Ya'Aburnee

Ya'Aburnee
Bagian 8. Kamu suka aku?


__ADS_3

Semilir angin menerpa wajahnya lembut, gadis itu mengikat rambutnya asal-asalan, menyisakan beberapa helai rambut tertinggal, namun tak sedikitpun mengurangi kadar kecantikannya, kedua manik matanya memandang langit malam yang kini tampak indah bertabur bintang menemani sang bulan, ia tersenyum manis, yang binarnya bahkan membuat sang bulan tersipu malu.


Entah apa yang membuatnya sedari tadi merasa seriang ini, dengan getaran aneh didadanya yang juga tak kunjung mereda.


'Apa yang terjadi pada dirinya?' pertanyaan itu berulang kali muncul dibenaknya, namun Syeila engan menjawabnya, ia ragu, tak tau pula entah karena apa.


Sebuah ketukan pintu tiba-tiba membuatnya tersentak, menoleh pada sumber suara yang berada dibalik pintu kamarnya, gadis itu menjelikan telinganya guna menangkap jelas siapa pengetuk pintunya.


“Laaa...” panggil orang itu, dia Gara, yang langsung saja membuat Syeila kelabakan tanpa sebab.


Gadis itu berlari kecil kedepan cermin, memandang dirinya dari ujung kaki sampai ujung rambutnya, apa ia terlihat berantakan? Tunggu, sejak kapan Syeila memperdulikan penampilannya apalagi saat dirumah seperti ini?


Gadis itu menepuk-nepuk pipinya, ”Sadar Syeila, pura-pura gak terjadi apa-apa, stay calm.” Gumamnya pada diri sendiri.


“Laaa...Bukanin pintunya!” panggil Gara lagi dari luar kamarnya, sungguh tidak sabaran.


“Iya tunggu bentar!” Syeila berdiri didepan pintu kamarnya, namun tangannya tak kunjung membuka pintu itu.


“Laaa...!”


panggil Gara untuk yang ketiga kalinya.


“Iya?!”


Laki-laki itu tersentak ketika akhirnya Syeila membuka daun pintunya, buru-buru ia bersikap biasa saja didepan gadis itu, “Mama suruh turun, makan malem.” Ujarnya.


Gadis itu tak bereaksi apa-apa, hanya mengangguk kemudian menutup pintu kamarnya,” Yaudah ayo.” Ucapnya pada Gara yang entah kenapa hanya diam didepannya.


Laki-laki itu menatapnya, yang lagi-lagi berhasil membuat dada Syeila semakin bergemuruh, mati-matian gadis itu berusaha bersikap biasa saja, hingga laki-laki itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Syeila.


Kedua bola matanya sukses membulat, apa yang terjadi pada Gara? Didorongnya kasar laki-laki itu menjauh dari wajahnya, ”Kamu ngapain sih? Gak waras ya?!”


Gara menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, kebiasaannya ketika gugup dan bingung, pasalnya Gara kira Syeila akan gugup sama seperti saat tadi sore dikelas, ia hanya ingin memastikan apa gadis dihadapannya ini menyukainya? Sepertinya...tidak.


Gara mengahalangi jalan ketika Syeila hendak melangkah, gadis itu menatapnya nyalang, kemudian bergeser kekanan, Gara melakukan hal yang sama, gadis itu bergeser kekiri , Gara ikut bergeser ke kiri, membuat Syeila akhirnya naik pitan.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih? Minggir gak?!”


“Gak!”


“Minggir!”


“Gak!”


“Aku bilang minggir!” Syeila berusaha keras mendorong tubuh Gara agar tak menghalangi jalannya.


Namun tenaganya yang tak sebanding dengan Gara yang jauh lebih besar tubuhnya, membuat usahanya sia-sia saja.


“Kamu kenapa sih?!” tanyanya sembari masih berusaha menyingkirkan Gara.


“Kamu suka aku?” pertanya Gara selanjutnya sukses membuat Syeila mematung, menatapnya tak mengerti dengan wajah polosnya.


“Aku?" tanyanya memastikan, barang kali ia bertanya pada makhluk tak kasat mata, akan tetapi Gara tak menjawab, laki-laki itu hanya menatapnya dalam pada manik mata Syeila, menggali sesuatu yang mungkin disembunyikannya, ah...Gara terlalu percaya diri.


"Aku benci kamu! kamu sehat kan?” tangan yang sebelumnya berusaha mendorong tubuh laki-laki itu kini beralih menyentuh dahi Gara dengan punggung tangannya.


“Ya tuhan, ternyata emang gak waras!” ucapnya dengan mimik kaget yang dibuat-buat, tak menyia-nyiakan kesempatan dalam kesempitam, gadis itu buru-buru melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Gara yang masih diam mematung.


“Kenapa gua bisa sebego ini?” ujarnya.


🍁🍁🍁



Ini sudah tengah malam, dimana kita bisa menemukan dunia yang benar-benar senyap seolah bumi ini tanpa penghuni, yang mana hanya terdengar suara hewan malam yang menemani makluk bumi tenggelam dalam dunia mimpi.


Namun beberapa dari makhluk bumi berwujud manusiap yang masih terjaga itu tampaknya masih belum bisa memejamkan kedua matanya, asik tenggelam dengan pikiran yang tak henti-hentinya bergelayut dikepalanya, sekali pun mereka memejamkan mata, berharap dengan begitu bisa membuatnya masuk dalam dunia ketidaksadarannya, namun percuma.


Syeila membalikan tubuhnya kesamping, tak terihitung sudah ia melakukan hal yang sama, bahkan dirinya sendirinya pun geram kenapa rasa kantuk belum juga menghampirinya, dan penyebabnya tak lain adalah tatapan itu, tatapan mata gelap Gara yang entah kenapa setiap Syeila membayangkannnya membuat dadanya berdebar-debar tak karuan, apalagi ketika perkataan gara tadi.


“Kamu suka aku?” Ucapan laki-laki itu terus saja berputar-putar dikepalanya, layaknya kaset rusak, ingin sekali ia membenturkan kepalanya, tapi Syeila tak senekad itu.

__ADS_1


“Apa maksudnya coba, dia tanya gitu?” tanyanya pada diri sendiri.


“Apa aku suka sama Gara?” Gadis itu menggelengkan kepalanya mantap, sudah jelas perasaanya hanya untuk Arga seseorang, laki-laki yang sejak dulu ia sukai, dan rasanya tak mungkin ada yang mampu menggantikan posisi Arga dihatinya, lalu kenapa ia terus memikirkan Gara?


Lagi gadis itu membalikkan tubuhnya, kali ini menghadap kejendela luar yang gordennya separuh tak tertutup, dahinya mengernyit dalam, berpikir keras.


“Aku suka Arga, suka Gara itu hanya sebatas dia tampan, ya itu wajarkan? semua cewek juga bakal berpikir begitu.” Gumam gadis itu.


“Mana mungkin juga aku suka cowok gak waras kayak dia, sukanya ngagetin orang, aneh, gak suka deh pokoknya!” batin gadis itu.


“Pokoknya aku suka Arga!” jeritnya pelan, Syeila sadar ini sudah tengah malam, dan jika ia benar-benar menjerit dengan nada tingginya mungkin seluruh penghuni komplek akan terbangun, dan Syeila tak ingin dikira kesurupan kuda lumping lagi seperti dulu.


“Oke mulai besok bersikap kayak biasa lagi, dia Cuma orang lain yang kebetulan ganteng dan numpang dirumah aku.”


racaunya, namun beberapa detik kemudian ia terkekeh geli.


“Tunggu, kok aku puji dia terus sih?!”


“Lupakan Syeila...Lupakan! Besok semuanya akan seperti biasa lagi, Stay calm.”


“Sejak kapan juga aku stay calm?”


“Lupakan!”


Sementara disalah satu kamar lainnya, laki-laki itu juga masih terjaga, sesekali berdecak geram, tanpa sebab.


“Aku benci kamu! Kamu sehat kan?”


Gara menatap lurus langit-langit kamarnya, mengingat kebodohannya tadi, apa Syeila menyukainya? Jelas gadis itu tidak menyukainya, lagi pula, tipe idaman gadis Gara itu wanita yang lembut dan penuh perhatian, lalu kenapa bisa ia menjatuhkan harga dirinya tadi?


Apa Gara menyukai Syeila? Detik ini jawabannya adalah 'tidak', kemarin-kemarin mungkin ia sedang tak waras jika mengatakan 'iya', bagaimana bisa ia menyukai gadis seperti Syeila yang layakanya disebut nenek lampir, pemarah, kekanak-kanakan, dan ceroboh.


“Dia gak suka gue, dan gue gak suka dia.” Gumam laki-laki itu.


“Fix! Lupain Gara! Lupain!” laki-laki itu mengacak rambutnya, kemudian menenggelamkan kepalanya pada bantal yang sengaja ia letakkan diatas kepalanya, memaksa dirinya untuk tidur.

__ADS_1


🍁🍁🍁


bagian selanjutnya bentar lagi ku up😄


__ADS_2