Ya'Aburnee

Ya'Aburnee
Bagian 13. Jeritan Tengah Malam


__ADS_3

00.21


Gadis itu bergerak gelisah diatas kasurnya, untuk malam kesekian kalinya tak dapat tidur tepat waktu, penyebabnya cuma satu, dan hal yang sama seperti kemarin malam, perihal pertanyaan Gara yang selalu membuatnya terus menduga-duga tanpa henti.


"Kamu suka aku?"


Syeila tak habis pikir, bagaimana bisa laki-laki itu menanyakan hal seperti itu tanpa memikirkannya lebih dulu? dan lihat bagaimana tingkah gadis itu sekarang setelah pertanyaan sama untuk kedua kalinya itu memenuhi otaknya.


Syeila sadar, seharusnya ia tak seperti ini, seperti biasanya ia harus bersikap bodo amat, sama halnya yang sering ia lakukan pada laki-laki umumnya, termasuk Gara.


Gara, namanya Gara, laki-laki itu baru tinggal seminggu dikehidupannya, namun mampu membuat kehidupannya berubah begitu saja, semakin kecau.


Gadis itu melirik jam diponselnya, tengah malam lewat, ia mendesah geram karena masih belum bisa tidur, kakinya kemudian turun dari ranjang, melangkah keluar dari kamarnya.


Gelap, itu yang Syeila lihat, kaki jenjang berbalut celana tidur selutut itu melangkah hati-hati menuruni tangga, niatnya saat ini adalah pergi ke dapur, dan mencari apapun yang bisa ia makan.


Sesampainya didapur, ia menghampiri kulkas disudut ruangan, membukanya dengan posisi berjongkok, cahaya dari lampu kulkas menerangi wajah cantiknya, namun bukannya segara mengambil apa yang ingin ia makan, gadis itu malah termenung.


"Aku suka kamu?" racaunya tak jelas, ia berdecak, menggelengkan kepalanya.


"Kayaknya emang ini permainan dia."


"Memangnya aku ini cewek apaan? berani-beraninya dia."


"Aku ini Syeila, gak boleh ada yang berani macem-macem sama aku."


"Ck...kenapa juga aku ngomong sendiri." ia berdecak, tangannya kemudian meraih susu kotak rasa coklat sebelum akhirnya menutup pintu kulkas.


"Huaaa...Hantu!!!" teriaknya keras, ketika mendapati sosok yang berdiri dihadapannya tiba-tiba, gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Mana ada hantu luar biasa ganteng kayak gini." ucap sosok itu membuat kepala Syeila mendongak keatas, ternyata Gara.


"Ish...kenapa sih suka bikin kaget orang terus, gak bisa apa muncul gak tiba-tiba kayak gitu?!" gerutu gadis itu berapi-api.


Gara meletakkan telunjuknya tepat dibibir gadis itu tiba-tiba , membuatnya bungkam dengan mata melotot.


"Jangan teriak, nanti orang rumah bangun semua." bisiknya pelan tepat dihadapan wajah gadis itu, tak sadar dengan perlakuannya dapat membuat jantung Syeila rasanya ingin jatuh, mati-matian ia meneguk salivanya, Gara sialan.


"Ada apa Syei?!" itu suara Sabrina yang muncul tiba-tiba dengan rambut acak-acakannya, membuat kedua orang itu memekik terkejut bersamaan.


"Aaaa...!!!"


"Kenapa sih pada teriak-teriak, ini udah malem, ngapain?" ucap Sabrina sembari menguap lebar, kedua matanya memejam.


Syeila dan Gara saling melempar pandang, " Anu mah, Syeila haus." ucap gadis itu kemudian.


"Yaudah, kalo udah minum cepet tidur, besok sekolah, nanti kesiangan lagi kayak kemarin." Sabrina berjalan gontai, kembali masuk kekamarnya.


Syeila menatap Gara lemas, ia beranjak berdiri, melangkah mendekati meja makan dengan jantung yang masih berdebar tak karuan, sementara laki-laki itu malah terkekeh tanpa rasa bersalah.


"Kalo aku kena serangan jantung gimana? mati gimana?" ucapnya masih kesal.

__ADS_1


"Biar aku donorin jantung aku, atau kita mati sama-sama."


Gadis itu diam, oke kata-kata Gara barusan sedikit membuatnya meleleh, dasarnya laki-laki itu memang selalu berbicara tanpa berfikir dahulu, bodoh.


Disatu sisi gadis itu mengulum bibirnya, menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat ke atas, sedangkan Gara kini tampak sibuk melakukan sesuatu.


"Kamu mau ngapain? gak niat bakar rumah ini kan?" tanya Syeila memperhatikan laki-laki itu yang membelakanginya.


"Curigaan mulu jadi orang, aku mau masak, lapar." jawabnya sembari menyalakan kompor.


"Gak gratis, gas bayar." Sergah Syeila


Gara membalikkan tubuhnya, menatap Syeila dengan ekspresi datar, lucu, entah kenapa hal itu kemudian membuat Syeila terkekeh.


Gara kembali melanjutkan aktivitasnya, ia membuka sebungkus mie instan, ya, mungkin karena hanya itu yang mudah dimasak bagi seorang laki-laki


"Mie nya juga." celutuk Syeila lagi.


"Nanti kalo aku jadi suami kamu." sahut Gara tanpa memandang gadis itu.


Pipi gadis itu merona seketika, skakmat, celutukkan Gara ternyata lebih berbahaya bagi jantungnya, ia menenggelamkan kepalanya diatas meja, menyembunyikan wajahnya dari Gara.


Laki-laki itu tersenyum penuh arti tanpa Syeila sadari, "Kamu mau makan juga?" tanya Gara kemudian.


Syeila meneggakkan tubuhnya cepat, berusaha terlihat biasa saja seolah tak ada yang terjadi, ia melirik laki-laki itu yang kini sibuk menuangkan mienya kedalam mangkuk.


Gara membawa mangkuk mienya yang masih mengepul itu didepan meja Syeila, mendudukkan tubuhnya dikursi menghadap gadis itu.


"Aku gak yakin rasanya enak, soalnya kamu yang masak."


"Aku bisa." Syeila mendengus.


"Oh ya?" nada laki-laki itu terdengar meremehkan.


"Jangan remehin aku, begini-begini aku juga punya keahlian."


"Termasuk teriak-teriak dan marah-marah." sanggah Gara.


Syeila terdiam, ucapan Gara tak sepenuhnya salah, setidaknya Syeila tau diri sedikit.


Gara menyeruput mienya dengan suara yang entah kenapa membuat Syeila merasa terganggu, gadis itu meiliriknya dengan tatapan mengintimidasi.


Gara mendongak, membalas tatapannya dengan mulut penuhnya, "Kenapa? aku ganteng ya?" laki-laki itu tersenyum jahil.


"Gak." jawab Syeila mantap.


Gara mengedikkan bahunya, melanjutkan menyeruput mienya dengan gaya layaknya bintang iklan, Syeila jadi teringat dengan Ghea yang juga selalu malakukan hal seperti itu.


"Makannya emang harus gitu?" Syeila mendengus.


"Mamamia lezatos..." gumam Gara tak nyambung.

__ADS_1


Syeila melipat tangannya didepan dada, memerhatikan Gara yang masih asik dengan mienya, laki-laki itu kembali mendongak menatapnya, buru-buru Syeila memalingkan wajahnya ke arah lain, asal tidak pada laki-laki itu.


Tidak, Syeila tidak boleh terbius ketampanan Gara, ia harus melakukan sesuatu sebagai balasan karena laki-laki itu yang membuatnya tak tenang dengan perasaan tak nyamannya, intinya sejak kehadiran Gara dirumah ini, perasaan gadis itu selalu kecau.


Syeila hanya ingin tahu maksud pertanyaan "Kamu suka aku?" yang selalu Gara lontarkan padanya, apa laki-laki itu bersungguh menanyakan perasaannya, atau hanya ingin sekedar mempermainkan Syeila dan membuatnya bimbang dan berakhir dengan perasaan yang selalu tak nyaman.


"Aku akui, kamu emang ganteng." ucap Syeila ia menumpukan dagu pada tangan kanannya yang disimpan diatas meja.


"Sejak lahir kali..." sahut Gara tanpa melirik Syeila.


Gadis itu menggigit bibirnya menahan kesal, "Tapi ada yang lebih ganteng dari kamu tau."


"Siapa?" Gara mendongak, menunggu ucapan gadis itu selanjutnya.


"Dia itu pinter, jago main basket, badannya beuhhh pokoknya gak kayak kamu, cungkring kayak tiang, pokoknya aku suka banget sama dia." jelas Syeila, gadis itu terkikik ketika melihat ekspresi datar Gara, apakah dia cemburu?


"Siapa dia?" tanyanya penasaran.


"Dia..." Syeila membekap mulutnya sendiri ketika mengatakn nama laki-laki yang dimaksudnya, membuat Gara mengernyit tak dapat menangkap jelas ucapan gadis itu.


"Gak kedengeran." gerutu laki-laki itu.


Syeila terkekeh puas, "Rahasia." ucapnya kemudian, Gara mendesah kesal, tak lagi berselera dengan mienya yang tinggal setengah, hanya menatap Syeila dengan tatapan yang bahkan tak dapat gadis itu terjemahkan.


"Kasih tau."


"Rahasia."


"Kasih tau!"


"Rahasia!"


"Kasih tau gak?!"


"Rahasia!!!"


"Ck aku peduli lah." Gara memutar bola matanya malas, melipat tangannya didepan dada.


"Cieee...yang penasaran." Goda Syeila dengan senyum jahilnya.


"Bodo amat, nih abisin." Gara mendorong mangkuk mienya ke hadapan gadis itu.


"Ikh gak mau, rabies aku entar." Syeila mengedikkan bahunya seolah jijik, mendorong kembali mamgkuk mie itu.


"Terserah, aku ngantuk." Gara beranjak berdiri, meninggalkan Syeila yang masih duduk ditempatnya.


"Yah...ngambek dia." gumamnya yang tentu saja masih bisa Gara dengar.


Gadis itu terkekeh puas, Gara tampaknya benar-benar kesal hanya dengan bagaimana gadis itu memuji laki-laki lain, seperti itukah laki-laki cemburu? tapi kenapa cemburu Gara lebih mirip seperti perempuan.


Jadi bolehkan Syeila menyimpulkan jika Gara bukan sekedar mempermainkan perasaannnya dengan pertanyaan konyolnya itu? dan apakah artinya Gara memang menyukai dirinya?

__ADS_1


**Bersambung...


Maaf gak sempet edit, jan lupa like and komen supaya aku semangat lanjutin ceritanya**...


__ADS_2