Ya'Aburnee

Ya'Aburnee
Bagian 6. Gara Menyukainya


__ADS_3

“Aku Andien.” Ucap gadis itu mengulurkan tangannya pada Gara, keduanya kini tengah berjalan menyusuri koridor lantai 2 menuju kelas Gara.


“Kamu?” tanyanya gadis itu tak kunjung mendapat balasan dari Gara.


Sadar gadis disebelahnya tengah mengajaknya berbicara, spontan saja Gara mengerjapkan matanya, memandang Andine dengan tatapan bertanya, bukannya kesal karena Gara ternyata sejak tadi mengabaikannya, Andine justru tersenyum.


“Kamu kayaknya lagi mikirin sesuatu, aku Andine, kamu?” tanyanya ulang, dengan senyum tak sedikitpun memudar.


“Aku Gara.” Balas Gara akhirnya, membalas uluran tangan Andine.


"Maaf aku gak fokus."


“Kalo kamu butuh bantuan, kamu bisa bilang aku, aku juga satu kelas sama kamu.” Tutur Andine.


“Oh, syukur deh.” Laki-laki itu tersenyum, membuat gadis dihadapannya sempat tertegun beberapa saat sebelum Gara melambai-lambaikan tangan didepan wajahnya yang sukses membuatnya tersadar.


Laki-laki itu sejak tadi mengedarkan pandangannya pada kelas-kelas disepanjang koridor, tentunya Gara tak sebodoh itu ketika Syeila mengatakan padanya untuk tidak menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri saat dilantai dua, ya gadis itu ingin menghindarinya.


Kedua sudut bibirnya seketika tertarik keatas dengan mata yang berbinar ketika berhasil menangkap sosok Syeila yang berada dalam salah satu kelas, gadis itu tampak asik mencoret-coret sesuatu dibukunya. Ralat ternya buku orang lain saat seseoraang yang notebeen-nya pemilik buku itu menariknya dari Syeila dengan kesal, sementara gadis itu menyengir tanpa merasa bersalah.


Gara terkekeh melihatnya, tanpa sadar membuat gadis disampingnya yang diam-diam terus memperhatikannya ikut tersenyum. Apa mungkin Andine menyukainya?


🍁🍁🍁


Syeila menumpukan dagunya pada lipatan tangan yang ia simpan diatas meja kantin, memandang keramaian orang-orang kelaparan yang berebut antrean didepannya tanpa tertarik, disampingnya ada Ghea,teman sekaligus sahabatnya sejak SMP yang tampak asik menikmati Sotonya dengan suara yang membuat Syeila risih.


“Kamu gak makan Syei?” tanya Ghea, yang hanya dibalas gelengan dari gadis itu.


“Aku lagi gak mood.”


“Bukannya tiap hari juga gitu? Gak mood, mager, gabut. “


“Kamu lagi nyindir aku?” Syeila meliriknya sinis lewat sudut matanya.


“Hehe gak kok.” Ghea menyengir, ia sudah mengenal jauh sifat Syeila yang tak bisa diajak kompromi ketika dalam keadaan bad mood.


“Hidup itu harus santai, jangan dibawa emosi terus, nikmatin aja kayak aku.” Celutuk Ghea sembari meenyeruput kuah sotonya layaknya bintang iklan ditelevisi, Syeila yang mendengarnya hanya mendengus jengah.


Pandangan Ghea kemudian tertuju pada sosok laki-laki yang baru sama datang, segera saja ia menyenggol Syeila, membuat gadis itu meringis dengan tatapan menuntut.


“Apa sih?!”


“Arga tuh.” Tunjuk Ghea dengan dagunya, segera saja gadis itu melirik kearah yang ditunjukkam Ghea mendengar nama yang disebut sahabatnya itu, senyumnya mengembang, namun tak bertahan lama kembali memudar ketika tatapannya justru bertemu dengan manik mata gelap Gara yang muncul dari balik tubuh Arga,setelah laki-laki itu berlalu.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum kearahnya, dengan cepat Syeila memalingkan wajahnya, pura-pura tidak melihat, namun siapa sangka, laki-laki itu dengan beraninya membawa langkahnya mendekati meja Syeila, dan tanpa seizinnya duduk dihadapannya begitu saja bersama temannya yang tak Syeila kebali.


Dan yang lebih parahnya Ghea tiba-tiba kejang-kejang ditempatnya saat kedua laki-laki tampan itu duduk disatu meja dengannya.


“Athalario Mahendra, dia orang yang sering aku ceritain ke kamu Syei.” Bisik Ghea ditelinganya, Syeila melirik orang yang dimaksud Ghea, menatapnya datar.


“Jadi ini yang namanya Syeila? “ celutuk Rio tiba-tiba diiringi kekehan.


“Dan aku Ghea temennya Syeila.” Sambar Ghea tersenyum pada Rio.


“ah...salam kenal Ghea.” Gadis itu menjerit tertahan, mengguncang-guncangkan tubuh Syeila ketika Rio tersenyum kearahnya.


Gara memperhatikan Syeila yang tampak berusaha menghindari tatapannya." Kamu gak makan La?” tanyanya.


“Siapa ya? Gak kenal. “ balas Syeila menatapnya sekilas, satu tangannya berusaha menutupi wajahnya, menghindari pandangan-pandangan orang-orang yang sebagian menatapnya iri, dan tentunya didominasi para kaum perempuan.


“Kenapa? kita kan satu rumah.” Ucapan Gara selanjutnya membuat Rio, Ghea, termasuk Syeila melotot kaget.


“Apa?” ucap Ghea dan Rio bersamaan, kecuali Syeila yang buru-buru membekap mulut Gara dengan tangannya, sebelum laki-laki itu kembali berucap.


“Dia ngaco, aku aja gak kenal dia.” Ujar gadis itu sembari menyengir.


“Ya kan? nama kamu...siapa?” Syeila tersenyum kikuk, berharap Gara mengerti maksudnya.


“I-iya, aku Gara.”


balasnya disela-sela rintihannya yang berusaha ia tahan.


Rio menatap keduanya heran,pasalnya Gara beberapa menit yang lalu menceritakan gadis bernama Syeila,lalu kali ini kenapa tiba-tiba keduanya seolah tidak saling mengenal.


“Rio kamu kok ganteng banget sih?” ucapan Ghea seketika mengalihkan perhatian Rio.


“Apa?ganteng?pastinya dong.” Laki-laki itu menyugar rambutnya kebelakang dengan percaya diri.


Dan pada saat itu, Syeila membisikkan sesuatu pada Gara, yang beberapa detik kemudian diangguki laki-laki itu, syukurlah Gara ternyata cukup peka.


🍁🍁🍁


Bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu, surganya bagi mereka-mereka yang yang telah bergelut dengan berbagai macam materi yang membuat mereka frustasi, beberapa siswa-siswi mulai meninggalkan kelasnya, namun berbeda dengan Syeila, tak biasanya gadis itu masih berkutat dimejanya dengan soal matematika yang satu pun tak dapat ia mengerti, ucapan guru matematika tadi masih mendengung ditelinganya, salah satu alasan kuat yang membuatnya tetap berada dikelasnya, maskipun keadaan kelasnya kini mulai lenggang, dan hanya tersisa dirinya dan Ghea yang tampaknya sudah tak sabar ingin pulang.


“Kamu harus belejar keras buat mata pelajaran ini, udah beberapa kali kamu dapat hasil yang ancur kayak gini, mungkin kemarin-kemarin masih ibu maklumi, tapi kamu juga harus kerja keras, atau kamu gak bakal dapat nilai dalam pelajaran saya.”


“Syei Ayo pulang.” Ucap Ghea akhirnya setelah cukup lama memperhatikan Syeila yang hanya fokus pada buku paket dihadapannya dengan sesekali mengernyit dan mengurut dahinya.

__ADS_1


“Kamu duluan aja, aku bentar lagi pulang kok.” Balas Syeila disela-sela konsentrasinya.


“Sendirian disini berani?”


“Emangnya sejak kapan aku penakut?” Kali ini Syeila mengalihkan pandangan pada Ghea yang duduk dimeja depan kelas.


“Waktu nonton film hantu dibioskop gak inget kamu jerit-jerit kayak orang kesurupan?”


Syeila menyengir kuda mengingat kejadian tempo hari yang berhasil membuatnya tak dapat tidur semalaman, dan sejak itu Syeila tak pernah berani untuk menonton film horor lagi, bahkan ketika mati lampu gadis itu bisa menjadi sangat paranoid dan menangis saking takutnya.


“Yaudah, kalo kamu gak mau pulang sekarang, aku duluan gak apa-apa kan?”


“Dari tadi aku udah suruh kamu pulang duluan, sana pulang hus hus...” ujar Syeila melambai-melambaikan tangannya mengusir Ghea.


“Awas ada yang nyender disebelah kamu.” Celutukan Ghea sebelum gadis itu menghilang dari balik pintu, berhasil membuat Syeila menolehkan kepalanya keseluruh penjuru kelas, namun tidak apa-apa disana, Ghea hanya ingin menakutinya, lagipula ini masih siang, mana ada hantu yang muncul disiang bolong bukan?


Syeila menggelang-gelenkan kepalanya, menepis pemikirannya yang mulai paranoid, berusaha kembali berkonsentari pada deretan soal matematika yang membuat kepalanya bisa meledak kapan saja.


Waktu bergulir, tapi gadis itu masih belum menyerah, keras kepala memang tak ada obatnya kecuali apa yang diinginkannya bisa terpenuhi, angin yang berhembus menyelinap masuk lewat pentilasi udara dikelas menerpa rambutnya, membuat rambut yang dibiarkan terurai itu terus terombang-ambing kesana kemari, Syeila mengusap lengannya yang entah kenapa membuatnya mulai merasa merinding, ditambah lagi suasana yang amat sepi dan mencekam.


Kali ini ia tak dapat memusatkan fokus sepenuhnya pada soal-soalnya, kedua manik indahnya melirik jam dihandphonenya. 15,55 , ia menylipkan anak rambutnya yang menghalangi wajahnya, ini baru setengam, mungkin sebentar lagi ia akan pulang, gadis itu mengalihkan memandang pada daun pintu kelasnya yang terbuka, yang sedetik kemudian berhasil membuatnya terjengit kaget bahkan hampir jatuh dari kursinya dengan matanya yang membulat sempurna seraya menguruti dadanya yang berdengut keras karena terkejut.


“Kamu ngagetin!” Sentaknya, sementara laki-laki yang bertengger diambang pintu entah sejak kapan itu terkekeh puas melihat ekpresi terkejut Syeila.


“Sejak kapan kamu disitu?! sialan kenapa sih suka ngagetin orang terus!” cerca Syeila berapi-api.


Gara tak menjawab ataupun bergerak ditempatnya, memperhatikan Syeila yang masih tampak terkejut atas kehadirannya yang tiba-tiba.


Sejak tadi, tepat saat Ghea keluar, laki-laki itu berdiri disana dengan kedua tangan yang ia masukkan kesaku celananya dan mata yang tak henti-hentinya memperhatikan Syeila sejak tadi, mulai dari bagaimana gadis itu berusaha berkonsentrasi dam sesekali menyelipkan anak rambutnya ke daun telinga yang nakal terus menghalangi wajahnya.


entah sejak kapan Gara mulai gemar memperhatikan gadis itu, gerakannya, ekpresinya, Gara menyukainya.


**Bersambung...


🍁🍁🍁


Author gak mood,nulisnya pas lagi ngantuk,maap kalo buanyakkk typo bertebaran,give me apresiation okay😉


like and komennya ya jan lupa, vote juga, rate juga😄


ya ampun ni author banyak maunya ya😂😂😂


nanti up mampir lagi ya!!😄**

__ADS_1


__ADS_2