
*) 17 tahun lalu
Tak terasa setahun telah berlalu. Tak ada yang berubah, demikian juga kebencian Wisatya. Sebenarnya ibu Lambangsri sudah menasihatinya, tapi dia tidak mau mendengarkan. Putra-putri ayahanda memang kerang kepala, jadi perlu kesabaran ekstra ketika berusaha memberi pengertian.
Tidak ada rasa bersalah di hati Widagda, apa yang ia katakan dulu sudah ia pikir matang-matang.
Jika memang aku harus dibenci oleh saudaraku sendiri, itu tidak masalah, dia hanya salah paham. Kelak, jika sudah tiba masanya, ia akan sadar kalau apa yang aku ucapkan akan berakhir baik. Batin Widagda.
Di tempat latihan.
Ada tiga prajurit sedang beristirahat, mereka adalah paman Guruh, paman Jaladra, dan paman Karsita. Tampaknya mereka membicarakan sesuatu, Widagda mengabaikannya, toh itu bukan urusannya.
"ku dengar raja Karsa akan segera berkunjung kemari." ucap paman Jaladra.
"benar, aku mendapat kabar dari temanku yang menjadi prajurit disana." jawab paman Karsita.
"apa tujuan raja Karsa ya?" tanya paman Jaladra lagi.
"kemungkinan berkunjung seperti tahun lalu." jawab paman Guruh.
"eh, dari kabar yang aku terima, raja Karsa membawa semua putrinya lo." ucap paman Karsita
"wah tumben sekali raja Karsa membawa putri-putrinya??" ucap paman Jaladra heran.
"mungkin raja Karsa ingin memperkenalkan mereka pada putra-putra Yang Mulia, sekaligus menagih janji." jawab paman Guruh
"janji yang mana?" tanya paman Jaladra.
"janji yang dibuat oleh raden Widagda tentang perjodohan yang ditawarkan oleh raja Karsa." jawab paman Karsita.
"heh!!" sarkas paman Guruh.
"upss!!" ucap paman Karsita sambil menutup mulut.
Percakapan itu memanaskan telinga Widagda, tapi tidak memanaskan hati atau emosinya. Widagda tetap tenang dan melanjutkan latihannya. Ia bersikap seolah-olah tidak mendengar perbincangan tiga prajurit tadi.
Akan ku lihat sampai mana mereka berani berkata. Pikir Widagda.
"apa raden mendengarnya?" tanya paman Karsita.
"sepertinya tidak." jawab paman Jaladra.
"tidak mungkin, raden pasti mendengarnya. Pendengarannya kan sudah diasah oleh Begawan Candrani. Mau sepelan apapun pembicaraan kita, akan tetap terdengar oleh Beliau." ucap paman Guruh.
Hmm, paman Guruh sudah tahu hal ini ya..
Batin Widagda.
"berarti raden juga bisa mendengar suara kentut kita?" celetuk paman Jaladra.
Gadanya sampai lepas dari tangannya dan Widagda ingin tertawa ketika mendengar ucapan paman Jaladra, tapi ia menahannya.
"kalo suara kentut mah, jelas bisa didengar atuh! Saya pun bisa denger suara kentut kamu!" ucap paman Karsita sambil menonyor kepala paman Jaladra.
"ya maaf lah." ucap paman Jaladra.
Paman Guruh hanya geleng-geleng kepala melihat kepolosan paman Jaladra.
Ada-ada saja sih kalian itu. Pikir Widagda
"paman Guruh!" panggil Widagda
Sang empu merasa terpanggil dan langsung mendekati gustinya itu.
"hamba gusti raden!"
"jadilah lawanku." ucap Widagda
"baiklah gusti."
Mereka pun mulai berlatih, memang tinggi atau ukuran badan Widagda belum menyamai paman Guruh, tapi ia ingin mencoba hasil latihannya seminggu terakhir.
Benar saja, paman Guruh sempat terdesak dengan serangan Widagda.
__ADS_1
"jangan menganggapku sebagai atasanmu, anggaplah aku musuhmu. Jangan segan melukaiku!!" perintah Widagda.
Mau tidak mau paman Guruh melakukannya. Ia mulai beringas dan mengeluarkan tajinya.
Kau memerintahkan aku untuk menganggapmu sebagai musuh bukan? Akan aku lakukan!
Batin paman Guruh.
Paman Guruh menyerah Widagda dengan segenap hatinya, tidak seperti tadi yang hanya setengah-setengah.
Ini yang aku tunggu.
Batin Widagda.
Widagda merasa senang karena lawannya benar-benar ingin berperang.
Kini dirinya yang terdesak, berkali-kali paman Guruh membuatnya kewalahan, tapi hal itu tidak menyurutkan semangat Widagda.
Hingga akhirnya paman Guruh melancarkan serangan mematikannya. Widagda terpental sampai keluar area pertandingan. Paman Jaladra dan paman Karsita langsung menghambur menolongnya.
"raden tidak apa-apa?" tanya paman Jaladra.
Widagda masih bisa bangkit, itu menandakan dirinya baik-baik saja. Dengan tersenyum miring, Widagda kembali ke medan laga melanjutkan pertandingan.
"kekuatan internalnya luar biasa. Jika raden Wisatya yang terkena jurusku tadi, dia pasti sudah tidak berdaya." guman paman Guruh.
Ucapan itu sampai ke telinga Widagda.
Wisatya?? Apa dia adalah prajurit yang biasa melatih Wisatya??
Batin Widagda.
Widagda pun membalas serangan paman Guruh. Kali ini paman Guruh sedikit kewalahan. Serangan bertubi-tubi tanpa henti dilancarkan oleh Widagda.
"Sial, pergerakannya lebih lincah dari sebelumnya. Apa dia tahu kelemahanku?" gumam paman Guruh.
Kelemahan? Oh jadi kelemahanmu adalah tidak bisa menangkis gerakan lincah, baiklah terima ini!!
Batin Widagda.
"pergerakan dan serangnya semakin lincah, kalau begini aku bisa babak belur." guman paman Guruh khawatir.
Dan benar, paman Guruh berkali-kali terkena pukulan gada Widagda. Hingga dirinya kehabisan tenaga dan tergeletak tak berdaya.
Sebenarnya aku bisa saja memukulmu sekali lagi dan pasti kau akan pingsan, tapi aku tidak sejahat itu paman.
Batin Widagda.
Ia mengulurkan tangan untuk membantuk paman Guruh bangkit.
"terima kasih banyak raden." ucap paman Guruh.
"aku yang seharusnya berterima kasih kepada paman karena telah membantuku berlatih, maafkan aku yang telah melukaimu." jawabnya.
"itu tidak masalah raden, kau memang hebat. Jurus pamungkas yang ku keluarkan tadi bahkan tidak melukaimu sama sekali." ucap paman Guruh.
Setidaknya dia tahu caranya berterima kasih, tidak seperti raden Wisatya yang selalu menghinaku. Pikir paman Guruh.
Widagda hanya tersenyum.
"paman Jaladra, paman Karsita, tolong bawa paman Guruh ke tempat eyang tabib untuk diobati." perintah Widagda.
"baik raden!" jawab keduanya.
Mereka membawa paman Guruh dan Widagda memutuskan untuk mengakhiri latihannya dan beristirahat.
Dari arah gerbang, tampak seorang prajurit sedang berlari ke dalam. Widagda mencoba menghentikannya, tapi prajurit itu bilang dia harus segera melapor pada ayahandanya.
Widagda membiarkannya.
Apa yang terjadi?
Batin Widagda bingung.
__ADS_1
Ia memutuskan untuk memeriksa gerbang utama istana. Setelah mencari informasi ternyata dari arah timur ada barisan dari kerajaan Bandardawung.
Itukan negara milik uwa prabu Karsa. Pikir Widagda.
Tidak ada informasi lebih lanjut tentang hal itu, tapi dari arah dalam, ia melihat ayahnya, ketiga ibunya dan seluruh saudaranya berbondong-bondong menuju gerbang.
"apa yang kalian lakukan di sini nyi?" tanya Widagda pelan.
"menyambut kedatangan uwa prabu." jawab Rukmini.
Widagda mengangguk.
Jadi beliau sampai di sini siang ini, pantas saja prajurit tadi terbirit-birit. Pikir Widagda.
Tak lama barisan yang dikabarkan tadi sudah sampai di depan gerbang. Raja Karsa segera turun dari keretanya dan berpelukan dengan ayahanda.
"kenapa kalian menyambutku di luar seperti ini?" tanya raja Karsa.
"kami terkejut mendengar kedatanganmu secara tiba-tiba ini teman." jawab ayah.
"maafkan aku yang datang lebih awal dari yang ku beritakan. Putri-putriku sudah tidak bisa menahan diri, mereka ingin segera berkunjung kemari." ucap raja Karsa.
"kanda, kita lanjutkan perbincangan ini di dalam saja." usul ibunda.
"ah iya, aku sampai lupa mengajakmu masuk temanku." ucap ayah.
Mereka semua masuk ke areal istana.
Raja Karsa dan putri-putrinya disambut dengan upacara sederhana. Mereka kemudian di arahkan ke kamar yang sudah disiapkan sebelumnya.
Widagda memutuskan untuk membersihkan diri dahulu sebelum menemui tamu-tamu itu. Selesai membersihkan diri, Widagda mendapat keterangan kalau ayahandanya memanggil seluruh anggota keluarga ke aula istana.
Di aula istana.
Ayahnya duduk berdampingan dengan raja Karsa.
Setelah semuanya berkumpul ayah memberikan sebuah pengumuman.
"kedatangan raja Karsa kemari bukan semata-mata ingin berkunjung, tapi juga ingin menyampaikan sesuatu. Sebagai sahabatnya aku sendiri yang akan mewakilinya." ucap ayah.
"kadatangan raja Karsa untuk menyampaikan dua hal. Yang pertama adalah pembukaan sekolah kebangsawanan yang bertempat di asrama Begawan Jayenglugon di hutan Girimara."
"tahun ini adalah tahun pertama sekolah tersebut menerima siswa baru. Siswa yang boleh mengikuti pendidikan di sana adalah para pangeran, putra mahkota, atau putra bangsawan lainnya. Selain itu para putri raja juga bisa mengikuti pendidikan di sana. Raja Karsa telah mendaftarkan kelima putrinya, dan aku juga akan mendaftarkan putra-putriku, jika kalian berminat."
"yang kedua adalah, raja Karsa sedang menderita sebuah penyakit yang dapat kambuh kapan saja. Ia ingin agar kerajaan Bantarkawung dan kerajaan Bandardawung disatukan dan diberi nama kerajaan Bandarkawung."
"hal itu dilakukan agar masa depan negrinya terjamin, lagipula raja Karsa sudah berusia senja, tidak memungkinkan lagi untuk bertahta. Sedangkan para putrinya belum sanggup menggantikan posisi raja Karsa. Maka dari itu beliau memintaku untuk mengambil alih kerajaannya dan menjadikan satu tanah kekuasaan kami." ucap ayah.
"mohon ampun ayahanda!" panggil Wisatya.
"ada apa putraku?" tanya ayah.
"jika kedua kerajaan disatukan, siapa yang memiliki hak penuh akan tahta ini?" tanya Wisatya.
"tentu saja keturunan kalian." jawab raja Karsa.
"apa keturunan-keturunan kami akan diam saja ketika tahu kalau sebenarnya kerajaan Bandarkawung ini adalah dua kerajaan yang dijadikan satu?" tanya Grudhaya, putra ibu Gitandri.
"hal itu tidak akan terjadi." jawab raja Karsa.
"bagaimana bisa?" tanya Wisatya.
"dengan menyatukan keduanya." jawab Widagda tiba-tiba.
"maksudmu?" tanya Grudhaya.
"menyatukannya dalam sebuah perkawinan." jawab raja Karsa.
"bedebah!! Jadi perjodohan itu dimaksudkan untuk hal ini?? Kurang ajar!" gumam Wisatya yang terdengar sampai ke telinga Widagda.
Bersambung..
Jangan lupa like^^
__ADS_1