
*) 16 tahun lalu
Tak terasa setahun telah berlalu, semenjak kepergian Wisatya. Wisatya tidak diasingkan dihutan, tetapi di pulau Tanjunganom yang sepi penduduk.
Ayahanda menjalankan permintaan Wisatya sebelum ia berangkat diasingkan. Ayahanda selalu menyisihkan waktu untuk menemani ibunda Lambangsri atau ibunda Gitandri. Ayah juga lebih sering menghabiskan waktu dengan raden Grudhaya, raden Kumbala, dan raden Karnatya.
Ibunda Kentringayu, Rukmini ataupun Widagda tidak merasa keberatan akan hal itu.
Ibunda lebih sering menghabiskan waktu bersama Sekar Manthili dan Sekar Kenanga. Beliau mengajari mereka caranya memasak dan menjahit pakaian. Rukmini dan Sekar Cendana menghabiskan waktu dengan berlatih perang bersama. Sedangkan Widagda berlatih bersama kakek Candra alias Begawan Candrani.
Di malam hari.
Widagda pergi ke kamar ibunya. Ia ingin menanyakan sesuatu tentang sejarah kerajaan Bantarkawung. Tapi di tengah perjalanan, Widagda mendengar seseorang sedang bersenandung. Dari gaya suaranya, itu adalah ibunda Lambangsri.
Widagda menajamkan pendengarannya dan mengikuti arah datangnya suara itu. Benar saja, ibunda Lambangsri sedang bersenandung di kamarnya sambil menatap lukisan.
Sepertinya itu lukisan Wisatya. Pikir Widagda.
Tanpa sengaja, ibunda Lambangsri melihat Widagda yang sedang mengintip.
"apa ada yang ingin kau bicarakan putraku?" tanya ibunda Lambangsri.
Widagda gelagapan, tapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada alasan untuk mengelak.
"aku ingin bertanya sesuatu pada ibu. Tapi saat aku tahu ibu sedang sibuk, aku sebenarnya ingin mengurungkan niatku." jawab Widagda.
"ibu tidak sibuk Nak. Tadi ibu hanya bersenandung kecil, masuklah!" ucap ibunda Lambangsri.
Widagda pun masuk dan duduk di ranjang ibunda Lambangsri.
"apa yang ingin kamu tanyakan padaku Nak?" tanya ibunda Lambangsri.
"emm, apa ibunda tahu tentang sejarah kerajaan Bantarkawung?" tanya Widagda.
Sebenarnya Widagda ingin menanyakan hal itu pada ibunda Kentringayu, tapi karena dipergoki sedang mengintip oleh ibunda Lambangsri, mau tidak mau Widagda menanyakan hal itu pada beliau.
"sejarah yang mana Nak?" tanya ibunda Lambangsri lagi.
"sejarah berdirinya negara ini, ibunda." jawab Widagda.
"sejarah berdirinya negara Bantarkawung? Mengapa kau ingin mengetahui hal itu?" tanya ibunda Lambangsri.
"aku hanya ingin tahu bagaimana cerita tentang para pahlawan pendiri kerajaan ini, sebagai motivasi untukku ibunda." jawab Widagda.
Dia mewarisi semangat juang kakeknya. Nyai Kentringayu memang sangat beruntung memiliki putra yang cerdas dan bijaksana seperti Widagda. Batin ibunda Lambangsri.
Pikirannya terhanyut entah kemana ketika melihat wajah tampan Widagda. Wajahnya yang tampan mengingatkan ibunda Lambangsri pada prabu Ajibara, ayahandanya, dan tentu saja putra tercinta ibu Lambangsri yang nun jauh dimata. Hingga pada akhirnya, Widagda membuyarkan lamunannya.
"ibunda..?" tanya Widagda.
"ah maafkan ibunda Nak. Melihat wajahmu, ibu teringat pada adikmu." jawab ibunda Lambangsri.
Ibu merindukan yayi Wisatya?
Tanya Widagda dalam hati.
__ADS_1
"sudah setahun ia meninggalkan ibunda dan kita semua. Kira-kira seperti apa wajahnya sekarang, bagaimana keadaannya sekarang, dan apa dia tidak merindukan ibundanya." ucap ibunda Lambangsri.
Derai airmata mulai membasahi pipinya.
"penderitaan seorang ibu adalah terpisahkan dari anak-anaknya, bagaimana bisa seorang anak yang telah dikandung dan dibesarkan dengan kasih sayang, dihukum dan harus pergi dari ibunya sendiri?" ucap ibunda Lambangsri lagi.
Widagda tak berani menjawab, ia hanya duduk diam dan mendengarkan.
"seorang ibu tidak akan pernah tega membiarkan putranya hidup kesusahan, berjuang sendiri dalam kesulitan. Seorang ibu tidak akan tega melakukan hal sekeji itu, Widagda." ucap ibunda Lambangsri.
"aku tahu, kesalahan Wisatya memang fatal, tapi mengapa ia harus diasingkan. Wisatya tidak suka tempat baru, ia tidak bisa dengan mudah beradaptasi di lingkungan yang baru dikenalnya. Wisatya juga tidak bisa jauh dari ibunda." lanjutnya.
"selama satu tahun ini, mungkin Wisatya dilanda kesepian tanpa hadirnya ibu. Tiada seorang pun yang ia kenal disana. Apa dia akan baik-baik saja Widagda?"
Ibunda Lambangsri terduduk lemas, ia menangis sesenggukan. Widagda hanya bisa diam.
Penderitaan yang ibunda alami adalah penderitaan yang sangat besar. Terpisah dari seorang anak yang sangat dicintai, anak pertama yang kehadirannya sangat dinanti, anak laki-laki yang menjadi kekuatan seorang ibu. Maafkan aku ibunda, aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah hukuman Wisatya.
Batin Widagda.
Widagda pun mendekati ibunda Lambangsri dan duduk di sampingnya. Mengelus pundaknya dan berkata,
"ibunda, aku mengerti kesedihan ibunda sekarang. Aku tahu, ibunda sangat merindukan yayi Wisatya. Maafkan aku ibunda, karena akulah yang membuat Wisatya harus dihukum dan membuat ibunda sedih sepanjang hari." ucap Widagda terhenti.
Ia merasa bahwa dirinya tak pantas ada di istana, apalagi disebut sebagai seorang pangeran yang dicintai oleh rakyatnya.
"Ibunda, aku berjanji pada ibunda. Aku akan membawa Wisatya pulang secepatnya, agar ibunda tidak merasa sedih lagi. Tapi sekarang, aku mohon hentikan tangismu, ibunda. Yayi Wisatya tidak suka melihatmu menangis, hatinya akan sedih juga ibunda. Aku mohon berhentilah menangis dan tersenyumlah." ucap Widagda menghibur.
Ibunda Lambangsri pun menoleh pada Widagda. Ia mengusahakan bibirnya tersenyum, dan akhirnya memeluk Widagda dengan penuh cinta.
Ibunda Lambangsri pun melepaskan pelukannya, ia kembali mengukir senyuman di bibirnya.
"Widagda, putraku, terima kasih atas perhatianmu hari ini. Rasa rindu ibunda pada adikmu Wisatya sedikit terobati." ucap ibunda Lambangsri sembari mengelus puncak kepala Widagda.
"ibunda tidak perlu berterima kasih padaku, sudah menjadi kewajibanku menghibur ibunda yang sedang bersedih. Putra manapun, tidak akan membiarkan ibunya menangis dihadapannya. Sekarang lebih baik ibunda duduk di ranjang, tidak baik duduk di lantai seperti ini." ucap Widagda.
Widagda mengajak ibunda Lambangsri duduk di ranjangnya.
"putraku, maafkan ibunda yang sudah berburuk sangka padamu. Selama ini ibunda selalu membencimu karena ibunda menganggap kaulah penyebab perginya Wisatya dari istana, tapi anggapan itu salah. Wisatyalah yang memulai semuanya, dia juga yang harus menanggungnya." ucap ibunda Lambangsri tiba-tiba.
Widagda hanya diam.
"ku harap kau tidak membenciku setelah aku mengucapkan semua ini padamu Widagda." lanjut ibunda Lambangsri.
"ah, tidak sama sekali ibunda. Bagai awan yang tak pernah membenci angin, seorang putra tidak mungkin bisa membenci ibunya. Akan sangat berdosa jika seorang anak membenci ibunya." jawab Widagda.
Suasana hati ibunda Lambangsri menjadi lebih baik.
"keturunan Marthadipuran begitu beruntung memiliki generasi yang sangat bijak sepertimu, Widagda. Semoga Tuhan selalu melindungimu." ucap ibunda Lambangsri.
"tentu ibunda, tidak ada doa yang lebih besar daripada kekuatan doa seorang ibu." jawab Widagda.
"hari semakin malam, apa kau tidak ingin kembali ke kamarmu?" tanya ibunda Lambangsri.
Widagda tersenyum dan bangkit.
__ADS_1
"baik ibunda, maafkan aku yang sudah menggangu waktu ibunda." ucap Widagda.
"ibu tidak merasa terganggu putraku, justru ibu menjadi lebih baik karena kehadiranmu. Teruslah seperti ini, menjadi seseorang yang penuh kasih dan mengasihi siapapun, tanpa pandang bulu. Doa ibu selalu menyertaimu putraku." ucap ibunda Lambangsri.
"terima kasih ibunda. Kalau begitu aku pamit kembali ke kamarku." jawab Widagda.
Ibunda Lambangsri mengangguk. Widagda pun mengundurkan diri dan kembali ke kamarnya.
Dari kejauhan ia melihat kamar Sekar Cendana yang masih diterangi oleh lampu. Widagda pun memutuskan untuk mampir.
Saat memasuki kamar Sekar Cendana, Widagda terkejut karena Sekar Cendana sudah tertidur.
"kenapa dia tidur dengan lampu yang menyala? Ah mungkin dia lupa mematikannya" gumam Widagda.
Widagda pun memutuskan untuk memadamkan seluruh lampu di ruangan itu. Namun, saat ia selesai mematikan seluruh lampu di ruangan itu, Sekar Cendana pun terbangun dan berteriak.
"siapa yang mematikan lampu di ruanganku??!!"
Widagda terkejut dengan ucapan Sekar Cendana.
Samar-samar Sekar Cendana melihat bayangan seorang laki-laki yang mendekatinya. Sontak Sekar Cendana pun takut dan berteriak histeris.
"siapa kau??!! Jangan mendekat!! Jangan!!" teriak Sekar Cendana.
"Sekar Cendana, apa yang terjadi padamu, ini aku Widagda. Tenanglah." ucap Widagda segera.
"tidak, aku tidak percaya!! Kau siapa??!!" histeris Sekar Cendana.
"pelayan! Hidupkan semua lampunya!" perintah Widagda.
Para pelayan pun segera berdatangan dan menghidupkan semua lampu di sana.
Setelah itu, cahaya mulai memenuhi kamar Sekar Cendana. Ia pun dapat melihat dengan jelas, siapa pria yang mendekatinya, ya itu adalah Widagda.
"kenapa kau ada di sini?" tanya Sekar Cendana.
"emm, saat aku menuju kamarku, aku lihat kamarmu masih terang dengan cahaya lampu. Ku pikir kau lupa mematikannya.."
"jadi kau yang membuat kamarku menjadi gelap gulita??" potong Sekar Cendana.
"aku tidak bermaksud melakukannya..."
"apa kau tidak tahu, kegelapan malam sangatlah menakutkan! Aku bahkan tidak pernah bisa tidur dalam kegelapan." potong Sekar Cendana lagi.
"maafkan aku Sekar Cendana." ucap Widagda.
"kembalilah ke kamarmu, kau tak perlu meminta maaf." ucap Sekar Cendana.
"tapi kau memafkan aku kan??" tanya Widagda.
"apa itu penting? Sudahlah, aku ingin tidur dan aku tidak ingin diganggu saat tidur!" gerutu Sekar Cendana.
Widagda pun menyerah dan kembali ke kamarnya. Sepertinya suasana Sekar Cendana memang sedang tidak baik. Dari tadi pagi, dia melihat Sekar Cendana sedang menyendiri dan melamun. Seolah ada beban dihati dan pikirannya, tapi Widagda tidak mengetahui apa yang membuat Sekar Cendana bersedih.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa like^^