
Diabaikan, siapa yang berada diposisi itu pasti mengesalkan bukan, namun pada akhirnya kita memilih diam, memendam kekesalan itu yang kemudian akan mengepul pada akhirnya, entah itu lewat pelampiasan atau hilang begitu saja.
Syeila mendengus jengkel, disepanjang lorong sekolah dirinya terus berteriak memanggil Gara yang berjalan 5 meter di depannya tanpa menoleh sama sekali, seolah panggilan Syeila yang menggelegar itu hanya angin lewat.
Menghiraukan tatapan-tatapan siswa siswi yang penasaran atas apa yang terjadi diantara Syeila dan Gara, beberapa dari mereke berbisik-bisik membicarakan tingkah Syeila yang menurut mereka tak punya malu dan murahan, tapi Syeila tak peduli, hanya manusia tak berguna yang sibuk mengurusi hidup orang lain, dan Syeila tak ingin menjadi salah satu dari mereka dengan memperdulikan apa yang mereka bicarakan.
"Gara!" Panggilnya lagi masih belum ingin menyerah, hingga tak sengaja ia menyenggol seorang laki-laki, namun tubuh Syeila yang jauh lebih kecil dari pada laki-laki itu membuat dirinya sendiri yang terhuyung dan berakhir jatuh terduduk.
"Aduh, pantat aku sakit..." Lirihnya.
"Kamu, gak apa-apa?" tanya laki-laki itu.
Kepala gadis itu mendongak seketika, ketika suara laki-laki yang familiar itu masuk ke indra pendengarannya, dia Arga.
Syeila tak tau pasti apa yang terjadi, semuanya berlalu begitu cepat hingga ia melupakan Gara yang kini sudah tak terlihat, ia bangkit berdiri dibantu uluran tangan kokoh Arga yang selalu ia impi-impikan menggenggam tangannya, dan detik ini menjadi kenyataan, pipinya merona seketika.
"A-Aku gak apa-apa, ma-maaf aku gak sengaja tabrak kamu." ucap gadis itu terbata-bata, Syeila benar-benar gugup.
"Santai aja, ini bukan yang pertama kalinya juga kamu tabrak aku kayak gini." balas Arga, seperti biasa dengan nada santai dan dinginnya itu.
"Hah?" gadis itu membuka mulutnya.
"Kamu gak inget?"
Gadis itu terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan laki-laki itu, setiap kali gugup Syeila selalu kehilangan kata-katanya.
"Ah...iya!" sergah gadis itu akhirnya.
"Hati-hati kalo jalan, gak semua orang bakal fine-fine aja kamu tabrak."
"Iya, aku bakal lebih hati-hati." Syeila menunduk malu, dan tanpa diduganya Arga menepuk kepala Syeila pelan, membuat jantungnya memberontak, tak lupa untuk pertama kalinya laki-laki itu tersenyum padanya, senyuman pertama yang ia lihat dari Arga, hanya untuk dirinya.
"Alay, lebay, gitu aja baper." gumam Gara sebelum melangkahkan kakinya menaiki tangga dengan suasana hati yang entah kenapa menjadi buruk.
🍁🍁🍁
"Serius kamu Syei?!" Ghea, wajah gadis itu 2 kali lebih antusias daripada Syeila yang mengalami kejadian tadi.
"Biasa aja kali Ghe, perasaan aku yang ngalaminnya, tapi kamu yang lebih seneng."
"Kan aku sahabat kamu, harus ikut seneng juga dong."
Syeila mengangkat kepalanya dari meja, menghentikan gerakan tangannya yang asik mencoret-coret sesuatu dimejanya dengan tip-ex, bosan menunggu bel istirahat yang tak kunjung berbunyi, sementara jam pelajaran kali ini Gurunya tidak hadir.
"Aku jadi curiga sama kamu."
__ADS_1
"Curiga gimana maksud kamu?" Ghea membalas tatapan mengintimidasi Syeila.
"Jangan-jangan kamu suka Arga juga ya?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Syeila.
Ghea tergugu selama beberapa detik, gadis itu memandang Syeila kemudian terkekeh, "Yakali aku suka Arga, dari dulu aku juga tau dia gebetan kamu, mana mungkin aku suka dia, ngaco deh."
"hehe iya, mana mungkin kamu suka dia." Syeila menyengir sebelum kemudian kembali meletakkan kepalanya diatas meja, sementara Ghea sibuk memainkan ponselnya.
"Ghe, menurut kamu Arga tuh orangnya kayak gimana sih?" tanya Syeila, namun tatapan matanya tertuju pada jam dinding didepan kelas.
Ghea melirik gadis itu sekilas, "Menurut aku dia baik, pinter juga, jago main basket, terus..."
"Bukan itu, maksud aku dibalik sikap dinginnya dia itu orang kayak apa sih?"
"Entah, mungkin dia baik, sedingin-dinginnya dia sama orang lain, pasti dia punya sisi nurani, kayak barusan yang kamu ceritain, gak kayak kamu..." Ghea mengakhiri ucapannya dengan tatapan sarkastik.
"Lah kok jadi aku?" wajah polos Syeila membuat Ghea gemas.
"Gak sadar apa gimana sih kamu Syei, waktu kita pergi main sepulang sekolah, Gara tuh nungguin kamu."
"Jangan bohong deh, kemarin jelas-jelas dia udah pulang duluan ke rumah, malahan acak-acakin rumah sampe kayak kapal pecah sama adikku."
"Setau kamu sih kayak gitu."
"Masa sih, dia nungguin aku..." gumam gadis itu, matanya memandang ke jendela luar, dan secara kebetulan sosok yang barusan dibicarakannya berjalan melewati kelasnya.
"Sedekat itukah mereka?" tanya Syeila dalam hatinya, melihat bagaimana ekspresi Gara ketika mendengarkan apa yang dikatakan gadis disampingnya, dan sesekali mereka berdua tertawa. bolehkah Syeila cemburu?
"Aku gak peduli!" ujarnya meyakinkan dirinya bahwa perasaan tidak suka ketika Gara dekat perempuan lain hanyalah angin lewat, ini hanya kekesalan Syeila yang memang tak menyukai Gara.
🍁🍁🍁
Jam istirahat, kali ini entah kenapa terasa menjengkelkan bagi kedua insan yang duduk berhadapan dan saling melempar tatapan tak suka.
"Apa?" Gara melirik Syeila sinis.
"Ge-er." balas gadis itu tak kalah sinisnya, seandainya saja Ghea tidak memaksanya duduk disini ditambah dengan ajakan Rio yang tentunya tak bisa Ghea tolak, ia tak akan sudi duduk berhadapan dengan Gara yang semakin membuatnya kesal.
Syeila menyuapkan sotonya kesal, sama halnya yang dilakukan Gara, membuat dua sosok lain dimeja yang sama itu saling pandang.
"Dasar baperan." desis Syeila pelan yang tentunya ditujukan untuk Gara.
Gara yang mendengarnya tentu saja tak terima, " Cih...dirinya sendiri lebih baperan." balasnya, nadanya sedikit lebih naik dari desisan Syeila, dan selanjutnya terus begitu.
"Cuma karena aku puji-puji dia, kamu udah ngambek kayak cewek.."
__ADS_1
"Cuma dapet perhatian dari dia gitu aja, kamu udah senyum kayak onta."
"Cuma karena dia lebih cantik, aku dihina gini gitu?!"
"Cuma karena dia lebih keren, kamu suka dia?!"
"Dasar baperan!"
"Kamu yang baperan!"
"Kamu!"
melihat percekcokan antara Syeila dan Gara yang mengundang perhatian, Rio berniat melerai, apalagi ketika dua manusia yang sama-sama tersulut emosi itu memegang garpu dan sendok masing-masing dengan amat kesal, takut jika benda tak bersalah itu berakhir menjadi korban.
"Kalian jangan beranten disini dong, malu diliatin." gerutu Rio.
"Diem!" sentak kedua manusia itu bersamaan, membuat Rio bungkam.
"Kenapa sih berantem ngomongin baper-baperan, kalian teh saling suka? pacaran?" kali ini Ghea yang mencoba melerai
"Gak!" jawab keduanya bersamaan lagi.
Kedua makhluk itu kemudian beranjak meninggalkan kantin setelah meninggalkan tatapan tajam satu sama lain yang seolah bisa mengeluarkan laser, menghiraukan tatapan mengintimidasi dari seisi kantin dengan wajah-wajah cengonya.
Ghea dan Rio saling pandang dengan tatapan ngeri.
"Biarin mereka sendiri-sendiri aja dulu, kayaknya mereka lagi punya masalah."
"Baru kali ini gue liat Gara berantem sama cewek, serem juga."
"Apa mereka ada something?" Ghea mendekatkan wajahnya pada Rio.
Rio melakukan hal yang sama, "Someting teh naon?" balasnya membuat Ghea memutar bola matanya malas, sepertinya Ghea salah mengidolakan Rio.
"Yeuu...sikampret, you stupid."
"Kamu juga." Rio menyengir.
"Dih gak mau, kamu aja sendiri."
"Okay, you stupid!" ujarnya.
Ghea bangkit meninggalkan kantin diikitu Rio yang terus saja mengatakan kalimatnya itu, laki-laki itu tidak tau artinya atau memang bodoh?
"*Yo*u stupid!"
__ADS_1
"Bukan Ghea, bukan Ghea."