
*) 18 tahun lalu
Satu tahun telah berlalu, sejak kejadian itu Widagda rajin berlatih perang, ia meninggalkan masa kecilnya untuk menjalankan misinya.
Selama satu tahun rahasia ditemukannya peti patining angkara masih aman, belum ada yang tahu selain warga kerajaan Bantarkawung. Namun, ada kabar burung bahwa ada seseorang yang sudah menyebarkan informasi terkait ditemukannya peti legendaris itu.
Widagda yang baru berusia 7 tahun sangat aktif dalam berbagai latihan, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu walau sedetik pun. Latihannya menguras energinya, tapi tak menyurutkan semangatnya.
Seolah tau mau ketinggalan, Rukmini, juga giat berlatih. Disamping mengasah kemampuan menggambar dan menari, sesekali ia juga mengikuti latihan perang bersama Widagda.
Saat malam hari.
"yayi, kenapa kau serius sekali berlatih? Bukankah kau masih memiliki banyak waktu untuk menikmati masa kecilmu?" tanya Rukmini tiba-tiba.
Saat itu Widagda baru selesai mandi sehabis berlatih seharian.
"nyi, kalau kita menyia-nyiakan waktu tak mengisi waktu yang ada untuk berlatih, kemungkinannya hanya ada dua." jawab Widagda.
"apa saja itu??" tanya Rukmini.
"kalah kemudian sengsara, atau kalah kemudian mati." jawab Widagda dingin.
Rukmini terdiam.
"tapi jika kita bisa memanfaatkan waktu dengan baik, maka yang terjadi juga dua hal, yaitu menang kemudian bahagia, atau kalah kemudian mati." tambah Widagda.
Rukmini berpikir kalau sifat adiknya kini sudah menjadi lebih dewasa, Widagda lebih suka menyendiri agar fokus dalam berlatih. Ia juga jarang bermain, hanya beberapa jam dalam seminggu karena lebih sering berlatih perang dengan prajurit atau bersama kakek Candra. Tinggi badannya juga sudah melampauinya.
Widagda sudah selesai berhias, dirinya memakai sutra yang indah lengkap dengan mahkota.
"nyi, apa kau tidak ingin pergi ke jamuan?" tanya Widagda.
Malam ini ada jamuan untuk seorang tamu dari kerajaan lain, jadi seluruh anggota keluarga kerajaan berpakaian resmi.
"aku ikut kok, tapi dimana ibunda?" ucap Rukmini.
"mungkin masih di kamarnya, ayo kita jemput Beliau." ajak Widagda.
Rukmini mengangguk dan mengikuti keinginan Widagda.
Mereka pergi ke kamar ibundanya dan mendapati beliau sedang berhias.
"ibunda!" panggil Rukmini.
Mendengar suara putrinya, ibunda menoleh dan mendapati kedua anaknya yang telah rapi sedang menunggunya.
"semoga Tuhan memberkati kalian. Sungguh, saat melihat kalian berpakaian rapi seperti ini, membuat ibunda sangat takjub." ucap ibunda.
"takjub?" tanya Widagda kebingungan.
"iya, ketampanan dan kecantikan kalian bertambah berkali-kali lipat saat memakai pakaian itu." jawab ibunda.
Widagda dan Rukmini tersenyum mendengar jawaban dari ibunya itu.
"ibunda, lebih baik anda menyelesaikan rias paduka." ucap Widagda tiba-tiba.
"hei, sejak kapan bahasamu menjadi kaku seperti itu?" tanya ibunda heran.
"aku hanya bercanda ibu." dengan wajah manis yang tersenyum.
Mendengar jawaban putranya, ibunda tertawa kecil dan menjawab, "ya, baiklah."
Ia pun segera menyelesaikan riasnya.
Setelah ibunda selesai berhias, ayah mereka datang.
__ADS_1
"wah, putra putri ayah juga ada di sini ya? Kalian ini rajin sekali." ucap ayah mengejutkan ketiganya.
"ayah, kenapa ayah masih belum berhias?" tanya Rukmini.
"ah ayah kan hanya tinggal memakai mahkota." jawab ayah enteng.
"ayah yakin?" tanya Widagda sambil memutar badannya.
Ayahanda yang melihat Widagda, memakai perhiasan indah dengan balutan kain sutera dan mahkota, menjadi sedikit tidak yakin dengan penampilannya.
"a-ayah yakin." jawabnya.
Widagda pun menaikkan sebelah alisnya, seolah bertanya kembali pertanyaan yang sama.
"ya baiklah ayah tidak akan kalah darimu." jawab ayahanda.
Hal itu membuat ibu, Widagda dan Rukmini tertawa.
Ayahanda mereka pun berhias dengan cepat. Mengganti pakaian, memakai perhiasan dan bermahkota.
"sekarang ketampanan ayah dan anak sudah seimbang. Iya kan istriku?" ucap ayahanda.
Ibunda hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepala.
"sudahlah ayah, dhiyayi tidak akan bisa menandingi ketampanan ayah." jawab Rukmini.
"aduuh, putri ayah yang cantik ini bisa saja. Baiklah ayo kita pergi ke ruang jamuan." ucap ayah.
Mereka pun pergi bersama-sama.
Dari arah berlawanan, datanglah ibu Lambangsri, istri kedua ayah, bersama dengan tiga putranya yang berusia masing-masing 7, 5, dan 4 tahun. Disusul dengan ibu Gitandri, istri ketiga ayah bersama putranya yang berusia 6 tahun. Mereka pun masuk ke ruang jamuan bersama-sama.
Di ruang jamuan, sudah tersedia banyak makanan. Di sana juga sudah ada para petinggi kerajaan yang menanti kehadiran keluarga raja.
"Yang Mulia Raja Ajibara dan keluarga memasuki ruangan!!!" teriak salah satu prajurit.
Rombongan keluarga itu segera ke posisi duduk masing-masing.
Ayah sudah duduk di tempatnya, dia mempersilahkan yang lain untuk duduk. Jamuan pun dimulai.
Semua menikmati makanan dan juga hiburan yang disiapkan.
Setelah acara makan malam selesai, raja Karsa, raja dari kerajaan sebelah, ingin berbincang dengan ayahanda dan dua putranya yang tertua, yaitu raden Widagda dan raden Wisatya.
Ayahanda mengajak mereka ke ruang kerjanya agar lebih nyaman berbincang.
"apa yang ingin anda bicarakan teman?" tanya ayahanda.
"aku hanya ingin bertemu dengan dua kandidat calon raja yang akan menggantikanmu kawan." jawab raja Karsa.
"hanya salah satu diantara mereka yang akan jadi raja, tapi aku belum memutuskannya. Perjalanan mereka masih panjang, usia mereka juga masih sangat muda, mereka belum layak di sebut calon raja." ucap ayahanda.
"iya uwa, kami masih banyak kekurangan, masih perlu belajar tentang banyak hal." ucap Wisatya.
"kalaupun kami sudah layak, tapi ayahanda belum ingin turun tahta, kami tidak akan menuntut kedudukan itu uwa." ucap Widagda.
"pemikiran yang luar biasa." jawab raja Karsa sembari bertepuk tangan.
Kedua pangeran kecil itu hanya menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih.
"teman bagaimana keuangan negaramu, apa sudah membaik? Ku dengar ada menteri yang sengaja menggelapkan beberapa pajak?" tanya ayahanda.
"iya kawan, menang seperti itu adanya, tapi dia sudah ku hukun mati. Hal itu aku lakukan untuk memberikan efek jera, agar tidak terulang kembali di masa depan." jawab raja Karsa.
"lalu, kemana perginya uang yang mereka gelapkan itu uwa?" tanya Wisatya.
__ADS_1
"sudah dihabiskan untuk berfoya-foya, membangun rumah, membeli sawah, dan lain-lain Nak." jawab raja Karsa.
"sebenarnya apa alasan mereka menggelapkan pajak itu?" pikiran Widagda bertanya-tanya.
"bisa jadi karena loba, anakku." jawab ayahnya.
"loba? Maksud ayah kerakusan?" tanya Wisatya.
"Oh iya, orang yang rakus biasanya gelap hati, tidak bisa mensyukuri apa yang telah dimiliki, hanya ada rasa kekurangan, dan setelah itu muncullah keinginan untuk mencuri atau menempuh segala cara untuk mendapatkan kepuasan." jawab Widagda.
"benar sekali kang. Maka dari itu kita harus bisa bersyukur, meski ditimpa masalah dan diterpa cobaan, kita harus tetap bersyukur." ucap Wisatya.
Melihat kecerdasan kedua pangeran kecil itu, raja Karsa terharu. Secara tidak sadar ia mengucapkan sesuatu.
"andai saja aku memiliki seorang putra yang pintar seperti mereka, alangkah bahagianya hidupku. Kerajaanku pasti terjamin masa depannya dan aku bisa menikmati hari tua dengan bahagia."
Suasana menjadi hening seketika.
Canggung dan takut, itulah yang ada di pikiran ayah, Wisatya dan Widagda.
"apa yang kau katakan teman, putra-putraku adalah putramu juga." ucap ayah memecah sepi.
"aku jadi berpikir untuk menjodohkan putri sulungku untuk salah satu dari mereka." ucap raja Karsa.
Ayah, Widagda dan Wisatya terkejut mendengar hal itu.
"kenapa? Apa kau tidak suka dengan pemikiranku?" tanya raja Karsa lagi.
"a-a-ah te-tentu sa-saja tidak." ucap ayah sambil tersenyum kecut.
"kau tadi bilang kalau putramu juga putraku kan? Makanya aku ingin mewujudkan ucapanmu." ucap raja Karsa.
Perjodohan.. Aku harus menjawab apa?? Kalau aku setuju, apa yang akan dikatakan oleh ibunda? Ayah, tolong tolak perjodohan ini.
Batin Wisatya.
"ayah, uwa. Perjodohan ini akan terjadi, tetapi dengan persetujuan dari ketiga ibu kami." ucap Widagda tiba-tiba.
Nyali ayahanda seketika itu ciut, mendengar perkataan putranya.
Tanpa aba-aba, Wisatya keluar tanpa berpamitan. Dalam hatinya merutuki ucapan Widagda yang tidak berguna.
"sialan!! Kenapa dia harus menyetujui rencana perjodohan itu!" gerutu Wisatya.
"kalau kau tak menerimanya, tidak ada gunanya kau berkata bijak seperti tadi." ucap Widagda.
Hal itu mengejutkan Wisatya.
"aku berkata seperti itu karena ingin menyenangkan hati uwa prabu. Jika dinalar, tak mungkin uwa akan menjodohkan kita diusia semuda ini. Lagipula nyimbok Gitya, putri uwa prabu, juga masih muda, dia hanya terpaut 1 tahun lebih tua dari kita." tambah Widagda.
"apapun alasanmu, aku tidak akan pernah mau dijadikan boneka!" sarkas Wisatya.
Ia pun pergi begitu saja dengan amarah yang masih membara.
"tidak berguna!!" gerutu Wisatya.
Wisatya, kau tidak mengerti maksudku dan sekarang kau malah marah padaku, kau pasti salah paham. Bencilah aku jika kau ingin membenciku.
Batin Widagda.
Sementara itu, Wisatya pergi ke kamarnya dan meluapkan emosinya di sana.
"ku kira dia adalah kakak yang bijaksana dan bisa dijadikan panutan, tapi pemikiranku itu salah! Dia seorang musuh dalam selimut, diam-diam ia ingin merebut tahta dariku!!" ucap Wisatya sambil memukul dinding kamarnya.
"tidak berguna kau Widagda!! Tidak berguna!!" teriak Wisatya kalap.
__ADS_1
Semenjak pernyataan Widagda yang terkesan sepihak, Wisatya sangat membencinya.
Jangan lupa like^^