Widagda Kroda

Widagda Kroda
Peti Legendaris


__ADS_3

"paman Wasi? Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Widagda.


"iya raden. Ah lebih baik raden tidak mengambil peti itu, sudahlah mari kita ke tepian." jawab paman Wasi.


"tapi kenapa senior?" tanya paman Jagat.


"apa anda menyembunyikan sesuatu?" tanya paman Giri.


"ya, sepertinya anda mengetahui sesuatu tentang peti itu. Katakan saja paman!" perintah Widagda kecil.


Paman Wasi khawatir dan takut.


"sa-sa-saya ceritakan di tepian. Ka-kalian cepatlah naik ke kapal." ucap paman Wasi terbata-bata.


"tidak!! Aku akan tetap membawa peti itu apapun resikonya!!" ucas Widagda.


Widagda kecil sedang kesal, dia memutuskan untuk kembali ke dasar dan menarik peti itu sendirian. Paman Giri dan paman Jagat menyusulnya, mereka mencoba membawa Widagda ke permukaan, tapi Widagda tetap pada pendiriannya.


Entah dari mana kekuatan besar muncul dari tubuh Widagda, ia menghempaskan tubuh paman Giri dan paman Jagat dengan kuat, sehingga mereka terpental cukup jauh. Hal itu menciptakan ombak yang lumayan besar dan hampir membalikkan kapal paman Wasi.


Rukmini yang melihatnya dari tepian semakin khawatir.


Widagda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia segera menarik peti itu dengan tenaga besarnya.


Perlahan peti itu terangkat, saat Widagda berhasil menariknya, ia merasa ada sesuatu yang menariknya ke permukaan. Mereka adalah paman Giri dan paman Jagat.


Sesampainya di permukaan Widagda terengah-engah, seperti kehabisan napas. Ia pun di naikkan ke kapal bersama dengan petinya, juga paman Giri dan paman Jagat.


Mereka pun kembali ke tepian.


Di tepian Widagda sangat lemas, ia terlalu lama di dalam air dan sebagian tenaganya terkuras untuk mengangkat peti itu sendirian.


"apa yang terjadi paman?? Apa yang ditemukan oleh adikku?" tanya Rukmini khawatir.


"sebuah peti gusti ayu." jawab paman Wasi.


"peti apa paman?" tanya Rukmini.


Paman Wasi tak berani menjawab.


"peti berukiran wajak." jawab paman Giri.


"ukir wajak?" tanya Rukmini kebingungan.


"iya gusti ayu. Nanti hamba akan membawanya ke ahli senjata istana, sekarang lebih baik kita membawa gusti raden Widagda pulang ke istana." ucap paman Jagat.


"iya paman." jawab Rukmini.


Mereka kembali ke istana dengan rasa sedih bercampur khawatir.


Kenapa hari yang ku harapkan menjadi hari paling membahagiakan berakhir seperti ini? Ya Tuhan, apa keinginanku ini salah? Aku ingin membuat adikku bahagia, tapi mengapa adikku terluka??


Batin Rukmini.


Tak terasa air mata menetes membasahi pipi gadis kecil itu.


Paman Wasi yang melihatnya menjadi tidak tega.


"gusti ayu, anda tidak perlu menangis. Saya percaya gusti raden pasti tidak apa-apa. Beliau adalah anak yang kuat dan pemberani." ucap paman Wasi menghibur Rukmini.


"tapi paman, jika aku tidak membawanya ke sini dan tidak mengijinkannya berenang maka dia tidak akan menjadi seperti ini paman." jawab Rukmini yang semakin sedih.


"paman pikir, anda tidak bersalah, gusti ayu. Semua ini terjadi secara kebetulan dan tidak disengaja, mungkin ini takdir dari Yang Kuasa, gusti ayu." ucap paman Wasi.


"tidak paman, akulah yang salah, mengapa aku berpikir kalau adikku akan baik-baik saja, aku terlalu naif paman." ucap Rukmini lagi.


Kini tangisnya semakin pecah, airmatanya tak lagi bisa dibendung.


Paman Wasi benar-benar tidak tahu harus berkata apa.


Lamat-lamat, Widagda mendengar percakapan mereka, ia mencoba untuk menjelaskan sesuatu pada kakaknya, tapi ia sudah tidak punya kekuatan.


"yayi, apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Rukmini ketika melihat adiknya membuka mata dan menggerakkan bibirnya.


"kondisi gusti raden masih lemah, jangan dipaksakan." ucap paman Wasi.


Tak lama mereka sampai di gerbang istana, salah satu prajurit meminta kepada emban yang ada di sana untuk memanggil tabib untuk mengobati raden Widagda.


Ayah dan ibunda mereka sudah mendengar kabar tersebut, langsung menghambur ke putri kecilnya.


"kamu tidak apa-apa kan?" tanya ibunda dengan perasaan cemas.


"aku tidak apa-apa, tapi dhiyayi.." ucap Rukmini menggantung.


"ayah akan mengobatinya, ia tidak akan kenapa-kenapa Nak." jawab ayahanda menenangkan putrinya.

__ADS_1


Widagda dibawa ke kamarnya, tabib juga sudah datang, ia langsung memeriksa keadaan Widagda, membuat ramuan obat dan meminumkannya. Setelah itu Widagda tertidur.


"apa yayi baik-baik saja eyang tabib?" tanya Rukmini.


"iya gusti ayu, beliau tidak apa-apa. Beliau hanya kelelahan dan perlu istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaganya." jawab tabib itu.


"tidak perlu sedih, ini bukan salahmu Nak." ucap ibunda.


Rukmini hanya tersenyum.


Keesoka harinya.


Widagda terbangun dari tidurnya dan mendapati kakaknya sedang tertidur disamping ranjangnya beralaskan lantai.


Dengan perlahan, Widagda membangunkan Rukmini.


"nyi, kenapa tidur di sini?" tanya Widagda.


Rukmini menggeliat dan perlahan membuka mata.


"apa kau sudah bangun??" 'hooaamm'


tanya Rukmini sambil menguap.


"iya nyi, mengapa kau tidak tidur di atas kasur? Kan tempatnya masih luas." ucap Widagda.


"aku tidak ing mengganggumu yayi." jawab Rukmini.


Tak lama datanglah ibunda.


"hei, kalian udah bangun? Ayo segera membersihkan diri, ayah memanggil kalian." ucap ibunda.


"baik ibunda." jawab mereka serentak.


Setelah membersihkan diri masing-masing, keduanya mengikuti ibunda untuk menemui ayahanda di taman.


"ibunda mengapa ayah ingin bertemu kami?" tanya Widagda.


"beliau merindukan kalian, jadi hari ini kita akan bermain bersama." jawab ibunda.


Rukmini dan Widagda merasa senang, akhirnya setelah sekian lama tidak bermain bersama ayah, mereka bisa melepas kerinduan.


Mereka bertiga sampai sudah sampai di taman, benar saja. Di sana ada banyak mainan dan tentunya ada ayahanda, yang berpakaian santai, sedang menunggu.


"ayah!!" teriak Rukmini dan Widagda.


"aduh, anak-anak ayah. Ayah rindu sekali dengan kalian." ucap ayahanda.


"kita juga rindu dengan ayah." jawab Rukmini.


Ayah pun merekatkan pelukannya kembali.


"ayah, apa beberapa bulan terakhir ayah banyak kesibukan?" tanya Widagda.


"iya Nak. Maafkan ayah ya. Oh iya ayah punya sesuatu untuk kalian." ucap ayah.


Ayahanda mengambil dua bingkisan di sampingnya.


"nah, ini untuk Rukmi, dan ini untuk Wida." ucapnya sambil memberikan bingkisan tersebut pada Rukmini dan Widagda.


Keduanya terlihat sangat senang. Mereka pun membuka bingkisan tersebut dengan cepat.


"waah.. Lukisan dewi sinta!!" pekik Rukmini.


"gandewa baru?? Ini untukku ayah?" tanya Widagda.


"tentu saja Wida, apa kau tidak menyukainya?" tanya ayah.


"tidak ayah. Aku sangat menyukainya, tapi gandewanya terlalu besar." ucap Widagda.


"hehehe, dua tahun lagi kau sudah bisa menggunakannya Nak." jawab ibunda.


"dua tahun itu masih lama ibunda.." gerutu Widagda.


"tidak apa yayi, yang penting kau bisa menggunakannya." ucap Rukmini.


"iya deh." ucap Widagda pasrah.


Ayah dan ibundanya pun tertawa kecil melihat wajah putranya yang menggemaskan.


"terima kasih ayah!!" pekik keduanya.


"sama-sama Nak."jawab ayahnya.


Rukmini dan Widagda pun asyik bermain.

__ADS_1


Tiba-tiba seorang prajurit melaporkan sesuatu.


"suruh beliau kemari." jawab ayahanda.


Prajurit itu mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah.


Tak lama dua orang pria yang usianya sebaya memasuki area taman.


Sosok kakek Jaya lah yang di tangkap oleh mata Widagda. Maka dari itu, ia tergesa-gesa mendekatinya.


"kakek Jaya!!" teriak Widagda sambil berlari menuju dirinya.


"hai, cucu kakek yang tampan." jawab kakek Jaya.


"kenapa kakek ada di sini? Kalau boleh tahu siapa kakek ini, apa beliau teman Kakek?" tanya Widagda.


"kakek merindukan dua cucu kakek, jadi kakek datang kemari. Kalau dia ini teman kakek, namanya Candra." jawab kakek Jaya.


Widagda mengangguk paham.


"Wida, kakek Jaya dan kakek Candra ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan ayah. Kita bermain di sebelah sana yuk!" ajak ibunda.


"baik ibunda." jawab Widagda.


Kakek Jaya, kakek Candra dan ayah memulai pembicaraan mereka. Tampaknya serius dan penting sekali, sesekali mereka mengengok ke arah Widagda.


Rukmini menyadari hal itu dan bertanya pada ibunya.


"ibu, apa yang sedang mereka bicarakan??" tanya Rukmini.


"ibu juga tidak tahu. Eh lihatlah ada elang!" ucap ibunda mengalihkan pembicaraan.


Tapi pikiran Rukmini tidak semudah itu teralihkan. Ia memang masih kecil tapi sangat sensitif dan ingin tahu tentang semua hal, ditambah sifat keras kepalanya, menjadikan dirinya yang selalu kritis dalam berpikir.


Beberapa jam telah berlalu dan tiga pria dewasa tadi sudah selesai bertukar informasi. Namun, mereka belum ingin pulang.


Rukmini dan Widagda dipanggil untuk mendekat.


"ada apa ayah?" tanya mereka bersamaan.


"duduklah dengan nyaman, kakek Jaya ingin memberitahukan sesuatu." jawab ayah.


"Widagda, apa kau ingat peti yang kemarin kau bawa pulang??" tanya kakek Jaya.


Widagda mengangguk.


"darimana kau mendapatkannya??" tanya kakek Candra.


"dari telaga." jawab Widagda.


"telaga? Dimana lokasinya?" tanya ayahanda.


"di sebelah utara bukit tugu." jawab Rukmini.


Telaga Warna. Batin kakek Jaya.


"apa kau tau apa nama peti itu?" tanya kakek Candra.


Widagda menggeleng.


"apa kau tahu apa isi peti itu?" tanya kakek Jaya.


Widagda juga menggeleng.


Kakek Candra menghela napas berat.


"ketahuilah Widagda, peti itu bernama pepatining angkara. Berdasarkan cerita yang sudah ada, peti itu berisi pedang sakti yang berkilauan. Kilauan cahaya yang kau lihat dari dasar telaga itu sebenarnya berasal dari pedang yang ada di dalamnya." ucap kakek Candra.


Widagda terkejut.


"lalu yang akan terjadi adalah pedang itu tidak akan pernah meninggalkanmu sebelum kau membunuh seseorang." ucap kakek Candra lagi.


Ibunda merasa cemas.


Apa putraku akan menjadi seorang pembunuh? Batinnya.


"tapi seseorang yang kau bunuh itu harus berwatak bengis dan jahat. Dia yang menindas orang lain, tidak menghormati orang tua dan menghancurkan tatanan kehidupan adalah orang yang patut kau bunuh dengan pedang itu." tambah kakek Candra.


"namun, karena kesaktiannya, pedang itu menjadi incaran seluruh ksatria di bumi ini, kau harus berhati-hati, jangan sampai pedang itu jatuh ke tangan yang salah karena akan mengancam keselamatan dunia." ucap kakek Jaya.


"kau tenang saja Jay, selama nyawa masih di dalam ragaku, aku akan menjaga pedang itu, dan aku juga yang akan menjadi guru perang untuk Widagda." ucap kakek Candra.


Widagda harus merasa senang atau sedih sekarang? Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Tapi ia tak bisa menghindar dari takdir.


Akan ku jaga pedang itu sampai saatnya tiba, aku tidak akan membiarkan peti patining angkara jatuh ke tangan orang lain.

__ADS_1


Batin Widagda.


Jangan lupa like^^


__ADS_2