Widagda Kroda

Widagda Kroda
Kemarahan Sang Putri


__ADS_3

Keesokan harinya, Widagda memutuskan untuk segera menemui Sekar Cendana. Sedari kemarin hatinya tidak tenang, sepanjang malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan apa yang menjadi beban pikiran Sekar Cendana.


Setelah membersihkan diri, Widagda bergegas menuju kamar Sekar Cendana. Namun, ia tidak menemukan Sekar Cendana di sana. Ia memutuskan untuk mencarinya ke taman.


Di taman, Widagda juga tidak menemukan Sekar Cendana. Hatinya tak karuan, kemudian ia pergi ke tempat berlatih.


Di sana pun Widagda tidak menemukan Sekar Cendana, hatinya semakin panik. Akhirnya ia menuju kamar ibundanya, ratu Kentringayu.


Satu jam yang lalu di kamar ibunda Kentringayu.


"ibunda!" panggil seseorang dari luar kamar.


Ibunda Kentringayu pun segera menyuruhnya masuk.


"oh, ternyata kau, putriku. Ada apa?" tanya ibunda Kentringayu.


"aku ingin bercerita tentang putra ibu, raden Widagda." jawabnya.


"baiklah. Sekarang duduklah dan ceritakan keluh kesahmu padaku." ucap ibunda Kentringayu.


Wanita tadi melaksanakan perintah.


"apa yang ingin kau bicarakan. Emm, apa tentang masalah semalan?" tanya ibunda membuka percakapan.


"bukan hanya itu ibunda. Sebenarnya aku memang sudah kesal dengan sikap raden Widagda." jelas wanita itu.


"memangnya kesalahan apa yang telah Widagda lakukan putriku?" tanya ibunda Kentringayu.


"ibunda tahu kan? Kemarin adalah hari ulang tahunku, beberapa minggu lalu raden Widagda mengingatnya, bahkan ia berjanji untuk memberiku sebuah hadiah yang indah, tapi kenyataannya. Dia bahkan tidak menemuiku atau mengucapkan sepatah kata pun padaku. Dia melupakan hari istimewa itu ibu." jelasnya seraya menangis.


Ibunda Kentringayu pun paham dengan kesedihan wanita itu. Ia memeluknya seraya mengelus rambutnya yang panjang.


"mungkin Widagda terlalu sibuk dengan latihannya, hingga ia melupakan hari istimewamu Nak. Ya, Widagda memang bersalah, tapi apakah kau tidak ingin memaafkannya?" tanya ibunda Kentringayu.


"aku tidak yakin ibunda. Aku tidak tahu, aku bisa memaafkannya atau tidak. Dia telah melanggar janji yang telah ia buat sendiri. Bukankah itu sebuah kesalahan yang fatal?" jawab wanita itu.


"iya putriku. Seorang ksatria yang tidak menepati janjinya, dianggap pecundang yang tidak memiliki perasaan. Bahkan dia tidak pantas disebut sebagai seorang ksatria." jawab ibunda.


"namun, memberikan kesempatan kedua tidaklah salah Nak." tambah ibunda.


Kemudian, terdengar seseorang sedang berteriak.


"ibunda! Ibunda!" panggil seseorang dari kejauhan.


Ibunda Kentringayu segera keluar kamarnya dan mendapati Widagda sedang berteriak memanggilnya.


"apa yang terjadi? Mengapa kau berteriak seperti itu? Dan mengapa napasmu tidak teratur?" tanya ibunda.


"ibunda, aku tidak apa-apa. Aku hanya mencari Sekar Cendana. Apa ibunda tahu dimana dia? Dia tidak ada di kamarnya, ditaman juga tidak ada. Aku juga sudah pergi ke tempat latihannya, tapi ia juga tak ada di sana ibu. Ibu, cepat katakan padaku, dimana Sekar Cendana." ucap Widagda khawatir.


Ibunda Kentringayu menjadi kebingungan dengan sikap Widagda.


"tenanglah putraku. Tarik napasmu dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Tenangkan hatimu, agar ibu bisa menerima ucapanmu Nak." jelas ibunda.


"tidak ibu, sekarang bukan waktu yang tepat untuk tenang, aku butuh Sekar Cendana. Aku perlu tahu dimana keberadaannya sekarang. Ibunda, katakan padaku dimana Sekar Cendana." ucap Widagda panik.


"apa dengan kepanikanmu sekarang, kau akan menemukan Sekar Cendana? Apa dengan kebingungan, kau akan berhasil mendapat jawaban?" tanya ibunda Kentringayu.


Widagda sadar akan kesalahannya. Ia mengusap wajahnya kasar dan mencoba menenangkan diri.


"maaf ibunda. Aku terlalu khawatir dengan Sekar Cendana." jelas Widagda.


Ibunda Kentringayu tersenyum dan berkata,


"kekhawatiranmu memang masuk akal, tapi jika berlebihan itu juga tidak baik, putraku. Kalau kau sudah tenang, masuklah ke kamar ibu." jawab ibunda.


Widagda mengangguk.

__ADS_1


Di dalam kamar ibunda Kentringayu, ada seorang wanita, yang tak lain adalah Sekar Cendana.


Widagda merutuki kebodohannya.


Mengapa aku bodoh sekali, seharusnya aku tidak bersikap berlebihan karena tidak menemukannya di tiga tempat. Istana ini cukup luas jika untuk bersembunyi.


Batin Widagda.


Siapa juga yang menyuruhmu untuk mencariku, dasar! Batin Sekar Cendana kesal.


Widagda pun duduk di samping ranjang di kamar itu.


"Sekar Cendana, ada yang sedang mencarimu sampai bersikap seperti akan kehilanganmu." ucap ibunda Kentringayu lembut.


"ibunda mengejekku?" tanya Widagda.


"siapa yang mengejekmu? Aku hanya berbicara tentang fakta, putraku." jawab ibunda dengan senyum semi mengejek.


Sama saja ibu!


Gerutu Widagda dalam hati.


"ibunda, aku tidak ingin menemui orang itu. Aku juga tidak ingin dia disini." ucap Sekar Cendana tiba-tiba.


"ibu tahu permasalahanmu, Nak. Tapi tidak ada salahnya untuk memberikan kesempatan kedua bukan?" bujuk ibunda.


"aku tahu kau marah padaku karena kejadian semalam, tapi aku tidak sengaja melakukannya Sekar Cendana." ucap Widagda membela diri.


"kesalahanmu bukan hanya sekedar kejadian semalam, raden Widagda." jawab Sekar Cendana.


Widagda merasa tak nyaman ketika Sekar Cendana memanggilnya dengan sebutan 'raden'.


"apa kesalahku yang lain? Aku tidak tahu dimana letak kesalahanku, Sekar Cendana." ucap Widagda.


"itulah sifat yang membuatku kesal padamu. Kau selalu meminta maaf, tapi kau bahkan tidak tahu apa kesalahanmu." sarkas Sekar Cendana.


"baiklah, aku akan pergi dari sini, jika kau tidak ingin menemui atau berbicara padaku." ucap Widagda.


Hal itu membuat Sekar Cendana naik pitam. Ia bangkit dari duduknya dan segera mendekati Widagda.


Widagda menaikkan sebelah alisnya.


Tadi katanya tidak ingin berbicara denganku, kenapa sekarang dia malah mendekatiku?? Pikir Widagda.


"raden Widagda. Aku tahu, kau sedang berpikir bahwa, mengapa aku mendekatimu bukan? Aku tidak suka kau mempermainkan diriku, raden Widagda!" ucap Sekar Cendana tiba-tiba.


Widagda semakin tidak paham dengan arah pembicaraan Sekar Cendana.


Mempermainkan? Apa lagi yang kau katakan itu Sekar Cendana?!


Gerutu Widagda dalam hati.


"oh, jadi kau benar-benar tidak sadar akan kesalahanmu raden Widagda?" tanya Sekar Cendana dengan tegas.


Widagda hanya menggelengkan kepala.


Sekar Cendana menutup matanya geram dan menghela napas.


"kau ini ya! Sudah berkali-kali membuat kesalahan yang sama, tapi tidak pernah menyadarinya! Sungguh, terbuat dari apa hatimu itu, raden Widagda?" tanya Sekar Cendana.


Widagda hanya diam. Pikirannya berkecamuk, sebenarnya apa yang sedang dikatakan oleh Sekar Cendana, kesalahan apa yang sudah ia perbuat secara tidak sengaja. Oh Tuhan, tolonglah Widagda.


"kau benar-benar kurang ajar!" gerutu Sekar Cendana dan langsung pergi meninggalkan Widagda dengan amarah yang memuncak.


Widagda semakin kebingungan.


"apa yang dimaksud oleh Sekar Cendana? Kesalahan apa yang telah aku perbuat? Ya Tuhan!! Aku benar-benar kebingungan!" gerutu Widagda.

__ADS_1


Widagda pun mengejar Sekar Cendana.


"tunggu dulu!" ucap Widagda sembari menahan tangan Sekar Cendana.


"lepaskan!" berontak Sekar Cendana.


"tidak akan!" tegas Widagda.


"apa yang kau inginkan? Ingin menambah kesalahanmu?" tanya Sekar Cendana sinis.


"aku tidak peduli dengan kesalahan apa yang telah aku perbuat, tapi aku ingin tahu, mengapa dirimu sepertinya sangat membenciku?" tanya Widagda.


"karena kesalahanmu! Aku membencimu karena kesalahanmu!" jelas Sekar Cendana.


Widagda pun melepaskan tangan Sekar Cendana.


"baiklah. Kalau kesalahan itu yang membuatmu benci padaku, sekarang beri tahu aku, apa kesalahanku?" pinta Widagda.


"kau cari tahu saja sendiri. Aku tidak sudi mengatakannya padamu." ucap Sekar Cendana dan langsung meninggalkan Widagda begitu saja.


Widagda kembali menahannya.


"apa sebenarnya maumu?" tanya Widagda.


Raut wajahnya berubah menjadi sedikit marah.


"apa pedulimu!" jawab Sekar Cendana.


Jujur saja, melihat api amarah di mata Widagda adalah hal yang mengerikan.


"katakan padaku apa kesalahanku atau.."


"atau apa? Kau akan membenciku juga?" potong Sekar Cendana.


"tentu saja. Kau marah padaku tanpa alasan yang jelas, lalu mengapa aku tak bisa membalasnya?" tanya Widagda dingin.


Sekar Cendana menjadi sedikit ketakutan. Sorot mata Widagda yang tajam saat marah, membuatnya seperti singa yang kelaparan dan bersiap untuk menerkam mangsanya.


"apa kau lupa dengan janji yang kau berikan padaku dua minggu lalu? Apa kau lupa, kemarin itu hari apa?" tanya Sekar Cendana berurai air mata.


'deg'


Hati Widagda merasa seperti dipukul oleh sebuah gada.


Widagda pun melepaskan tangan Sekar Cendana.


"sekarang kau tahu kan dimana letak kesalahanmu?" tanya Sekar Cendana.


Sekar Cendana pun berlalu, meninggalkan Widagda.


Widagda merasa dirinya berdosa. Seorang Widagda melupakan hari istimewa dari calon istrinya dan melanggar janji yang ia buat. Sungguh keterlaluan.


Pantas saja kau begitu marah denganku Sekar Cendana. Pikir Widagda.


Ia pun segera menenui paman perdana menteri. Widagda ingin seluruh istana ini dihias dengan sangat indah. Paman perdana menteri pun melaksanakan perintah. Sementara itu, Widagda mencari hadiah yang sudah ia janjikan pada Sekar Cendana di rumah kakek Jaya.


Ku harap kau mau memafkan aku Sekar Cendana. Batin Widagda berharap.


Di malam hari.


Semua persiapan telah selesai. Seluruh penjuru istana telah dihias dengan sangat indah, tak lupa banyak lampu yang dipasang.


Widagda meminta bantuan ibunda Kentringayu untuk membawa Sekar Cendana ke aula istana. Di sana Widagda memberikan lukisan dewi drupadi beserta kelima pandawa sebagai permintaan maaf.


Awalnya Sekar Cendana tidak yakin akan memafkan Widagda, tapi karena Widagda bersikeras dan terus membujuknya sampai membuat semua ini untuknya. Sekar Cendana pun luluh, ia memafkan Widagda.


Jangan lupa like^^

__ADS_1


__ADS_2