
Mereka berpakaian serba hitam, bahkan menutupi sebagian wajah mereka dengan kain. Ada pula yang memakai topeng, tapi ada juga yang membiarkan wajah mereka tetap terlihat.
Pertempuran tak terelakkan. Kuda-kuda milik rombongan Widagda di habisi, bahkan kereta-kereta kuda itu sudah tidak mampu berjalan lagi.
Paman Haruyan, paman Padamara, paman Dentya, dan paman Margareja adalah yang berada di garis terdepan. Mereka berusaha melindungi gusti mereka.
Karnatya, Kumbala, Grudhaya, dan Widagda juga tak kalah pemberani, mereka berempat sudah dilatih berperang. Tak heran bila mereka sangat gesit menghindari serangan lawan.
Jangan tanyakan bagaimana Rukmini Sekar Cendana, Sekar Kenanga, Sekar Manthili, Sasi Ukita, dan Dayinta Basundara. Mereka sudah siap untuk semua ini. Mungkin ini pengalaman pertama mereka berada dipeperangan yang sebenarnya.
Mereka berada di medan tempur yang sebenarnya.
Jumlah musuh itu hanya separuh dari mereka, tapi kemampuan fisik musuh sungguh diluar dugaan.
Mereka benar-benar kuat, tak bisa kah mereka mengalah pada kami? Apa mereka benar-benar tidak punya hati seperti yang dikatakan oleh kakang Widagda?
Hati Karnatya bertanya.
Lengan kiri Karnatya terkena sabetan pedang, ia juga kelelahan. Widagda menyuruh Karnatya untuk bersembunyi di kereta kuda sembari mengobati lukanya.
"prajurit macam apa aku ini, mengapa aku tidak bisa menahan rasa sakit dari sabetan pedang yang kecil ini!" gerutu Karnatya yang sangat kesakitan saat mengobati lukanya.
Widagda dan yang lain masih sibuk dengan musuhnya.
Satu per satu saudara Widagda terluka, mereka mundur untuk mengobati luka.
Beberapa dipihak musuh pun terluka, bahkan ada yang lukanya sangat parah. Hal itu disebabkan oleh perlawanan duo putri sulung. Tentu saja Sekar Cendana dan Rukmini.
Melihat hal itu, Widagda semakin bersemangat, ia mengajak Grudhaya melakukan serangan kombinasi yang telah mereka pelajari di istana. Hasilnya, kedua lawan mereka tumbang.
Jumlah musuh semakin menipis, serangannya pun semakin lemah, tapi serangan Grudhaya, Sekar Kenanga, Rukmini, Sekar Cendana, paman Padamara, paman Dentya, paman Margareja, paman Haruyan dan Widagda semakin mengganas.
Musuh-musuh itu pun terpukul mundur, mereka melarikan diri menjauh dari hutan.
Widagda dan yang lain segera mendekati yang terluka.
Karnatya, Kumbala, Dayinta Basundara, Sasi Ukita, dan Sekar Manthili adalah korbannya. Mereka mendapat beberapa luka di lengan mereka. Kumbala adalah yang terparah, ia bahkan mendapat luka di dada dan kakinya.
"bagaimana sekarang? Sudah tidak ada kuda, keretanya tidak akan bisa jalan. Kita bisa berjalan kaki sembari menggendong barang bawaan kita, tapi apa Kumbala bisa berjalan dengan lukanya ini?" tanya Grudhaya.
"kami yang akan menjalankan kereta barangnya. Paduka raden tidak perlu menggendong barang bawaan kalian dan raden Kumbala akan duduk di kereta ini juga." ucap paman Padamara.
Perkataan itu segera diangguki oleh ketiga paman yang lain.
Widagda hanya bisa menyetujuinya.
Perjalanan mereka pun berlanjut dengan berjalan kaki. Seharusnya mereka hanya menempuh 2 jam perjalanan menggunakan kuda, tapi menjadi 3,5 jam. Itu tidak masalah yang penting mereka sampai di asrama Begawan Jayenglugon dengan selamat.
"kakang, jika mereka adalah kawanan yang kau ceritakan itu, mengapa mereka tidak membunuh kami yang terluka? Mengapa mereka tidak menyerang dengan membabi buta?" tanya Karnatya.
"aku pun berpikir seperti itu yayi. Jika mereka memang komplotan Anala, mengapa mereka tidak sebengis yang diceritakan oleh orang-orang? Tapi kalau mereka bukan Anala, mengapa mereka menyerang kita?" tanya Widagda.
"mereka tidak mungkin siswa Begawan Jayenglugon kan?" tanya Sekar Kenanga tiba-tiba.
"tidak mungkin, jika mereka adalah siswa Begawan Jayenglugon, mengapa pakaian mereka berwarna hitam? Bukankan seharusnya berwarna kuning atau merah bata?" tanya Sekar Cendana.
"banyak pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Tapi yang aku rasakan sekarang, kejadian ini adalah proses pengujian dari Begawan Jayenglugon sendiri." ucap Dayinta.
"apa maksudmu yayi?" tanya Grudhaya.
"sebelum menjadi murid dari Begawan Jayenglugon, kita diuji terlebih dahulu olehnya. Hal itu dilakukan agar kita sadar, apa kita pantas atau tidak menjadi murid dari sang Begawan. Beliau pasti tidak ingin calon muridnya adalah orang yang biasa-biasa saja." jawab Dayinta.
"lalu apakah kita berhasil lolos dari ujian itu?" tanya Sekar Kenanga.
"hanya Begawan Jayenglugon lah yang mengetahuinya dan yang pasti ujiannya belum berakhir." jawab Dayinta lagi.
__ADS_1
Mereka pun berhenti.
"apa maksudmu yayi?" tanya Widagda.
"lihatlah di depan sana kakang. Ujian tahap dua sedang menunggu kita." jawab Dayinta.
Yang lain pun menengok ke arah depan. Tak disangka, ada dua orang lagi di depan sana. Kini mereka memakai pakaian berwarna dasar putih bercorak bulu merak, mereka juga memakai penutup kepala dan topeng yang menutupi matanya.
Orang itu bertengger di atas pohon dengan nyaman, seolah mereka memang menunggu rombongan Widagda.
"siapa kalian?!" teriak Rukmini.
Salah satu dari mereka turun dan tersenyum miring. Yang satunya lagi melepaskan empat anak panah dan tepat mengenai jantung keempat pengawal mereka. Paman Haruyan, paman Padamara, paman Dentya, dan paman Margareja tewas seketika.
Widagda dan yang lain pun terkejut.
Setelah itu yang tadi segera turun dan berkata.
"ku rasa kalian sudah tahu siapa kami." ucapnya.
"apa maksudmu kau adalah murid Begawan Jayenglugon yang bertugas untuk menguji kami?" tanya Sasi Ukita.
Kedua orang tadi tertawa.
"lihatlah kawan, betapa bodohnya keturunan kerajaan Bandarkawung. Apa mereka benar-benar tidak mengenal kita? Sungguh kasihan." sindir salah satu diantara mereka.
"katakan saja siapa kalian!!" teriak Rukmini.
"gadis cantik, jangan marah dulu. Kami pasti akan memberitahumu, tenang saja." jawab orang itu.
"mengapa kalian membunuh pengawal kami!!" teriak Grudhaya.
Dua orang itu kembali tertawa.
"kami adalah awan yang menutupi tanah ini dengan kegelapan, mimpi buruk negara-negara besar, dan yang terkenal sebagai yang tak punya hati." jelas yang lainnya.
Widagda dan saudara-saudaranya terkejut.
"Anala." gumam Karnatya lirih.
Tanpa aba-aba Widagda menghunus pedangnya.
"jika hari ini memang hari kematianku, maka aku akan menghadap dewa kematian dengan wajah tersenyum!" ucap Widagda tegas.
Dua anggota Anala itu kembali tertawa.
"baiklah, kalau itu yang kau mau, bersiaplah menghadap dewa kematian!" teriak orang itu.
Mereka berdua langsung menyerang Widagda.
Widagda menghadapi mereka sendirian. Tampaknya nyali saudara-saudaranya menciut mendengar nama Anala.
Dua orang itu tidak menggunakan senjata sama sekali, mereka bertarung dengan tangan kosong. Widagda sempat terdesak, tapi Karnatya melemparkan pedangnya.
Widagda kini bersenjatakan dua pedang, ia semakin gesit menyerang dua orang itu.
Sebelumnya posisi Widagda yang terdesak, tapi situasinya terbalik sekarang. Dua orang itu kewalahan dengan kegesitan Widagda. Mereka pun melakukan serangan kombinasi.
Dua pedang Widagda terhempas, ia sudah tidak punya senjata. Dua orang tadi merasa mendapatkan kesempatan emas yang tidak bisa disia-siakan. Mereka pun menyerang balik Widagda tanpa ampun.
Widagda dipukuli hingga babak belur, bahkan dia juga di banting. Ia seperti mainan bagi dua anggota Anala itu.
Rukmini tak kuasa menahan tangis, Sekar Cendana, Sekar Kenanga, Sekar Manthili, Sasi Ukita, dan Dayinta juga menangis. Mereka miris melihat keadaan Widagda yang tidak berdaya, dan mereka juga tidak bisa melakukan apapun.
"mengapa aku selemah ini. Apa mungkin yayi Widagda akan menemui ajalnya hari ini? Yayi maafkan aku yang tidak bisa menolongmu." gumam Rukmini.
__ADS_1
Grudhaya menggenggam tangannya kuat, ia tampak sangat marah. Kakaknya yang sangat ia hormati sedang tidak berdaya dan dia tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkannya. Air mata pun membasahi pipinya.
"Grudhaya yang tidak berguna, pikirkan sesuatu. Pikirkan sebuah cara untuk menyelamatkan kakang Widagda!! Pikirkan sesuatu!!" gumam Grudhaya sembari memukuli kepalanya.
Ia teringat dengan rencana yang dibuat oleh Widagda.
"rencananya. RENCANANYA!! JALANKAN RENCANANYA!!" teriak Grudhaya.
Yang lain pun mendongak dan mengusap air mata mereka.
"iya ayo lakukan rencana itu!" ajak Rukmini.
"meski kita kekurangan anggota, rencana itu harus tetap dilakukan!" perintah Sekar Cendana.
"lalu apa yang kita tunggu?" tanya Kumbala.
"yayi?!" ucap Grudhaya terkejut.
"tenanglah, aku sudah sembuh sekarang. Ayo kita berjuang bersama menyelamatkan kakang Widagda!!" ucap Kumbala menggebu-gebu.
Mereka kembali menemukan semangat. Mereka sangat antusias untuk menjalankan misinya masing-masing.
Tanpa basa-basi Karnatya berteriak.
"SERANG!!!"
Mereka segera berpencar dan menyerang dari berbagai arah.
Dua orang dari Anala tersenyum miring.
"apa aku harus membunuh mereka semua, kapten?" tanya yang satu.
"tentu saja dan perlawanan mereka akan jadi permainan yang menarik." jawab sang kapten.
Dua orang itu melempar Widagda ke keretanya, ia pun terjatuh tepat di samping mayat paman Haruyan.
Saudara Widagda yang lain pun segera memaksimalkan serangan mereka. Namun, perlawanan mereka ber9 belum cukup mampu melukai Anala itu.
"kapten, tanganku sudah gatal ingin memukuli mereka."
"nikmati permainannya Kasori, jangan tergesa-gesa." jawab sang kapten.
Kasori tampak murung mendengar jawaban kaptennya.
Sekar Cendana—Rukmini melancarkan serangan kombinasi dari arah timur. Sekar Kenanga—Karnatya menyerang dari barat. Dayinta—Kumbala menyerang dari sisi utara. Sasi Ukita—Sekar Manthili dari sisi selatan, dan Grudhaya menyerang dari atas sebagai pengeksekusi.
Tak disangka Anala dikepung oleh ksatria hebat yang tak tertandingi. Dua Anala itu mencoba melawan mereka, tapi sayang mereka kalah jumlah dan kalah gesit.
Setelah terdesak, Grudhaya menghujam tanah dengan kekuatan penuh. Membelah tanah dan menjatuhkan dua Anala itu kedalamnya. Ia pun segera menutup retakan itu dan mengubur mereka hidup-hidup.
Tak lupa Kumbala menyegel tanah itu dengan kekuatan bulan yang tak ada tandingnya. Setelah itu ia membawakan sebongkah batu dan diletakkan di atasnya.
Mereka pun mendekati Widagda yang telah pingsan karena lemah.
Setelah berembug, mereka membawa tubuh keempat paman pengawalnya ke asrama.
Setelah berjalan selama 3 jam, mereka pun mencapai kawasan asrama Begawan Jayenglugon. Mereka bersyukur atas anugerah Tuhan.
Para siswa Begawan Jayenglugon pun membawa Widagda ke ruang pengobatan dan membawa yang lain ke ruangannya untuk membersihkan diri. Beberapa diantara mereka melaporkan kedatangan pangeran dan putri kerajaan Bandarkawung dalam keadaan yang mengenaskan.
Begawan Jayenglugon segera menuju ruangan pangeran kerajaan Bandarkawung. Ia turut prihatin dengan kejadian yang menimpa mereka dan meminta maaf atas kelalaiannya.
Grudhaya berkata jika ini murni kejadian alam yang tidak pernah terduga, bukan kesalahan sang rsi. Setelah itu mereka pun beristirahat karena besok ada acara yang penting.
Bersambung...
__ADS_1