
"Terkadang apa yang dikatakan bisa berkebalikan dengan hati, kembali lagi tentang menyadari, pertanyaannya dari mana kita tahu jika yang kita ucapkan tak sesuai dengan hati? sadarkah mungkin dirimu lebih mengdepankan logika dengan menyingkirkan apa yang ada dihati? sama seperti cinta, yang hadirnya diam-diam, memecah logika, mengaduk-aduk rasa, sampai akhirnya bingung memilah mana kata logika dan kata hati"
(Kata-kata diatas kalo gak ngerti abaikan aja, cuma iseng wkwkw😂)
***
Satu jam berlalu, kadua remaja itu tampak mulai kepayahan berdiri dibawah teriknya panas sinar matahari menghadap tiang bendera dengan posisi tangan menghormat, peluh bercucuran membanjiri tubuh keduanya, sesekali keduanya bergerak tak nyaman karena pegal, sesekali pula berdebat saling menyalahkan, hingga akhirnya pelototan tajam dari wanita tua yang mengawasi mereka dari pinggir lapangan membuat keduanya tak kuasa untuk bungkam.
'Ibu guru Wati' begitu siswa-siswi menyapanya, yang ketika dibelakangnya menambahkan embel-embel 'Killer' sebagai julukan untuknya yang memang tegas dan cukup galak menghadapi murid-murid bermasalah, yang tatapan tajamnya mampu membuat nyali siapapun menciut, dia bukan hantu atau semancamnya, namun aktivitasnya yang selalu berkeliling disetiap sudut sekolah untuk mencari mangsa selalu menjadi lelucon bagi para murid sembari menyerukan , "Bu Killer cari mangsa!" kemudian diakhiri tawa.
Dan sialnya, Gara dan Syeila harus pasrah ketika tertangkap basah memanjat tembok, maski begitu mereka bersih keras tak ingin mengakuinya, sama-sama keras kepala, dan hukuman harus tetap dijalankan keduanya.
"Kalo aja gak gara-gara kamu, kita gak bakal kena hukuman kayak gini." tukas Gara dengan nada rendah.
Syeila disamping kirinya meliriknya sinis, "Kok jadi nyalahin aku?" sahutnya.
"Memangnya harus selalu cowok yang salah?" balas Gara tak kalah sinisnya.
"Jelaslah kamu yang salah, nama kamu tuh Gara, G-A-R-A, selalu cari gara-gara." gadis itu mendelik.
"Apa bedanya kamu sama aku sekarang? kalaupun bukan gara-gara kamu juga, kita gak bakal kena hukum."
"Hei! tapi yang salah itu kamu, pake ajak manjat tembok segala!" sergah Syeila tak terima.
"Hei! kamu sendiri terus kenapa mau-maunya ikutin aku?!" jawab laki-laki itu mengikuti nada Syeila, meledeknya.
"Kamu yang ajak!"
"Salah sendiri pake mau ikutan, daripada kita telat."
"Tapi akhirnya kita dihukum gara-gara kamu!"
"Salah aku dari mananya coba? kamu yang ngerengek pengen masuk, ya jalannya cuma manjat."
"Kok kamu bawel sih?!"
"Ya suka-suka aku, memangnya cuma cewek yang boleh bawel." Gara memutar bola matanya malas, laki-laki itu memutar-memutar kepalanya pegal, sementara gadis disampingnya menatapnya kesal, bisa-bisanya Gara menyalahkannya.
"Pokoknya salah kamu!" pekik gadis itu menjambak rambut Gara tiba-tiba membuat laki-laki itu meringis minta dilepaskan, hingga suara bentakan wanita yang sejak tadi mengawasi mereka berdua akhirnya menghentikan perdebatan itu.
"Kalian berdua!"
Tubuh kedua remaja itu seketika menegang seiring langkah kaki wanita itu yang mendekati keduanya, tak lupa tatapan horor yang sepertinya lebih menakutkan daripada penampakan-penampakan hantu itu seolah dapat menghunus keduanya, membuat nafas mereka tercekat.
"Udah dihukum masih aja rusuh!" bentaknya, tatapannya nyalang ke arah Syeila.
"Syeila!" gadis itu tersentak, buru-buru balas menatap wanita itu.
"Ini udah kesekian kalinya ibu hukum, tapi kenapa kamu gak pernah kapok sih!"
"Ibu capek tau gak hadapin kamu, kamu tuh anak gadis, tapi kelakuan kayak berandalan, untung cantik!"
Gadis itu tersipu malu," Hehe Makasih loh bu." ucapnya sembari mengulum senyum.
"Cantik kayak kunti, rambut amburadul, baju kusut, terus rok kamu kependekan!" ucapan wanita tua itu selanjutnya membuat Gara terkikik, sebelum kembali bungkam ketika tatapan tajam itu kini tertuju ke arahnya.
"Dan kamu!... kamu pacarnya Syeila?"
"Saya? dia?" kedua bola mata laki-laki itu membulat, tangannya menunjuk dirinya sendiri kemudian menujuk Syeila bergantian.
"Amit-amit bu! nenek lampir macam beginian jadi pacar saya, tukang siomay aja gak mau apalagi saya?" laki-laki itu terkekeh, menghiraukan tampang Syeila disampingnya yang kini sangat ingin melahapnya dengan buas.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, macam beginian hah?" gadis itu menonjok pipi Gara, membuat laki-laki itu menatapnya tak percaya dengan bola mata yang hampir keluar.
"Kamu berani nonjok aku?"
"Kamu pikir aku takut?!" sahut Syeila dengan dagu menantang.
Kedua remaja itu mulai tersulut emosi, dalam satu gerakan Gara mengapit kepala Syeila kedalam keteknya, tak ingin pasrah begitu saja gadis itu menjambak rambutnya, sedangkan wanita yang menyaksikan pemandangan itu tampak panik sendiri, mencoba melerai, namun tak berarti apa-apa, sungguh perkelahian yang tak seimbang dan tak menguntungkan.
🍁🍁🍁
Laki-laki itu bergerak gelisah, baru kali ini ia tak berniat untuk fokus pada pelajaran, diliriknya jam dinding didepan kelas yang masih menunjukan pukul 9, artinya masih satu jam lagi bel istirahat akan berdering, ia menghela nafas gusar.
Tubuhnya tiba-tiba berdiri, membuatnya menjadi perhatian seisi kelas yang memandangnya dengan tatapan tanda tanya.
"Ada masalah Arga?" tanya guru yang tengah mengajar didepan kelas padanya.
"Saya izin ke toilet pak." jawab laki-laki itu, setelah mendapat jawaban kakinya melangkah pasti keluar kelas, menyusuri koridor yang lenggang, suasana yang selalu membuat Arga tenang dan selalu ia sukai.
Matanya meliar mencari sesuatu yang menarik, hingga akhirnya tatapannya jatuh pada pemandangan yang berada dilapangan, Arga tak tau pasti apa yang tengah terjadi disana, namun ketika matanya menangkap sosok gadis familiar, entah kenapa dirinya seolah tertarik untuk memperhatikannya.
"Syeila?" ucapnya pelan, bahkan hampir tak terdengar sama sekali.
Ya, Arga mengenalnya, gadis berisik yang selalu memperhatikannya dari balik salah satu rak perpustakaan, siapa bilang Arga terlalu cuek dan dingin? Syeila tak sadar, dibalik semua sifat Arga, ternyata laki-laki itu juga memerhatikannya, atau mungkin menyimpan rasa yang sama.
Flashback On
*Brukkk...
"Ya Ampun maaf-maaf!" pekik gadis itu menatap seragam Arga yang sebagiannya kini terdapat noda orange dari jus yang tak sengaja ditumpahkannya.
"Aduh...gimana ini?" gumam gadis itu panik, sementara laki-laki dihadapannya hanya menatapnya datar.
"Ini perpustakaan." ujar laki-laki itu, membuat gadis dihadapannya tertegun dengan wajah polosnya, tak mengerti maksud ucapan Arga barusan.
"Di kamar mandi! aku cucinya dikamar mandi kok." Ucap gadis itu diakhiri kekehan yang terkesan aneh.
"Maksud aku ini diperpustakaan, kamu liat tulisan didepan?"
"Didepan?" Gadis itu balik bertanya.
"Dilarang berisik, dilarang bawa makanan, dan dilarang makan diperpustakaan." ucap Arga datar namun penuh penekanan.
Gadis itu hanya diam, menyadari kesalahannya, "Ngerti kan?" tanyanya dingin, gadis itu kemudian mengangguk, yang entah kenapa membuat Arga ingin tersenyum geli melihat wajah polosnya yang terlihat menyesal.
Arga kemudian menarik tangannya, membuat gadis itu sedikit terkejut, namun tetap mengikuti langkah kemana Arga membawanya, hingga ketika laki-laki itu hendak menariknya ke dalam toilet pria, kedua mata indahnya membulat, memghempaskan pegangan tangan Arga dengan cepat.
"Kamu gila ya?!" ujar gadis itu, wajahnya terlihat sedikit takut.
"Ngapain bawa aku kesini? kamu mau macam-macam ya sama aku?" tuduhnya.
"Cuci baju aku." ucap Gara, itu bukan pertanyaan, ataupun perintah, namun entah kenapa mampu membuat gadis itu terdiam tak berkutik.
Ia meringis, menengadah keatas tepatnya pada papan bertuliskan 'toilet pria' kemudian bergantian menatap Arga yang mengangkat sebelah alisnya.
"Tapi ini toilet cowok." cicit gadis itu.
"Terus?" Arga memiringkan kepalanya menatap gadis itu.
"Aku cewek." Gadis itu menyengir.
"Masalahnya?"
__ADS_1
Gadis itu meneguk salivanya, belum sempat ia menjawab pertanyaan Arga, laki-laki itu kembali menarik tangannya entah kemana, tanpa menyadari gadis dibelakangnya terus memperhatikan bagaimana tangan kokoh itu memegang pergelangan tangannya, dan seulas senyum tipis dari bibir mungilnya terbit begitu saja.
Arga melepaskan pegangannya, kembali menatap gadis itu, kini keduanya berada didepan toilet wanita, "Tunggu apa lagi?" tanya laki-laki itu, ia mulai membuka kancing bajunya satu persatu yang entah kenapa membuat gadis dihadapannya itu memekik sembari menutup wajahnya.
"ck...dasar negatif thingking." Arga memutar bola matanya.
Gadis itu mengintip Arga lewat sela-sela jarinya, memastikan pandangannya tidak akan ternodai, laki-laki itu kini hanya mengenakan kaos oblong, sesaat membuat gadis itu berdecak kagum beberapa saat.
Arga mengasongkan seragamnya pada gadis itu," Waktunya lima menit."
"Hah?" belum sempat gadis itu mencerna maksud ucapan Arga yang selalu tak dapat ia mengerti, laki-laki itu kini malah mulai menghitung.
"1, 2,...."
"Ah iya!" dengan secepat kilat setelah berhasil memahami maksud Arga, diraihnya seragam laki-laki itu yang kemudian buru-buru ia cuci diwastafel, sementara Arga memperhatikannya dengan bersandar diambang pintu masuk, laki-laki itu mengulum senyumnya memperhatikan wajah panik gadis itu.
"Syeila..." gumamnya dalam hati
Flashback Off*
🍁🍁🍁
Kedua makhluk itu saling mendelik jengkel, kemudian memalingkan wajahnya masing-masing ke arah lain, perasaan kesal masih berkobar dalam dada mereka, namun untuk detik ini keduanya berusaha menyimpannya, tak ingin hukuman yang diberikan akan semakin bertambah.
Gara menundukkan kepalanya menghalau rasa kebas dan panas yang menjalar dipunggungnya, keringatnya mengalir deras dari pelipisnya, dan Syeila yang memperhatikannya sempat berdecak kagum beberapa saat, menghiraukan wajah laki-laki itu yang memucat.
Pandangannya kemudian jatuh pada sikut tangan Gara yang tampak lecet dan sedikit berdarah, Syeila baru menyadarinya, mungkinkah Gara terluka saat jatuh dari atas tembok tadi gara-gara dirinya?
"Ck...capek." gumam Gara.
"Aku gak peduli." balas Syeila mengerlingkan matanya seolah benar-benar tak peduli, namun tak berselang lama kedua matanya seketika membulat sempurna ketika laki-laki disampingnya itu ambruk begitu saja dengan mata terpejam.
"Gara! kamu pingsan?" tangannya menepuk-nepuk pipi Gara panik, wajah laki-laki itu kini benar-benar pucat pasi.
"Gara jangan becanda! yang harusnya pingsan tuh aku duluan!."
"Gara! Gara! bangun!"
Panggil gadis itu beberapa kali, namun Gara tak merespon, laki-laki itu tak bergerak sama sekali, dan tanpa ia sadari apa yang dirinya lakukan berkebalikan dengan apa yang dikatakannya tadi, mungkin jika laki-laki itu tahu bahwa gadis itu panik karenanya, Gara akan meledeknya habis-habisan dengan tawanya yang menggema dan selalu membuat Syeila kesal.
**Bersambung...
Santai aja dulu, ceritanya emang lambat😂
Hallo gays😎
akhirnya aku bisa up lagi, setelah sibuk dengan setumpuk tugas dirumah yang bikin puyeng audzubillah! apa kah ada yang nunggu Syeila Gara? oke gpp kalo gak ada😂
Prinsipku sekarang dimulai dari bodo amat, ada yang baca ataupun enggak, yang penting harus tamat.
sebenernya udah aku udah ketik sampe 23 bab, tapi aku up nya 3 hari sekali, maskipun bodo amat, aku masih berharap wkwkw😂😢
'cukup ngebacotnya thor!-_- unfaedah tau gak!'
oke sampai disini, lanjut gak nih? lanjutttttttt😂😂😂(dasar aku jawab sendiri😢)
Chayouuuuu😄💪
see you
-NBF**-
__ADS_1