
Warning!typo bertebaran:)
Ini sudah kesekian kalinya Syeila melirik Gara yang masih berdiri ditempatnya, sementara laki-laki itu hanya memandangi Syeila yang mulai risih dibuatnya.
Sungguh, sejak kehadiran Gara yang sukses membuatnya hampir terkena serangan jantung, dan seolah semua itu belum cukup, laki-laki itu juga berhasil memecah konsentrasinya.
“Laaa...” Suara laki-laki itu akhirnya, memecah sunyi yang sejak tadi menenggelamkan keduanya.
“Pokoknya gak boleh ada yang tau kita tinggal serumah.” Sergah gadis itu tanpa menoleh pada panggilan Gara.
“Kenapa?” Tanya laki-laki itu.
"kita pura-pura gak saling kenal aja."
"Tapi dikantin tadi, kamu ajak kenalan aku."
Gadis itu terdiam beberapa saat, "Lupain yang itu, pokoknya jangan ada yang tau lagi."
"kenapa?" tanya Gara lagi.
“Aku gak mau mereka mikir yang enggak-enggak.”
“Maksudnya mereka mikir yang enggak-enggak, kita dijodohin? Atau kita udah suami istri gitu?” Tanya Gara diakhiri kekehan jahil yang berhasil membuat kedua bola gadis itu melotot keluar.
“Ya, pokoknya aku mau ada yang tau kita tinggal serumah!” tegasnya.
“Termasuk temen aku Rio dan teman kamu itu?” Gara memiringkan kepalanya.
“Mereka berdua kayaknya kompor, kamu juga!”
sinis Syeila sembari mengerlingkan matanya.
“Kamu sendiri bawel.” sindir Gara.
“Kamu banyak tanya!”
__ADS_1
“Cowok selalu salah.” Gara menghela nafas pasrah, mengacak rambut
“Faktanya emang gitu!”
Beberapa menit berlalu, keduanya kembali saling diam, dan sunyi seolah kembali berkuasa, keduanya tenggelam dalam kesibukan pikirannya masing-masing, Syeila yang berusaha untuk kembali berkonsentrasi, dan entah apa yang ada dipikiran Gara sekarang, yang pasti tatapannya tak pernah lepas dari Syeila, seolah hanya gadis itulah yang menjadi porosnya diantara waktu yang terus berjalan.
Risih karena terus diperhatikan, gadis itu akhirnya jengah, tangannya mengepal menahan kesal hingga tak dapat lagi tahan, dalam satu gerakan ia menggebrak mejanya, menatap nyalang ke arah Gara.
“Kamu kenapa sih liatin aku kayak gitu terus?! Aku risih!” ujarnya dengan nada tinggi, yang entah kenapa justru membuat Gara tersenyum.
Laki-laki itu kini berjalan menghampirinya, membuat jangtung gadis itu berdetak dua kali lebih cepat, tangannya bergerak waspada apabila laki-laki itu akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
Gara melangkah memutari meja Syeila, kemudian lagi-lagi tanpa seizinnya duduk disebelah kiri gadis itu begitu saja.
“Dari tadi kamu ngerjain apa sih?” tanya Gara penasaran, pandangan laki-laki itu jatuh pada buku tulis yang berisi jawaban soal-soal Syeila.
Tangannya dengan lancang menarik buku itu, dahinya mengernyit, bergantian menatap Syeila yang memandangnya dengan mulut terbuka.
“Gimana kamu ngerjain ini semua?” tanya Gara,tak percaya.
“Tau dari mana semua jawaban ku salah?” Syeila menarik kembali bukunya,tak terima Gara amat begitu meremehkannya dan men-cap jika semua jawabannya salah, padahal ia sudah berusaha mengerjakannya.
Gara tak menjawab, laki-laki itu merebut pensil dari lengan gadis itu, menuliskan jawaban salah satu soal dengan hitungan yang lebih sederhana dan dalam hitungan detik selesai begitu saja, membuat mulut gadis disebelahnya membentuk hurup 'O' kemudian mengangguk.
”Harusnya jawabannya 60.” Ucapnya kemudian.
Syeila mengelengkan kepalanya, “Gimana aku bisa percaya kalo jawaban kamu ben...” ucapan gadis itu terhenti kala menyedari posisi keduanya ternyata begitu dekat, bahkan Syeila bisa merasakan hembusan nafas hangat Gara yang menerpa wajahnya lembut, gadis itu sempat berdecak kagum melihat wajah tampan Gara dengannya rahang yang tegas jika dilihat dengan jarak sedekat ini, jantungnya tiba-tiba membrutal tanpa bisa ia cegah, berharap laki-laki itu tidak mendengarnya.
"Kamu ngerti kan?"
5 detik yang berlalu terasa lama bagi Syeila, hingga kepala Gara akhirnya menoleh dan tatapan keduanya bertemu, gadis itu terkejut luar biasa, tubuhnya limbung kebelakang, beruntung dengan sigap Gara menarik pinggangnya, membuat keduanya lagi-lagi dalam posisi yang berisiko bagi jantung keduanya.
Dalam jarak sedekat ini, bahkan bibir Gara bisa saja menyentuh wajahnya, mata gelap segelap obsidian itu menatap dalam kedua manik mata indah Syeila, membuatnya selama beberapa detik tak dapat berkedip ketika desiran aneh menjalar didadanya yang terasa amat menggelitik, yang tanpa izinnya menyelinap masuk diantara relung-relung hatinya, dan kemudian menetap begitu saja disalah satu ruang hatinya?
angin yang berhembus bahkan tak kuasa memutus tatapan itu, tangan laki-laki itu bergerak menyelipkan anak rambut Syeila yang sesaat membuat gadis itu manahan nafasnya gugup, Gara tersenyum samar, laki-laki itu meniupkan udara tepat diwajah gadis itu sampai akhirnya membuat gadis itu berkedip seolah baru saja ditarik dari ruang ketidaksadaran, buru-buru Syeila mengalihkan pandangannya seiring Gara yang menarik tubuhnya lembut duduk dikursinya yang hampir jatuh tadi.
Laki-laki itu berdeham menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba menikam keduanya, ”Ayo pulang, udah sore.” Ucapnya seraya bangkit berdiri, sementara Syeila sibuk membereskan buku-bukunya, yang tadi itu apa? Batin Syeila.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Sesampainya dirumah, gadis itu dengan tidak sabarnya berlari kekamarnya, meninggalkan Gara yang masih sibuk membuka sepatunya dengan tatapan bertanya, kemudian tak ingin ambil pusinh meletakkan benda itu dirak sepatu, tak lupa, ia juga meletakkan sepatu Syeila yang dibiarkannya tergelatak dimana saja, gadis yang berantakan.
Dilemparkannya begitu saja tas itu kesembarang arah, buru-buru Syeila mengunci pintunya, kedua tangannya kemudian memegangi dadanya yang terasa bergejolak, sedari tadi jantungnya berdebar tak karuan, membuatnya bertanya-tanya apa yang tengah dirasakannya saat ini? apa mungkin ini salah satu gejala serangan jantung?
Gadia itu menakup wajahnya yang terasa memanas, membantingkan tubuhnya ke atas kasur, berguling kesana kemari layalnya ulat bulu.
“Apa yang terjadi padamu Syeil?” gumamnya pada diri sendiri, bibirnya entah kenapa tak kuasa menahan senyuman, ah...Syeila sudah tak waras.
“Huaaaa...” teriaknya melepas suarannya yang sejak tadi seolah tertahan ditenggorokannya.
Brukk...
Tubuh gadis itu seketika jatuh kelantai, meringis sembari memegangi pantatnya yang terasa berdenyut, namun sedetik kemudian ia kembali tesenyum, seolah rasa sakit dipantatnya tak berarti apa-apa, gadis itu kembali menakup wajahnya, melanjutkan lagi aksi guling-gulingnya diatas lantai.
Dan tanpa Syeila ketahui, dibalik daun pintunya, Gara tengah menempelkan telingannya berusaha mendengar apa yang tengah terjadi didalam kamar gadis itu ketika suara gedebam lagi-lagi terdengar, kenapa gadis itu hobby sekali terjatuh? Pikirnya, mengingat sore kemarin ia melihat dahi gadis itu yang memerah, dan hal itu membuat Gara semalama tersenyum-senyum sendiri.
Laki-laki itu masuk kedalam kamarnya sendiri, melepas jas almamaternya sebelum merebahkan tubuhnya diatas kasur, matanya menatap lurus pada langit-langit kamarnya yang dicat polos, wajah Syeila yang begitu dekat dengannya masih terbayang-bayang dikepalanya, laki-laki itu tersenyum, meraih guling disampingnya kemudian memeluknya dengaan erat.
"Ternyata dia bisa gugup juga." gumamnya.
Sebelumnya Gara tak pernah merasa sebernyawa ini, hanya Syeila, gadis ceroboh dan pemarah itu berhasil membuat hari-harinya sedikit berwarna, rasanya harinya tak lengkap tanpa mendengar suara teriakan dan bentakan gadis itu.
Gara ingin Syeila, menjadikan gadis itu miliknya, dan pertanyaannya, apa gadis itu menyukainya juga? gugup belum berarti suka bukan?lalu apa yang harus ia lakukan?
"kita pura-pura gak saling kenal aja."
🍁🍁🍁
**Bersambung...
Kayaknya ceritanya gaje gak sih? aku suka gak percaya diri😁
kasih sarannya ya raiders tercintahhh😄
aku up lagi entar, terus ikutin ceritanya ya😉**
__ADS_1