
Mereka menikmati hidangan yang ada di atas meja.
"Roura, kau ini benar² tidak mencerminkan sikap seorang putri ha.. ha.. ha.." ejek Araka yang tadi melihat Auroura makan seperti seorang yang belum makan selama seminggu.
"Araka kau—" ucapan Auroura terhenti akibat tangan Araka yang tiba-tiba menyentuh wajah nya Auroura.
"Jagan bergerak, perintah Araka yang membersihkan pipi Auroura yang kotor karena dia makan dengan sangat lahap Sampai mengotori pipinya.
Tindakan Araka itu tidak membuat Auroura marah, dia hanya menatap Araka yang telah selesai membersikan sisa makanan yang menempel di pipinya.
Araka yang telah selesai membereskan makana dan ingin pergi membawa piring kotor ke dapur namun tidak jadi karena melihat Auroura yang melamun.
"Hei, teriak Araka menepuk bahu Auroura yang mengagetkannya.
Auroura yang terkejut langsung berdiri melihat Araka yang menatapnya.
Sesaat tatapan mereka bertemu, namun Auroura langsung menundukkan kepalanya.
"Kau pasti sedang memikirkan aku kan makanya kau melamun" Araka tersenyum memainkan sebelah alisnya membuat Auroura melotot mendengar ucapan Araka. "Oh aku tau kau pasti sudah jatuh cinta padaku kan'' sambung Araka mendekatkan wajahnya ke hadapan Auroura.
"Tidak ada yang memikirkan mu" bentak Auroura mendorong Araka dan langsung pergi degan cepat.
"Apa yang kukatakan salah?" Araka duduk dan tampak kebingungan "apa yang ada di buku yang di berikan om Eric itu bohong? tapi katanya buku ini 100% bisa mendapatkan cinta dari orang yang kita cintai" gumam Araka mengeluarkan buku berjudul 100% cinta dari balik bajunya.
🌀flashback on🌀
Dalam perjalanan menuju ke ibu kota kekaisaran, tiba-tiba Eric memberikan buku pada Araka.
"Tuan muda ini buku untuk tuan muda agar dapat membuat hubungan tuan muda dan calon istri tuan semakin dekat" Eric menyerahkan buku kepada Araka.
"100% cinta!? apa ini benar-benar berguna?'' tanya Araka.
"Tentu saja berguna, sudah simpanlah" Perintah Eric.
Araka pun menyiapkan buku itu, namun pikirannya masih tertuju pada buku berjudul 100% cinta.
"Hah.. bodoh amatlah, untuk apa aku memikirkannya" batin Araka.
Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan kembali, setelah sempat berhenti untuk beristirahat.
🌀flashback off..🌀
Araka kembali menyimpan buku itu, kemudian membawa piring ke dapur untuk di cuci. Semetara Araka mencuci piring, di sisi lain Auroura terlihat kembali ke kamar dan langsung rebahan di kasur.
Di kamar, Auroura tampak kembali melamun, entah apa yang dia pikirkan. Setelah cukup lama melamun tiba-tiba dia berteriak, "ah..., apa aku jatuh cinta padanya?'' Auroura berdiri dan menepuk-nepuk pipinya yang terlihat lembut.
__ADS_1
Kemudian Auroura menutup wajahnya dangan batal berusaha menghilang pikirannya yang berisi bayangan wajah Araka.
Siang hari, di rumah Araka dan Auroura, tepatnya halaman belakang, terlihat Araka yang sedang berlatih, "sihir api, api penyucian" teriak Araka menjulurkan tangannya dan melebarkan jari-jarinya.
Api besar berwarna emas sedikit putih menyembur keluar kearah pohon besar, namun anehnya pohon itu tidak terbakar sedikitpun.
Kejadian barusan di lihat Auroura yang baru tiba di halaman belakang, dan membuatnya heran. Auroura yang melihat langsung menghampiri Araka.
Dengan semangat dan rasa penasarannya Auroura langsung bertanya. "Araka, tehnik apa yang kau gunakan barusan?" Auroura tampak mengelilingi pohon yang terkena serangan tadi, untuk mengecek kalau pohon itu benar-benar tidak terkena tergores sedikitpun.
"Apa sudah selesai melihatnya?" tanya Araka, yang berjalan ke pondok yang ada di sana, untuk istirahat.
Auroura yang melihat Araka berjalan ke arah pondok, langsung mengikutinya. "Araka tunggu aku" teriaknya berlari kecil.
Mereka pun duduk di sana, dan Aurora terus menatap Araka. membuat Araka heran, "kenapa terus melihatku, apa kau benar-benar jatuh cinta padaku?" tanya Araka tersenyum jahil.
Perkataan Araka tersebut membuat pipih Auroura merah merona, karena mengingat kejadian tadi pagi dimana dia memandangi wajah Araka, dan membayangkan wajahnya saat di kamar.
"Si– siapa yang– yang jatuh cinta" elak Auroura, dengan sedikit terbata, "aku tadi bertanya kepadamu, makanya aku menunggu" jelas Auroura, sambil mengatur perasaannya lagi
"Baik-baik aku akan kasi tau" Jawab Araka tersenyum melihat tingkah Auroura, "tehnik yang ku gunakan memiliki unsur sihir elemen, yaitu api dan sihir spesial ku. Jawaban mengapa pohon itu tidak tergores, karena tehnik itu hanya menyerang tubuh, dan jiwa saja manusia saja. sebenarnya juga bisa berdampak pada segala macam benda tapi aku mengontrol daya serangnya" jelas Araka.
"Wow..., jadi tehnik ini tidak akan merusak bangunan jika kau tidak mau?" Auroura tampak kagum dengan Araka, dan membuatnya semakin penasaran dengan sosok Araka.
Mendengar itu membuat Auroura terkejut, karena Araka memiliki tehnik yang sangat berbahaya.
"Itu, siapa yang yang membuat tehnik menyeramkan ini," nada Auroura terdengar sedikit gugup. Karena selama ini dia belum pernah dengar tehnik yang bisa menyerang jiwa bahkan sampai menghancurkannya.
"Aku yang menciptakannya, saat aku latihan aku mencoba menggabungkan sihir api ku dengan sihir spesial ku, hinga tercinta api berwarna emas yang sedikit putih ini." Jawab Araka, menunjukkan api emas yang ia miliki.
Api emas itu terlihat sangat cantik, tapi siapa sangka bahwa api yang sangat cantik itu memiliki kekuatan yang mengerikan.
Api itu masih terlihat menyala-nyala di atas telapak tangan Araka.
Auroura masih mengamati api emas milik Araka, tapi api itu terlihat aneh membuat Auroura penasaran.
"Araka, seperti ada yang aneh dengan api ini?tanya Auroura, yang mengamati api itu dari tadi.
Araka kembali menghilangkan api emas miliknya "aku harus memujimu, karena bisa menemuka keanehan yang ada pada api milikku. Keanehan pada tehnik ini adalah tidak adanya suhu panas, yang mana ini akan membuat lawan tidak sadar jika dia di serang" jelas Araka.
"jadi apa nama tehnikmu, dan nama api yang kau ciptakan?"
"Api ini kuberi nama api lenyap jiwa" jelas Araka. "Apa kau ingin berlatih denganku ?'' Araka berdiri berjalan ketempat latihan.
Auroura mengaguk, dan langsung berjalan mengikuti di belakang Araka.
__ADS_1
Kini mereka sudah berdiri berhadapan dalam jarak sepuluh meter.
"Tunggu dulu, Araka kau dilarang mengunakan api lenyap jiwa mu mengerti" perintah Auroura agar Araka tidak mengunakan Api miliknya.
"Tentu saja aku tidak akan mengunakan serangan berbahaya pada istri cantikku" ucap Araka yang sudah dalam posisi bersiap menyerang.
Perkataan Araka tadi membuat pipi Auroura nampak merah padam. Auroura yang tidak ingin Araka melihatnya wajahnya yang merah langsung menyerang Araka.
Auroura menyerang Araka dengan serangan angin, Auroura dengan cepat mengeluarkan pedang angin dan menebasnya kearah Araka.
Tebasan-tebasan pedang itu membentuk gelombang angin yang sangat tajam. Araka yang di serang dengan serangan itu nampak dengan santai menghindari serangan Auroura.
Saat Araka menghindari serangan-serangan itu, dalam sekejap Auroura sudah ada di belakangnya.
"Araka sepertinya kau kurang waspada" bisik Auroura di belakang Araka.
Araka yang terkejut langsung berteleportasi
menjauh dari Auroura.
Auroura nampak terkejut karena Araka bisa berteleportasi.
"Araka, aku tidak menyangka jika kau juga bisa melakukan berteleportasi" kata Auroura yang sudah bersiap ingin menyerahkan.
Auroura kembali menyerang Araka dengan tehnik berpedang yang bervariasi, namun Araka masih bisa menghindari serangan Auroura dengan santai.
Auroura tampak geram dengan Araka yang terlihat meremehkan serangannya, Auroura langsung menambah kecepatannya menjadi sangat cepat menyamai kecepatan suara. Namun hal itu sama sekali tidak membuat Araka serius.
Serangan Auroura benar-benar tak bisa mengenai Araka, namun Auroura tiba-tiba mengadakan dirinya menjadi sepuluh.
"Angin kloning," ucap Auroura.
Munculah sepuluh kloningan angin berbentuk tubuh.
Auroura berserta kloningannya menyerang dari berbagai sisi agar Araka tak bisa kabur, namun Araka masih bisa kabur dengan tehnik teleportasi.
Auroura yang melihat Araka berteleportasi terus menerus, dia mengubah taktik menyerangnya menjadi lima menyerang lima bersiap di beberapa titik dan Auroura mengawasi.
Araka terus fokus pada kloning Auroura sampai tidak menyadari pedang Auroura sudah ada di depan matanya.
"Jika seperti ini terus tempat ini akan hancur dan kemungkinan aku akan kelelahan" batin Araka masih menghindari serangan dari kloningan Auroura.
Tiba-tiba Araka di kejutkan dengan pedang yang ada di depan matanya. Dan tidak tau apa yang terjadi semua menjadi gelap.
Bersambung...
__ADS_1