
Syeila menghela nafas berat, ditatapnya lamat-lamat wajah pucat Gara yang masih tertidur di atas ranjang UKS, maskipun terkadang laki-laki itu membuatnya jengkel, entah kenapa melihatnya seperti saat ini terkesan membosankan, atau mungkin khawatir? Dan beberaapa fakta tentang Gara yang sebelumnya telah ia ketahui jujur saja membuat hatinya sedikit terenyuh, namun Syeila bingung harus bersikap seperti apa padanya.
“Apa aku terlalu kasar sama kamu?”
“Ah enggak, kamu aja yang baperan.” Racau gadis itu berbicara sendiri.
“Harusnya aku gak peduli mau kamu pingsan ataupun mati dijemur bawah matahari, ya tapi karena aku masih punya hati nurani, dan emang baik hati, kalo kamu bangun nanti kamu harus balas budi.”
Hening, gadis itu terdiam, percuma berbicara panjang lebar dengan orang yang tak sadarkan diri, rasanya seperti berbicara dengan tembok, dan Syeila lebih bodoh lagi karena melakukannya hal tidak berguna itu.
Iris matanya kemudian jatuh pada sikut Gara yang terluka, ia mengedarkan pandangannya, mencari kotak P3K yang akhirnya ia temukan disalah satu rak, membawanya kedekat Gara, sekali lagi ia memandangnya lamat-lamat sembari mengoleskan alkohol disikut laki-laki itu.
“Apa yang semua aku bilang bohong, jangan percaya omongan aku, gak usah masukin hati, pokoknya jangan dianggap apalagi baper, anggap itu semua bohongan oke?” racaunya lagi dengan tangan yang sibuk menempelkan plester di sikut Gara.
“Kamu suka aku?”
“Hah?!” gadis itu terkejut bukan main bahkan hampir terjungkal ke belakang ketika Gara tiba-tiba terjaga dengan pertanyaan frontalnya, sialan! Apa laki-laki itu sejak tadi mendengarkan penuturannya?
"Kamu dari tadi dengerin omongan aku?!" laki-laki itu hanya mengangguk polos.
Kesal, tak hanya jantungnya yang terkejut ketika laki-laki itu tiba-tiba terjaga, pertanyaannya bahkan membuat tubuhnya lemas seolah mati rasa, ditambah lagi pipinya kini memanas luar biasa.
Ada jeda beeberapa saat setalah pertanyaan frontal laki-laki itu disuarakan, Syeila gelagapan, mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian membalas tatapan Gara yang kini merubah posisinya menjadi duduk.
“Gak!” Jawabnya gelagapan.
“Hayooo...Kamu bohong.” Gara menyengir kuda, membuat gadis didepannya itu gugup.
“Aku gak bohong!” Elak Syeila sembari membuang muka.
“Berarti beneran suka aku dong.”
“Mana mungkin ak-“
“Tadi kamu bilang semua yang kamu bilang bohong, jadi kalo kamu jawab ‘Gak’ berarti ‘Iya’ dan kamu juga bilang ‘Aku gak bohong’ artinya kamu bohong bilang Enggak yang artinya iya.”
Gadis itu bungkam, ia bingung, mulutnya entah kenapa terasa kelu untuk menyangkal ucapan laki-laki itu yang padahal tak dapat ia mengerti, otaknya sudah merangkai kata untuk membantah penuturan Gara, namun ketika tatapannya beradu dengan laki-laki itu, perasaannya campur aduk, entah itu kesal atau gugup, yang pasti Syeila ingin menghilang dari tempat itu sekarang juga.
“Terserah, aku gak peduli!” Tandasnya kemudian buru-buru beranjak meniggalkan Gara yang masih cengengesan, memalukan.
Gara menghela nafas kemudian menghembuskannya perlahan, pandangannya menatap plester yang menempel disikutnya, ia terkekeh geli sembari memandang pintu keluar sebelum Syeila menghilang tadi disana, “Dasar pembohong.” Gumamnya.
🍁🍁🍁
Pria berjas hitam itu mendudukan tubuhnya lelah dikursi kerjanya, melonggalkan dasinya yang seharian ini terasa mencekiknya, namun mau bagaimana lagi, pekerjaannya yang selalu menuntut kewibawaan sebagai seorang direktur perusahaan besar, menuntutnya selalu konsistem sebagai seorang pemimpin yang mana perusahaan itu bergantung padanya, orang lain pikir dirinya memiliki kehidupan yang memuaskan dengan segala apapun yang ia punya, tanpa orang ketahui dirinya menyimpan sejuta beban yang tak kasat mata, entah itu tentang apa yang ia kerjakan ataupun kebahagiaan yang telah lama hilang, dan Tito sejak lama pula menyadarinya.
Pandangannya kemudian jatuh pada figura berisikan foto seorang wanita cantik yang tengah tersenyum ke arah kamera disana, ya, dia istrinya.
__ADS_1
Senyumnya ikut terbit, seolah-olah foto itu benar-benar hidup, andai itu nyata, mungkin pria itu tak akan merasa sehampa ini.
"Aku rindu kamu Tia." ucapan dengan nada getir itu terdengar seperti bisikan, terlalu berat, seolah ada sesuatu yang menahan suaranya ditenggorokan.
Ia mengerjap ketika dirasanya matanya mulai memanas, tak membiarkan tembok nya kembali runtuh, karena selain dirinya yang terluka, selain dirinya yang kehilangan, selain dirinya yang merasa hampa, ada sosok lain yang mungkin kehilangan dunianya.
Tangan kekarnya kemudian meraih benda pipih yang tergelatak tak jauh dari pandangannya, menyalakan benda itu, lantas mendial sebuah nomor yang tertera dengan nama panggilan 'Anggara'.
Terdengar suara 'tut' yang artinya panggilan itu berdering pada ponsel si pemilik disebrang sana.
hingga akhirnya sabuah suara bass laki-laki disebrang sana mengangkat teleponnya, membuat pria itu menghela nafas lega.
"..."
"Kamu baik-baik kan disana?"
"..."
"Papa minta maaf, papa memang selalu sibuk, tapi semua ini demi kamu." laki-laki itu mengurut dahinya, tergurat penyesalan disana yang mana entah harus dengan cara apa ia mengganti penyesalan itu.
"..."
"Maafin papa."
"..."
"..."
"Sekali lagi maafin papa."
"..."
Pria itu tergugu, penuturan terakhir sosok disebrang sana membuat hatinya berdenyut, entah harus dengan cara apa lagi ia menjelaskan apa yang menjadi bebannya sejak dulu, namun pria itu paham betul apa yang dirasakannya, ini hanya tentang waktu sampai kapan ia bisa menerima segalanya, dunia sudah berubah, termasuk orang-orang didalamnya.
🍁🍁🍁
"Santai dikit napa Ga." cetus Rio menatap Gara yang tengah makan soto dihadapannya layaknya orang kesetanan dengan mulut yang sudah penuh masih dijejal pula, membuat pipinya semakin mengembung, Rio yakin jika cewek-cewek yang melihatnya mereka akan ilfeel pada Gara dan beralih memuja-muja dirinya, Rio terlalu berharap.
"Lagian kenapa bisa gak sarapan? sok sok an jadi makhluk astral gak perlu makan." sinis Rio.
Gara mendongak menatap Rio, "Kok lo bawel sih? gue udah bilang gue bangun kesiangan!" emosi Gara merasa momen makannya terus diganggu oleh ocehan sahabatnya itu sejak tadi.
"Ya kenapa bisa bangun kesiangan, biasanya lo tuh tukang molor, nempel dikit molor, contohnya rumah gua Ga, dateng-dateng numpang molor."
"Semalem gue gak bisa tidur."
"Gara-gara?"
__ADS_1
"Itu nama gue ****!" Gara menjitak kepala Rio.
"Lah gue juga tahu ****!" Rio balas menjitak kepala Gara.
"Terus ngapain nanya?"
Rio berdecak tak habis pikir, ternyata Gara bisa lebih bodoh darinya.
"Gue nanya gara-gara apa lo gak bisa tidur?" jelas Rio menahan emosi.
"Owh itu." Gara terkekeh baru paham, "Semalem gue...gue kanapa ya?" Gara malah balik bertanya.
"Lah kok nanya gue?" kesal Rio.
"Syeila suka gue gak si?" pertanyaan Gara seketika membuat seluruh perhatian Rio terarah padanya, pasalnya baru kali ini Gara membahas perihal suka tidak sukanya seorang perempuan padanya, biasanya Gara tidak akan peduli, bahkan didekati cewek saja Gara bilang dia alergi, katanya cewek itu ribet, berisik, dan rumit.
"Lo sendiri suka Syeila gak?" pertanyaan Rio membuat dahi laki-laki itu berkerut dalam, tampak berfikir keras hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan Rio yang kuncinya antara 'Iya' atau 'Tidak', tapi Gara bingung harus menjawab apa.
"Gak tau..." jawab Gara akhirnya, membuat Rio mengerlingkan matanya jengah.
"Dasar orang kasmaran!" celutuknya
"Siapa?" tanya Gara dengan tampang polosnya.
"Kudanil tuh!" Gara terkekeh beberapa saat, kemudian kembali menyantap sotonya menghiraukan tatapan Rio yang greget ingin mengigitnya, Gara tidak peka.
"Lo pernah jatuh cinta gak sih Ga?" Tanya Rio tiba-tiba.
"Gue?" Gara menggigit bibirnya tampak berfikir, kemudian menatap Rio, "Pernahlah."
"Serius? siapa cewe pertama yang buat lo jatuh cinta?" Rio antusias, mendekatkan tubuhnya lebih dekat pada Gara.
"Yang pasti bukan lo."
"Kan gue cowok Ga, gue gak nyangka lo anggap gua seserius ini." Rio mendesah.
"cewe pertama yang buat gue jatuh cinta...gue gak tau namanya." ucap Gara kemudian.
Rio melongo, "Terus gimana ceritanya lo jatuh cinta sama itu cewe tapi gak kenal itu cewe?"
"Sepenasaran itu lo sama kisah cinta gue?"
"Kalo gue pengen punya pacar itu gampang, tenang, santai." Gara menyugar rambutnya kebelakang, yang tanpa disadarinya membuat gadis-gadis yang sejak tadi duduk memperhatikannya menjerit tertahan, sejak kapan mereka ada disana? gumam Gara dalam hati, yang detik itu juga membuat nafsu makannya mengepul diudara, tak lagi berselera pada sotonya yang tinggal setengah.
"Balik yuk!" ajaknya yang tanpa jawaban dari Rio, Gara menariknya paksa meninggalkan kantin.
Bersambung
__ADS_1