Widagda Kroda

Widagda Kroda
Tahun Kedua


__ADS_3

*) 13 tahun lalu


Caturwulan ketiga dan keempat telah terlalui. Bisa dibilang 8 bulan terakhir adalah waktu tersulit selama setahun pertama mereka di sekolah ini.


Di 8 bulan itulah para siswa diuji kecakapannya. Nilai yang bagus adalah gabungan dari berbagai aspek, seperti penguasaan ilmu pengetahuan, sikap, perilaku, dan tekad seorang Ksatria.


Widagda yang mengambil ilmu agama, politik, ekonomi dan seni mendapatkan nilai tertinggi. Kemampuan perangnya pun luar biasa, sayangnya ia kurang beruntung di taktik. Widagda cukup sukar membuat sebuah rencana yang tidak beresiko, itu membuatnya jadi sasaran empuk ejekan raden Sukmana.


Widagda masih menahan diri, ia bahkan menghentikan Grudhaya, Karnatya, dan Kumbala yang ingin membalas perilaku Sukmana yang tidak sopan. Namun, Sukmana mendapat ganjaran atas perbuatannya, ia mendapat nilai terburuk diaspek sikap dan perilaku dan dikategorikan dalam siswa spesial.


Di tanah lapang.


Seperti di hari pertama masuk, di hari terakhir masuk pun Begawan Jayenglugon mengumpulkan semua siswanya untuk memberikan pengumuman.


"aku bangga kalian menunjukkan yang terbaik di sini, ku lihat siswaku tahun ini adalah bibit unggul yang dimiliki bangsa ini. Namun, ada beberapa dari kalian yang harus meninggalkan asrama ini." ucap sang Begawan.


"hal itu sesuai dengan peraturan yang telah ku buat, bahwa jika ada siswa yang tidak berhasil lolos dari ujian di caturwulan ketiga dan keempat di tahun pertama, dia akan dikirim pulang." lanjutnya.


"maka dari itu murid kebanggaanku, Suryatmaja, akan membacakannya." perintah sang Begawan.


Suryatmaja pun membuka sebuah gulungan rontal, di dalamnya berisi nama siswa yang dikirim pulang.


"atas restu dan perintah dari Guruku, aku akan membacakan para pangeran dan putri kerajaan yang tidak lolos ujian di akhir tahun ini." ucapnya.


"yang aku bacakan di urutan pertama atau terakhir bukanlah seseorang yang mendapat nilai terburuk, nama ini di urutkan berdasarkan letak kerajaan asal mereka dari yang terjauh." lanjut Suryatmaja.


Ia pun membacakanya. Putra-putri kerajaan Bandarkawung tidak ada disana, sebaliknya ada pangeran dari kerajaan Kadiri, Kaliningrad, Pujang, dan Matataram yang harus dikirim pulang. Keempat kerajaan itu letaknya di utara Gajahgitri dan timur laut kerajaan Bandardawung terdahulu.


Ada juga beberapa putri dari kerajaan Kalinggam, Kutaboja, dan Wiraraja. Ketiga kerajaan itu berada di barat dan barat laut Gajahgitri.


Dari 59 hanya 38 siswa yang lolos ke tahun kedua, termasuk Sukmana, Harsaka, dan Kersana. Mereka menjadi semakin benci dengan Widagda beserta adik-adiknya.


Tak jarang Harsaka dan Kersana mengajak Widagda atau Grudhaya duel pupuhangga atau seni perang menggunakan ketahanan fisik, tapi dua teman Sukmana itu selalu kalah.


Setelah selesai membacakan nama-nama siswa yang akan pulang, Suryatmaja juga memberi pengumuman bahwa tahun kedua adalah tahun yang paling berat, dimana setiap siswa akan diuji secara langsung.


Selain itu, setiap bulannya akan ada duel maut antar siswa. Yang mendapat kemenangan disetiap duel akan mendapat predikat sebagai siswa terbaik di angkatan ini, sedangkan yang paling banyak mendapat kekalahan akan diberi hukuman, yaitu tambahan waktu belajar selama setahun.


Widagda merasa tertantang, dia memiliki hasrat memenangkan setiap pertandingan dan menjadi siswa terbaik. Namun, Sukmana pasti tidak akan membiarkan dirinya meraih kemenangan begitu saja.


Keesokan harinya.


Kumbala sedang mencari keberadaan Grudhaya. Sejak pagi buta Grudhaya meninggalkan ruangannya dan pergi entah kemana. Setelah puja Surya Bumi, Widagda juga tidak kelihatan. Karnatya yang tadi izin untuk mencari juga tak kunjung kembali. Kumbala benar-benar kebingungan.


Ia berkeliling seluruh asrama. Dari satu ruang ke ruang lain, bertanya pada orang-orang dan hasilnya nihil. Kumbala akhirnya melapor pada Suryatmaja tentang hilangnya ketiga saudaranya.


"mereka tidak mungkin hilang." sanggah Suryatmaja.


"tapi senior, aku sudha mencari mereka di setiap sudut asrama. Aku tidak menemukan mereka. Hari ini adalah hari untuk beristirahat kan? Tidak ada kelas sama sekali, tidak ada jadwal latihan, dan tidak...."


"kau keliru Kumbala. Hari istirahat adalah waktu yang tepat untuk berlatih." ucap Suryatmaja memotong pembicaraan Kumbala.


"kalau mereka bertiga pergi dari lingkungan asrama tanpa meminta izin dari pihak senior, maka hukuman yang pantas adalah diusir dari asrama." ucap Suryatmaja lagi.

__ADS_1


"tetapi kabur dari asrama adalah hal yang mustahil. Kau tahu asrama ini dikelilingi oleh benteng dengan penjagaan sangat ketat, tidak ada yang bisa masuk atau keluar tanpa izin resmi dari guru." lanjut Suryatmaja.


"lalu kemana mereka? Apa mungkin seseorang telah menyusup dan membawa mereka pergi?" tanya Kumbala lagi.


"Kumbala! Tenangkan hatimu, jernihkan pikiranmu! Jika seseorang telah berhasil menyusup ke asrama ini dan melukai siswa yang ada disini, maka ia akan dihukum cambuk atau lebih dari itu." jawab Suryatmaja.


"senior, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita akan mencari mereka lagi?" tanya Kumbala.


"iya. Jangan lupa membawa saudaramu yang lain, tapi jangan sampai hal ini bocor ke siswa lain. Ini hanya dugaan sementara, jangan ciptakan keresahan diantara siswa-siswi di sini." ucap Suryatmaja memperingati.


Kumbala pun segera melaksanakan perintah. Ia harus melakukannya dengan baik dan memastikan tiada yang curiga kalau Karnatya, Grudhaya, dan Widagda sedang tidak ada. Para tuan putri pun mengerti dan mengikuti arahan Kumbala.


Di lain tempat, Suryatmaja memanggil petinggi para pasukan keamanan dan bertanya keadaan sekitar asrama.


"bagaimana keadaan diluar sana, apa ada seseorang atau sesuatu yang mencurigakan?" tanya Suryatmaja.


"tidak chanttrik, semuanya aman dan terkendali. Tiada orang mencurigakan ataupun yang membahayakan." jawab jenderal itu.


"lalu apa kau tahu kemana perginya tiga pemuda dari Bandarkawung?" tanya Suryatmaja lagi.


"maaf chanttrik, aku tidak tahu. Tapi pagi buta tadi aku melihat seorang lelaki tangguh sedang berlatih di tanah lapang paling timur. Setelah itu ada tiga orang lagi yang menyusulnya, setelah itu mereka pergi ke arah utara dan aku tidak tahu lagi kemana tujuan dan apa yang akan mereka lakukan." jelas sang jenderal.


"tiga orang?" tanya Suryatmaja heran.


"iya chanttrik."


"bagaimana ciri-cirinya?" tanya Suryatmaja memastikan.


Sang jendral pun menjawab pertanyaan Suryatmaja. Ia menjelaskan dengan detail apa yang sudah ia lihat, meski tidak tahu siapa ketiga orang itu, tapi Suryatmaja paham betul siapa yang tengah dimaksud oleh jendral pasukannya.


Setelah mendapatkan kesimpulan, Suryatmaja menyuruh sang jenderal kembali bertugas.


"baiklah, terima kasih atas informasinya. Kau melaksanakan tugasmu dengan sangat baik, sekarang kau bisa kembali bertugas." ucap Suryatmaja.


"sesuai perintah." jawab sang jendral dengan tegas.


Lalu jendral itu pun pergi meninggalkan Suryatmaja dan tak lama kemudian Kumbala, Dayinta, Sasi Ukita, Sekar Kenanga, Sekar Cendana, dan Rukmini pun datang.


Suryatmaja kemudian menceritakan kembali informasi yang telah ia dapat dari jendralnya.


Kumbala dan keenam saudara perempuannya terkejut.


"lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Sasi Ukita.


Suryatmaja pun membuat sebuah rencana. Ia memberi tugas pada masing-masing dari mereka. Banyak hal yang harus dilakukan, mulai dari menjaga rahasia ini untuk sementara waktu, memastikan tidak ada yang curiga, dan kabar tentang peristiwa ini tidak boleh sampai pada Begawan Jayenglugon sebelum Suryatmaja sendiri yang melaporkannya.


Setelah paham dengan tugasnya, mereka pun melaksanakan rencana itu.


Kumbala, Suryatmaja dan satu orang chanttrik lainnya, Palasara, mencari Karnatya, Grudhaya, dan Widagda. Sedangkan enam putri tadi kembali ke ruangannya untuk menjaga rahasia.


Kumbala, Suryatmaja, dan Palasara pun bergerak ke arah utara. Suryatmaja juga sudah memberi tahu jendralnya agar mengawasi keadaan sekitar. Siapapun tidak boleh mengetahui bahwa ada enam siswa yang menghilang dari asrama.


Mereka pun sampai di tempat yang dimaksud oleh jendral tadi, yaitu tanah lapang di kawasan paling utara asrama.

__ADS_1


"rencana selanjutnya adalah mencari sebuah jejak. Jika Widagda dan Karnatya bersama mendapatkan jejak, kita pasti juga bisa mendapatkannya." ucap Suryatmaja.


Mereka pun berpencar dan mulai mencari jejak. Jejak kaki atau pun jejak lain yang mengarah pada Grudhaya, Karnatya, dan Widagda.


Tiba-tiba Kumbala memanggil Suryatmaja dan Palasara.


"senior!" teriaknya.


Suryatmaja dan Palasara segera mendekat dan bertanya.


"apa kau mendapatkan sebuah tanda?" tanya Suryatmaja.


"iya, lihatlah." jawab Kumbala.


Ada untaian benang berwarna merah, persis seperti pakaian yang dikenakan Grudhaya tadi malam.


"ia meninggalkan jejak dengan sangat lihai. Karnatya dan Widagda pasti sengaja tidak membawanya karena mereka tahu akan ada bala bantuan yang datang." ucap Palasara.


"iya kawan. Tidak sia-sia ilmu taktik yang telah diajarkan oleh guru." tambah Suryatmaja.


"jadi tunggu apalagi, ayo kita ikuti jejak ini!" ajak Kumbala.


"baiklah." ucap Suryatmaja dan Palasara serentak.


Tak disangka, ternyata ada seseorang yang sedang mengikuti mereka. Ia tampak mengendap-endap dan sesekali memperhatikan percakapan tiga orang tadi.


Dari tempatnya, jendral Gadhing Kuning dapat melihat setiap gerak gerik orang itu, ia pun berusaha mendekati orang itu. Ia melakukannya secara langsung, meski bisa saja ia memerintahkan salah satu bawahannya. Ia hanya ingin melaksanakan perintah dari orang yang ia hormati.


Ketika sudah dekat, jendral Gadhing Kuning segera menyekap dan menangkap orang misterius itu, tapi nampaknya orang tadi memberontak dan melawan. Sang jendral pun kewalahan dan melepaskan orang tadi. Namun, ia tidak membiarkan orang itu pergi begitu saja.


"kau sudah berani mengikuti orang yang dihormati di asrama ini, maka dari itu aku harus menangkapmu! Menyerahlah, aku akan mengampunimu." ucap sang jendral.


"heh, apa urusanmu. Aku tidak mau menuruti ucapanmu, memangnya kau itu siapa? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya?" tanya orang itu.


"kau tidak perlu tahu siapa aku, lebih baik beri tahu aku siapa dirimu sebenarnya." jawab sang jendral.


"hahahahaha!" orang itu hanya tertawa.


"jangan jadi mayat tanpa identitas karena itu akan menyusahkanku." ucap jendral.


"ow, kau menantangku? Baiklah, ayo kita selesaikan ini secara ksatria!" tantang orang itu.


"tantangan diterima." jawab jendral.


Mereka pun memasang kuda-kuda dan mulai mencari celah untuk menyerang.


"kau saja yang menyerang, aku tidak ingin menjadi dijuluki orang rendahan karena menyerang orang lain yang lebih lemah dariku." ucap orang itu.


"cih! Tak perlu banyak omong, kita maju bersama dan lihat siapa yang akan menjadi pemenang." jawab jendral.


Mereka pun saling menyerang, pertempuran teknik pupuhangga terjadi di sana.


Setiap pukulan mereka tampaknya sangat dahsyat dan gerakan yang lincah membuatnya menjadi pertempuran yang epik.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like^^


__ADS_2