
Amarah Wisatya kembali memuncak.
"hal itu tidak akan terjadi!!" teriak Wisatya.
"persatuan dua kerajaan dan perkawinan diantara kami dan putrimu tidak akan terjadi!!" sarkas Wisatya.
"diamlah yayi Wisatya!!" perintah Widagda.
"diam? Aku tidak akan pernah tinggal diam!! Sampai kapanpun aku tidak akan menerima hal ini, sebelum aku mati bahkan setelah aku mati, aku akan tetap menentang keputusan ini!" ucap Wisatya.
"tenangkan dirimu putraku." lirih ibu Lambangsri.
"aku tidak akan pernah memaafkanmu raja tua sialan!" ucap Wisatya.
"dasar tidak berguna! Berani-beraninya kau menghina ayahanda dengan berkata seperti itu. Aku juga tidak sudi menikah dengan seorang lelaki yang kasar sepertimu!!" balas Sekar Cendana, putri sulung raja Karsa.
"tenanglah nyimbok. Ayahanda sudah memperingatkan kita agar tetap tenang bukan?" ucap Sekar Manthili, adik kembarnya.
"iya nyimbok, dia memang raden Wisatya yang telah diceritakan oleh ayahanda. Sudah tenanglah." ucap Sekar Kenanga, adik ke-duanya.
Wisatya benar-benar kalap, ia menghunus pedangnya dan mencoba menyerang Sekar Cendana. Tampaknya Sekar Cendana juga tersulut emosinya hingga ia maju membawa selendang saktinya.
Raja Karsa dan ayahanda merasa cemas, mereka bisa saja menghukum keduanya, tapi itu akan memperburuk situasi.
Rukmini dan Widagda tidak tinggal diam. Mereka segera menenangkan keduanya.
"gusti ayu Sekar Cendana, tolong kendalikan emosimu. Atas nama raden Wisatya aku meminta maaf." ucap Rukmini.
Sekar Cendana menahan diri.
"yayi, tahan amarahmu!" ucap Widagda.
"diam!!" teriak Wisatya sembari mengayunkan pedangnya.
Untungnya Widagda berhasil menghindari upaya serangan Wisatya.
Wisatya merasa tidak terima dan malah menyerah Widagda.
"WISATYA!!! TURUNKAN PEDANGMU KARENA HUKUMAN MATI MENANTIMU!!" teriak ayahanda.
Wisatya tidak menggubris ancaman dari ayahnya itu. Serangannya justru semakin membabi buta. Widagda memutuskan untuk menggiring Wisatya ke dalam hutan.
Melihat kedua putranya bertarung, ayahanda tidak tinggal diam. Ia mengejar mereka, tak lupa dirinya membawa pedang terhunus untuk menghentikan Wisatya. Rukmini mengikuti ayahnya.
Di hutan.
Widagda mendapatkan beberapa luka di lengan dan dadanya. Tak sengaja ia terjatuh dan Wisatya sudah siap membunuhnya. Tapi untungnya pedang milik Wisatya terpental karena sebuah anak panah yang ditembakkan oleh Rukmini.
"KURANG AJAR!!" teriak Wisatya.
Merasa ada kesempatan, Widagda menyerang balik Wisatya. Pertarungan tangan kosong diantara keduanya tidaklah seimbang. Widagda menang telak, ia berhasil melumpuhkan Wisatya sendirian.
Setelah itu ayahanda dan Rukmini, disusul ketiga ibunya, saudara-saudaranya, raja Karsa dan putri-putrinya segera mendekati mereka.
Tak lupa seorang prajurit juga diam-diam mengikuti keduanya saat bertarung tadi, ia pun membawakan seutas rotan untuk mengikat tangan Wisatya.
Setelah tangan Wisatya diikat. Widagda membantunya bangkit.
"yayi Wisatya, jika kau tidak bersedia menerima pernikahan itu, aku yang akan menggantikanmu. Tapi tolong terimalah persatuan ini. " ucap Widagda tiba-tiba.
Ibunda Kentringayu terkejut mendengar ucapan putranya. Begitu juga dengan Rukmini dan yang lainnya.
"Widagda." ucap ibunda.
"kenapa kau harus mengatakan itu, dhiyayi." ucap Rukmini.
"ayahanda aku bersedia menjadi suami dari gusti ayu Sekar Cendana!" ucap Widagda lagi.
"putraku." lirih ibunda.
"Widagda." lirih ayahanda.
Wisatya merasa senang sekarang, dirinya akan dengan mudah merebut tahta dari tangan Widagda.
"hal ini aku lakukan demi kerajaan Bandarkawung ibunda. Ku mohon, restuilah aku." ucap Widagda.
"hati ibunda rasanya teriris ketika mendengar pernyataanmu itu Nak, tapi itu sudah menjadi keputusanmu. Ibu hanya bisa mendoakanmu putraku." ucap ibunda sambil memeluk putra kesayangannya.
__ADS_1
"Widagda! Kau adalah putra kesayangan ibundamu, kau juga impian besarku, pernyataanmu tadi membuat ayah tercengang. Sungguh rasanya tak tega mendengar perkataanmu tadi Nak." ucap ayahanda yang juga memeluk Widagda.
Rasa haru menyelimuti tempat itu. Pengorbanan Widagda bukanlah pengorbanan kecil, tapi sebuah persembahan untuk masa depan negerinya.
"aku bangga padamu kawanku. Putramu yang masih muda itu memiliki sifat seperti kakeknya yang berani mengambil risiko. Aku tidak merasa keberatan dengan pernyataanmu, Widagda. Aku juga akan menunggu kesiapan jiwa dan ragamu untuk menikahi putriku." ucap raja Karsa.
"aku akan selalu siap uwa. Kapanpun waktu pernikahan yang gusti ayu Sekar Cendana inginkan, aku pasti siap." ucap Widagda.
"aku tidak terburu-buru raden. Aku ingin mengasah kemampuan perangku juga mencari banyak ilmu terlebih dahulu. Ku harap kau juga melakukan hal-hal yang kau sukai, puaskan masa mudahmu terlebih dahulu." ucap Sekar Cendana.
"benar putraku, pernikahan bukan sekedar upacara, pernikahan adalah sebuah kehidupan baru Nak. Mungkin dirimu merasa siap sekarang, tapi beberapa tahun kedepan, saat kau tau arti dari sebuah cinta dan hubungan, kau akan merasa serba kekurangan." ucap ibunda.
"aku berjanji ibunda, aku tidak akan menyia-nyiakan masa mudaku, aku akan mencari jati diriku, mencari pengetahuan dan pengalaman yang banyak, agar siap jiwa dan raga." jawab Widagda.
Ibundanya tersenyum.
"dia pria yang tampan dan bijaksana. Hmm, tidak salah ayah mengambil keputusan besar seperti ini." gumam Sekar Cendana.
Mereka pun kembali ke istana.
Di kamar Widagda.
Widagda mendapatkan pengobatan di lukanya. Sekar Cendana yang mengobatinya.
"kalau dilihat dari kilatannya, pedang itu sangat tajam kan?" tanya Sekar Cendana.
"iya, pedang yang dimiliki yayi Wisatya memang pedang ampuh, andalan ksatria Bantarkawung. Namun, dia tidak pernah berlatih menggunakannya." jawab Widagda.
"dia tidak pernah berlatih, tapi kau terluka?" tanya Sekar Cendana heran.
"dia menyerang dengan membabi buta, tak ada celah untuk memikirkan sebuah rencana." jawab Widagda.
Sekar Cendana hanya diam.
"lukamu sangat banyak, apa kau tidak merasakan sakit?" tanya Sekar Cendana lagi.
"tidak, tubuhku sudah sering tersakiti. Kalau luka seperti ini saja, tidak masalah bagiku." jawab Widagda.
Sekar Cendana tersenyum.
"tentu saja, tapi aku punya sebuah permintaan." jawab Sekar Cendana
"apa itu?" tanya Widagda.
"jangan panggil aku dengan sebutan 'gusti ayu', cukup panggil namaku." jawab Sekar Cendana.
"owh, baiklah. Kalau begitu kau juga tidak perlu memanggilku dengan sebutan 'raden', cukup panggil namaku." ucap Widagda menirukan gaya bicara Sekar Cendana.
Mereka pun tertawa bersama.
Dari luar, ibunda mendengar pembicaraan keduanya.
"tampaknya mereka bahagia." gumam ibunda.
Ibunda ada diluar?? Pikir Widagda.
"ibunda!! Apa ibunda ada diluar!!" teriak Widagda.
Ibunda terkejut mendengarnya, ia pun segera pergi.
"aku tidak ingin mengganggumu Nak." gumam ibunda.
Sementara itu Sekar Cendana menengok keluar dan tidak mendapatkan siapapun. Ia pun bingung.
"ibunda?? Maksudmu ibu ratu? Hanya ada beberapa pelayan di sini." tanya Sekar Cendana.
Widagda sadar kalau dia bisa mendengar suara orang yang sedang menggumam di sekitarnya. Tapi Sekar Cendana tidak mengetahui hal itu.
"ah, tiba-tiba aku merindukan ibunda. Jadi aku kira yang diluar sana adalah ibundaku." jawab Widagda.
"kau itu ada-ada saja Widagda." ucap Sekar Cendana.
Saat Sekar Cendana mengucapkan namanya, entah mengapa hati Widagda merasakan sesuatu.
Apa yang terjadi. Ketika Sekar Cendana memanggil namaku, perasaan senang menghampiri hatiku, apa yang sedang terjadi?
Batin Widagda.
__ADS_1
Tak disangka Sekar Cendana bisa mendengar suara hati Widagda. Sekar Cendana tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya.
"Widagda, apa kau mengatakan sesuatu barusan?" Sekar Cendana bertanya.
"tidak. Memang apa yang aku katakan?" tanya Widagda.
Saat Sekar Cendana ingin menjawabnya, tiba-tiba Rukmini datang untuk mengabarkan bahwa ayahanda memanggil semua orang ke alun-alun istana.
"alun-alun? Untuk apa?" tanya Widagda.
"entahlah. Yang penting adalah kalian berdua harus ikut, meskipun yayi sedang terluka, tapi ayahanda tetap ingin semua anggota keluarga berkumpul di alun-alun." jawab Rukmini.
Mereka pun bergegas. Widagda di tandu oleh dua prajurit.
Kenapa ayah ingin semua orang berkumpul di alun-alun. Apa yang akan ayah lakukan? Ya Tuhan, ku harap ayah tidak bermaksud untuk menghukum yayi Wisatya di depan seluruh rakyat.
Batin Widagda cemas.
Hati Widagda tidak tenang, sepanjang perjalanan dirinya terus saja gelisah.
Apa yang sebenarnya akan terjadi? Mengapa hatiku sangat resah, sepertinya akan ada sesuatu yang tidak mengenakkan.
Batin Widagda.
Sekar Cendana kembali mendengar suara hati Widagda. Dia sekarang mengerti kalau yang ia dengar itu adalah suara hati calon suaminya.
Widagda, kau sepertinya sangat gelisah. Kenapa kau tak menceritakannya padaku? Aku ingin kau membaginya padaku.
Batin Sekar Cendana.
Tanpa sengaja Widagda terpikir untuk menceritakannya pada Sekar Cendana.
"emm." ucap Widagda angkat suara.
"apa yang ingin kau bicarakan? Katakanlah Widagda." jawab Sekar Cendana.
"apa kau tahu yang akan terjadi nantinya?" tanya Widagda.
"hanya ayahmu dan Tuhanlah yang mengetahui hal itu Widagda." jawab Sekar Cendana.
Ah, bodoh. Aku sampai tak bisa berpikir jernih. Oh Tuhan, apa yang akan terjadi nanti, aku hanya berpasrah padamu. Semoga tidak ada kejadian buruk. Batin Widagda.
Sekar Cendana pun berdoa hal yang sama. Entah mengapa, ketika melihat Widagda bersedih seperti ini, Sekar Cendana tidak tega. Ia ingin sekali menenangkan hati Widagda, tapi ia sungkan.
Setelah sampai di alun-alun, terlihat di tengah lapang yang luas ada seseorang yang berdiri menghadap mimbar dengan tangan dan kaki yang di rantai. Mata Widagda menangkap sosok Wisatya.
Yayi Wisatya!! Kenapa dia dijemur di bawah teriknya matahari? Pikir Widagda.
"paman tolong bawa aku ke tengah alun-alun." ucap Widagda.
"tidak Widagda, tempat kita bukan di sana. Paman bawa yayi Widagda ke tenda untuk keluarga kerajaan, lagipula tiada seorang pun yang dapat mendekati orang itu." ucap Rukmini.
"apa yang sebenarnya terjadi nyimbok?! Kenapa tiada yang dapat mendekati yayi Wisatya?!" gerutu Widagda.
"jangan sebut nama itu lagi Widagda!!" ucap ayahanda tiba-tiba.
Widagda mencoba turun dari kursi tandunya, tapi Sekar Cendana mencegahnya.
"apa yang ayahanda katakan?" tanya Widagda.
"kau akan tahu nanti. Duduklah di tempatmu dengan tenang, jangan menentang perintahku." jawab ayahnya dingin.
Widagda pun duduk di tempatnya, berdampingan dengan Sekar Cendana.
Mengapa ayahanda bersikap seperti itu? Apa ia akan menghukum yayi Wisatya? Tidak ini tidak bisa dibiarkan!
Batin Widagda.
Sekar Cendana langsung berkata, "jika memang Wisatya dihukum, dia pantas mendapatkannya, Widagda."
Widagda terkejut.
"kenapa kau??"
Bersambung..
Jangan lupa like^^
__ADS_1