
"ada apa raden?" tanya paman Margareja, selaku penunjuk jalan.
"kita akan segera sampai di perbatasan Gajahgitri, aku yakin kawanan itu sudah menunggu kita. Lebih baik kita menunggu matahari terbit agar lebih mudah untuk melawan mereka." ucap Widagda.
"maaf raden, tapi berkemah di sini pun berbahaya, banyak hewan buas yang sering berkeliaran di sini. Kalau saya menyarankan, kita harus tetap berjalan. Paduka tidak perlu khawatir, hamba dan ketiga kusir paduka adalah prajurit khusus yang ditugaskan untuk melindungi paduka sekalian." jawab paman Margareja.
"benar raden, jika keamanan gusti raden dan gusti putri sedang dalam bahaya, kami yang akan melindungi paduka sampai titik darah penghabisan." susul paman Haruyan, salah satu kusir.
"baiklah, aku percaya pada kalian berempat paman." jawab Widagda.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Mereka telah menempuh perjalanan selama hampir 24 jam dari istana. Kini mereka sudah dekat dengan perbatasan kerajaan Gajahgitri.
"kakang, apa kau tidak takut?" tanya Grudhaya.
"iya yayi, tentu saja aku takut. Para pembunuh itu sudah terkenal di dunia, mereka dikenal sebagai komplotan Anala yang artinya tidak punya hati. Banyak berita beredar kalau mereka adalah komplotan yang bisa membunuh siapapun, tanpa harus tahu siapa dan dari mana orang yang mereka bunuh itu yayi." jawab Widagda.
"lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Grudhaya.
"kita lihat saja nanti, tapi yang pasti senjata kita tidak boleh hilang dari genggaman. Seorang pemburu tidak akan bisa melukai singa tanpa sebuah senjata, meski hanya sepotong kayu." jawab Widagda.
Grudhaya mengangguk paham.
"pemburu itu akan tetap mati jika tidak mempunyai keberanian kang!" teriak Karnatya.
Rombongan itu pun terhenti.
"benar, pemburu membutuhkan senjata untuk melumpuhkan seekor singa, tapi jika sang pemburu tidak memiliki keberanian untuk menghadapi singa, pemburu itu hanya akan mati sia-sia." lanjut Karnatya.
"ya kakang, meski sang pemburu memiliki senjata yang lengkap, tapi tak ada keteguhan hati untuk melawan singa, ia akan tetap menjadi pecundang." tambah Kumbala.
Widagda tersenyum bangga pada kedua adiknya.
"selain itu, bukankah tanpa otot pemburu itu bisa menggunakan otak? Jika ia tidak punya senjata ia bisa menjebak singa itu bukan?" tanya Grudhaya.
"tentu saja kang, bahkan otot kita pun dikendalikan oleh otak." jawab Karnatya.
"baiklah, jadi sekarang aku sudah punya rival yang banyak dan sangat cerdik ya?" goda Widagda.
Mereka berempat pun tertawa bersama.
Namun, hal lain telah terjadi, ada seorang mata-mata yang melihat mereka.
"akhirnya saat yang ditunggu telah tiba. Singa-singa ini sedang kelaparan, bersiaplah wahai para pemburu." gumamnya sembari tersenyum miring.
Widagda mendengar suara itu. Ia pun merasa khawatir.
"paman, kita beristirahat saja di sini." ucap Widagda tiba-tiba.
"kenapa di sini raden? Sebentar lagi kita sampai di bukit tawangharja, itu perhentian pertama kita raden." ucap paman Margareja.
"ini perintah!" jawab Widagda tegas.
Perasaanku berkata kalau kita harus mendirikan tenda dan memikirkan rencana untuk melawan para Anala itu.
Batin Widagda.
Paman Margareja pun melaksanakan perintah. Paman Haruyan, paman Dentya, dan paman Padamara dibawah arahan paman Margareja mendirikan beberapa tenda sederhana untuk beristirahat.
"terima kasih paman. Oh iya, aku ingin semuanya berkumpul di sini." perintah Widagda.
Semua pun segera memasuki tenda Widagda.
Widagda mempersilahkan semuanya duduk.
"ada apa kang?" tanya Grudhaya.
"aku mendengar suara seseorang dari kejauhan, ia berkata kalau singa-singa yang kelaparan sedang menunggu para pemburu, ku rasa dia telah mendengar pembicaraan kita." ucap Widagda.
"lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Sasi Ukita.
"yang pasti menyiapkan sebuah rencana." jawab Rukmini.
__ADS_1
"apa rencanamu Widagda?" tanya Sekar Cendana.
"kakang, kita memang masih kecil, tapi kekuatan kita mampu mengimbangi mereka." ucap Kumbala menggebu-gebu.
"tidak sesederhana itu raden. Kita harus membuat rencana yang matang karena ini pertaruhan nyawa." jawab paman Dentya.
"paman Dentya benar, kita tidak bisa tergesa-gesa atau bertindak tanpa rencana." jelas Sekar Cendana.
"persenjataan kita lengkap bukan? Lagi pula keempat prajurit utama ada bersama kita. Paman Haruyan, paman Dentya, dan paman Padamara, serta paman Margareja adalah prajurit elit kerajaan kita, mengapa kita harus takut?" tanya Dayinta Basundara.
"gusti putri, jika seekor burung tidak ingin terperangkap dalam jebakan pemburu, maka ia harus pintar. Jika seekor beruang saja bisa tak berdaya didalam jeruji besi, bagaimana dengan nasib seekor burung yang lemah, gusti putri?" tanya paman Haruyan.
"aku mempunyai sebuah rencana." ucap Widagda.
"tapi ku ingin kalian semua mendengarnya dengan seksama. Mungkin ini rencana yang beresiko, tapi rencana inilah yang paling besar persentase berhasilnya." tambah Widagda.
"katakan saja gusti raden." pinta paman Padamara.
Widagda menarik napas dalam, ia pun menjelaskan rencananya.
Sekar Manthili merasa tidak yakin dengan keputusan itu. Ia khawatir.
Paman Margareja juga sedikit khawatir, tapi memang itulah cara terbaik untuk bisa menang melawan komplotan Anala.
Disisi lain, Sekar Kenanga merasa kalau dirinya yang akan jadi umpan. Tapi Widagda menyangkalnya.
Grudhaya juga memikirkan rencana yang sama.
Kumbala dan Karnatya juga menyetujuinya.
Rukmini, Sekar Cendana, Sasi Ukita, dan Dayinta Basundara juga sudah siap.
Mereka pun melanjutkan perjalanan berbekal rencana itu.
Widagda merasa tidak ada yang mendengar rencananya, tapi Widagda sudah membuat rencana lain jika rencana pertamanya gagal.
Mereka sampai di sebuah persimpangan, di sana ada papan kayu yang menuliskan Gajahgitri dan Magadra, masing-masing mengarah ke arah barat daya dan utara.
Melewati hutan Girimatya, mereka semakin waspada.
Namun, tak terasa mentari telah terbit, mereka telah sampai di pedesaan.
Widagda merasa heran dengan keadaan tersebut.
Sejauh ini belum ada tanda-tanda akan kedatangan mereka. Apa mereka sudah tahu rencanaku?
Hati Widagda bertanya-tanya.
Ya Widagda, mengapa komplotan itu belum juga menampakkan diri? Apa mereka ingin membunuh kita saat kita lengah?
Batin Sekar Cendana juga bertanya-tanya.
"gusti raden, lebih baik kita mencari makanan di sini." usul paman Margareja.
Widagda mengangguk.
Mereka pun mencari sebuah warung yang menyediakan berbagai makanan.
Setelah makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan, tapi ada seorang prajurit utusan raja Gadjah Mayang, penguasa kerajaan Gajahgitri.
"hormatku pada keturunan-keturunan Marthadipuran!" salam prajurit itu.
"ada apa?" tanya paman Dentya.
"Yang Mulia raja Gadjah Mayang memerintahkanku untuk membawa paduka sekalian ke istananya." jelas prajurit itu.
"sampaikan pada sang raja, kami berterima kasih atas tawaran yang diberikan, tapi kami harus segera melanjutkan perjalanan." jawab paman Margareja.
"paman prajurit, ku harap anda mengerti. Kami mohon pamit." ucap Widagda.
Mau tidak mau prajurit itu mengundurkan diri dan melaporkan pada rajanya bahwa rombongan itu menolak keinginannya.
__ADS_1
Widagda dan rombongannya kembali memacu kuda mereka.
"paman, berapa lama lagi perjalanan kita?" tanya Widagda.
"sekitar 12 jam lagi gusti raden, jika tidak ada halangan." jawab paman Margareja.
Setengah hari lagi. Sesuatu bisa saja terjadi selama 12 jam kedepan. Pikir Widagda.
Mereka terus melaju.
"paman, apa kita tidak bisa membuat kuda kita berlari?" tanya Widagda.
"mengapa raden, apa anda.."
"ya paman." potong Widagda.
"sesuai perintahmu raden." jawab paman Margareja.
"Grudhaya, Kumbala, Karnatya! Siapkan kuda kalian, kita akan berjalan lebih cepat!" perintah Widagda.
"Padamara, Dentya, Haruyan! Pacu kereta kalian dengan kecepatan tinggi!" teriak paman Margareja.
Semuanya mengangguk paham.
"berangkat!!" perintah Widagda.
Mereka pun memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Paling tidak hal itu akan memangkas waktu perjalanan mereka selama 4 jam.
Tak terasa 6 jam telah berlalu, rombongan itu sudah meninggalkan ibukota kerajaan Gajahgitri.
Dari kejauhan paman Haruyan melihat pepohonan yang berjajar, ia yakin bahwa itu adalah kawasan hutan Girimara.
"gusti raden!! Di depan sana sudah kawasan hutan Girimara!! Jika kita berhasil mencapainya, sudah dapat dipastikan kita akan selamat sampai ke asrama Begawan Jayenglugon!!" teriak paman Haruyan memberi tahu.
Widagda semakin bersemangat.
"tambah kecepatan kita!! Hyaak!!" teriak Widagda sembari terus memacu kudanya.
Mereka semakin dekat dengan kawasan hutan. Pepohonan yang berjajar rapih itu semakin jelas. Bahkan pepohonan yang nampak kecil semakin meninggi, seiring jarak yang semakin dekat.
Widagda melihat ada beberapa orang di sana.
Paman Margareja segera memberhentikan yang lain.
"ada apa paman? Apakah mereka adalah musuh?" tanya Widagda.
"kita tidak tahu kalau kita tidak memastikannya kakang." jawab Grudhaya.
"kita tidak boleh tergesa-gesa raden." ucap paman Haruyan.
"gusti raden, lebih baik kita waspada. Ambil pedang kalian dan kita harus mengambil jalan ke sebelah selatan, untuk menghindari mereka." jelas paman Margareja.
"dari berita yang ku dengar, para siswa Begawan Jayenglugon telah memasang beberapa pos untuk penjagaan. Mereka yang menjamin keselamatan kita, sekarang kita harus mencari pos itu." tambahnya.
Widagda pun membuka peta yang ia bawa sebelumnya.
"ada lima pos yang disiapkan untuk penjagaan. Di arah timur laut hutan, hanya ada 1 pos yang dibangun menyerupai suatu menara, berkibarkan bendera kebanggaan Bandarkawung, persisnya pos itu berada di bagian pohon yang tertinggi." ucap Widagda.
"kakang, pohon tertinggi itu ada di depan kita, merekalah penjaga pos itu." ucap Kumbala.
"tapi tidak ada menara atau bangunan apapun disana, kang. Bisa saja mereka adalah orang yang mengincar nyawa kita." jawab Karnatya.
"tapi lihatlah, ada bendera Bandarkawung disana!" teriak Grudhaya.
Widagda meminta pendapat dari paman Margareja. Paman Margareja tetap mengusulkan cara yang pertama. Paman Haruyan menyetujuinya, tapi paman Padamara dan paman Dentya mengusulkan untuk berjalan ke sana.
Adik-adiknya mengusulkan untuk mengikuti usul paman Padamara dan paman Dentya. Para putri hanya bisa berpasrah.
Keputusan Widagda adalah maju. Jika memang yang di sana adalah penjahat yang sedang menyiapkan jebakan, mereka siap menanggung resiko.
Benar saja, saat mereka semakin dekat, orang-orang yang ada disana berlari mendekati rombongan Widagda sembari membawa sebilah pedang.
__ADS_1
Bersambung...