
Laki-laki itu menggeliat kecil kala jam weker diatas nakas samping tempat tidurnya berdering nyaring, memecah sunyi diruangan gelap itu, mata sayu tanda bahwa ia masih mengantuk itu mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya kembali, rasanya baru kali ini ia dapat kembali tidur senyenyak ini, tanpa mimpi buruk disetiap tengah malam yang selalu membuatnya terjaga.
Tangannya kemudian terulur untuk mematikan jam waker, laki-laki itu menyibakkan selimutnya, kedua tungkai kakinya ia turunkan menyentuh lantai yang terasa dua kali lebih dingin ketikka baru saja bangun tidur, bukankah begitu?
Ia menatap pantulan wajahnya didepan cermin, ”Ganteng banget sih kamu Gara.” Pujinya pada diri sendiri diakhiri senyuman aneh namun menawan.
Ya, tak bisa dipungkiri, maski baru bangun tidur, Gara terlihat tetap Tampan, dan pertanyaannya, apakah Syeila si gadis pemarah itu tak menyadari ketampanannya?
15 menit berlalu, Gara keluar dari kamarnya dengan santai, sempurna dengan penampilannya, seragam putih abu-abu, berikut jas almamater yang melekat pas ditubuhnya, Gara tak perlu bertanya kini ia setampan apa.
Bersamaan ketika ia membuka daun pintunya, Syeila muncul dihadapannya dengan penampilan yang luar biasa acak-acakan, dasi yang tak diikat rapi, rambut yang sepertinya disisir asal-asalan, serta kaos kaki yang baru ia pasang sebelah, gadis itu menguap lebar dihadapan Gara yang menatapnya tanpa ekspresi.
“Apa liat-liat?” Cetus gadis itu sinis, namun kemudian termangu beberapa saat. Apa mungkin ia terpana dengan ketampanan Gara kali ini?
Gadis itu seketika melebarkan matanya, mendekatkan pandangannya pada logo yang terdapat pada bagian kiri seragam Gara, kemudian bergantian memandang wajah Gara yang kini memasang senyumannya.
“Ini apa?” tanyanya dengan tatapan nanar sembari menunjuk dada kiri Gara.
“Logo?” Gara balik bertanya tak mengerti.
“Jangaan bilang...huaaaa...!” Gadis itu merosot kelantai, kemudian misuh-misuh seperti anak kecil, membuat Gara yang masih ditempatnya semakin bingung tak tau harus melakukan apa.
Akhirnya setelah beberapa detik berlalu dengan pemandangan Syeila yang hanya garuk-garuk lantai, gadis itu bangkit berdiri, air mata yang mengering semakin memperparah penampilannya, tanpa mempedulikan Gara lagi, ia berjalan pelan menuruni tangga, sesekali menyeka ingusnya.
“Jangan ikutin aku!” Sentaknya.
Gara terjengit kaget,sekarang apa lagi kesalahannya?batinnya.
Kedua manusia itu berjalan menuju ruang makan, disana ada Sabrina yang tampaknya masih sibuk memindahkan makanan ke atas meja makan, Syeila duduk disalah satu kursi meja begitu saja, berbeda dengam Gara yang buru-buru membantu Sabrina, bagaimana pun ia tetap merasa tak enak terus merepotkan Sabrina.
“Gak apa-apa biar mama aja,kamu duduk aja dikursi.” Ucap Sabrina dengam senyuman hangat, senyuman yang selalu Gara rindukan dari sosok sang bunda, dan Sabrina seolah kembali mengisi kehangatan itu kembali.
Gara menghampiri tempat duduk disamping Syeila, namun baru saja ia akan mendudukan tubuhnya, gadis itu melotot, memberi peringatan untuk tidak duduk didekatnya, akhirnya Gara memilih duduk dikursi yang berhadapan dengannya, tak peduli dengan pelototan menikam dari syeila, laki-laki itu hanya tersenyum miring.
“Gara sekarang pindah satu sekolah sama kamu.”
“Iya tau.” Sahut Syeila tak peduli, maski kenyataannya ia belum cukup bisa menerima kehadiran Gara yang kini satu rumah dengannya ditambah lagi satu sekolah dengannya, sungguh menyebalkan.
Sarapan pagi kali ini didominasi seputar tentang Gara, membahas apapun dari mulai yang terpenting dan sangat tidak penting sedikitpun, diantara keempat manusia yang berada dimeja makan itu, hanya Syeila seorang yang memasang wajah datar ketika yang lainnya tertawa karena lelucon Gara yang menurutnya sangat tidak lucu, dan adiknya Sakka ternyata dapat dengan mudah akrab pada Gara, seolah-olah kini orang asing dirumah itu hanyalah Syeila.
Sabrina membenarkan dasi putrinya, beralih menyisir rambutnya dengan sisir yang selalu dibawanya kemana-mana, ”Anak cewek tuh harus rapi,anggun,manis,ya gak?” tanya Sabrina pada Syeila,yang hanya dibalas gumaman,Gara yang menyaksikan pemandangan dihapannya itu hanya tersenyum geli.
“Ya udah kalian cepat berangkat,nanti kesiangan.”
Syeila mengecup punggung tangan mamanya, bergantian Gara sebelumnya akhirnya menyusul Syeila yang lebih dulu berjalan keluar.
“Tunggu-tunggu!gak mau bareng?” ujar Gara.
Syeila menghentikan langkahnya, berbalik menatap Gara malas, ”Emangnya aku mau?”
“Terus kamu mau kesekolah pake apa?”
“Terbang!” jawab gadis itu sembari melambaikan kedua tangannya tanpa niat, kemudian kembali berbalik meninggalkan Gara.
__ADS_1
Gara terkekeh, cepat-cepat ia memakai helm full facenya, menyalakan motor besarnya yang berwarna merah, kemudian melajukannya menyusul Syeila yang berjalan santai.
“Yakin gak mau bareng? nanti kesiangan lo.” Laki-laki itu sengaja memelankan laju motornya untuk mensejajari langkah Syeila.
“Gak!” jawabnya mantap.
“Yaudah...aku duluan ya.”
Syeila melebarkan matanya, tak menyangka laki-laki itu akan benar-benar meninggalkannya, keterlaluan.
“Tunggu!” ujarnya setengah berteriak menghentikan laju motor Gara yang sudah berjarak sekitar 5 meter didepannya,Syeila berjalan mendekatinya dengan wajah tertekuknya.
“Keterlalun ya kamu!”
“Tadi katanya kamu bilang gak mau.”
“Harusya kamu ajak lagi!”
“Udah dua kali aku ajak kamu.”
“Ya, satu kali lagi!”
Gara menghelan nafas sabar,ia tersenyum terpaksa pada Syeila, ”Aya bareng.” Ucapnya kemudian.
“Oke, kamu yang maksa.” Balas gadis itu kemudian mulai naik keatas motor Gara dengan membrutal, memegang pundak laki-laki itu kasar hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
“Dasar nenek lampir.” Gumam Gara pelan, tanpa berfikir gadis dibelakangnya itu mungkin akan mendengarnya.
Syeila mencengkram pegangannya pada pinggang Gara, meremasnya hingga membuat laki-laki itu terpekik.
“Tadi katanya kamu mau terbang?” celutuk Gara sesaat kemudian, sembari sesekali melirik Syeila lewat kaca spionnya.
“Apa? gak denger!” sahutnya ketus, membuat kedua sudut bibir Gara tertarik keatas, yang tanpa ia ketahui pula, gadis dibelakangnya mengulum senyumannya.
🍁🍁🍁
Syeila akhirnya bisa bernafas lega sesampainya dipelataran parkir sekolah, bersyukur bahwa dirinya masih diberi umur, mengingat bagaimana Gara membawa motornya layaknya orang kesetanan yang katanya disebut 'Gaya terbang' cukup membuat Syeila jerit-jerit dan berteriak histeris disepanjang jalan.
“Kamu gak bisa apa bawa motor tuh santai dikit!” gerutu gadis itu setalah menginjakkan kakinya diatas tanah, sebelum melangkah lebih dulu menuju koridor meninggalkan Gara yang masih sibuk membuka helmnya.
Namun detik berikutnya, Syeila merasa ada yang berbeda sejak ia sampai kesekolah hari ini, orang-orang tampak memperhatikannya lebih intenst dari biasanya, apalagi saat ia berjalan menyusuri koridor, tatapan-tatapan itu semakin terang-terangan tertuju kearahnya, harusnya Syeila sudah terbiasa dengan hal itu, tapi kali ini rasanya aneh, bisikkan-bisikkan disepanjang koridor lebih didominasi para kaum perempuan.
Tak ingin memusingkan hal itu, Syeila berjalan dengan percaya diri, menyibakkan rambutnya kebelakang, mengabaikan bisikkan-bisikkan tak berbobot kurang kerjaan yang sama sekali tak penting.
“*Eh siapa tuh ganteng banget?”
“Dia anak baru kayaknya.”
“Itumah calon bebeb nya aku!”
“Apa sih kok kamu nikung!”
“Kenikmatan mana lagi yang kau dustakan!”
__ADS_1
“Tapi kok bareng Syeila*?”
Ganteng? Syeila? Dahi gadis itu mengernyit bingung, seketika kepalanya menoleh kesamping yang mana dihadiahi senyuman manis Gara yang baru ia sadari sejak tadi berjalan disampingnya, sejak kapan?
“Kamu?! kenapa ikutin aku? ” ujarnya geram pada Gara.
Gara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, yang entah kenapa membuat siswi-siswi yang memperhatikannya terpekik tertahan, sekarang Syeila tahu apa penyabab mereka memperhatikannya. Ralat, memperhatikan Gara maksudnya.
“Aku belum tau kawasan sekolah ini.” Balas Gara kemudian.
“Ya terus?” Tanyanya lagi.
“Anterin...” cicitnya dengan tampang polos membuat perut Syeila terasa mual.
“What?jadi ini alasan kamu tadi ajak bareng aku berangkat sekolah, karena ini?”
“Maksudnya?” Gara balik bertanya tak mengerti.
“Ck...gak bisa! pokoknya kita harus pisah. pisah!” gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian melangkahkan kakinya pergi, namun baru beberapa langkah dari Gara, ia kembali menoleh, menghampiri Gara lagi, setidaknya ia masih memiliki hati nurani untuk tidak menelantarkan laki-laki aneh seperti Gara.
“Kamu kelas apa?” tanyanya malas.
“11 IPA 1.” Jawab laki-laki itu cepat, dengan wajah sumringah.
“Gak salah?!” Kedua mata Syeila sukses terbelalak, memandang Gara dari bawah sampai ujung rambutnya,tampan.
Kepalanya mengelang cepat, menepis pikirannya yang tiba-tiba hinggap dikepala. Bagaimana bisa orang seperti Gara masuk dijajaran kelas yang selalu dielu-elukan itu? apa laki-laki dihadapannya ini benar-benar pintar? entahlah Syeila tak ingin peduli.
“Aku gak mau anter kamu, kamu Cuma harus dengerin aku baik-baik ya.” Gara mengangguk mendengarkan penuturan Syeila.
“Kamu Cuma harus lurus...” ucapannya terhenti beberapa saat, tampak berfikir sejenak,jika Gara berjalan lurus, artinya laki-laki itu akan tetap mengikutinya, kepalanya lagi-lagi mengelang.
“Salah!kamu Cuma harus jalan kesana, belok kanan, kanan lagi, abis itu mentok tangga, kamu naik, jangan noleh kanan kiri pas dilantai 2 oke, ngerti?”
"Kenapa gak boleh noleh kanan kiri?"
"Ck...pokoknya gak boleh,ngerti kan?"
Gara terdiam beberapa saat,berusaha mencerna kata-kata Syeila yang dikatakannya secepat kilat, sebelum akhirnya mengelang, membuat Syeila semakin geram ditempatnya, tampaknya laki-laki itu salah masuk melas.
Seorang gadis berkepang kuda tiba-tiba menghampiri keduanya sembari tersenyum ramah.
”Aku mau tanya, kalian liat anak baru gak, dia cowok namanya Anggara Riandito.” Ucapnya yang sedetik kemudian membuat senyum Syeila mengembang.
“Ini orangnya!” tunjuknya pada Gara.
“Kamu Anggara?dari tadi aku nyari kamu,aku disuruh guru piket buat nunjukin kelas kamu.” Ucapnya, membuat Syeila merasa lega untuk tak berurusan lagi dengan Gara.
“Berhubung udah ada yang mau anterin kamu,aku kekelas duluan,dadah...” Syeila melambaikan tangannya, cepat-cepat pergi dari sana, mengabaikan perasaannya yang tiba-tiba tak karuan melihat tatapan Gara pada gadis itu yang sedikit...berbeda, sudahlah itu bukan urusan Syeila, batinnya.
🍁🍁🍁
**Hai hai gimana gimana gimanaaa??? maaf kalo ada typo yang bertebaran,soalnya Author males edit😂besok aku up lagi,terus ikutin ceritanya ya
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan like and komen ya, karena itu semua sangat berarti buat ku😢ea lebay😂**