan dan kebatilan. Perang suci yang disaksikan seluruh makhluk bumi. Perang yang menentukan takdir bumi di masa depan, penentu keberlanjutan hidup seluruh makhluk di bumi.
"apa kau kelelahan wahai sang penakluk bumi??" tanya ksatria itu.
Tubuhnya yang tinggi sedang terengah-engah di medan laga. Bertumpu pada pedang saktinya, ia mencoba untuk menjadi lebih unggul dari musuhnya.
"hahaha!!! Apa kabar dengan dirimu sendiri, haa?? Kau saja sudah tidak kuat berdiri!! Hahahaha!!" jawab Raja Kroda dengan lantang.
Raden Widagda, sang ksatria, mendengarnya sambil tersenyum miring.
"aku hanya memulihkan sedikit energiku, raja sialan!!" jawabnya.
Merasa tersinggung, raja Kroda segera mengambil kuda-kuda untuk menyerang Raden Widagda, tetapi serangannya meleset. Mungkin itu efek dari pertempuran selama 10 hari 10 malam tanpa henti.
"cih! Tidak berguna!" gerutu Raja Kroda.
"kenapa?? Seranganmu meleset, kau itu sudah tua! Menyerahlah, aku akan mengampunimu."
Amarah Raja Kroda memuncak, dia pun kembali melancarkan serangan keduanya dan 'bugh'. Raden Widagda terhempas dengan keras. Tubuhnya terkulai lemas. Kini energinya benar-benar habis, ia sangat lelah dan tidak bisa menghindar atau bahkan membalas serangan terakhir Raja Kroda.
"raden!!" teriak Bathara Endra khawatir.
Senua dewa dan manusia di pihak Raden Widagda merasa cemas dengan keadaannya, tapi sudah menjadi kesepakatan bahwa tidak ada yang boleh membantu keduanya berperang. Semua pengikut hanya dibolehkan menonton dari pinggir medan tempur.
Tawa Raja Kroda menggelegar menakutkan, diikuti dengan sorak sorai pendukungnya. Dengan langkah tergopoh dan badan sempoyongan, ia mendekati Raden Widagda. Ia mengangkat gadanya dan 'brakk'. Raden Widagda pun sekarat.
Pihak Raden Widagda sangat terpukul, mereka tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya. Harapan mereka telah pupus, seorang pria yang digadang menjadi pahlawan mereka, telah tumbang.
Dalam kondisi sekarat, Raden Widagda mengingat semua masa lalunya.
*) 20 tahun lalu
Sekumpulan anak berusia 4-5 tahun sedang berlarian dipematang sawah. Mereka sedang bermain dengan riang, tawa mereka menghiasi sepanjang langkah. Setiap petani yang melihat, selalu memperingatkan agar hati-hati dan tidak berlarian di pematang sawah, tetapi anak-anak itu tampaknya anak-anak bandel yang tidak mau mendengarkan nasehat.
Tiba-tiba 'gedebug'
"aduh.." rengek seorang anak perempuan dibarisan paling belakang.
Sontak anak-anak yang didepannya pun menghampirinya.
"eh ada apa?? Kamu jatuh??" tanya seorang anak laki-laki yang lebih tua.
"sakit.." jawabnya singkat.
"mana yang sakit Ar? Boleh lihat?" tanya Marta.
Anak perempuan itu segera menunjukkan kaki kanannya yang sakit, ternyata tertusuk duri dan setelah ia jatuh, bagian yang lain tergores duri juga.
"ya ampun. Kamu jangan nangis yha. Wid, lebih baik kita membawanya pulang." usul Rukmini.
"tapi apakah ibunya tidak akan marah Ni?" tanya Widagda.
"udahlah, nggakpapa Wid." jawab Rukmini.
"baiklah, aku akan menggendongnya. Kartika, naiklah ke punggungku." ucap Widagda kecil.
Anak perempuan yang bernama Kartika itu mau digendong dan dibawa pulang.
"Kalian juga pulang ya, kita main lagi besok." ucap Rukmini pada Marta, Rekta, Nirmala, dan Ita.
Mereka pun segera pulang ke rumah masing-masing.
Ketika mereka sampai di depan rumah Kartika.
"ibu..." panggil Kartika.
Kebetulan ibunya sedang berada diluar untuk menjemur baju. Merasa dipanggil oleh putri kecilnya, ia menoleh dan ketika melihat Kartika yang digendong oleh Widagda, ia menghampirinya.
"kamu kenapa, Nak? Kenapa di gendong oleh Widagda?" tanyanya.
Melihat mata putrinya yang sembab, membuat ia sangat khawatir.
"bibi Erawati, maaf sebelumnya, tapi kaki Kartika sedang terluka." jawab Rukmini.
__ADS_1
"astaga, kenapa bisa?" tanya ibunya Kartika khawatir.
"tadi sewaktu berlarian di sawah, Kartika jatuh, kakinya tergores duri." jawab Widagda sambil menunduk.
"ya Tuhan, ayo segera masuk, sebelum lukanya parah." perintahnya pelan.
Widagda pun menurunkan Kartika di kursi. Sedangkan Rukmini dan bibi Erawati mencari beberapa rempah untuk obat.
"ibu tempelkan yha, nggak sakit kok." ucap bibi Erawati pada putrinya sambil menempelkan daun binahong ke luka putrinya.
Setelah itu ia membuat racikan obat untuk putrinya. Dengan hati-hati ia meminumkan obat itu pada putrinya. Tak ada setitik pun amarah di dalam hatinya, Widagda dapat melihat itu dari sorot matanya yang tampak sangat khawatir.
Ku kira anda akan marah bi, ternyata justru sebaliknya. Fyuuh, yang penting kamu segera sembuh Kartika.
Batin Widagda.
"bibi, apa kami boleh pulang??" tanya Rukmini.
"iya Wid, Ni, terima kasih banyak ya." jawab bibi Erawati
"sama-sama Bi, ngrumiyini." jawab Widagda dan Rukmini serentak.
Mereka pun pulang.
"yayi!" panggil Rukmini.
"apa?" tanya Widagda.
"apa Kartika akan dimarahi?"
"sepertinya tidak." jawab Widagda singkat.
"oh ya, memangnya kenapa?" tanya Rukmini lagi.
"karena Kartika adalah anak dari bibi Erawati."
"kau yakin?"
"tentu saja. Seorang ibu tidak akan tega memarahi anaknya yang sedang sakit." jawab Widagda.
"nyi!" panggil Widagda.
"ya?" tanya Rukmini.
"apa kau tidak ingin mampir ke tempat kakek Jaya?" tanyanya.
"hmm, kau ingin kesana? Tapi kan sudah sampai pasar, istana sudah dekat, apa kau yakin?"
"iya nyi. Ayo!" ucap Widagda sambil menarik paksa tangan Rukmini.
Mau tidak mau Rukmini menuruti keinginan Widagda.
Jarak rumah kakek Jaya tidak jauh dari pasar yang mereka lewati, maka dari itu tak butuh waktu lama untuk sampai di sana.
"kula nuwun!!" ucap Rukmini dan Widagda serentak.
Tak lama pintu kayu itu terbuka dan menampilkan sosok orang tua berjenggot panjang dan berambut putih.
"silahkan. Wah, ada cucu kesayangan kakek, ayo masuk." ucap kakek Jaya.
Dengan hati yang senang, Rukmini dan Widagda masuk ke rumah kakek Jaya.
"mau minum apa? Eh adanya kan air putih, hehe. Kalian pasti nggak suka jamu kan?" tanya kakek Jaya.
"tidak perlu kek, kami cuma mampir main kok. Kakek lanjutkan pekerjaan kakek saja." jawab Widagda.
"hahaha, baiklah baiklah. Tapi kalau kalian mau sesuatu, jangan sungkan untuk memintanya ya." jawab kakek Jaya.
"pastinya kek." jawab Rukmini.
Kakek Jaya pun melanjutkan pekerjaannya, yaitu menggambar wayang.
"kek, apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Widagda.
"mintalah." jawab kakek Jaya singkat.
__ADS_1
"buatkan aku sebilah keris kek." pinta Widagda.
Kakek Jaya menghentikan aktivitasnya dan tersenyum kearah Widagda.
"aku ini pelukis wayang, bukan pande. Tapi kalau kamu benar-benar mau, aku punya seorang teman yang pandai membuat keris." jawab kakek Jaya.
"oh ya?? Suruh dia untuk membuatkanku keris ya kek!" pinta Widagda.
"tentu saja Wida, tapi bolehkah aku menyelesaikan gambarku?" tanya kakek Jaya.
Widagda mengangguk semangat.
Sementara itu, Rukmini sedang berkeliling rumah kakek Jaya yang terbilang kecil. Ia melihat ada banyak gambar tokoh wayang yang dipajang di dinding. Rukmini sangat terkagum-kagum pada lukisan kakek Jaya yang indah.
"wah, cantik sekali dia." gumam Rukmini.
Ia melihat sebuah gambar wayang seorang perempuan, di sana tercantum Dewi Sembadra. Lalu muncul keinginan untuk memiliki lukisan itu.
Rukmini pun berlari mendekati kakek Jaya dan bertanya, "kek!! Apa aku boleh membawa pulang gambar dewi sembadra?"
"dewi sembadra?? Apa kau menyukainya?" tanya kakek Jaya.
"nyi, kenapa tiba-tiba ingin lukisan kakek? Berkali-kali kita datang ke sini, tapi baru sekarang kamu pengen bawa pulang lukisan kakek." ucap Widagda.
"karena gambar dewi sembadra yang dilukis kakek sangat cantik, aku juga ingin sepertinya." jawab Rukmini.
"iya, baiklah, kau boleh membawanya pulang. Untung saja bu Hara tidak jadi membelinya, ternyata cucuku pengen bawa pulang lukisan itu." jawab kakek Jaya dengan tawa kecil.
Matahari semakin turun, kini ia sudah berada di ujung cakrawala. Rukmini dan Widagda sangat betah berada di rumah kakek Jaya. Di sana mereka tidak hanya bermain, tapi juga belajar menggambar, dan membantu kakek Jaya.
"hari sudah senja, apa kalian ingin bermalam di sini?" tanya kakek Jaya.
"jujur saja kek, kami masih ingin berlama-lama di sini, tapi ayah dan ibunda pasti khawatir mencari kami." jawab Rukmini.
Widagda pun mengangguk.
"apa kalian berani pulang sendiri??" tanya kakek Jaya.
"iya kek, kami berani." celetuk Widagda.
Tiba-tiba ada suara kereta kuda yang berhenti di depan rumah, setelah ditengok ternyata adalah ayah dan ibu mereka.
"ayah?!"
"ibunda?!"
Ucap Rukmini dan Widagda secara bergantian.
Ibunda mereka pun segera memeluk kedua anaknya.
"ibunda khawatir dengan keadaan kalian, hari sudah petang, tapi kalian belum pulang." ucap ibunda mereka.
"maaf ibunda." jawab keduanya.
"ternyata kalian di sini ya? Paman, apa mereka kembali merepotkanmu? Aku sungguh minta maaf." ucap ayah mereka.
"tidak Nak Aji. Mereka sangat membantuku, banyak pelanggan datang mengambil pesanannya, dan mereka membantuku dengan sangat baik." jawab kakek Jaya.
"syukurlah paman. Aku takut mereka merepotkanmu." ucap ayah.
"tidak kok. Oh iya, aku memberikan lukisan ini pada Rukmini dan katanya dia suka, jadi bawalah. Pajang ini di kamarnya agar ia senang." ucap kakek Jaya.
"terima kasih paman. Kalau begitu kami pamit pulang." ucap ayah.
"iya Nak, hati-hati di jalan. Widagda, Rukmini, lain waktu jika kalian mau, bermalamlah di sini ya. Kakek selalu merindukan kalian." ucap kakek Jaya.
"iya kek." jawab keduanya.
Selesai berpamitan, Widagda, Rukmini, beserta ayah dan ibunya kembali ke istana.
Huh, hari yang menyenangkan. Bulan depan aku akan mendapat kerisku. Yeeay!!
Sorak Widagda kecil dalam hati.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa like^^