Widagda Kroda

Widagda Kroda
Telaga Warna


__ADS_3

*) 19 tahun lalu


"yayi!!" teriak Rukmini dari luar kamar.


Widagda kecil yang sedang membaca buku kesukaannya segera berlari dan membukakan pintu untuk saudara kembarnya itu. Tapi setelah membuka pintu dan menampilkan tubuh sang kakak, Rukmini segera menarik tangannya.


"hei! Hei! Kau mau membawaku kemana nyi?? Kenapa kita tergesa-gesa?" tanya Widagda.


"sudah diamlah dan ikuti saja aku." jawab Rukmini.


Widagda menjadi bingung, tapi ia tak berani membantah kakak kembarnya itu.


Tiba-tiba Rukmini berhenti dan menyuruh Widagda menutup matanya dengan kain yang sudah ia siapkan.


"kenapa harus??"


"tinggal dipake kok banyak tanya sih." potong Rukmini seraya mengikatkan selembar kain untuk menutup mata Widagda.


Setelah itu Rukmini memanggil dua prajurit untuk mengangkat tubuh Widagda.


"hei?! Nyi, apa yang kamu lakukan padaku??" tanya Widagda.


"sudah ku bilang diam dan ikuti aku, jangan membantah perintah ya." jawab Rukmini.


Apa yang akan nyimbok lakukan sih, kenapa dia tergesa-gesa sekali. Oh Tuhan, ku harap tidak ada musibah.


Ucap Widagda dalam hati.


Rukmini membawanya keluar istana, ia ingin menunjukkan sesuatu pada Widagda, tetapi Widagda benar-benar tidak tahu apa yang direncanakan oleh kakaknya itu.


Mereka pergi kesana menggunakan kereta kuda. Dalam hati, Widagda bertanya-tanya, mengapa harus mengendarai kereta kuda dan kemana tujuannya.


Perjalanan ditempuh selama 20 menit, selama perjalanan Rukmini sangatlah senang.


Aku akan menunjukkan apa yang ku temukan minggu lalu, ini hadiah ulang tahun dariku, dhiyayi.


Batin Rukmini.


Aduh nyimbok, apa yang akan kamu lakukan padaku sih. Aku jadi takut loh. Oh iya, aku juga punya janji sama ibunda saat makan siang, tapi sepertinya aku mengingkarinya karena ulah nyimbok. Ah menyebalkan!


Gerutu Widagda dalam hati.


Setelah duduk sambil kebingungan, akhirnya Widagda merasakan bahwa kereta telah berhenti. Dua prajurit tadi kembali membopong tubuh Widagda dengan tenaga mereka yang kuat. Tapi kali ini Widagda merasa bahwa ia didudukkan di sebuah kursi tandu dan diangkat, seperti arak-arakan.


Lima menit kemudian, kursi tandunya diturunkan dan Rukmini meraih tangan Widagda. Ia menuntun adik kembarnya perlahan. Widagda benar-benar tidak tahu dimana ia sekarang.


"nyimbok, kau benar-benar ya, sudah ditarik paksa, mataku ditutup dengan kain, dipobong, dinaikkan kereta kuda, njur pake kursi tandu, eh sekarang dituntun. Eh, kenapa jalannya berbatu seperti ini ya? Ah nyi, kita itu dimana sih." gerutu Widagda lagi.


Rukmini tertawa kecil mendengar ocehan adiknya.


"kita berada di suatu tempat yang paling indah di negeri ini." jawab Rukmini.


"tempat paling indah?? Bukankah itu adalah taman saka? Apa ada yang lain?" tanya Widagda bingung.


"keindahan tempat ini lebih dari taman saka, sudahlah cepat ikuti aku." jawab Rukmini.


Widagda semakin kebingungan, sebenarnya tempat apa sih yang dimaksud oleh kakaknya itu.


Setelah sampai di tujuannya, Rukmini segera membuka penutup mata Widagda.


"kita sudah sampai, aku akan buka penutup matamu, tapi sebelum aku bilang buka, jangan buka matamu." perintah Rukmini.

__ADS_1


"iya, cepatlah." jawab Widagda.


Rukmini membuka penutup mata itu dengan mudah, lalu ia menyuruh Widagda untuk membuka matanya.


"sudah siap? Sekarang bukalah matamu." ucap Rukmini.


Saat membuka mata, betapa terkejutnya Widagda ketika melihat hamparan air yang luas dengan pemandangan alam yang masih asli dan asri. Sangat memanjakan mata.


"telaga ini indah sekali? Nyimbok apa aku boleh berenang?" tanya Widagda.


Rukmini menganggukkan kepalanya dan Widagda melompat kegirangan. Ia segera melepas segala aksesoris yang menempel di badannya dan mendekati tepi telaga.


"wow, airnya dingin sekali." ucap Widagda ketika memasukkan kakinya kedalam air.


"apa kau tidak jadi berenang yayi?" tanya Rukmini yang tiba-tiba berada di samping Widagda.


Sontak Widagda pun terkejut.


"astaga, kapan kau berada di sini? Aku terkejut." ucap Widagda.


Rukmini kembali tertawa kecil.


"kalau kau kedinginan, lebih baik kita berkapal mengelilingi telaga ini." usul Rukmini.


"tidak, aku ingin berenang. Lihatlah lompatanku ini." ucap Widagda.


Ia pun mengambil ancang-ancang untuk melompat ke dalam telaga.


"satu.. dua.. tiga.."


'jebyurr'


Rukmini bertepuk tangan melihat kelihaian adiknya.


"nyi, apa kau tidak ingin berenang??" tanya Widagda.


"ah tidak, aku ingin kau menikmatinya tanpa aku. Aku di sini saja melukis pemandangannya." jawab Rukmini.


"okelah kalau begitu." ucap Widagda.


Rukmini pun mengambil kerperluan melukisnya yang ia bawa dari istana. Rukmini pun menunjukkan kelihaian jemarinya saat melukis.


Telaga itu masih sepi, tampaknya tidak ada yang tau dengan keberadaan sebuah telaga yang indah itu. Di sana prajurit berjaga ketat, mereka tidak ingin ada orang lain yang mengganggu gusti mereka.


Cukup lama Widagda berenang. Biasanya ia berenang di sungai yang arusnya cukup deras dan tidak bisa berlama-lama karena bahaya terseret arus mengancam mereka. Tapi kini, ia berenang di telaga dengan ombak yang tenang dan luas, ia tak perlu khawatir dengan keselamatannya. Lagi pula ada prajurit yang berjaga, kalau dirinya kesulitan, pasti mereka dengan sigap membantunya.


Tiba-tiba ada pantulan cahaya menyorot, menyilaukan mata Widagda.


"darimana kilauan cahaya itu??" Widagda kecil bertanya-tanya.


Ia memutuskan untuk memeriksanya kedalam air, sepertinya ada benda mengkilat dibawah sana.


Benar saja, ia menemukan sebuah peti yang berkilauan. Widagda mencoba menariknya sendiri, tapi tak bisa. Mungkin karena tubuhkan terlalu kecil.


Widagda memutuskan untuk kembali ke permukaan dan meminta bantuan dari para prajuritnya.


Rukmini yang sedang asyik melukis, terkejut ketika mendengar suara teriakan. Ia kenal betul suara itu, ya itu suara adiknya.


Rukmini segera berlari ke tepi telaga untuk memastikannya.


"nyi!! Nyi!! Di sini!!" teriak Widagda sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"apa yang terjadi padamu yayi??!!" teriak Rukmini dari tepi telaga.


"aku tidak apa-apa!! Cepat suruh dua prajurit menyusulku kemari!! Aku menemukan sesuatu!!" teriak Widagda.


"baiklah!!" teriak Rukmini mengiyakan.


Sesuai permintaan adiknya, ada dua prajurit yang berenang mendekati Widagda.


"apa anda terjerat sesuatu raden?" tanya salah satu prajurit.


"tidak paman. Aku tidak apa-apa. Aku ingin meminta bantuan kalian, di bawah sana ada peti yang mengkilat, aku tak tahu pasti apa isinya dan seberapa besarnya. Maka dari itu, kalian harus membantuku untuk mengangkatnya dan membawanya ke tepian." ucap Widagda menjelaskan.


"baik raden." jawab kedua prajurit itu serentak.


Mereka pun menyelam ke dasar telaga, kurang lebih di kedalaman lima meter.


Widagda menunjuk ke sebuah benda yang berkilauan, menginstruksikan pada dua prajuritnya itulah peti yang ia maksud. Dua prajurit tadi dengan sigap menarik peti itu.


Dari tepi telaga, Rukmini mencemaskan keadaan adiknya.


"apa yang sebenarnya dia temukan, ku harap dia tidak menemukan sesuatu yang berbahaya." gumam Rukmini.


Rukmini mondar-mandir menunggu adiknya muncul ke permukaan, tapi belum juga terjadi.


"paman Wasi!" panggil Rukmini pada salah satu prajurit.


"hamba gusti ayu." prajurit itu menghadap.


"susul adikku dan dua paman tadi, tolong. Aku sangat mencemaskan mereka, jika kau menemukan mereka lambaikan tangan kananmu, jika terjadi sesuatu yang buruk lambaikan kedua tanganmu." perintah Rukmini.


"baik gusti ayu." jawab paman Wasi.


"paman, sebaiknya gunakan kapal itu, agar lebih mudah membawa mereka ke tepian." ucap Rukmini lagi.


"baik gusti ayu."


Paman Wasi segera melepas jangkar dan mendayung kapalnya.


Di bawah air, ketiga pria itu masih mencoba untuk menarik peti tersebut, tapi belum juga berhasil. Akhirnya mereka kembali ke permukaan karena kehabisan napas.


Bertepatan dengan kemunculan mereka di permukaan, paman Wasi sudah dekat dengan posisi mereka.


Paman Wasi pun segera melambaikan tangan kanannya. Rukmini yang juga mengetahui kemunculan adiknya, tersenyum bahagia.


"senior Wasi! Mengapa anda di sini?" tanya paman Jagat.


"aku diperintahkan oleh gusti ayu untuk menyusul kalian. Apa yang sebenarnya terjadi??" tanya paman Wasi.


"gusti raden menemukan sebuah peti emas yang berkilauan di bawah sana. Beliau meminta kami untuk mengambilnya, tapi sepertinya separuh bagian lebih dari peti itu tertanam di dasar lumpur." jawab paman Giri.


"peti emas?? Seperti apa??" tanya paman Wasi.


"di bagian tepinya berukiran wajak." jawab Widagda.


Ukir wajak?? Jangan-jangan itu peti mati yang dimitoskan warga.


Batin paman Wasi khawatir.


Bersambung..


Jangan lupa like^^

__ADS_1


__ADS_2