World Destroyer Battle

World Destroyer Battle
keluarga baru


__ADS_3

Perjalanan terus berlanjut sampai malam hari pun tiba, mereka sudah sampai di sebuah kota, ya kita itu adalah kota Don. kota yang terlihat inda namun dengan penduduk yang tidak terlalu padat.


Saat di gerbang kota, terlihat para prajurit yang langsung mempersilakan mereka masuk, tidak seperti orang-orang yang juga ingin masuk namun harus di periksa


"Selamat datang tuan walikota, tuan Eric" ucap penjaga gerbang memberi hormat pada mereka, Eric pun hanya mengaguk, dan terus berjalan melewati mereka.


Saat dalam perjalan melewati kota, terlihat banyak warga yang memberikan hormat saat kereta kuda mereka lewat.


Sampai tibalah mereka di kediaman keluarga tuan Miller, dan di sambut seorang pria terlihat seumur tuan Eric. "selamat datang ayah, apa perjalanannya lancar?" tanya pria tersebut menyambut tuan Miller, dan tersenyum Sambil melihat Araka, yang ada di samping ayahnya "dia siapa yah" tanya nya menunjuk Araka.


"Kita masuk dulu kita akan bahas di dalam" perintah tuan Miller dan masuk kedalam rumah, para pelayan dan prajurit memberi hormat menyambut mereka.


Di ruang tamu keluarga tuan Miller Don, sudah berkumpul keluarga dari tuan Miller "Kel di mana Claudia?" tanya tuan Miller, kepada anaknya yang bernama Maikel Don.


"Dia sudah tidur yah, apa aku perlu membangunkannya" jawab menantunya, istri dari Maikel.


"Tidak perlu, biar kan dia tidur" ucap tuan Miller, "baik lah, aku akan memperkenal kan kenapa kalian, ini anak angkat ku, Araka Don" tuan Miller memperkenalkan Araka pada mereka.


"Uhuk... uhuk..huk" Maikel yang sedang makan kue di meja sampai tersedak, mendengar ucapan sang ayah yang mengadopsi seorang anak berusia 5 tahun.


"Ini minum dulu" ucap istri nya yang bernama aulia. Maikel pun meminum air yang diberikan oleh istri nya.


"Kenapa ayah tidak bilang kalau mau mengadopsi anak?" tanya Maikel.


"Aku akan menceritakan semua perjalanan ku mulai dari pergi hingga pulang" Jawab tuan Miller.


Lalu tuan Miller menceritakan perjalananya. Mulai dari pertemuan dengan Araka, mengadopsi Araka, sampai perjodohan Araka dengan cucu temannya.


"Ayah, apa ayah gila? menjodohkan mereka saat mereka masih kecil" tanya Maikel, pada ayahnya yang menjodohkan Araka yang masih kecil.


"Aku tidak masalah om" jawab Araka.


"Panggil kak Maikel saja, kau sekarang telah menjadi bagian dari keluarga ini" terang Maikel tersenyum kearah Araka.


Araka pun mengangguk kan kepalanya. Sepertinya keberadaan Araka di terima dengan senang hati di keluarga tuan Miller.

__ADS_1


Sepertinya Maikel setuju saja dengan Ayah nya mengangkat Araka menjadi anaknya, tapi Maikel terlihat tidak setuju pada perjodohan Araka. Karena baginya biarlah anak yang memilih jodohnya sendiri dan tugas orang tua hanya mengawasi dan menasehati.


"Apa tidak ada paksaan dari ayah tentang perjodohan Han ini?" tanya Maikel pada Araka dengan serius.


"Tidak, ini adalah keinginan ku sendiri kak" Jawab Araka dengan tegas.


"Tapi menikah itu harus ada perasaan cinta, harus mengenal satu sama lain, dan juga haru memiliki ikatan yang kuat antara sepasang kekasih" jelas Maikel, pada adik angkatnya


"Perasaan bisa tumbuh seiring waktu, dan ikatan akan terjalin saat keduanya sudah bersama" balas tuan Miller, menatap tajam pada Maikel, membuat Maikel langsung diam.


"Karena sudah malam, sebagai nya kita istirahat dulu" lanjut tuan Miller, lalu membawa Araka ke kamarnya.


Pagi hari,


rumah tuan Miller.


Terlihat Araka yang sedang berkeliling rumah bersama Eric. Sesampainya di halaman belakang rumah, Araka yang sedang berjalan menikmati pemandangan, di tabrak dari belakang hingga membuat perempuan kecil yang terlihat lebih tua satu tahun darinya itu terjatuh.


"Aduh, siapa si yang menabrak ku" omel perempuan kecil itu yang sedang berdiri di bantu oleh pelayan dan juga Eric," om Eric siapa anak laki-laki ini? dan kenapa ada di sini?" tanya perempuan kecil tersebut.


"Maksud om Eric, dia adalah om kecil yang di cerita ibu tadi pagi" ucap Claudia yang terlihat terkejut mendengar ucapan dari Eric.


Dia kira om barunya terlihat lebih besar darinya, tapi ternya malah lebih kecil darinya. Benar-benar tidak sesuai dengan yang ia bayangkan.


"Betul nona, namanya Araka Don" ucap tuan Eric, memperkenalkan Araka pada Claudia.


"Araka!, aku Claudia Meita senang berkenalan denganmu" ucap Claudia, menyodorkan tangannya dan disambut oleh Araka yang tersenyum ramah ke arah Claudia.


"Permisi nona muda ,tuan muda, dan tuan Eric. Makanan sudah siap waktunya sarapan" ucap pelayan yang menghampiri mereka.


"Baik, kami akan segera ke sana" setelah mengucapkan kata itu mereka berjalan ke ruang makan. Di sana sudah ada tuan Miller, Maikel, dan juga istrinya.


"Ayo cepat duduk dan sarapan," ucap tuan Miller, saat melihat Araka dan lainnya datang


"sepertinya kalian sudah saling kenal, jadi tidak perlu berkenalan lagi, jadi kita langsung sarapan saja" ajak tuan Miller.

__ADS_1


"Kakek setelah sarapan aku mau belajar tentang sihir" ucap Claudia, yang sedang minum susu. Lalu ia melihat ke arah Eric "bagaimana om mau ngajarin gak?" tanya Claudia kepada Eric.


"Baik, saya mau nona, sekalian mengajari tuan muda Araka juga," terang Eric "nanti jam 9 kita kumpul di tempat latihan tentara kota Don. Kita akan belajar dasar-dasar Tetang sihir dan cara mengunakannya" jelas Eric, lalu langsung pamit pergi untuk mempersiapkan ruangan untuk mereka belajar.


"Kalian juga bersiaplah" perintah tuan Miller pada anak dan cucunya. "eehm,' Claudia pun mengaguk dan langsung berlari ke kamarnya.


"Kamu tidak bersiap Araka? tanya tuan Miller pada anak angkatnya.


"Tidak yah begini saja, aku akan menunggu claudia didepan" ucap Araka dan langsung pamit.


Di tempat latihan para prajurit kota Don, Araka dan Claudia bersama Eric pun tiba di sana. Terlihat banyak prajurit yang sedang latihan berpedang, dan sihir. Mereka terus berjalan sampai di sebuah pondok sederhana tapi terlihat menawan.


"Kalian duduk la di sana, aku akan mengambil buku Tetang sihir dulu" perintah Eric, pada keduanya dan langsung pergi.


Setelah Eric pergi, Claudia bertanya pada Araka tetang pertemuan ya dengan sang kakek. Araka pun menceritakan tentang perjalanan nya dari mulai bertemu dengan tuan Miller, perjodohan, sampai saat ini.


"wow, jadi kau sudah punya istri?" tanya Claudia dengan polosnya, "jadi, aku juga punya bibi dong paman kecil" sambung claudia dengan semangat. Karena sang ayah tidak memiliki saudara jadi dia tidak punya paman dan bibi, oleh karena itu dia sangat bersemangat.


"Siapa yang punya istri? dan siapa yang kau sebut paman kecil hah?" balas Araka dengan kesal pada Claudia, karena menyebutnya paman kecil.


"Tentu saja kau, memang siapa lagi paman ku" jawab Claudia, dengan nada pelan dan terlihat seperti ingin menangis.


"Hei.. hei jangan menangis, aku hanya bercanda" jelas Araka, karena Claudia tiba-tiba saja menangis "baiklah, kau boleh memanggil ku paman kecil" pasrah Araka, karena Claudia tidak juga berhenti menangis.


"Janji ya" jawab Claudia, yang mulai berhenti menangis.


"Iya aku janji, sekarang lap air mata mu" Araka memberikan kain pada Claudia.


"Terima kasih" Jawab Claudia, dan segera mengelap air matanya.


Tak lama Eric pun datang membawa kertas dan buku tebal "ada apa dengan kalian? seperti nya kalian terlihat bahagia" ucap Eric, sambil menahan tawa melihat Claudia yang terus menempel pada Araka, dan Araka yang terlihat pasrah.


Setelah itu Eric mulai menceritakan tentang sihir dan cara menggunakannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2