
Tiba-tiba Araka dikejutkan dengan pedang yang sudah ada di depan matanya.
Saat sedikit lagi mengenai Araka pedang itu berhenti dan mereka sudah berada di tempat yang berbeda.
Tempat yang di mana semua gelap tidak ada apa di tempat itu. sesaat kemudian tempat gelap itu berubah menjadi padang rumput yang luas.
Saat tempat itu terang, baru nampak lah keadaan Araka dan juga Auroura. Terlihat pedang Auroura masih di depan mata Araka dan terlihat Auroura yang tidak bisa bergerak karena tangan kakinya di ikat rantai.
"Apa yang terjadi? tepat apa ini dan rantai ini? tanya Auroura yang terkejut.
Auroura terkejut karena kejadian barusan mulai dari pedang Auroura yang didepan mata Araka, sampai Auroura yang sudah terikat, kejadian itu terjadi sangat cepat mungkin kurang dari satu detik atau pas satu detik.
Araka yang dari tadi diam kini mulai berbicara "ini adalah dimensi yang aku ciptakan saat latihan," ucap Araka menjentikkan jarinya membuat rantai yang mengikat Auroura lepas.
Auroura yang mendengar penjelasan Araka tampak terkejut, karena hanya orang-orang yang sudah melewati level kaisar yang serangannya mampu merusak/membuat robek dimensi. dan ada juga orang yang memiliki sihir spesial yang mampu mempengaruhi dimensi.
"Apa kau juga memiliki sihir spesial yang dapat mempengaruhi celah dimensi?" tanya Auroura penasaran dengan kemampuan Araka.
"Tentu saja aku punya, ayo kita mulai lagi" ucap Araka mengeluarkan pedang.
Araka melesat ke depan Auroura yang belum siap yang belum siap, dia menebasnya tepat di tubuh Auroura.
Auroura yang kaget tiba-tiba mundur dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Kalau begitu aku juga akan serius" ternyata dari tadi Auroura belum serius.
Auroura mengeluh energi sihir yang sangat besar, energi itu bahkan bisa menghancurkan area yang luas.
Araka yang melihat itu juga kaget, kerena dia kira sebelumnya Auroura sudah serius.
Tanpa aba-aba pedang sudah ada di hadapan Araka.
"Sepertinya sudah tidak sempat" batin Araka.
Srikng' kuli Araka terkena tebasan meski dia sudah mengunakan teleportasi.
Kulit yang terkena tebasan tersebut sembuh. Auroura yang melihat sedikit terkejut karena luka Araka seketika sembuh, dia kira itu memakan waktu beberapa detik.
"Angin empat penjuru" teriak Auroura mengangkat tangannya.
__ADS_1
Setelah Auroura mengucapkan nama tehnik munculah angin dari empat sisi Araka. Angin ****** beliung yang besar muncul dari langit, sepasang angin mengandung suhu panas dan sepasang lagi suhu dingin.
Angin-angin itu memutari Araka berulangkali,
angin yang berputar terus membuat suhu di area lingkaran berubah-ubah.
Akibat suhu yang berganti-ganti membuat Araka tak bisa fokus, saat Araka mencoba melakukan teleport namun teleport itu gagal dan membuat angin itu semakin besar.
"Percuma saja kau berusaha, teleport mu tidak akan berfungsi karena angin itu sudah mengunci mu" ucap Auroura berjalan menuju tempat Araka terkurung, "kalau bisa juga angin itu akan ikut berteleport, jadi apa kau menyerah?" tanya Auroura dengan senyum manisnya.
Dengan terpaksa Araka menyerah "baik aku menyerah" pasrah Araka, "sekarang bisa kau hilang kan tehnik ini?" tanya Araka.
Dengan cepat Auroura menghilangkan angin itu dan tertawa penuh kemenangan.
Araka yang melihat hanya tersenyum, melihat Auroura yang lompat-lompat bahagia karena menang, padahal itu hanya latihan.
Araka tehnik dimensinya, dan saat ini mereka sudah berada di halaman belakang rumah.
"Roura apa kau lapar? tanya Araka.
Auroura yang di tawari tersenyum dan mengangguk.
Di kamar.
"Huh... tadi itu benar-benar melelahkan, tapi seru" gumam Auroura yang tengah berendam melepas lelah.
Di dapur terlihat Araka yang telah menyelesaikan masakannya. tidak berselang lama Auroura juga sudah turun.
"Kau makanlah duluan, aku ingin mandi terlebih dahulu" perintah Araka menyuruh Auroura makan duluan, dan Auroura pun duduk dengan patuh.
Setelah Auroura menunggu beberapa menit akhirnya Araka turun juga.
"Roura kenapa belum makan?" tanya Araka yang ikut duduk di depan Auroura.
"Tentu menunggu dirimu, sudah ayo makan" jawab Auroura mengajak makan.
Mereka menikmati makan yang ada. Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar untuk istirahat.
"Roura, panggil Araka yang tengah sandaran pada sandaran kasur tepatnya di samping Auroura.
__ADS_1
"Mmm... ada apa?" tanya Auroura yang berada di samping Araka.
"Kau kan guru di akademi, jadi apa kau kenal dengan siswa bernama Claudia Meita?" tanya Araka.
"Mau apa kau bertanya tentang dia?" bukanya menjawab Auroura malah ikut bertanya dengan ekspresi terlihat sedikit murung.
"Dia adalah keponakanku" jawab Araka tersenyum melihat ekspresi wajah Auroura yang juga ikut bersandar di sandaran kasur. "Jangan bilang kau cemburu hah?" menaikan alisnya.
"Siapa yang cemburu aku hanya penasaran kau tau dari mana namanya, itu saja" jawab Auroura memalingkan wajahnya yang memerah, "bodohnya aku kenapa aku bertanya yang tidak-tidak, Apa aku beneran sudah jatuh cinta?" batin Auroura yang malu karena sepat bertanya pada Araka dengan kesal.
"Sudah untuk apa memalingkan wajah, jadi apa kau kenal dengannya?" tanya Araka menahan tawa melihat tingkah istrinya.
"Kenal, dia adalah salah satu murid paling berbakat. Jadi dia adalah keluargamu?" tanya Auroura yang tidak tau kalau Claudia adalah ponakan Araka.
"Iya, dia anak dari kakak ku" jawab Araka, Auroura pun mengangguk mengerti. "Aku cuman mau tanya kemana dia? soalnya dia tidak hadir di hari pernikahan kita" tanya Araka.
"Dia melakukan misi jadi mungkin 7 hari lagi baru kembali" jawab Auroura, yang sudah kembali kedalam selimut. "Aku mau tidur sudah ngantuk, hoam..., selamat tidur" ucap Auroura memejamkan mata.
"Selamat tidur" balas Araka yang juga terlelap.
Lima hari telah berlalu kini Araka dan Auroura tengah bersiap untuk ke akademi. Selama lima hari ini mereka menghabiskan waktunya dengan latihan dan juga belajar masak.
"Roura apa sudah siap?" tanya Araka yang sudah berpenampilan rapi dengan jubah berwarna hitam.
"Hmm.. sebentar lagi" jawab Auroura yang tengah berganti baju.
ceklek' pintu ruang ganti terbuka menampilkan sosok Auroura yang mengenakan celana dan baju panjang, dengan rambut terurai.
Penampilan Auroura dengan rambut terurai membuat Araka terpesona.
"Ada apa? kenapa melamun? ayo pergi" ucap Auroura yang ingi keluar kamar.
Ucapan Auroura menyadarkan Araka yang terpesona, "sebaiknya rambut mu di ikat" ucap Araka menahan tangan Auroura.
Auroura yang mendapat saran mengangguk, dan mengikat rambutnya agar tidak terlalu terurai seperti tadi.
"Ayo berbakat, ajak Araka.
Bersambung...
__ADS_1