Ya'Aburnee

Ya'Aburnee
Bagian 3.Terpikirkan


__ADS_3

Kedua laki-laki itu baru saja keluar dari kedai makan sederhana pinggir jalan, bukannya segera pulang, keduanya malah berdiri saling terdiam layaknya seorang satpam penjaga keamanan, sibuk tenggelam dalam pikirannya masing-masing sembari menengadah pada langit malam.


“Lo serius gak mau gue antar pulang?”


Gara kembali mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Rio untuk kesekian kalinya, Gara pikir Rio akan pergi setelah beberapa kali ia menjawab pertanyaannya dengam jawaban yang sama, namun laki-laki itu hingga detik ini masih berdiri disampingnya.


“Gue bilang gue bisa pulang sendiri, lo pulang duluan, nanti nyokap lo nyariin.”


“terus lo...”


“Gue masih pengen cari angin, urusan pulang gampang, gue bisa terbang, ngilang, teleportasi, pokoknya gampang.”


“Yaudah gue temenin.”


“Gak usah.” Tandas Gara dengan cepat, kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu meninggalkan Rio yang mungkin tak akan pernah beranjak sebelum dirinya yang angkat kaki lebih dulu, ia melambaikan tangannya tanpa menoleh yang secara tak langsung menyuruh Rio untuk cepat pulang.


“Itu anak kenapa lagi sih...gak ngerti lagi gue.” Rio mengacak rambutnya jengah, sejak tadi ia tak dapat mengartikan tingkah Gara yang tiba-tiba menjadi diam, tak sedikit pun Gara membiarkannya mengorek apa yang tengah dirasakannya.


Gara selalu seperti itu, tak pernah bisa ditebak, baginya ia adalah penyimpan luka yang paling hebat, mata hitam kelamnya kadang bisa menjadi sangat berbinar seolah semuanya baik-baik saja, seolah kelam kemarin tak pernah ada, membuatnya merasa ikut tersiksa, dengan semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya, dan Rio merasa tak berguna sebagai sahabatnya.


Gara melangkahkan kakinya santai disepanjang trotoar, sementara kedua matanya tak berhenti menatap langit malam tanpa bintang, hanya ada bulan yang tampak kesepian, sejenak ia tercenung, kemudian tersenyum miris.


Bulan bahkan masih bisa bersinar tanpa bintang, lalu apa kabar dengannya dimana miliaran manusia disekitarnya, namun masih membuatnya merasa hampa?


*Layaknya bulan tanpa bintang


Ia kesepian


Namun ia tetap bertahan


Berharap hari esok sang bintang datang


Menemaninya dalam kelam*


Dan Gara berharap ia bisa seperti itu, bertahan, maski harus tanpa alasan.


🍁🍁🍁


Syeila, jujur saja gadis itu sebenarnya memiliki wajah cantik nan menawan yang mungkin dapat dengan mudahnya memikat hati para laki-laki, wajahnya seolah diukir mendekati kata sempurna, ditambah rambut panjang yang sedikit berwarna kecoklatan yang apabila tertiup angin semakin membuatnya mempesona, namun tidak dengan sikapnya yang selalu membuat orang geleng-geleng kepala, entah itu karena sifat cerobohnya, ataupun sifat tempramen dan pemarahnya yang membuat orang-orang bergidik ngeri menghadapinya, termasuk laki-laki yang akhirnya ragu-ragu mendekatinya, Syeila pula tidak meresahkan hal itu, toh jika ada laki-laki yang benar-benar mencintainya, pastinya ia akan menerima Syeila apa-adanya bukan?


“Papa kapan pulang sih?” celutuk Syeila sebelum memasukkan potongan apel kedalam mulutnya.

__ADS_1


Sabrina yang tengah memindahkan piring-piring kotor bekas makan malam dari atas meja menolehkan kepalanya “Katanya 1 mingguan lagi, papa lagi banyak kerjaan katanya tadi ditelfon.” Sahutnya.


“Loh papa telfon?! kok mama gak bilang, aku kan kangen suara papa!”


“Sakka juga!”


“Ck...lebay kamu!” ucapnya sinis ketika Sakka dihadapnnya ikut-ikut bercelutuk.


“Dih...siapa yang lebay ngatain lebay.” Sakka memutar bola matanya jengkel.


“Anak kecil diem aja.”


“Maaaa...” Sakka mulai memasang wajah memelasnya.


“Udah Sakka bilang, Sakka itu udah gede! udah punya pacar!” potong Syeila dan Sabrina kompak diakhiri tawa yang menggema diruang makan, sementara Sakka menekuk wajahnya kesal.


“Masih mending aku punya pacar, dari pada kak Syeila jomblo setia, yang bisanya Cuma meratapi adegan romantis drama korea, sampe ngilernya kemana-mana.” Ledek Sakka yang berhasil membuat Syeila melotot marah kepadanya.


“Apa yang kamu lakukan ke aku itu...jahat!” cetus Syeila mengikuti dialog dalam salah satu adegan film,kemudian berlalu sembari menghentak-hentakkan kakinya kesal menaiki anak tangga, sialan kali ini ia kalah telak.


“Dek kakak kamu sehat kan?” tanya Sabrina dengan mulut menganga, tak jauh berbeda dengan wajah Sakka yang hanya cengo melihat kepergian sang kakak.


“Apa mungkin kakak kamu kesurupan kuda lumping lagi?” tanyanya lagi.


Syeila mendudukkan tubuhnya dikursi meja belajar, dihadapannya tampak sebuah buku gambar yang masih kosong dan belum sempat ia gambar apa-apa, seolah tertarik, tangannya menari-menari mulai menggoreskan garis-garis pada kertas putih polos itu, dalam urusan menggambar, sepertinya itu bakat Syeila, siapa yang mengira gadis bar-bar seprti Syeila ternyata jago menggambar? setiap kali melihat kertas kosong, tangannya selalu terasa gatal untuk menggambar sesuatu disana, apapun, yang tengah ia pikirkan.


Pandangannya seketika melebar seiring tangannya yaang dengan cepat melepaskan pensil dari tangannya begitu saja.


Ditatapnya hasil gambarnya yang hanya menggambarkan sebuah sketsa mata, mata yang mirip dengan laki-laki yang saat itu ia temui.


“Wajah tampan ku terlalu berharga buat menghilang dari muka bumi ini.”


“Saran kamu oke juga kalo aku jadi artis korea.”


“Gimana kalo aku gabung boyband smash?”


“Itu bukan boyband korea.” Balas Syeila masih dengan wajah datarnya.


“Kalo gitu boyband nya Mbah surip!”


“Dia bukan boyband,dan dia udah meninggal, sialan!”

__ADS_1


Gadis itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, mulutnya berkomat-kamit tak jelas sembari menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir suara serta bayangan laki-laki tempo hari yang tiba-tiba bergelayut diotaknya, menjijikan, mengesalkan, entah bagaimana bisa ia memikirkan laki-laki sialan itu.


Syeila menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan, kepalanya menoleh kearah balkon kamarnya yang pintunya terbuka, kaki jenjangnya melangkah keluar, dan tepat ketika telapak kakinya menyentuh teras balkon, hawa dingin menyambutnya, sesaat membuat Syeila bergidik.


Laki-laki itu menatap kosong kebawah, entah apa yang ia pikirkan, yang pasti sepertinya ia mengabaikan apapun disekitarnya tanpa peduli, seolah telinganya menuli, kedua tangannya memegang batang pembatas jembatan itu kuat-kuat, menggambarkaan seberapa ia menguatkan dirinya atas apa yang berkecamuk dalam dadanya, salah satu kakinya kemudian ia naikkan pada salah satu batang pembatas jembatan itu, cukup membuatnya menarik perhatian atas tindakannya yang mungkin akan tak terduga.


Dan Syeila menyesal telah berfikir tak terduga.


Angin malam menerpa rambut panjangnya yang ia biarkan terurai, Syeila terpaku menatap langit, entah kenapa perasaannya gusar.


tidak, bukan karena ledekan Sakka atau apapun, ia sudah terbiasa dengan itu. lalu apa yang ia rasakan sekarang? laki-laki itu...ah kenapa Syeila terus memikirkannya.


“Apapun yang terjadi, aku harap semuanya baik-baik saja.” Tuturnya menatap bulan, sebelum kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.


🍁🍁🍁


Hari minggu, harusnya ini adalah hari yang menenangkan bagi Syeila, berdamai dengan setumpuk tugas yang membuatnya uring-uringan mencari contekan.


Harusnya ia bersantai dengan melakukan hal apapun semaunya, dan sungguh Syeila tak akan sudi ketika kesempatan itu diganggu oleh makhluk sekecil apapun.


Dan pagi ini, ketika Syeila tengah rebahan diatas kasur dengan masker diwajahnya, sebuah panggilan nyaring nan melengkingan menusuk indra pendengarannya.


“Syeilaaaaa...!!!”


Dengan terpaksa, gadis itu menegakkan tubuhnya, membiarkan masker diwajahnya merosot kemudian jatuh ke atas kasur begitu saja, wajahnya datar, berusaha menahan emosi. Tidak, ia tidak boleh menghujat sang mama tercinta yang berani mengganggu acara santainya, begitu kata hatinya.


“Bukain pintu depan! mama tanggung lagi masak!” teriak sang mama dari dapur, bayangkan sekeras apa suara teriakan yang hampir menyamai toa masjid hingga sampai ketelinga Syeila yang berada dikamar lantai dua.


Gadis itu berdecak kesal, mau tak mau akhirnya kakinya melangkah menuju pintu depan, dimana awal penyebab acara santainya terganggu.


“Iya, ada perlu apa?” tanyanya ogah-ogahan ketika membuka pintu depan, namun seketika tubuhnya mematung seriring kedua bola matanya yang membulat sempurna, jantungnya berpacu begitu cepat saking kaget dan tidak percaya, sementara dihadapannya,laki-laki itu tak kalah terkejut dengan mulut menganga.


“Kamu?!” ucap keduanya bersamaan.


Syeila menutup kembali pintunya, sedetik kemudian membuka lagi pintu itu, memastikan apa yang dilihatnya hanya halusinasi, namun pada kali katiga ia melakukan hal yang sama dengan membuka tutup pintu, makhluk itu tetap berada ditempatnya, masih dengan mulut menganga, gadis itu mengacak rambutnya frustasi.


“Mamaaaaa...” teriaknya seakan-akan ada penyusup masuk yang hendak memerkosanya, Sabrina yang terkejut mendengar putrinya berteriak layaknya orang kesurupan, denga tergopoh-gopoh berlari menghampirinya.


Namun berbeda dengan Syeila,ekspresi Sabrina tampak berbinar ketika dilihatnya siapa yang berada diambang pintu, bahkan dengan ramah mempersilahkan laki-laki itu masuk, membuat Syeila yang kali ini menganga.


tolong tampar Syeila,apakah semua ini hanya mimpi?

__ADS_1


Bersambung...


gimana gimana gimanaaa???ancur gak sih cerita ku?coba kalian komen?kasih saran author amatiran ini😢and like juga ya...😁😁


__ADS_2