
"dalam undang-undang kerajaan, siapapun yang menyerang orang tidak bersenjata, sementara penyerangnya membawa senjata dan berhasil melukai yang diserang dengan atau tanpa alasan yang jelas, ia akan dihukum mati Widagda." jelas Sekar Cendana.
Widagda yang mendengar penjelasan Sekar Cendana itu menjadi sangat sedih.
"apa tidak ada keringanan?" tanya Widagda.
"dari buku yang pernah ku baca, keringanan diberikan oleh korban penyerangan. Pelaku bisa saja dibebaskan dari hukum mati, tapi tak bisa dibebaskan dari pengadilan." jawab Sekar Cendana.
"maksudmu pelaku itu akan tetap dihukum?" tanya Widagda.
Sekar Cendana hanya mengangguk.
"apa hukuman yang akan diberikan oleh pengadilan?" tanya Widagda.
"di buku itu tercantum bahwa hukuman yang diberikan tergantung pada keputusan penasehat agung. Namun, penasehat agung hanya diberikan beberapa pilihan yang berat juga, seperti diasingkan atau dicabut gelar kebangsawanannya. Yang lebih berat lagi di putus salah satu anggota geraknya." jawab Sekar Cendana.
Sebenarnya Sekar Cendana tidak tega mengatakan hal itu, tapi memang itulah yang harus ia katakan.
Widagda menghela napas berat. Pikirannya sudah tidak terang lagi, hanya ada kebingungan dan amarah.
Apa yang harus aku lakukan?? Aku tidak ingi yayi Wisatya dihukum!
Batin Widagda.
"Widagda, tenangkan hatimu. Yang terpenting sekarang adalah kau berusaha untuk membela Wisatya agar dia mendapatkan hukuman seringan mungkin." ucap Sekar Cendana.
"semua keputusan ada di tangan penasehat agung, kalau kau bisa membuktikan kalau Wisatya tidak sepenuhnya bersalah, maka penasehat agung akan memberikan hukuman yang lebih ringan." tambah Sekar Cendana.
Widagda merasakan angin segar. Ia pun menyiapkan beberapa pernyataan di pikirannya sembari menunggu acaranya dimulai.
Tak lama beberapa menteri mulai berdatangan dan menempati kursi masing-masing. Setelah itu ayahanda pun datang, semua yang duduk, bangkit dari tempatnya untuk memberikan penghormatan. Setelah ayahanda duduk, barulah yang lain ikut duduk.
Setelah itu ayahanda langsung memerintahkan paman perdana menteri untuk berbicara.
Dia memberikan pengumuman kalau akan ada dua hal penting yang akan disampaikan oleh rajanya. Setelah itu dia juga mengatakan kalau seseorang yang berada di tengah alun-alun bukanlah seorang pangeran, tapi penjahat.
Semua rakyat langsung riuh, mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Ibu Lambangsri sangat malu karena semua orang di sana membicarakan putra tertuanya itu. Namun, ibunda Kentringayu dan ibunda Gitandri menenangkannya. Widagda pun hampir membantah perkataan paman perdana menteri, tapi Sekar Cendana mencegahnya.
Setelah itu paman perdana menteri juga berkata kalau Wisatya telah menyerang raden Widagda yang tak bersenjata menggunakan pedangnya, maka dari itu ia pantas mendapatkan hukuman mati.
Rakyat yang mendengar itu langsung mengolok-olok Wisatya, bahkan beberapa diantaranya merutuki ibunda Lambangsri.
Widagda yang dapat mendengar dengan jelas semua itu langsung tersulut emosi, ia benar-benar tidak terima adiknya dan ibunya menjadi bahan olok-olok seperti itu. Sekar Cendana tetap menahan Widagda agar tidak bertindak sembarangan.
"telingamu pasti seperti sedang terbakar, hati dan pikiranmu juga memanas, tapi tetaplah tenang. Jika kau bertindak sembarangan, Wisatya tidak akan terselamatkan." ucap Sekar Cendana.
Widagda meredam amarahnya
Setelah itu, paman perdana menteri meminta agar ayahanda memberikan penjelasan selanjutnya.
Ayahanda bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan ke tengah alun-alun mendekati Wisatya.
Widagda menajamkan indra penglihatannya .
Apa yang akan ayahanda lakukan?
Batin Widagda.
Ayah berdiri di depan putranya. Widagda menyiapkan indra pendengarannya.
"Wisatya!" panggil ayah lirih.
Yang dipanggil pun mendongak.
__ADS_1
"aku tak akan pernah melupakan kejadian hari ini! Hari ini akan menjadi sejarah yang kelam bagi keturunan Marthadipuran! Hari ini akan dikenang sebagai hari musnaning kasuran atau hari musnahnya kebatilan!" ucap ayah dengan lantang.
Apa yang akan ayah lakukan?!
Batin Widagda
"sesuai dengan undang-undang yang berlaku, menimbang pembelaan korban, dan mendengarkan saran dari guruku, maka dewan pengadilan telah membuat sebuah keputusan!"
Seorang prajurit memberikan sebuah gulungan.
"seperti yang kalian tahu bahwa salah satu putraku telah melanggar hukum tentang penyalahgunaan senjata! Dia telah menyerang putraku yang lain, yang tak bersenjata menggunakan pedangnya! Dia juga melukai lengan dan dada saudaranya itu! Balasan yang sesuai dengan perbuatan kejinya itu adalah hukuman mati! Namun, berdasarkan pembelaan dari korban dan beberapa pendapat dari berbagai pihak, dewan pengadilan mengambil keputusan yang mutlak!" ucap ayah sembari membaca gulungan itu.
Semua orang menahan napas. Mereka menanti apa keputusan yang dibuat oleh dewan pengadilan.
"menurutku, raden Wisatya akan diasingkan." ucap salah satu prajurit di dekat Widagda.
"entahlah, kita tidak tahu menahu tentang hal itu. Tidak perlu mengambil keputusan yang tidak berguna deh!" ucap temannya.
"iya!" jawab prajurit tadi.
Hati Widagda semakin sakit mendengar semua itu.
"Wisatya Sang Panembahan, penasehat agung telah memutuskan untuk menjatuhkan hukuman padamu. Apa kau siap menerimanya?" tanya ayahanda.
"siap!!" jawab Wisatya lantang.
"dewan pengadilan negeri Bandarkawung, menjatuhkan hukuman.." ucap ayahanda menggantung.
Jantung Widagda berdegup kencang.
Ayah! Ku mohon, jangan siksa adikku!
Batin Widagda.
"Ya Tuhan, selamatkan adikku dari hukuman yang berat!" Pinta Widagda.
Sekar Cendana semakin tak tega dengan keadaan Widagda.
Jangan tanyakan lagi bagaimana keadaan ibunda Lambangsri. Beliau sangat takut dengan keputusan yang diambil oleh dewan pengadilan, beliau juga tidak tega melihat putranya dijemur dibawah terik matahari yang menyengat dengan keadaan tangan dan kaki yang dirantai.
Saat ayahanda ingin membacakan kelanjutannya, paman Wasi membisikkan sesuatu.
"kami punya kabar buruk Yang Mulia! Penyakit prabu Karsa sedang kambuh, tapi tabib istana sedang pergi. Tidak ada yang bisa membuat racikan obatnya kecuali putri sulungnya." ucap paman Wasi yang sampai ke telinga Widagda.
Ayahanda memerintahkan prajurit itu untuk membawa Sekar Cendana kembali ke istana. Mau tidak mau Sekar Cendana mengikuti perintah.
"Widagda, berjanjilah padaku. Apapun keputusan yang dibacakan oleh ayahanda, kau harus mampu menerimanya. Jangan melawannya, Widagda." ucap Sekar Cendana.
"tapi mengapa?" tanya Widagda.
"hal itu dibuat untuk keadilan. Jadi kau harus menerimanya." jawab Sekar Cendana.
Ia pun segera mengikuti paman Wasi kembali ke istana.
Sekar Cendana, aku tidak bisa menjanjikan hal itu. Batin Widagda.
Sekar Cendana mendengar suara hati Widagda.
Widagda, ku mohon berjanjilah padaku. Ku mohon! Batin Sekar Cendana.
Ayahanda pun melanjutkan aktivitasnya.
"jadi, kau masih menunggu hukumanmu kan?" tanya ayah pada Wisatya.
"tentu saja ayah. Aku sudah tidak sabar menanti hukuman mati." jawab Wisatya dingin.
__ADS_1
"ini bukan hukuman mati, Wisatya. Ini hukuman yang lebih berat dari hukuman mati." jelas ayah.
Wisatya tampak biasa saja. Dirinya sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi. Di hatinya hanya ada dendam yang membara pada Widagda.
"jadi, apa keputusannya ayah? Kenapa kau tidak segera membacakannya?" tanya Wisatya.
"aku hanya ingin kau mengerti, bahwa aku masih menyayangimu Wisatya." jawab ayah.
"menyayangiku? Lucu sekali!" ucap Wisatya.
Ayahanda masih dalam batas sabar.
"putra kesayanganmu adalah kakang Widagda. Aku, yayi Grudhaya, yayi Kumbala dan yayi Karnatya tidak pernah kau anggap sebagai putramu." ucap Wisatya.
Ayahanda juga masih sabar.
"oh iya, nyimbok Rukmini adalah putri kesayanganmu juga kan? Lagi pula dia adalah satu-satunya putrimu." ucap Wisatya.
"aku tidak pernah menuntut kasih sayang darimu, bahkan ibundaku dan ibunda Gitandri tetap sabar ketika melihat kau bermesraan dengan ibunda Kentringayu. Banyak waktumu yang kau habiskan dengan ibunda Kentringayu beserta putra putrinya, tanpa memperdulikan perasaanku, perasaan ibundaku, atau perasaan saudara-saudaraku!!" teriak Wisatya.
Seketika itu ayahanda menampar pipi Wisatya.
Semua yang ada sangat terkejut. Yang duduk di tenda khusus pun bangkit. Airmata ibunda Lambangsri lolos, membasahi pipinya.
Hati Widagda sangat sakit, rasanya seperti tertusuk pedang berkarat. Tak terasa air matanya turun.
Adik-adik Wisatya dan putra ibunda Gitandri merasa sakit hati. Apa yang dikatakan oleh Wisatya memang benar. Selama ini ayahnya hanya memperhatikan Widagda dan Rukmini. Sedangkan mereka seperti tidak dianggap.
Ibunda Gitandri dan ibunda Lambangsri pun merasakan hal yang sama. Mereka memang hanya selir, tapi mereka juga butuh kasih sayang seorang suami.
Ayahanda mencoba menenangkan diri. Kesabarannya telah mencapai puncak.
"ya Wisatya. Ucapanmu itu benar! Ayahmu ini memang lelaki yang tidak becus, ayah yang tidak berguna, dan suami yang tidak bertanggung jawab! Ayahmu mengakui semua itu, Wisatya." jawab ayahanda.
Wisatya tersenyum.
"ayah, jika kau ingin menghukumku, hukum saja aku. Tapi tolong perbaiki kesalahanmu itu. Buat ibunda Lambangsri dan ibunda Gitandri merasakan perhatian seorang suami. Bahagiakan adik-adikku dengan kasih sayang seorang ayah. Walaupun aku tidak pernah merasakannya." ucap Wisatya.
Ayahanda pun memeluk erat putranya itu.
Suasana yang semula tegang menjadi berselimutkan haru.
"maafkan ayahandamu ini, Wisatya! Maafkan aku!" ucap ayah.
"iya ayah. Aku sudah memaafkan ayah." jawab Wisatya.
Setelah itu ayahanda melepaskan pelukannya.
"dengan berat hati, aku menjatuhkan hukuman pengasingan selama 20 tahun padamu, putraku!!" ucap ayah dengan lantang.
Wisatya tersenyum.
"aku menerimanya ayah!!" jawab Wisatya.
Widagda hanya diam. Dia membisu seketika, tidak ada yang bisa ia sampaikan.
Wisatya pun berpamitan dengan ketiga ibundanya dan semua saudaranya, kecuali Widagda. Di dalam hatinya masih membara dendam dan kedengkian.
Wisatya pun menjalankan hukumannya hari itu juga.
Setelah itu, ayah memberikan pengumuman bahwa kerajaan Bantarkawung dan kerajaan Bandardawung telah bersatu, menjadi kerajaan Bandarkawung.
Seluruh rakyat menyambut baik keputusan itu.
Jangan lupa like^^
__ADS_1