
Hari telah berganti, matahari pun masih bersembunyi. Namun, asrama Begawan Jayenglugon sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Ya semua calon siswa sudah berkumpul di tempat yang paling luas yang dikelilingi oleh ruangan-ruangan para putra bangsawan.
Tempat itu hanya diterangi obor, beralaskan tanah, dan beratapkan langit. Luas tanah lapang itu lebih dari cukup untuk menampung 59 putra-putri bangsawan.
Para keturunan kerajaan Bandarkawung sudah lengkap. Widagda pun sudah ikut berkumpul, meski belum sepenuhnya sembuh. Sebenarnya sang begawan sudah melarangnya, tapi Widagda terlalu keras kepala.
Siswa lelaki dan perempuan dipisahkan tempatnya. Dari 59, siswa perempuan hanya berjumlah 20 orang. Enam diantaranya adalah tuan putri kerajaan Bandarkawung.
Tak lama sang Begawan pun datang.
"salam, Begawan." ucap Suryatmaja, salah satu tangan kanan Begawan Jayenglugon.
"semoga Tuhan memberkati. Apa semuanya sudah berkumpul?" ucap Begawan.
"sesuai perintahmu, guru." jawab Suryatmaja.
Begawan Jayenglugon pun merubah arahnya ke para calon muridnya. Para putra bangsawan itu menundukkan kepala menghormat.
"ku terima salam kalian. Aku senang bisa bertemu dengan ksatria hebat masa depan dan kebanggaan yang tak terkira bisa melatih kalian hingga mencapai tujuan tersebut." salam pembuka sang begawan.
"maafkan aku yang telah mengganggu waktu istirahat kalian. Aku hanya ingin menyampaikan satu hal bahwa setiap pagi disetiap hari, sebelum pembelajaran dimulai, kalian harus mengikuti upacara pemujaan kepada Dewa Matahari dan Dewi Bumi, maka dari itu kalian diwajibkan bangun sebelum matahari terbit untuk mempersiapkan diri." lanjutnya.
"di caturwulan kedua, kalian harus mulai berpuasa, paling tidak selama sehari dalam sebulan. Namun, jika kalian berhasil berpuasa dua hari berturut-turut, itu akan menambah jumlah nilai mutlak untuk mendapatkan kelulusan." tambahnya.
"dalam berpuasa tentu saja kalian harus memenuhi beberapa syarat. Yang pertama, harus dalam keadaan suci. Kesucian itu tidak hanya dari lahir, tapi juga batin. Yang kedua, mampu mengendalikan panca indriya. Yang ketiga, selalu menjaga rahasia puasamu. Maksudnya, jika kau sedang berpuasa jangan beri tahu siapapun kalau kau sedang melakukannya."
"di caturwulan ketiga dan keempat adalah waktu yang sangat menentukan apakah kalian mampu untuk melanjutkan masa pendidikan atau tidak. Ku harap kalian semua mengerti. Kalau begitu, sekarang bersiaplah untuk mengikuti puja, tempatnya berada di tepi sungai Godawari." tutup sang Begawan.
Beliau pun membubarkan para siswanya.
Di tepi sungai.
Semua sudah berkumpul, pemujaan pun dimulai. Pemujaan ini dipimpin langsung oleh Begawan Jayenglugon. Udara dingin di tepi sungai seakan menembus kulit, tapi upacara itu berlangsung dengan khidmat.
Di minggu-minggu awal, banyak siswa yang terlambat, bahkan ada yang sampai tidak mengikutinya. Tapi Begawan Jayenglugon selalu menghukum mereka, hingga pada akhirnya mereka pun terbiasa.
Upacara itu berlangsung setiap hari di setiap pagi sebelum matahari terbit. Setelah itu adalah waktunya pelajaran dimulai.
Ada beragam tempat yang berbeda untuk setiap mata pelajaran, Bangsal Pamucal atau ruang kelas. Terdapat empat Bangsal Pamucal dan di sana lah mereka mendapatkan ilmu politik, ekonomi, sejarah dan geografi.
Selain itu ada Sanggar Budaya, tempat untuk mempelajari kesenian. Wisma Laga, tempat untuk berlatih taktik perang, letaknya di sisi kiri Bangsal Pamucal. Lalu ada Sanggar Yuda, untuk berlatih perang, tempatnya di sisi barat ruangan Begawan Jayenglugon.
Papan Pengadilan, tempat untuk mempelajari ilmu hukum dan keadilan. Sasana Husada, tempat untuk mempelajari ilmu pengobatan. Pendhapa Wedha Kawedar, tempat untuk mempelajari ilmu agama dan astronomi. Tempat itu berjajar dengan rapi di sisi utara.
Gedong Plangkan atau gudang senjata, dapur, dan ruang makan berjajar di sisi timur.
__ADS_1
Para bangsawan yang ada, diwajibkan memilih 4 mata pelajaran yang diminati dan hanya 4 mapel itulah yang akan mereka pelajari selama di sini. Namun, khusus untuk para pangeran ditambah dengan 2 mapel wajib lainnya yaitu taktik perang dan ilmu peperangan.
Setelah caturwulan pertama selesai, maka caturwulan kedua pun dimulai. Sesuai peraturan, maka seluruh siswa diwajibkan berpuasa selama seharian penuh atau dua hari berturut-turut setiap bulannya.
Widagda beserta saudara-saudaranya berhasil melakukan puasa dua hari penuh dan mendapatkan nilai paling tinggi diantara putra bangsawan dari kerajaan lain. Hal itu menimbulkan rasa iri di hati raden Sukmana, putra Prabu Baladenta di kerajaan Setubanda.
Di jam makan siang.
"kakang mari ke ruang makan, sudah waktunya makan siang." ajak Karnatya pada Widagda.
"kau duluan saja yayi, pekerjaanku belum selesai. Kau lihat tugasku masih banyak." jawab Widagda.
"tapi kang, kau bisa dihukum jika terlambat." ucap Grudhaya mencoba membujuk Widagda.
"ayolah, aku tidak akan dihukum karena terlambat lima menit. Kalian duluan saja, aku akan menyusul." ucap Widagda tetap pada pendiriannya.
Kumbala pun mendekati saudara-saudaranya itu.
"ayolah saudaraku, kakang Widagda kan masih sibuk. Lagi pula perutku sudah sangat kelaparan. Apa kalian tidak mendengar cacing-cacing di perutku berteriak minta makan." celetuk Kumbala.
"ooo, cacing di perut kakangku yang satu ini sudah kelaparan. Baiklah, kakang Grudhaya ayo kita makan! Kita harus makan sampai kenyang, kalau perlu kita habiskan saja berdua, dan jangan biarkan orang ini ikut memakan makanan itu." ketus Karnatya.
"jadi maksudmu, kau tidak ingin membagi makanan denganku?" tanya Kumbala.
Kumbala, Karnatya, dan Grudhaya pun mematuhi perintah dari Widagda.
Hari ini, haru kedua Widagda berpuasa di bulan pertama caturwulan ketiga. Makanya Widagda tidak makan sejak kemarin lusa.
Widagda sedang melukis sesuatu, ia memang memilih kesenian sebagai salah satu pelajaran wajibnya.
Di luar kamarnya, nampak tiga orang yang mengintip aktivitas Widagda dari jendela. Siapa lagi kalau bukan raden Sukmana dan kedua temannya, yaitu raden Harsaka dan raden Kersana.
"temanku, apa yang sedang kita lakukan di sini? Bukankan ini jam makan siang, jika kita tidak ke ruang makan sekarang, maka kita akan dihukum." ucap Harsaka.
Sukmana tersenyum miring.
"memangnya kalau kita dihukum, apa anak itu tidak dihukum juga?" tanya Sukmana.
Hal itu membuat kedua temannya bingung.
"teman, Widagda sedang berpuasa, dia tidak akan pergi ke ruang makan." jawab Kersana.
"darimana kau tahu kalau dia berpuasa?" tanya Sukmana.
"hal itu sudah pasti kawan. Jika ada murid yang sengaja tidak datang ke ruang makan selama 3 sampai 6 kali berturut-turut, dia akan dianggap melakukan puasa." jelas Harsaka.
__ADS_1
"ouh, jadi seperti itu caranya Begawan Jayenglugon tahu siapakah yang berpuasa atau tidak? Kalau begitu aku tidak akan pergi ke ruang makan hari ini." ucap Sukmana.
"tapi bukankah kau tidak berpuasa?" tanya Harsaka.
"diamlah! Tidak ke ruang makan bukan berarti aku berpuasa, aku akan tetap makan, tapi tidak di sana." jelas Sukmana.
"maksudmu?" tanya Kersana.
"kalian berdua akan membawakan makanannya ke kamar dan aku akan makan di sana." jawab Sukmana sambil tersenyum miring.
"hei kawan, apa kau sudah kehilangan akal? Kita bisa saja dikeluarkan dari sini jika melakukan hal bodoh itu." sanggah Kersana.
"lakukan saja apa yang aku katakan. Itu adalah perintah dariku untuk kalian, jangan lupa sumpah kalian untuk mengabdi padaku." Sukmana memperingatkan.
"memang secara umum kalian adalah temanku, tapi dari sudut pandangku kalian adalah budakku." lanjut Sukmana.
"seorang budak hanya patuh pada perintah atasannya, bahkan jika disuruh mati pun, budak itu harus melaksanakannya." ucap Sukmana dengan nada kejam.
Kini kedua temannya, lebih tepatnya dua pelayannya hanya bisa tertunduk ketakutan.
Sebelumnya tidak ada yang tahu tentang fakta ini selain Sukmana dan kedua pelayannya tadi, tapi kini Widagda telah mendengarnya. Widagda terkejut dengan fakta mengerikan itu.
Kalau Harsaka dan Kersana hanya pelayannya, mengapa mereka mendapat sebutan raden dan mempunyai negara sendiri. Apa Sukmana memang sengaja melakukan itu untuk kepentingan pribadinya? Jika itu benar adanya, berarti Sukmana sudah melakukan hal yang keliru.
Batin Widagda.
Tapi jika aku ikut campur dalam urusannya, apa dia akan terima? Tidak, dia seperti Wisatya bahkan mungkin lebih kejam. Tapi jika aku diam saja, bagaimana nasib Kersana dan Harsaka? Mereka akan selalu dikekang oleh Sukmana.
Hatinya menjadi dilema.
Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menceritakannya pada ketiga adikku untuk mencari jalan keluarnya? Atau melaporkan langsung pada guru? Ah tidak, lebih baik aku fokus pada tujuanku. Urusan orang lain tidak perlu aku campuri, aku tidak serendah itu.
Batin Widagda lagi.
Hatinya benar-benar berkecamuk. Dalan pikirannya hanya ada fakta mengcengangkan dari hubungan Sukmana dan dua temannya.
"aku mencoba melupakannya, tapi justru terus mengganggu pikiranku. Otakku, sudah ku bilang, jangan mengungkit lagi permasalahan itu. Biarlah Sukmana yang merampungkannya sendiri." gumam Widagda kesal.
Untung saja Sukmana dan kedua teman pelayannya sudah pergi, jadi mereka bertiga tidak mendengar Widagda. Lagi pula tiga orang itu juga tidak tahu kalau Widagda mendengar percakapan mereka yang terbilang dengan suara sangat pelan.
"Widagda, ku harap kau tidak memikirkan apa yang kau dengar barusan. Sekarang lebih baik kau fokus pada programmu di dua caturwulan terakhir ini. Oh ya, kalau Sukmana berulah lagi dan ulahnya itu sudah melewati batas, maka kau baru bisa memberinya pelajaran." ucap Widagda monolog.
Waktu istirahat makan siang telah selesai dan lonceng tanda pelajaran berikutnya akan segera dimulai, sudah dibunyikan. Widagda pun segera ke ruang kelas untuk pelajaran ekonomi.
Jangan lupa like^^
__ADS_1