
Di ruangan para putri.
"bagaimana ini nyi? Ketiga pangeran tampan telah menghilang, apa mereka akan baik-baik saja?" tanya Sekar Kenanga pada Rukmini.
Rukmini yang sedang asyik melukis pun menghentikan sementara kegiatannya.
Ia menoleh pada Sekar Kenanga yang sedang menunduk menghadap buku.
Aku harus jawab apa? Aku pun tidak tahu keadaan mereka.
Batin Rukmini.
"kita hanya bisa berdoa dan berharap agar mereka baik-baik saja." ucap Sekar Manthili tiba-tiba.
Hal itu membuat Sekar Kenanga dan Rukmini terkejut.
"yayi.." lirih Rukmini.
Meski aku punya firasat buruk tentang mereka aku tidak bisa memberitahukan hal itu pada saudaku yang lain. Kalau tidak, rahasia ini akan terbongkar.
Batin Sekar Manthili.
"iya nyi, kita hanya bisa berdoa, memohon keselamatan mereka." ucap Sekar Manthili sembari tersenyum.
"aku ingin sekali menyusul Kumbala, tapi bawahan senior Suryatmaja pasti akan menghadang kita." sela Dayinta.
Yang lain pun menoleh ke arah Dayinta.
"aku khawatir sekali dengan keadaan raden Karnatya. Jika saja aku tidak menyuruhnya meninggalkanku karena kesal pagi tadi, ia tidak akan seperti ini." ucap Dayinta.
Rukmini pun bangkit dari duduknya dan mendekati Dayinta.
"apa maksudmu? Kau tahu kalau yayi Karnatya akan pergi?" tanya Rukmini.
"iya nyi. Kami sempat bertemu pagi tadi, sebelum puja raden Karnatya mengajakku ke kebun untuk memetik bunga, lalu ia berkata padaku bahwa setelah puja ia ingin membicarakan sesuatu denganku." jelas Dayinta.
#Flasback On#
Pagi tadi di kebun bunga.
"Dayinta, setelah puja nanti, maukah kau ku ajak ke kebun ini lagi?" tanya Karnatya.
"untuk apa?" tanya Dayinta sembari memetik bunga.
"aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, ya hanya kita berdua seperti biasa." jawab Karnatya.
"aku tidak mau." ucap Dayinta.
Karnatya pun mendekati Dayinta.
"ayolah, ku mohon. Aku ingin menghabiskan sedikit waktu denganmu, hari ini hari istirahat, kita bisa bebas kemana pun kan?" bujuk Karnatya.
Dayinta menatap Karnatya dan berkata.
"kebiasaanmu itu masih sama saja ya, sukanya memotong pembicaraan seseorang." ucap Dayinta.
"maksudmu?" tanya Karnatya bingung.
"aku belum selesai bicara tadi dan kau langsung memotongnya dengan rengekanmu." jawab Dayinta.
"lalu apa kelanjutannya?" tanya Karnatya lagi.
"aku tidak mau menolaknya." jawab Dayinta sambil memalingkan wajahnya.
Karnatya tersenyum gembira.
Akhirnya, aku bisa menghabiskan waktu denganmu.
Batin Karnatya girang.
"baiklah, kalau begitu cepat selesaikan pekerjaanmu, puja akan segera dimulai." ucap Karnatya.
Dayinta kembali menatapnya.
"bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu padamu?" tanya Dayinta dengan nada menggoda.
Karnatya mengeryitkan dahi. Dayinta mengarahkan bola matanya ke keranjang milik Karnatya yang masih kosong.
Karnatya pun mengikuti arah pandang Dayinta dan nyengir kuda. Karena keranjang Dayinta sudah penuh, maka ia meninggalkan Karnatya begitu saja.
"eh... Dayinta!" ucap Karnatya.
"selesaikan pekerjaanmu, puja akan segera dimulai!" teriak Dayinta dari kejauhan.
__ADS_1
Karnatya pun menyelesaikan tugasnya.
Setelah puja berakhir mereka pun kembali bertemu di kebun yang sama.
"akhirnya kau datang juga." ucap Karnatya yang sedang duduk di sebuah gubug.
Dayinta mendekatinya dan berkata.
"maaf, aku tadi harus membantu nyimbok untuk membereskan ruangan, dan baru bisa kemari setelah selesai." ucap Dayinta.
"tidak apa-apa, justru aku yang harus minta maaf padamu." ucap Karnatya.
"maksudmu?" tanya Dayinta.
"ya sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu, tapi karena ada hal yang lebih penting. Aku harus menundanya, pertemuan ini harus ditunda dulu." jawab Karnatya.
"apa maksudmu? Apa yang lebih penting dariku?" tanya Dayinta.
"aku harus menyusul kakang Widagda." jawab Karnatya.
"untuk apa?" tanya Dayinta lagi.
"kami sudah lama tidak berlatih bersama, jadi..."
"jadi kau membuat janji palsu denganku?" potong Dayinta.
Karnatya bangkit dan mendekati Dayinta.
"tidak, aku tidak membuat janji palsu. Aku, aku, aku lupa kalau aku ada janji untuk berlatih bersama dengan kakang Widagda." Karnatya mencoba menjelaskan.
"apa yang sampai membuatmu lupa dengan janji pertamamu? Aku? Berarti aku tak pantas bersamamu." ucap Dayinta sembari pergi meninggalkan Karnatya.
"Dayinta, dengarkan aku." cegah Karnatya.
"katakan!"
"maaf, aku telah berbohong padamu. Sebenarnya bukan untuk berlatih, tapi kakang Widagda mengajakku untuk mencari kakang Grudhaya yang sejak tadi pagi keluar." jelas Karnatya.
Dayinta pun semakin emosi dan meninggalkan Karnatya tanpa sepatah kata pun.
Karnatya kembali mencegah Dayinta dan mencoba menjelaskan satu hal lagi, tapi Dayinta tidak ingin mendengarkannya.
"kumohon Dayinta! Dengarkan alasanku dulu!" pinta Karnatya.
"aku tidak ingin tahu alasanmu. Lebih baik segeralah pergi! Kakang Widagda pasti sudah menunggumu." ucap Dayinta sambil membelakangi Karnatya.
Sementara Dayinta masih berdiri ditempatnya sembari menahan air matanya.
Kenapa kau melakukannya, sebuah kesalahan telah kau lakukan raden. Aku akan terus mengingat hal ini.
Batin Dayinta.
Ia pun kembali ke ruangannya.
#Flashback Off#
Setelah menceritakan hal itu, Dayinta jatuh terduduk. Ia merutuki dirinya sendiri, mengapa ia harus mengusir Karnatya. Lihat, sekarang Karnatya malah menghilang.
Rukmini mengerti bagaimana perasaan Dayinta sekarang. Ia merendahkan tubuhnya dan mengusap air mata Dayinta.
"adik-adikku adalah pejuang sejati. Mereka adalah ksatria pemberani, tidak akan terjadi apa-apa pada mereka." ucap Rukmini mencoba untuk menenangkan Dayinta.
"nyi, andai aku tahu kalau raden Karnatya dan kakang Widagda ingin mencari kakang Grudhaya karena ia sedang berada dalam kesulitan, aku pasti akan membantunya. Tapi betapa bodohnya aku. Hanya karena masalah kecil, aku tersulut emosi dan membuat semuanya kacau. Aku yang bersalah atas hilangnya mereka nyi, aku yang salah." ucap Dayinta sembari menangis.
Sekar Manthili dan Sekar Kenanga mendekati kedua saudaranya.
"yayi, ini bukan salahmu. Ini semua takdir dari Yang Kuasa, kau tidak berhak menyalahkan dirimu, yayi." ucap Sekar Manthili pada Dayinta.
"yang dikatakan oleh nyimbok Manthili benar. Jangan menyalahkan dirimu sendiri." tambah Sekar Kenanga.
Mereka berempat pun saling berpelukan.
"nyi, apa kau tahu dimana nyimbok Cendana dan yayi Ukita?" tanya Sekar Kenanga pada Rukmini.
"ah, aku tidak melihat mereka. Tapi kalau tidak salah, mereka tadi berpamitan untuk mengambil air di sumur." jawab Rukmini.
"tapi bukankah persediaan air di ruangan kita masih banyak?" tanya Sekar Manthili.
"iya nyi, kemarin sore aku dan nyimbok Manthili yang mengisi gentongnya." ucap Dayinta.
Rukmini pun bangkit, diikuti ketiga saudaranya.
"lalu kemana perginya mereka?" tanya Rukmini.
__ADS_1
"apa jangan-jangan mereka mengikuti raden Kumbala dan senior?" tanya Sekar Kenanga.
"tidak, senior melarang kita untuk melakukan hal itu. Sekar Cendana tidak mungkin melanggarnya, tidak itu tidak mungkin." ucap Rukmini.
"tapi nyimbok Cendana adalah orang yang keras kepala, bahkan ia pernah melanggar perintah dari ayahanda." ucap Sekar Manthili.
"nyimbok Ukita juga orang yang sama seperti nyimbok Cendana. Mereka berdua adalah tuan putri yang memiliki kebiasaan buruk. Bersikap seenaknya, keras kepala dan suka melanggar aturan." tambah Sekar Kenanga.
Rukmini semakin khawatir dan mulai berpikir bahwa Sasi Ukita dan Sekar Cendana memang menyusul Kumbala.
"kalau itu benar, mengapa ia harus melakukannya?" tanya Rukmini.
"apa kau lupa? Nyimbok Cendana sangat mencintai raden Widagda. Ia bisa melakukan apapun untuknya, bahkan ia bisa menghadapi apapun demi keselamatan raden Widagda." jawab Sekar Kenanga.
"apa kau juga tidak ingat? Sewaktu kita berburu untuk pertama kali, ada seekor harimau betina yang menyerang kakang Widagda. Harimau itu menciptakan banyak luka padanya, dan siapa yang menyelamatkannya? Nyai Sekar Cendana." tambah Dayinta.
"setiap raden Widagda terluka saat berlatih, siapa yang selalu mengobatinya? Nyai Sekar Cendana." susul Sekar Manthili.
Hati Rukmini semakin tak karuan, pikirannya melayang kemana-mana.
Jika memang Sekar Cendana dan Sasi Ukita nekat menyusul Kumbala, apa yang akan terjadi pada mereka? Bukankah itu akan mengundang kemarahan senior Suryatmaja?
Batin Rukmini.
"apa yang sedang kalian bicarakan itu?" tanya Sekar Cendana saat melewati pintu.
Tampak juga Sasi Ukita yang berjalan di belakangnya.
"nyimbok?!" ucap Dayinta terkejut.
"kalian?!" ucap Rukmini, Sekar Kenanga, dan Sekar Manthili bersamaan.
"kenapa kalian terkejut melihatku dan yayi Ukita?" tanya Sekar Cendana kebingungan.
"ku kira kalian telah..." ucap Sekar Kenanga menggantung.
Sekar Cendana paham sekali dengan maksud adiknya itu.
"tidak, kami tidak mungkin melakukan hal itu. Meski hati kecilku ingin seklai melakukannya, aku tidak ingin senior marah dan membuat semuanya kacau." jawab Sekar Cendana.
"kami mengambil air tambahan dari sumur, ya meskipun hanya sedikit. Tapi nyai Cendana bilang, ia ingin melakukan sesuatu agar tidak teringat akan suaminya." ucap Sasi Ukita sembari menyenggol tangan kakaknya.
Sekar Cendana hanya tersenyum kecil.
Sekar Cendana pun melihat Rukmini yang menundukkan kepalanya, sepertinya ia merasa sangat bersalah sekali karena telah mengira bahwa Sekar Cendana melakukan hal yang salah.
Sekar Cendana mendekatinya dan berkata.
"sudahlah Rukmini, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan bertindak sembarangan, jangan dengarkan adik-adikku yang sok tahu tentangku. Aku tidak seperti yang dikatakan oleh mereka." ucap Sekar Cendana.
Rukmini memang merasa sangat bersalah dengan pemikirannya yang sampai diluar kendali.
"kalian bertiga sudah membuat Rukmini berpikir yang tidak-tidak tentangku, maka dari itu kalian harus mendapat hukuman dariku." ucap Sekar Cendana pada adik-adiknya.
"tunggu nyai! Aku tidak tahu kalau kau memang pergi ke sumur karena persediaan air masih banyak. Lalu jika melihat sikapmu yang keras kepala dan berdasarkan peristiwa beberapa tahun lalu, bisa saja kan kau.."
"itu sifat Sekar Cendana yang dulu! Sekar Cendana yang sekarang tidam seperti itu." ucapnya memotong ucapan Sekar Manthili yang mencoba membela diri.
"tapi kan, kami tidak tahu kalau kau sudah berubah." ucap Sekar Kenanga.
"cukup! Tidak ada alasan lain, hukuman akan tetap diberikan. Keputusanku sudah bulat!" ucap Sekar Cendana dengan tegas.
Hal itu cukup membuat Sekar Manthili, Sekar Kenanga, dan Dayinta mendelik ketakutan.
"Cendana, maafkan aku yang telah berburuk sangka padamu." ucap Rukmini.
"tidak, kau tidak salah. Aku yakin kau pasti tidak akan berpikir macam-macam jika mereka bertiga tidak meracunimu." ucap Sekar Cendana sambil menatap tajam ketiga adiknya.
Rukmini tersenyum.
"mereka juga tidak bersalah Cendana. Mereka mengatakan hal itu karena mereka tidak tahu, jadi jangan menghukum mereka." pinta Rukmini.
"tapi.."
"ku mohon!"
"baiklah, aku tidak akan menghukum mereka. Namun, jika mereka mengulangi kesalahan yang sama, maka hukuman sudah pasti akan diberikan." ucap Sekar Cendana.
Tak lama lonceng tanda makan siang dibunyikan.
"sudah waktunya makan siang, ayo kita makan. Setelah itu kita berdoa, agar semuanya berjalan lancar dan saudara-saudara kita segera ditemukan." ucap Sasi Ukita.
Mereka pun pergi ke ruang makan bersama-sama.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like^^