Ya'Aburnee

Ya'Aburnee
Bagian 12. Kekacauan Gara dan Sakka


__ADS_3

Gadis itu terkesiap kala membuka pintu rumahnya yang langsung disuguhi kekacauan dimana Gara dan adiknya Sakka bermain Game playstation diruang tengah yang kini tampak seperti kapal pecah, gadis itu yakin jika mama nya melihat ini semua ia akan mengamuk disertai pidatonya yang bisa bikin budek telinga.


Gadis itu baru saja pulang, dan Gara telah pulang lebih dulu sejak tadi karena memang syeila yang menyuruhnya dengan alasan ia ingin pergi bermain bersama Mira.


"Kalian waras?" tanya gadis itu berlari menghampiri dua makhluk yang tampak fokus menatap layar tv, dengan tangan yang sibuk menekan setiap tombol pada stik ps.


Matanya kemudian mengedar mencari kehadiran sang mama, tapi tak dapat ia temukan.


"Sakka! Gara! dengerin woy!" pekiknya yang berhasil mengalihkan pandangan kedua cowok itu.


"Apa?" tanya keduanya bersamaan.


"Kalian gak sadar atau pura-pura gak sadar, ini berantakan banget, kalian tuh main udah kayak bocah tk, terus ini apa lagi?!" gadis itu menarik ikat rambut dari rambut Gara.


"Kalian main salon-salonan?!"


Gara melirik Sakka lewat sudut matanya, "Yaelah kak, datang-datang langsung ngomel, heran deh udah kayak mama."


Gadis itu tercenung, benar juga, ternyata sifat cerewetnya memang menurun dari mamanya, kenapa ia baru menyadarinya?


"Mama kemana?"


"Katanya mau keluar bentar, tapi gak tau mau ngapain." jawab Sakka seadanya.


Gadis itu kemudian menatap Gara yang tak berekspresi sama sekali, tak seperti biasanya, atau jangan-jangan laki-laki itu masih sakit?


"Kenapa?" tanyanya pada Gara maskipun terkesan sinis.


"Kamu...jelek." ucap laki-laki itu datar yang kemudian membuat Sakka menyemburkan tawanya sedangkan Syeila menganga menahan kesal.


"Sialan! berani-beraninya kamu!" gadis itu hendak menarik kaos Gara, namun dengan cepat Sakka menghadangnya.


"Udah mamah sama papah jangan berantem, adek gak tahan liatnya." ujar Sakka berdrama seolah ia anak broken home dengan wajahnya yang dibuat-buat, sumpah kedua remaja yang melihatnya ingin muntah saat itu juga.


"Jijik gue!" Gara mendorong Sakka.


"Adek siapa sih? adek kamu?" Tanya Gara pada Syeila, gadis itu memutar bola mata nya malas, jijik.


"Adek kamu kali!"


"Dih mana sudi!"


"Terus aja terus, hina aku sepuasnya, kalian semua suci aku pernah dosa!" sergah Sakka dengan wajah sebalnya.

__ADS_1


Syeila dan Gara saling tatap beberapa detik, kemudian menyemburkan tawanya tepat dihadapan Sakka, membuatnya semakin memberenggut kesal.


"MAMAAAAAA..."


🍁🍁🍁


Sabrina tak mengalihkan pandangannya pada raut wajah lelah dihadapannya yang ia yakini berusaha untuk terlihat baik-baik saja, pria itu, Tito Riandito, sudah 20 menit berlalu keduanya berbincang lama disudut sebuah kafe bergaya klasik yang tak terlalu ramai itu, suasana yang cukup nyaman sembari mengingat kenangan-kenangan mereka dulu.


Dulu, sejak keduanya masih dibangku SMA, mereka adalah sahabat dekat, termasuk Ardi, yang kini menjadi suami Sabrina.


Waktu berjalan begitu cepat, merubah segalanya, Sabrina yang sibuk dengan keluarganya, dan Tito yang entah kenapa membuatnya iba dengan garis takdirnya dimana ia harus kehilangan istrinya, dan putranya Anggara yang munafik jika ia mengatakan dirinya baik-baik saja.


Sabrina menatap Tito prihatin, ketika laki-laki itu memijat pangkal hidungnya setelah mengeluhkan apa yang membebaninya.


"Kamu harus kuat To, anak mu satu-satunya butuh pondasi yang kuat, yaitu kamu. di luar mungkin dia terlihat biasa saja, tapi aku tau, mungkin kamu sendiri juga tau, dia menyimpan lukanya, untuk itu kamu juga harus terlihat baik-baik saja didepan dia, kamu harus lebih kuat, bagaimanapun situasinya."


"Aku tahu, dia anak yang baik, dia pasti marah sama aku, karena aku lebih sibuk sama pekerjaanku."


"Dia pasti mengerti." Sabrina tersenyum meyakinkan.


"Aku memang ayah yang keterlaluan."


"Gak, kamu ayah yang baik, Gara hanya belum bisa menerima semuanya."


"Bahkan ketika ku kenalkan Lia, anak itu marah besar."


Tito hanya menunduk lesu, berharap begitu, ia hanya ingin yang terbaik bagi putranya, Tito tahu kehilangan itu sangat menyakitkan, ia pikir membawa kehadiran sosok baru dapat membuat luka dihati Anggara sedikit membaik, nyatanya semuanya malah memperburuk keadaan.


"Apa ia mau menerima Lia?" tanya Tito pada Sabrina yang setia mendengarkan keluh kesahnya.


"Pasti, Gara bakal terima dia, mungkin belum sekarang, kamu harus lebih buat dia percaya, bahwa kebahagiaan itu tidak benar-benar hilang dari dirinya, karena kamu juga bagian kebahagiaannya juga."


🍁🍁🍁


Gara mendesah malas, menyapu lantai ruang tengah ogah-ogahan, Sakka tengah membereskan barang-barang yang tergelat sana-sani yang entah sejak kapan mungkin dilemparnya tadi bersama Gara, sementara Syeila merebahkan tubuhnya diatas sofa masih memakai baju seragamnya, memang kumpulan manusia pemalas disana.


"Gara tadi kamu pingsan beneran?" tanya Syeila tiba-tiba sembari memerhatikan laki-laki itu dengan seksama.


"Ya enggaklah." balas laki-laki itu, ada jeda beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Syeila, ekor matanya melirik Syeila yang masih menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Jadi bohongan?!"


"Yakali kalo aku gak pura-pura pingsan, emangnya kamu mau dihukum terus, mana panas pula, kulit aku tuh bisa terbakar."

__ADS_1


Gadis itu memutar bola matanya malas, jijik mendengarkan penuturan Gara yang lebih pantas disuarakan para cewek-cewek alay.


"Tapi berkat aku, kita gak dihukum lagi." laki-laki tersenyum bangga.


Syeila berdiri, gadis itu menghampiri Gara dan berdiri tepat dihadapannya, menatap laki-laki itu, sementara Gara menggaruk tengkuknya gatal, tiba-tiba merasa gugup ketika ditatap seperti itu.


Pluk..


Gadis itu menakup wajah Gara dengan kasar, namun tatapannya menyorotkan seolah ia bangga dengan tindakan laki-laki itu.


"Gara!...kamu emang the best deh!"


Kedua bola matanya mengerjap-ngerjap, mencoba memahami apa yang dilakukan gadis dihadapannya itu.


"Ternyata kamu emang pinter beneran Gara, mama bangga sama kamu." ujar gadis itu lagi.


Sakka memandang keduanya aneh, apalagi Syeila yang bertindak tiba-tiba seperti itu pada seorang laki-laki, dia tak seperti biasanya.


"Ehmmm..." deham Sakka, menarik perhatian Syeila yang kemudian mendelik tajam padanya.


"Kurang mesra mas sama embaknya." ujar Sakka.


"Kayak gini?" Sebalah tangan gadis itu menarik rambut Gara kasar, membuat laki-laki itu meringis.


"Atau kayak gini?" Syeila menjambak rambut Gara dengan keduanya, laki-laki itu memekik.


"Sakit gelaaa!!"


Syeila melepaskan jambakannya, "Beresin yang bener, yang bersih, yang rapih, pokoknya jangan sampe tersisa debu sedikit pun, atau kepala kalian aku jambak sampe botak mau?"


"Kayak dirinya suka bersih-bersih aja." Sindir Sakka.


"Kucel kayak gitu, tidak bisa dipercaya." itu suara Gara.


"Apa kamu bilang?!"


"Kamu kucel." jawab Gara dengan entengnya, tanpa ekpresi yang semakin membuat Syeila kesal.


"Kamu tuh bener-bener..."


"...Ganteng."


Syeila melotot tajam, menatap Gara sengit yang hanya menyunggingkan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Ngeslin kalian berdua!" hardikmya sebelum berlalu menuju kamarnya dengan langkah yang terkesan seperti buto ijo, Gara dan Sakka sambil melempar pandang, kemudian mengedikkan bahu bersamaan.


Bersambung...


__ADS_2