Ya'Aburnee

Ya'Aburnee
Prolog


__ADS_3

Ya'Aburnee, cuz i love you.


Katanya, manusia itu sudah diciptakan sepaket dengan takdir, entah itu diwarnai dengan bahagia ataupun duka, yang pasti rasanya akan hambar ketika tidak ada noda diatasnya, entah itu pahit atau manis, yang kita lakukan hanya bisa menjalankannya bukan? tak peduli seberapa sering kita menyesali dan menangisi, tertawa dan bahagia, nyatanya semua sia-sia.


hei siapa yang bilang sia-sia?! ya, salah satu dari kalian mungkin berfikir begitu, berfikir hidup itu hanyalah permainan, lalu untuk apa hidup jika berakhir pada kematian? jujur, aku pun sempat bingung, tapi itulah takdir.


Semuanya tidak sia-sia, sungguh, kita adalah sebuah buku yang terbuka, yang menceritakan kisah hidup diatas kertas putihnya, buku milik siapa? jelas punya tuhan, kita hanya pensilnya, yang berkuasa menuliskan alurnya hanya tuhan, kemudian ketika kisah itu selesai, ditutupnya buku itu, jangan berfikir kita benar-benar menghilang setelah itu, karena tuhan punya bukunya, yang disimpannya sebagai kenangan oleh orang-orang yang ditinggalnya, yang menceritakan bahwa, dirinya pernah ada.


Dan Syeila, gadis itu baru melirik kebelakang, mengenang masa dimana ia tak menyadarinya, mungkin hari ini ia tengah menyesalinya, kecewa? pastinya, tapi kelak, ia mungkin akan menerimanya, mengenangnya sebagai sesuatu yang pernah ada dan akan ia simpan.


Hening, suara tawa dan candaan yang selalu menggema itu tak lagi terdengar diseluruh sudut manapun, benar-benar lenyap meninggalkan hampa dan duka yang tak biasa setelah semuanya mulai terbiasa dengan apapun yang berhubungan dengannya.


TV yang menyala bahkan hanya dipandangnya tanpa nyawa, sementara semua isi otaknya melayang pada saat-saat dimana ia adalah orang yang paling bersemangat untuk menontonnya, tapi dulu, saat masih ada dirinya.


Matanya mengerjap beberapa kali ketika tanpa sadar butiran air mata meluncur begitu saja tanpa izinnya, gadis itu berusaha mengalihkan pandangannya kearah lain, mencari sesuatu yang menarik dan mungkin bisa sedikit mengalihkan pikirannya, namun kemudian pandangannya jatuh pada remote tv yang berada diatas meja, membuatnya tak kuasa menahan air mata yang terbendung, bayangan tentang sosok yang berusaha ia alihkan dari pikirannya itu malah semakin bergelayut memenuhi kepalanya.

__ADS_1


Kenapa? kenapa bahkan disaat dia sudah tak lagi disampingnya sosok itu masih saja mengganggu kehidupannya? karena Syeila sadar, gadis itu teramat mencintainya hingga apapun yang ia temui disetiap sudut mengingatkannya pada sosok menyebalkan yang membuat hari-harinya penuh dengan kekacauan maski akhirnya tumbuh menjadi benih cinta yang masih engan ia akui.


“Laaa...” Panggilan suara itu lagi-lagi mendengung keras dikepalanya, seolah suara itu memang benar-benar nyata adanya.


Syeila menutup telinganya seraya memejamkan mata berharap suara itu bisa sedikit tersamarkan, mungkinkah efek kehilangam bisa separah ini bahkan hampir membuatnya menggila, seberpangaruh inikah sosok itu bagi kehidupan Syeila?


“Cukup! cukup!” jeritnya seiring air mata yang berderai.


Gadis itu terisak keras tak kuasa menahan sesak didadanya, pandangannya memburam ketika sesosok laki-laki menghampirinya dengan khawatir.


🍁🍁🍁


Syeila Anandita Salsabila, gadis dengan bibir mungil itu tak henti-hentinya mengucapkan sumpah serapah yang ia layangkan pada seorang pengendara motor yang hampir menyerempetnya tadi, maski kesalahan sepenuhnya bukan berada pada pengendara motor itu, karena kenyataannya Syeila berjalan terlalu menjorok ke jalan raya, yang membuat dirinya sendiri berada pada resiko berbahaya.


Tapi dia Syeila, si gadis keras kepala yang tidak pernah ingin dibantah, sedikit mengesalkan memang, apalagi saat ia berada pada mood jelek seperti saat ini, terpaksa jalan kaki menuju rumahnya setelah pulang sekolah, jujur saja hal itu paling dibenci Syeila, tapi harus bagaimana lagi?

__ADS_1


Selain keras kepala dia juga gadis ceroboh, meninggalkan uang bekalnya saat akan pergi kesekolah, alhasil disinilah dia, berjalan ogah-ogahan disepanjang jalan dengan wajah tertekuk kesal.


“Semuanya salah kamu!” jeritnya menepis selembar daun yang kebetulan hinggap dirambutnya, cukup menarik perhatian beberapa pengendara lain yang berlalu, bagaimana bisa selembar daun dia salahkan sebagai sumber kesialannya?


Syeila tersenyum kikuk ketika menyadari tingkah bodoh nan anehnya, kemudian berjalan dengan tergesa-gesa, berharap segera sampai dirumah dan mengakhirnya kesialan harinya.


Namun siapa sangka, tampaknya kesialan tidak berujung pada detik itu, kedua bola mata indahnya seketika membulat sempurna menyaksikan pemandangan yang membuatnya panik setengah mati, apa yang harus ia lakukan sekarang?


Disana, seorang laki-laki berhudy hitam dengan kupluk yang menutupi kepalanya, berdiri dekat pembatas jembatan yang dibawahnya adalah sungai, salah satu kakinya ia naikkan diantara batang pembatas jalanan itu, persis layaknya film-film horor yang sering Syeila tonton dibioskop, dengan adegan hendak melakukan aksi bunuh diri, kemudian bergentayangan menjadi penguni jembatan ini, bisa jadi menjadi temannya si manis jembatan ancol, tapi ini bukan diancol.


Apa-apaan ini? pikir Syeila, haruskah ia menyaksikan aksi bunuh diri didunia nyata? tak terbayangkan sedikitpun ia akan mendapat bencana seperti ini, dengan dirinya sebagai saksi yang menyaksikan kejadian perkara itu dengan jelas, dan setelah itu polisi akan memanggilnya sebagai saksi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat ia jawab ditambah peluh yang membanjiri tubuhnya, yang setelah itu membuatnya akan merasa dihantui setiap hari ketika harus melewati jembatan itu, pemikiran yang berlebihan memang.


Jantungnya berdebar kencang, langkahnya seolah tertahan, tidak! seharusnya Syeila tidak menyaksikannya, gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya.


”Aku gak liat...aku gak liat.” Gumamnya, namun sedetik kemudian ia membuka kembali tangannya dan jeritan nyaring lolos dari mulut mungilnya.

__ADS_1


“JANGAN!!!”


__ADS_2