
Pernikahan berlanjut sampai selesai. Para tamu juga sudah mulai meninggalkan istana.
Acara pernikahan memang tidak terlalu meriah karena hanya orang-orang penting di ibu kota saja yang datang, jadi acara berlangsung dengan cepat.
Setelah pernikahan selesai Araka, dan Auroura di anta oleh tuan Alex, dan kaisar Alfi ayah dari Auroura ke kamar yang sudah di siapkan untuk mereka berdua, sebelum mereka pindah ke rumah yang akan mereka tempati berdua.
"Sementara kalian tidur di kamar ini dulu" ucap tuan Alex.
"Jadi kami akan tidur bersama gitu" pekik Auroura yang mendengar ucapan kakeknya.
"Ya tentu saja, mulai sekarang kalian akan tidur berdua dan lima hari lagi kalian akan tinggal berdua" jelas tuan Alex membuat Auroura tambah terkejut karena harus tinggal bersama Araka.
"Kalian masuklah untuk istirahat kalian pasti sudah lelah" ucap Alexander.
"Kalau begitu kami permisi masuk dulu" Araka bersama Auroura langsung masuk.
"Apa apaan ini, kenapa kasusnya banyak bunga" ucap Auroura terlihat kesal.
"Ada apa kenapa berisi sekali?" tanya Araka santai, berjalan ke arah lemari ingin mengambil baju ganti.
"Apa kau tidak lihat ini ha? untuk apa coba kasur di kasih banyak bunga seperti ini" ocehannya menunjuk kasur yang terdapat bunga mawar berbetuk love, namun Araka tak peduli dengan ucapannya dan langsung masuk ke kamar mandi membuat Auroura bertambah kesal.
"Dasar sialan! apa kau tidak mendengar kan ku?" pekik Auroura yang melihat Araka seakan tak peduli dengan ucapannya.
Auroura tampak kesal menunggu Araka yang belum keluar dari kamar mandi.
"Kenapa kau lama sekali, kau pikir kau doang yang ingin ganti baju?" ucap Auroura.
"Aku mandi dulu tentu saja lama" jawab Araka santai.
"Sudah minggir, jangan menghalangiku" Auroura mendorong tubuh Araka, dan langsung masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai ganti baju Auroura langsung berbaring di atas tempat tidur tanpa menyadari ada Araka di sampingnya.
Setelah berbaring cukup lama, Auroura berbalik kemudian dia baru menyadari kalau dia tidak sendirian berbaring di kasur.
"Hei, apa yang kau lakukan tidur di kasur?" ucap Auroura yang melihat Araka di samping nya.
"Tentu saja tidur emang ngapain lagi" jawab Araka santai.
"Kau kan bisa tidur di sofa" Auroura duduk dan melihat Araka yang masih memejamkan mata.
"Apa kau melihat ada sofa di sini?" tanya Araka yang juga ikut duduk.
Auroura melihat sekeliling dan memang benar tidak ada sofa sama sekali.
"Baik, kau boleh tidur di kasur tapi jangan dekat-dekat karena aku belum mengakui mu sebagai suamiku" jelas Auroura memberi batas di tengah mengunakan bantal.
"Hei apa kau dengar!, kesal Auroura kerena Araka tidak merespon.
"Aku punya nama, jadi panggil aku dengan namaku saja tak perlu kau panggil hei!" jawab Araka dingin.
"Kau juga memanggil ku dengan kau, kau lagi dan kau lagi" jawab Auroura "jika kau panggil aku dengan namaku, aku juga akan memanggil mu dengan namamu" tidak mau kalah, Auroura juga minta Araka memanggil namanya juga.
__ADS_1
"Baik, aku akan memanggilmu Auroura atau Roura mulai sekarang" jawab Araka mengalah.
"Nah begitu, aku juga akan memanggilmu Araka atau ara aja biar simpel" jawab Auroura tersenyum merasa menang dari Araka.
Araka menaikan sebelah alisnya medengar panggilan yang di sematkan Auroura. "Apa maksudmu Auroura memanggil ku ara?" tanya Auroura.
Auroura yang mendengar Araka hanya tertawa kecil.
"Kalau begitu kau eh_ maksudku Araka kau boleh tidur di sini, tapi tidak boleh melewati pembatas mengerti?" jelas Auroura.
"Kenapa harus dikasih pembatas?" tanya Araka.
"Karena aku belum mengakui mu sebagai suamiku" jawab Auroura santai.
"Kenapa kau tidak mengakui ku? dan bagaimana cara agar kau mau mengakui ku?' tanya Araka.
"itu besok pagi kita bahas aku ngantuk mau tidur" setelah itu Auroura langsung tidur membelakangi Araka.
Setelah menyelesaikan berbicara Auroura sudah tertidur. Melihat Auroura tertidur Araka juga tertidur.
Malam hari, saat tidur pun Auroura tidak bisa diam, hingga melewati batas yang di buatnya, tampa sadar dia menjadikan tangan Araka sebagai bantal.
Araka yang merasa tangannya di jadi kan bantal langsung melihat kesamping ke arah Auroura.
"Teryata buka mulut saja tidak bisa diam, sedang tidur pun tidak bisa diam" batin Araka tersenyum sambil menyelimuti tubuh Auroura.
Keesokan paginya Auroura membuka mata dan menyadari kalau dia sudah berada di atas tubuh Araka.
"Ah..–, teriak Auroura memukul wajah Araka.
"Harusnya aku yang bertanya?, dan lagi kau harus memanggil namaku jangan hanya mengucap kau saja" balas Auroura tak mau kalah.
"Terserah kau saja aku mau cuci muka dulu" setelah mengucapkan itu Araka pergi ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit kemudian, Araka keluar dan terlihat Auroura yang telah menunggu.
"Kemari lah, ada yang ingin ku bahas" ajak Auroura, Araka langsung duduk di sebelah Auroura.
"Pertama sebaiknya kita mengenal satu sama lain dulu, ya kalau masih ada yang belum bisa di cerita tentang diri sediri tidak apa karena masih permulaan." jelas Auroura kali ini dengan nada biasa saja tidak seperti kemarin yang teriak-teriak. "Mengenal seperti apa dirimu, sifat dan hobi mu" lanjutnya.
Araka pun menceritakan tentang dirinya. Seperti makanan apa yang di sukai, kebiasaan Araka, dan perjalanannya mulai dari dia di panti, latihan, sampai mencari keberadaan orang tua kandungnya.
"Jadi Sampai sekarang belum ketemu" tanya Auroura yang ikut prihatin.
"Belum, hanya kotak ini yang bisa menjadi petunjuk, namun belum bisa di buka" Araka menunjukkan kotak yang di tinggalkan ibu.
"Kotak apa ini? kenapa aku belum pernah melihat bahan kayu yang sangat berat ini?." Auroura mengambil kotak itu dan melihat-lihat kotak.
"Lambang apa ini? seperti sayap!?" Auroura menunjukan gambar yang ia temukan ke Araka.
"Apa gimana ini bisa muncul gambar!" Araka tampak bingung karena kotaknya muncul sayap tapi hanya sebelah.
Tiba tiba cahaya emas terang muncul dari kota saat Araka mengambil kembali kota itu. Saat cahaya itu hilang muncul sayap emas sempurna.
__ADS_1
"Araka lihat muncul sayap emas" Auroura menunjuk gambar sayap emas yang baru muncul.
"Apa yang terjadi? kenapa sekarang muncul satu pasang sayap" Araka tampak kebingungan dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"hah... sepertinya masih tidak bisa dibuka" Araka berusaha membuka kotak itu namu masih tak bisa di buka.
"Biar ku coba, Auroura juga berusaha mem buka kotak itu namun hasilnya tetap sama.
Setelah lama berpikir bagaimana kotak itu bisa muncul gambar sayap, Araka kembali menyimpan kotak itu. Kemudian menatap Auroura yang dari tadi menatapnya.
"Apa sudah puas menatapku?" tanya Araka membuat Auroura tersadar.
"Siapa yang memandangi mu? aku hanya penasaran dengan kotak itu" jawab Auroura mengelakkan karena ketauan memandangi Araka.
"aku akui kau memang lumayan tampan tapi masi terlalu muda dan aku belum bisa menerima seseorang yang baru bertemu" batin Auroura.
"Sudahlah, sekarang giliran kau yang ceritakan tentang dirimu" karena tadi Araka sudah menceritakan tentang dirinya sekarang giliran Auroura.
"Sebelum itu sebaiknya kita buat panggilan dulu biar lebih enak dari pada hei, kau " saran Auroura.
"Bukan kah semalam sudah? tanya Araka.
"Iya aku tau, tapi ini juga untuk memulai semuanya" Jawab Auroura, dan Araka menyetujuinya.
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Raurao bagaimana?" tanya Araka.
"Roura terdengar cukup bagus, hem_ selera mu cukup bagus, lumayan" puji Auroura, "kalau begitu aku akan memanggil dengan Araka saja."
"Terserah Roura saja yang penting kau senang" jawab Araka tersenyum membuat Auroura tanpa sadar juga tersenyum.
"Aku akan menceritakan tentangku mungkin hanya sedikit yang bisa ku beri tau" Auroura mulai mengalihkan pembicaraan karena merasa senang dan dia tidak ingin Araka menyadari bahwa dia senang.
Auroura senang karena ini pertama kalinya ada orang yang yang membuat nama panggilan khusus padanya. tak mau kesenangannya disadari Araka dia langsung menceritakan tentang dirinya.
"Aku adalah seorang guru di akademi sihir kekaisaran, orang mengenalku sebagai jenius nomor satu karena di usia 9 tahun aku bisa dengan mudah meningkatkan energi sihir. Tingkat energi sihir ku berada di tingkat master. Aku tidur sedikit tidak bisa diam he..he.." Auroura sedikit tertawa malu menceritakan tentang tidur nya yang tak bisa diam.
"Apanya hanya tak bisa diam sedikit, apa yang dia maksud tak bisa diam sedikit itu Samapi memeluk tubuh orang?. tapi aku akui kau memiliki bakat yang luar biasa." Batin Araka.
"Aku memiliki sifat dewasa dan aku juga punya hewan pendampingan" jelas Auroura dengan bangga mengatakan kalau dia dewasa.
"Dewasa? maksudmu sifat suka teriak-teriak tidak jelas itu dewasa" tanya Araka, memuat Auroura meliriknya dengan tajam.
"Apa kau tidak percaya' kesal Auroura.
"Iya dewasa Sampai membuka baju seseorang" sindir Araka.
Perkataan Araka membuat Auroura malu mengingat kejadian di malam itu saat dia menjebak Araka. Tangan Auroura reflek menampar mulut Araka. Araka yang terkejut kerena Auroura tiba² memukulnya dengan sangat cepat memuat Araka menangkap tangan Auroura.
"Apa yang kau lakukan?, tanya Araka masi menahan tangan Auroura.
"Itu karena kau mengatakan yang tidak²" kesal Auroura mau memukul Araka dengan tangan satunya namun ditahan Araka juga.
Auroura yang memberontak dengan sekuat tenaga membuat mereka terguling di atas kasur degan posisi berhadap hadapan.
__ADS_1
Bersambung.....