Widagda Kroda

Widagda Kroda
Ke Sekolah Para Bangsawan


__ADS_3

*) 15 tahun lalu


Setahun kemudian, para pangeran dan putri kerajaan Bandarkawung telah siap dikirim ke sekolah para bangsawan di asrama Begawan Jayenglugon di hutan Girimara. Hal itu harus ditunda dua tahun karena sang pangeran bungsu, raden Karnatya, belum cukup umur.


Seperti yang sudah diucapkan oleh raja Karsa bahwa sekolah itu dikhususkan untuk para pangeran atau putra-putra para menteri dari seluruh negri di Bintanawarsa. Selain itu, jika ada putri kerajaan yang ingin belajar ilmu perang dan politik, juga diperbolehkan bergabung.


Sebelum keberangkatan.


"yayi! Apakah yang akan kau bawa ke sana?" tanya Rukmini.


"hmm, aku sudah menyiapkan semuanya di peti itu. Yang ku ingat, hanya beberapa pakaian dan senjata." jawab Widagda.


Tiba-tiba ayahanda datang ke kamar Widagda.


"ayah!" ucap Rukmini terkejut.


"kalian tidak perlu membawa senjata, yang kalian butuhkan hanya beberapa potong pakaian katun dan doa dari ibunda kalian." ucap ayahanda.


"apa ayah tidak akan memberikan doa pada kami?" tanya Rukmini.


"kalau doa ayah, pasti akan selalu bersama kalian. Tapi sekarang sudah waktunya makan siang, semuanya sudah menunggu kalian." ucap ayahanda.


"maaf ayah, kami terlalu bersemangat untuk berkemas sehingga lupa waktu." jelas Widagda.


"tidak apa-apa. Mari!" ajak ayah.


Mereka pun ke ruang makan bersama-sama.


Saat tiba di ruang makan, benar saja semua anggota keluarga telah ada di sana, sebenarnya ibunda Kentringayu yang ingin pergi memanggil Widagda dan Rukmini, tapi ayahanda mencegahnya dan ayahanda sendiri lah yang memanggil mereka.


Widagda pun duduk di samping Sekar Cendana beserta Rukmini.


Acara makan siang pun dimulai. Selama aktivitas makan berlangsung, tidak ada yang berbicara meski sepatah kata pun. Semua duduk dengan tenang dan menikmati makanan masing-masing.


Setelah selesai, ayahanda ingin membicarakan sesuatu dengan keluarga besarnya, maka seluruh prajurit maupun pelayan disuruh keluar.


"seperti yang kalian tahu, putra dan putri kita akan segera meninggalkan istana ini untuk dua tahun kedepan. Mereka akan belajar di sekolah kebangsawanan milik Begawan Jayenglugon. Putraku, raden Karnatya, adalah yang termuda, ku harap kakak-kakaknya bisa menjaganya." ucap ayah.


"putri-putriku, raden ayu Rukmini, raden ayu Sekar Cendana Gitya, raden ayu Sekar Manthili, raden ayu Sekar Kenanga, raden ayu Sasi Ukita, dan raden ayu Dayinta Basundara. Kalian semua akan bergabung dengan para pangeran dari seluruh negri di Bintanawarsa. Ku harap kalian bisa menjaga diri." pinta ayah.


Mereka semua mengangguk paham.


"para pangeranku, kalian adalah mimpi-mimpiku. Tunjukkan taji kalian, buktikan kalau kalian adalah pewaris yang mumpuni dari kerajaan Bandarkawung, para putra Prabu Ajibara yang gagah dan tampan. Jangan sampai melakukan kesalahan dalam masa sekolah kalian, ingat itu baik-baik." lanjut ayah.


"tentu saja ayahanda." jawab keempat putranya serentak.


"putra-putriku, ibunda hanya bisa memberi doa dan restu pada kalian. Semoga kesuksesan ada dipihak kalian." ucap ibunda Gitandri.


"semoga Tuhan memberkati kalian, Nak." ucap ibunda Kentringayu.


"kalian harus saling menjaga, saling bekerja sama, jangan ada persaingan yang buruk di antara kalian. Semoga Tuhan selalu bersama kalian." ucap ibunda Lambangsri.


"restumu adalah jimat kami ibunda." tambah Widagda.


"oh iya, jangan lupa berpamitan pada raja Karsa. Beliau pasti sedang menanti kalian." tambah ayahanda.


"baik ayah." jawab Rukmini.


Para pangeran dan putri-putri itu segera mengundurkan diri dan berjalan beriringan menuju kamar raja Karsa.


Setahun berlalu, penyakit raja Karsa tidak menjadi sembuh justru semakin memburuk, sebenarnya kelima putrinya tidak tega meninggalkan ayah mereka dengan keadaan seperti sekarang ini, tapi raja Karsa memaksa mereka untuk tetap berangkat ke hutan Girimara.

__ADS_1


Mau tidak mau, Sekar Cendana, Sekar Manthili, Sekar Kenanga, Sasi Ukita, dan Dayinta Basundara harus mematuhi ucapan raja Karsa.


Di kamar raja Karsa.


"ayah!" panggil Sekar Cendana pelan.


"Gitya? Masuklah putriku, kau bersama siapa? Tampaknya banyak sekali orang di sana?" tanya raja Karsa.


"iya ayah, aku bersama semua saudaraku." jawab Sekar Cendana.


"kalian semua masuklah!" perintah raja Karsa.


Mereka semua pun masuk dan mengucap salam.


"semoga kalian semua panjang umur." jawab raja Karsa.


"apa yang ingin kalian katakan padaku?" tanya raja Karsa.


"ayah, malam ini kami akan memulai perjalanan ke Girimara untuk menjalankan perintah ayah." jelas Sekar Cendana.


"jadi kalian semua telah bersedia untuk bersekolah ke asrama Begawan Jayenglugon? Syukurlah. Aku hanya bisa memberkati kalian dengan doa, putra-putraku. Aku tidak bisa mengantar kalian ke sana." jawab raja Karsa.


"putraku Widagda, aku mohon jagalah putri-putriku. Temani mereka saat mereka kesepian. Putriku Rukmini, aku juga meminta tolong padamu, jika saudara perempuanmu ini tidak bisa tidur karena merindukanku, tolong tenangkan mereka." ucap raja Karsa lagi.


"ingatlah untuk selalu menjaga makan, jangan suka makan sembarangan atau melewatkan makan karena itu akan membuat kalian sakit. Oh iya, jika kalian tidak betah berada di sana, kalian boleh pulang mendahului yang lain, tidak perlu memaksa diri kalian untuk menjalankan perintah dariku. Setiap ilmu yang kalian dapat itu pasti cukup untuk masa depan kalian." tambah raja Karsa lagi.


"jangan tidur larut malam, tidak baik untuk kesehatan. Dan ya, jangan sampai telat saat jadwal berkumpul karena Begawan Jayenglugon tidak suka pada orang yang terlambat. Aku juga punya satu pesan lagi.."


"ayah!" panggil Sekar Cendana lirih, memotong pembicaraan ayahnya.


"ayah, ayah tidak perlu khawatir. Kami semua akan saling menjaga, kami akan makan dan tidur secara teratur, kami akan merindukan ayah dan semua orang di istana." ucap Dayinta Basundara.


Raja Karsa hanya tersenyum.


"yayi, pertanyaanmu akan ku jawab, tapi tidak sekarang. Sekarang biarkan ayah beristirahat dan berpamitan, waktu keberangkatan semakin dekat." jawab Widagda.


Raden Grudhaya mengangguk paham.


Mereka pun segera berpamitan dan mengundurkan diri.


Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat dan mempersiapkan diri.


Menjelang sore, raden Grudhaya menuju kamar Widagda.


Di kamar Widagda.


Seorang prajurit datang memberitahukan bahwa raden Grudhaya akan menemuinya. Widagda mempersilahkannya.


Raden Grudhaya memberi salam.


"kau pasti ingin mendapat jawaban atas pertanyaanmu tadi bukan?" tanya Widagda sambil tersenyum ramah.


"tidak hanya itu kakang, aku juga ingin menanyakan sesuatu." jawab Grudhaya.


"silahkan." ucap Widagda.


"apa kau membenciku?" tanya Grudhaya perlahan.


Widagda terkejut mendengar itu, dia menghela napas dan menengok ke arah adiknya itu.


"tentu saja tidak Grudhaya. Kalau aku boleh tau mengapa kau menanyakan hal itu?" tanya Widagda.

__ADS_1


"kau berbohong kang." jawab Grudhaya tiba-tiba.


Widagda semakin bingung.


"kalau kau tidak membenciku, mengapa kau bertanya alasan dari pertanyaanku kang?" tanya Grudhaya.


Widagda mengangkat sebelah alisnya.


"aku menanyakan hal itu karena aku terkejut dan tidak menyangka kau akan berkata seperti itu." jelas Widagda.


"apa kau tidak sadar kang? Sudah banyak hal yang ku renggut darimu." ucap Grudhaya.


"apa maksudmu?" tanya Widagda heran.


"perhatian dari ayahanda prabu, waktu kebersamaanmu dengan Beliau, bahkan aku merenggutnya dari nyimbok dan ibunda Kentringayu juga." ucap Grudhaya.


Widagda tersenyum mendengar penjelasan adiknya itu. Ia pun mendekatinya dan memegang bahu kanannya.


"aku tidak merasa hal itu sebagai penderitaan, yayi. Justru aku menganggapnya sebuah anugerah. Mengapa? Karena ayah tidak akan merasa tersinggung dengan perilakuku." jawab Widagda.


"maksudmu?" tanya Grudhaya.


"aku, nyimbok dan ibunda terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Aku dan nyimbok sangat serius berlatih, hampir tidak ada waktu untuk menemani ibunda atau bahkan bertemu dengan ayahanda." jawab Widagda.


"ibunda pun seringkali keluar istana, kerajaan kita semakin luas, Grudhaya. Sudah menjadi tugas seorang ratu untuk membantu raja menjalankan pemerintahan. Lagi pula ayahanda selalu menyisihkan waktu untuk kami, sudah banyak kenangan indah yang kami ukir bersama." tambahnya.


"yang dikatakan oleh yayi Wisatya memang benar, kau dan rayi-rayi kita lebih membutuhkan ayahanda daripada aku atau nyimbok. Tak perlu menganggapku membenci siapapun Grudhaya, aku tidak pernah membenci siapapun. Jika dahan yang patah bisa kembali seiring dengan perkembangan waktu, maka seperti itulah luka yang ada disembuhkan oleh waktu." lanjutnya.


"sebatang pohon tidak perlu membenci petir karena membakarnya, ia juga tidak perlu membenci hujan yang tak pernah turun. Mengapa? Karena dalam kehidupan semua sudah diatur sesuai porsinya, kita tidak perlu menyalahkan orang lain karena takdirmu." jawab Widagda lagi.


"aku tidak membenci siapapun dan tak kan pernah membenci siapapun. Ini takdirku, aku hanya perlu menjalaninya bukan? Mulai sekarang hilangkan pemikiran yang seperti itu dari hatimu yayi." ucap Widagda panjang lebar.


"baiklah kakang, maafkan aku yang sudah berpikir seperti itu." ucap Grudhaya.


"tidak apa-apa yayi. Mari, waktu keberangkatan sudah dekat." ajak Widagda.


Mereka pun segera keluar istana. Di gerbang utama sudah ada 4 kuda dan dua kereta kuda, serta satu kereta pengangkut barang.


Setelah mengenakan pakaian sederhana, keenam putri dan keempat pangeran itu pun berangkat.


Jarak dari istana dengan hutan Girimara lumayan jauh. Letaknya di sebelah barat daya kerajaan Bandarkawung. Perjalanannya memakan waktu 2 hari 2 malam, melewati bukit dan sabana yang luas.


Para keturunan kerajaan Bandarkawung pergi tanpa pengawalan, hanya ada seorang penunjuk jalan dan tiga kusir.


Sebenarnya Bandarkawung adalah kerajaan yang aman dan tentram, tidak ada satupun perampok di wilayah tersebut. Namun, jika sudah sampai di perbatasan kerajaan Bandarkawung dengan kerajaan Gajahgitri, mereka harus bersiap untuk berhadapan dengan kawanan pembunuh bayaran dari seorang yang menginginkan kepunahan garis keturunan kerajaan-kerajaan besar, termasuk Bandarkawung.


"kakang, apa yang akan kita lakukan nanti?" tanya Grudhaya.


"maksudmu?" tanya Widagda.


"jika kita bertemu dengan mereka, apa yang harus kita lakukan?" tanya Grudhaya lagi.


"maksudmu pembunuh bayaran itu?"


Grudhaya mengangguk.


Widagda nampak memikirkan sebuah rencana.


"berhenti!" perintahnya tiba-tiba.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2